Home Tak Berkategori Al-Azhar: Wakaf Sebagai Gaya Ekonomi Pendidikan

Al-Azhar: Wakaf Sebagai Gaya Ekonomi Pendidikan

114
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

Memasuki 1080 tahun sebagai kiblat ilmu pengetahuan, al-Azhar tetap eksis mengawal perkembangan zaman dalam bidang kelimuan. Selain sebagai kiblat ilmu pengetahuan, al-Azhar juga terkenal dengan wakafnya. Karena wakafnya itulah, al-Azhar dijadikan tonggak perwakafan dalam bidang pendidikan. Sebagai contohnya, Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjadikan al-Azhar sebagai sintesa karena wakafnya.

Sistem perwakafan menjadi salah satu faktor dari maju dan bertahannya suatu lembaga. Untuk itu, mengetahui bagaimana al-Azhar dalam sistem perwakafan dan penerapannya adalah sesuatu yang perlu dikaji. Di sini penulis akan mencoba membahas secara singkat bagaimana al-Azhar membangun peradaban Islam dengan sistem perwakafannya dari sisi sejarah yang saat ini masih dipertahankan. Begitupula bagaimana wakaf menjadi gaya ekonomi suatu lembaga, bahkan tak hanya dalam bidang ekonomi, melainkan dalam sistem, ide, dan ilmu pun dapat terbilang sebagai wakaf.

Wakaf Pertama al-Azhar

Perekonomian al-Azhar menuju ke sistem perwakafan dialami secara bertahap. Saat berdirinya, pemasukan keuangan masjid al-Azhar didapatkan dari Daulah Fathimiyah, sepertihalnya masjid-masjid lainnya. Ketika masuk kepemimpinan Khalifah kedua Daulah Fathimiyah, Al-Aziz Billah, halaqah keilmuan diadakan dengan saran dari Ibnu Kalys. Adapun keuangan al-Azhar saat itu didapatkan dari infaq pribadi Khalifah dan Perdana Menteri, baik untuk para muridnya, tempat tinggal, sandang pangan, serta hal-hal lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengajar dan murid.

Masuk ke pemerintahan Khalifah ketiga, Hakim bin Amrillah, sistem perwakafan mulai diterapkan agar keuangan yang masuk ke al-Azhar bisa terus menerus berputar dan tidak tergantung dengan seorang khalifah. Sejak itulah al-Azhar menganut sistem perwakafan sebagai masjid dan tempat belajar-mengajar di Daulah Fathimiyah.

Adapun terkaiat wakaf pertama al-Azhar, Dr. Abdul Aziz Muhammad al-Sinawy dalam bukunya ‘Al-Azhar Jami’ wa Jami’ah’, mengutip dari Maqrizi dalam bukunya ‘Al-Khothoth’, menjelaskan mengenai piagam wakaf bahwa Hakim bin Amrillah memberikan sebagian hartanya sebagai wakaf di pembukaan piagam. Yaitu diwakafkan untuk tiga masjid: pertama al-Azhar, yang kedua masjid Rasyidah, dan yang ketiga Masjid Muqish, kemudian disusul dengan Dar Hikmah. Piagam tersebut dikeluarkan ketika bulan Ramadhan tahun 400 H (sekitar 18 April – 17 Mei 1010 M).

Wakaf tersebut berupa harta yang tetap, seperti tanah pertanian, pasar, dan lain sebagainya. Harta yang telah diwakafkan tersebut tidak diperjualbelikan, namun dikelola agar terus berputar dan hasilnya kembali ke al-Azhar sendiri. Dari al-Azhar untuk al-Azhar dan umat Islam. Hingga keuangan terus berputar secara terus-menerus tanpa bergantung seseorang yang menginfakkan hartanya.

Sistem tersebut diterapkan al-Azhar sepanjang perjalanannya hingga saat ini kecuali ketika Daulah Ayyubiyyah, yaitu ketika al-Azhar ditutup dan menghentikan wakafnya untuk menepis penyebaran madzhab Syiah. Sejak saat itulah sistem keuangan dan perputaran ekonomi al-Azhar tidak terbatas oleh seorang Khalifah atau perdana menteri yang menyokong keuangannya. Melainkan dari pemilik harta tetap yang mewakafkan pada al-Azhar secara umum untuk dikelola, atau secara khusus diberikan kepada para pengajar, murid, atau halaqah dan ruwaq tertentu.

Sistem perwakafan tersebut dikelola oleh seorang qudhat, atau sekarang ini dikenal sebagai menteri. Tak lain seperti al-Azhar saat ini yang telah dikelola oleh Kementerian Wakaf Mesir. Wakaf berkembang pesat, tak hanya diterapkan oleh al-Azhar, melainkan Mesir pun mengembangkan dan mengelola wakaf secara produktif. Wakaf berkembang pesat ketika pemerintah Mesir menerbitkan Undang-undang No. 80 Tahun 1971 yang mengatur pembentukan Badan Wakaf Mesir yang khusus menangani masalah wakaf dan pengembangannya, berserta struktur, tugas, tanggung jawab dan wewenangnya. (ZISWAF, Vol. 4 No. 1, Juni 2017)

Setelah dipaparkan bagaimana sejarah dan permulaan sistem perekonomian dan wakaf al-Azhar secara singkat, kita bisa belajar darinya dalam penerapan sistem tersebut secara perlahan. Yaitu sistem perwakafan dalam bidang pendidikan secara khususnya sebagai penunjang sistem pengajaran di suatu lembaga.

Eksistensi al-Azhar dalam bidang perwakafan dan keilmuannya tidak disempitkan dalam bentuk harta yang tetap seperti tanah pertanian, pasar atau toko dllnya. Wakaf dimaknai secara luas sebagai gaya hidup dalam segala lini pendidikan. Selain perputaran keuangan yang mandiri atau ekonomi proteksi, wakaf tercerminkan hampir di setiap lini al-Azhar, baik wakaf harta, tenaga, ide atau gagasan.

Harta tetap yang merupakan wakaf tersebut dikelola hingga berputar dan terus menerus hingga memiliki perekonomian yang mandiri, atau ekonomi proteksi. Hasilnya dikelola dan kembali pada lembaga itu sendiri, bahkan kembali kepada umat Islam. Adapun seorang guru yang mengajar dengan ikhlas, ia telah mewakafkan tenaga, ilmu atau ide untuk kesejahteraan umat dengan ilmu yang ia sampaikan pada muridnya. Begitupula ide dan gagasan dari seseorang yang mengelola sistem pengajaran dan pendidikan tersebut dengan ikhlas pun termasuk wakaf. Wakaf yang berasal dari diri umat tersebut akan kembali ke umat dan bahkan kebermanfaatannya akan menyebar lebih luas dan terus menerus. Begitulah sekiranya kita mampu mengambil pelajaran dan penerapan dari al-Azhar.

Belajar di al-Azhar dan Mesir bukanlah sesuatu yang murah, akan tetapi termasuk mahal. Terlihat murah karena kuliah dan majelis ilmu dengan guru yang mempunyai otoritas kelimuan luar biasa tanpa kita merasa membayar. Lalu mengapa termasuk sesuatu yang mahal, padahal kita tak merasa membayar ketika belajar? Disebut mahal karena kualitas kelimuan dengan guru yang mempunyai otoritas di bidangnya melimpah ruah dan tinggal kita memilihnya. Sesuatu yang berkualitas bukanlah hal yang murah, akan tetapi termasuk sesuatu yang mahal. Itulah wakaf al-Azhar yang telah membantu kita belajar. Yaitu sistem perwakafan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang ringankan beban para penuntut ilmu, terlebih para mahasiswa rantau.
Wallahu a’lam bi al-showwab.


*Penulis adalah Pimpinan Umum Majalah Latansa periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here