Home Artikel Apa Pentingnya Mempelajari Ilmu Debat?

Apa Pentingnya Mempelajari Ilmu Debat?

532
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Perhatikanlah media sosial hari ini, atau katakanlah keseharian kita; banyak sekali forum debat bertebaran. Sebagian bermanfaat dan yang lain sebaliknya. Bukan karena tidak ada isinya –walaupun sebagian seperti itu– namun forum tersebut ambur adul dan tidak jelas. Di sinilah pentingnya mempelajari seni berdebat dan adu pendapat atau Ādābul Bahst wal Munāzharah sebagai pakem yang mengatur main debat yang rapih.

Sebelum jauh membahas tema ini, kalian harus tau bahwa adabul bahs merupakan satu di antara pondasi penting dalam ilmu akliyyat. Dr. Salim Abu Ashi, raksasa ilmu akliyyat milik al-Azhar era ini mengatakan kepada kami: “Jika ingin menguasai lingkaran ilmu akliyyat, maka kalian harus menguasai lima ilmu ini: (i) Mantiq, (ii) Adabul bahs wal munazharah, (iii) Maquulat Al-Asyr, (iv) Falsafah dan (v) Kalam

Kelima tersebut saling menguatkan satu sama lainnya. Sebagai contoh ilmu adabul bahas yang akan disinggung saat ini merupakan ilmu yang dikuatkan pondasinya dengan mantiq. Seorang yang mempelajari adabul bahs namun belum menyicipi mantiq akan sedikit kebingungan, sebab di dalamnya terdapat –bahkan banyak– istilah mantiq yang tidak diperinci lagi. Sebut saja istilah qodiyyah, had tam, had naqis, shurat wa maddat al-Qiyas, al-Syakl dsb. Mungkin bisa sampai, tapi tidak sempurna.

Karenanya dengan nada bercanda Dr. Abu Ashi menyuruh pergi jauh-jauh orang yang belum menyicipi mantiq tapi berani-beraninya ikut majlis adabul bahs.

Namun di tengah urgensitasnya, orang-orang justru mengabaikannya atau bahkan tidak tau akan keberadaan ilmu ini. Maka di sini saya berusaha memaparkan sekilas tentang kenapa harus mempelajari ilmu debat. Namun sebelum menuju hal tersebut mari kita uraikan terlebih dahulu apa itu ilmu debat sebagai bentuk pengenalan sebelum penghukuman.

Apa itu Ilmu Debat

Debat atau yang dalam bahasa Arab disebut al-Munazharah diambil dari kata al-Nazhīr yang berarti sama atau setara. Makna ini mengindikasikan bahwa peserta debat, baik pemilik argumen (mu’allil) ataupun lawan yang mengkritik argumennya (al-Sā`il) setara dalam ruang debat. Dalam arti antara muallil dan saa’il sekalipun berbeda gelar, jabatan, status sosial atau apapun itu, tetap setara dalam forum debat, sebab yang menjadi fokus adalah argument dan dalilnya. Selain al-Nazhīr, kata al-Munazharah juga diambil dari kata al-Nazhr (melihat) yang mengindikasikan bahwa dalam forum debat antara mu’allil dan saa’il saling menatap satu sama lainnya.

Adapun secara istilah, Syekh Muhyiddin Abdul Hamid dalam kitabnya Risālah Al-Adab fī Ilmi Adāb Al-Bahts wa Al-Munāzharah mendefinisikan ilmu debat dengan: saling terlontarnya pendapat antara dua orang yang keduanya bermaksud untuk meneliti perkataan miliknya dan mengkritik pendapat lawannya dengan maksud sampai kepada sesuatu yang benar.

Garis bawahi perkataan ‘meneliti pendapat miliknya dan mengkritik pedapat lawannya’ sebab ini akan mengantarkan pada tema global dari adabul bahs, yakni seputar aturan main debat yang rapih dari kedua belah pihak. Antara Mu’allil dan Saail tau peran dan kerjaannya. Kapan ia harus meminta dalil dan menyanggah argument lawan dengan satu sandaran (al-Man’u); kapan ia harus menimpal argument atau dalil milik lawan dengan sesuatu yang kontra dari hal tersebut (al-Mu’aaradhah); atau kapan seseorang menyalahkan dalil lawan dengan alasan dalil tersebut salah alamat atau meniscayakan kemustahilan (al-Naqdu).

Tiga senjata inilah fokus utama adabul bahs. Antara muallil dan sail harus tau kapan ia memakai satu di antara tiga senjata ini. Jika pemilik argument tidak menyuguhkan dalil pada statementnya maka senjata yang dipakai adalah al-Man’u, yakni meminta dalil. Jika sudah diberikan dalil maka bisa memakai dua lainnya (al-Muaaradhah atau al-Naqdhu), atau bisa juga memakai al-Man’u (dalam arti yang beda). Pada intinya tiga ini adalah jantung pembahasan yang mengarahkan seseorang –sebagaimana definisi Syekh Muhyiddin– bagaimana menata arguementnya dan menyekak lawannya.

Namun sebelum menuju jantung pembahasan, Syekh Muhyiddin membuka kitabnya dengan persoalan bahasa. Hal ini penting sebab nantinya kita akan tau model kalimat apa yang masuk dalam medan debat. Apakah dalam ruang lingkup kata (mufrad)? kalimat utuh (murakkab)? kalimat utuh yang sempurna (murakkab tām)? atau sebaliknya (murakkab nāqish)? kalimat utuh sempurna berupa kabar (tām khabariy)? atau yang berupa pertanyaan (tām insyā’iy)?

Jika merasa asing dengan istilah-istilah ini, maka sebaiknya tarik langkah kalian dari medan adabul bahs melainkan cicipi terlebih dahulu nahwu dan balaghoh. Sebab selain mantiq, kedua ilmu ini sangat berperan penting dalam memahami adabul bahs, atau bahkan semua ilmu. Inilah mengapa ulama menamakan ilmu bahasa sebagai ‘induk ilmu’ sebab darinyalah lahir (pemahaman) ilmu-ilmu lainnya. Dan lihatlah juga bagaimana setiap ilmu memainkan perannya dalam membantu satu sama lainnya. Inilah manhaj ilmi!

Kembali lagi, menurut pakar ilmu debat perdebatan hanya bisa berjalan pada kalimat utuh yang sempurna berupa kabar (murakkab tām khabariy). Kenapa? sebab –sebagaimana dalam ilmu balaghah– model perkataan inilah yang menuai kemungkinan adanya benar atau salah (mā yahtamil al-Shidq wal Kadzib). Sebagai contoh statement: ‘Fulanah adalah perempuan pintar’. Perkataan ini menuai kemungkinan benar atau sebaliknya, maka disinilah perdebatan itu bermain. Mari kita perdebatkan apakah fulanah ini pintar atau tidak.

Berbeda halnya dengan lafaz mufrad seperti ‘buku’, atau tām insya’iy seperti ‘apakah Zaid sedang tidur?’ atau murakkab nāqish seperti ‘jika Zaid datang…’ ini semua tidak ada kemungkinan selain benar. Maka tidak bisa hal-hal seperti ini diperdebatkan –kecuali pada hal-hal tertentu.

Jika sudah mengetahui medan pedebatan, maka selanjutnya adalah sistematika debat itu sendiri. Ada satu kaidah penting yang bisa mengantarkan kita kepada gambaran umum tata cara berdebat: “in kunta nāqilan fassihhah, wa in kunta mudda’iyan faddalīl”. Yang bermakna, jika kalian mengutip maka verifikasi kutipan tersebut, jika kalian berargument maka berikan dalilnya. (Jika ingin melihat secara detail kaidah ini bisa baca muqoddimah kitab Kubrā Yaqīniyyat karya Syekh Ramadhan Al-Buthi, hal. 31-47. Di sana beliau mengkomparasikan basis analisis milik barat dan Islam dengan disiplin ilmu adabul bahs ini)

Ini adalah kaidah untuk menyederhanakan sistematika berdebat. Jika seseorang menyampaikan statement maka yang pertama kita pastikan adalah: ‘apakah ini argument miliknya atau sebuah kutipan’. Jika ia kutipan maka tugas kita hanya satu yakni memverifikasi keabsahan kutipan tersebut, siapa yang mengatakan, dari buku apa, dsb.

Namun jika ternyata itu adalah argument miliknya atau ia mengamini sebuah pendapat orang lain maka tugas kita mempertanyakan dalilnya. Dan jika sudah diberikan dalilnya maka tugas kita adalah tiga poin di atas yaitu al-Man’u, al-Mu’aradhah, atau al-Naqdhu. Dan jika semua argument atau dalil sudah diterima oleh kedua belah pihak atau salah satu dari muallil atau sail tidak mampu menguatkan argumentnya, maka selesailah debat.

Urgensitas Ilmu Debat

Simpel saja, orang yang mengetahui ilmu ini akan tau cara main debat yang rapih dan tau tujuan berdebat. Ia tau kapan harus meminta dalil, memverifikasi keabsahan sebuah nukilan, menyanggah dalil dengan dalil, atau menyalahkan dalil karena salah alamat atau meniscayakan kemustahilan. Debat akan terlihat rapih dan bersekema.

Tidak bisa dinafikan bahwa perdebatan acapkali terjadi di keseharian kita, baik pendapat yang kita dengar dari seseorang kita temui atau di salah satu buku yang kita baca. Berandai-andailah seorang misionaris atau katakanlah orang yang anda tidak kenal mengeluarkan statemen: “Islam itu agama yang sadis”. Maka jika ilmu ini sudah di kepala, Anda tinggal melakukan yang saya sebutkan di atas, mempertanyakan statemen ini dari siapa, dalilnya apa, menimpal argument lain yang kontra, dan sebagainya sesuai aturan mainnya. Bukan ujug-ujug angkat suara dan emosi.

Jika aturan ini dilanggar maka ia telah melakukan kesalahan atau yang dalam ilmu ini dinamakan tugas yang tidak diterima (wazhīfah goiru maqbūlah). Semisal ada orang menyatakan statemen namun belum menyertakan dalil dan lawan debat ujug-ujug menyalahkan statement tersebut dengan dalil miliknya, maka itu adalah wazhīfah goiru maqbūlah. Sebab tugasnya saat itu hanyalah meminta dalil (al-Man’u) bukan menyalahkan. Dan kesalahan lainnya yang melanggar aturan yang telah dijelaskan.

Jika paham ini semua seseorang akan bijak dalam forum debat. Ia akan selalu sadar bahwa dalam forum debat tugasnya harus dpt diterima atau wazhiifah maqbuulah.

Dan hal penting lain kenapa ilmu debat ini harus dipelajari sebab tujuannya sangat mulia yaitu sampai pada suatu kebenaran –sebagaimana yang didefinisikan oleh Syekh Muhyiddin. Karenanya dalam ilmu ini dikenal istilah al-Mukābarah, yaitu sikap peserta debat baik mu’allil ataupun saa’il yang hanya ingin menunjukan kebolehan dan kepintarannya dalam debat bukan sampai pada suatu kebenaran. Bukanlah ini tujuan yang mulia?

Terakhir, ilmu ini sangat penting bagi mereka yang bergelut dengan turats ulama. Sebab di dalamnya mereka menyantumkan berbagai kritik. Dan dengan Adabul Bahs kita akan dimudahkan dalam memahami ibarat-ibarat yang mereka suguhkan. Ulama kita terdahulu selain ingin mengajarkan bahwa kritik adalah hal yang lumrah dalam tradisi mereka, juga ingin mengajarkan bahwa mengkritik harus dengan ilmu bukan hawa nafsu. Wallahu a’lam bisshowab.

Bagi yang ingin mendengarkan adabul bahs bersama Dr. Salim Abu Ashi, silahkan kunjungi: https://t.me/SyekhMuhammadSalimAbuAshi

*Penulis merupakan mahasiswa akhir Jurusan Tafsir Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here