Home Artikel Alternatif Perjalanan Saat Pandemi

Alternatif Perjalanan Saat Pandemi

243
0


Oleh: Rima Hasna Fariha*


2019-2020 menjadi tahun yang cukup mengejutkan. Covid-19 tak lagi asing di telinga setiap pendengarnya. Virus yang telah berhasil merenggut beribu-ribu nyawa manusia. Bukan hanya itu, berbagai peristiwa serta pola kehidupan barupun tercipta darinya. Stay at home menjadi istilah yang cukup ramai dikemukakan oleh deretan artis, petugas medis hingga pemerintah. Bagaimana tidak, virus yang menyebar begitu cepat dan belum ditemukan obatnya mendorong para manusia untuk tetap berdiam di rumah. Melakukan berbagai kegiatan ekonomi, sosial dan pendidikan sebagai kontinuitas kehidupannya.


Berdiam di rumah memang menjadi solusi yang harus diutamakan. Karena perjalanan serta perkumpulan akan menimbulkan tertularnya virus. Suatu kewajaran bahwa manusia akan merasa bosan dengan keadaan ini. Rutinitas yang selalu mereka lakukan di luar rumah tiba-tiba terhenti dan memaksa mereka untuk stay at home.


Perjalanan menjadi salah satu list impian baru bagi manusia pada tahun ini. Perjalanan dengan definisi perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.
Namun, taukah kalian ada perjalanan lain yang selama ini sering dilupakan? Perjalanan yang bukan hanya bernilai materil bahkan pengaruhnya akan jauh lebih banyak dan terasa khususnya pada diri manusia. Perjalanan tanpa perlu modal, bahkan tetap dapat dilakukan meskipun hanya di rumah. Perjalanan yang akan menjadi solusi paling tepat saat ini.


Apakah Perjalanan itu?
Belajar dari Imam Qusyairi yaitu salah satu ulama sufi pada abad ke 5 Hijriah. Beliau membagi perjalanan menjadi dua, perjalanan diri (perpindahan dari satu tempat ke tempat lain) dan perjalanan hati (meningkatkan akhlak dari satu sifat ke sifat yang lebih tinggi).


Perjalanan kedua inilah yang akan dipaparkan oleh penulis sebagai solusi.
Imam Qusyairi berkata Perjalanan dibagi menjadi dua yaitu perjalanan diri dan perjalanan hati, kamu akan melihat banyak dari manusia yang telah melakukan perjalanan diri namun lupa dengan perjalanan hatinya.


Imam Qusyairi memaparkan bahwa sejatinya perjalanan yang hakiki adalah perjalanan hati. Perjalanan yang diperuntukkan bagi para sufi untuk menuju kepada Rabbnya. Perjalanan dengan tujuan mengharap nasehat dan petunjuk dari Allah serta menyempurnakannya dengan hikmah Illahi atas bukti-bukti yang dilihat. Menurut beliau perjalanan diri hakikatnya tidak perlu tanpa tujuan yang ingin dicapai. Perjalanan hati adalah perjalanan yang harus diutamakan dari perjalanan diri.


Sebab diperbolehkan seseorang melakukan perjalan menurut Imam Qusyairi ialah jika ada sebab-sebab membahayakan seperti: Kecenderungannya terhadap wanita, lingkungan yang tidak baik, gunjingan para musuh sedang tak ada guru yang membimbingnya dalam menghadapi ujian tersebut. Tiga hal ini memperbolehkannya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Adapun perjalanan ini tidak dilakukan secara langsung. Bagi pejalan harus mencoba untuk melalui tiga ujian yang telah disebutkan sebelumnya hingga akhirnya diperbolehkan melakukan perjalanan diri. Perjalanan diri yang dilakukan sebelum mencoba untuk menghadapi ujian berarti kabur dari apa yang telah ditetapkan Allah dan ini merupakan bentuk kelemahan iradah.
Belajar dari beliau dengan latar belakang seorang sufi mungkin akan menciptakan anggapan bagi para pembaca bahwa maqam beliau dengan kita sebagai manusia biasa jelas berbeda. Namun mari cukupkan anggapan tersebut serta menciptakan definisi perjalanan hati yang cukup sederhana dan sesuai dengan maqam kita saat ini.


Perjalanan hati secara sederhana ialah perjalanan untuk mencapai kedamaian dan ketenangan hati karena Sang Rabb. Permasalahan dunia memaksa manusia untuk menghibur diri dan menghilangkan kebosananan sehingga mendorongnya untuk melakukan perjalanan diri. Maka tak sering kita jumpai beberapa orang berhasil menghamburkan uangnya hanya untuk kepuasan semata, memenuhi hasrat nafsu yang tengah menggebu. Sadarkah bahwa hakikatnya permasalah tersebut bersumber dari hati yang bermasalah, hati yang sedang jauh dari Sang Rabbnya. Sehingga keriasauan dan kesedihan terus dialaminya. Maka solusi yang paling tepat ialah memperbaiki hati tersebut dengan cara selalu berdzikir kepada Allah, Sang Pencipta dan Pegendali. Al-Quran berfirman dalam Surat al-Ra’d ayat 28:
الا بذكر الله تطمئن القلوب
Bukankah dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang

Imam Qusyairi mengajarkan kita bahwa perjalanan tak hanya dinilai secara dzahiriy saja. Manusia saat ini merasa terkurung karena tak dapat melihat dunia luar. Dunia yang bahkan hakikatnya tak habis-habis untuk dicari setiap definisinya. Sehingga lupa dengan dunia ‘pasti’ dan kekal nantinya. Terus disibukkan dengan keinginan untuk melakukan perjalanan diri hingga lupa memperhatikan perjalanan hati. Perjalanan diri sejauh apapun tanpa hati yang tenang tak akan menciptakan kesenangan yang hakiki. Maka, mari mengubah definisi perjalanan diri menjadi perjalanan hati!


Solusi perjalanan tanpa modal, tanpa harus keluar rumah, serta menghadirkan kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki.
Wallahu A’lam bi al-Shawwab

*Penulis merupakan mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here