Home Artikel ArabSpring: Revolusi Politik Negara-Negara Arab (2)

ArabSpring: Revolusi Politik Negara-Negara Arab (2)

192
0



Tunisia Pasca Aksi Bouazizi

Bouazizi sempat dilarikan ke rumah sakit untuk menerima perawatan setelah membakar dirinya dan sebelum kemudian ia juga sempat dipindahkan ke rumah sakit kota Ben Arous, dekat Tunis. Di sana ia menjalani perawatan di Trauma Centre and Burn. Presiden Tunisia, Zein al-Abidin Ben Ali, sempat meluangkan waktu dan kesempatan untuk menjenguk Bouazizi di rumah saki, tentu saja diharapkan dengan menjenguk Bouazizi, Ben Ali berharap mampu meredam amarah massa kepada pemerintah.

Namun keadaan sudah terlanjur terlambat untuk diperbaiki, penanganan medis di Trauma Center and Burn tidak mampu menyelamatkan nyawa pemuda pedagang kaki lima tersebut serta menyelamatkan kekuasaan Ben Ali.

Tepatnya pada tanggal 4 Januari 2011 atau 17 hari setelah aksi bakar diri, Bouazizi menghembuskan nafas terakhirnya. Pada hari itu, kurang lebih 5000 masyarakat Tunisia turut ikut ambil bagian dalam proses pemakamannya.

Setelah kematian Bouazizi, gerakan perlawanan terus berlangsung hingga kekerasan yang tak terhindarkan kian meningkat, kericuhan dalam demonstrasi terjadi di berbagai titik, bahkan semakin mendekati ibukota negara, Tunis. Pada 27 Desember 2010, sekitar 1.000 lebih warga bersama-sama dengan penduduk Sidi Bouzid mengekspresikan solidaritas dengan menyerukan aksi bersama menentang pemerintahan. Pada saat yang sama, sekitar 300 pengacara mengadakan aksi demo berada di pusat pemerintahan istana di Tunis.

Runtuhnya Kekuasaan Ben Ali

Kekuasaan Ben Ali di Tunisia yang dibangun dengan system otoriter berakhir setelah menyatakan mundur dari kursi kekuasaannya sebagai Presiden Tunisia pada tanggal 14 Januari 2011, sekitar pukul 16.00 waktu setempat di mana pernyataannya diwakilkan kepada Perdana Menteri (PM) Mohamed Ghannouchi untuk bertindak sebagai kepala negara “sementara” selama ketidakhadiran Ben Ali.

Dalam pernyataannya di televisi Ghannouchi mengatakan, “Karena presiden untuk sementara tidak dapat melaksanakan tugasnya dan telah diputuskan bahwa PM akan memegang sementara tugas presiden”. Ben Ali dan keluarganya melarikan diri ke Arab Saudi untuk menghindari tuntutan massa yang berhasil mengakhiri 23 tahun masa kejayaan kekuasaannya.

Keputusan Ben Ali untuk mundur dan meninggalkan Tunisia secepatnya, setidaknya disebabkan oleh dua faktor berikut.

Pertama, gerakan massa di seluruh negeri semakin kuat yang tidak lagi mampu dikendalikan oleh aparatur negara. Para demonstran, yang pada awalnya turun ke jalan sebagai bentuk solidaritas atas meninggalnya Bouazizi. Ben Ali tentu menyadari bahwa kekuatan massa yang semakin besar melawan rezimnya akan berujung pada tuntutan pengunduran dirinya dari kursi kepresidenan dan kemudian dia akan dibawa ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan atas meninggalnya beberapa demonstran.

Kedua, dukungan Barat tidak datang pada masa krisis di mana dia sedang membutuhkannya. Bahkan Perancis tidak bersedia memberinya suaka politik sehingga Ben Ali akhirnya melarikan diri ke Arab Saudi.

Gejolak The Arab Springs di Mesir dan Suriah

Berakhirnya era kekuasaan Ben Ali ini tersebar dan menjadi berita yang hangat di seantero dunia Arab, bahkan dunia. Perlawanan rakyat Tunisia yang berhasil menggulingkan rezim diktator Ben Ali menjadi inspirasi bagi masyarakat negara-negara Arab lainnya untuk membangun kekuatan gerakan massa melawan rezim yang diktator.

Dari sanalah gejolak revolusi, The Arab Spring, di Timur Tengah bermula. Mesir dan Suriah menjadi dua diantara sekian Negara-negara Arab yang terkena efek domino dari tumbangnya rezim Ben Ali di Tunisia. Beberapa hari setelah dunia mengetahui berakhirnya kekuasaan Ben Ali, rakyat Mesir mulai turun ke jalan menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak yang dinilai otoriter, korup, dan gagal membangun selama 30 tahun kekuasaannya.

Rakyat Mesir menilai pemerintahan Mubarak sudah terlalu lama dan saatnya untuk diganti dengan pemimpin yang baru. Dukungan rakyat terhadap pemerintahan Mubarak turun drastis karena kemiskinan dan pengangguran yang merebak luas. Harga-harga melambung tinggi, sementara daya beli merosot rendah. Inilah salah satu diantara sekian yang menyebabkan gerakan massa semakin kuat.

Begitu khawatirnya akan aksi massa yang akan terus-menerus terjadi, otoritas berwenang Mesir pada hari Jumat (28/01/2011) menutup seluruh layanan internet dan telepon seluler di Mesir serta mengerahkan pasukan elite bersenjata lengkap, termasuk tank dan mobil anti huru-hara pun turut dikerahkan demi meredam pergerakan demonstran.

Warga Mesir, yang sejak 25 Januari 2011 turun ke jalan menuntut pergantian rezim, akhirnya merayakan kemenangan pada Jumat malam, 11 Februari 2011, setelah mereka mendengar pernyataan Wakil Presiden Omar Suleiman yang disiarkan melalui televisi nasional, Omar Suleiman memberitahukan berita yang dinantikan seluruh warga Mesir, kepada seluruh warga Mesir yang ketika itu tengah memanas setelah sekian demonstrasi berujung kericuhan, Omar Suleiman menyatakan bahwa Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Dewan Agung Militer. Revolusi rakyat Mesir pada saat itu mempunyai obsesi membangun sistem demokrasi di negaranya.

Revolusi Suriah

Revolusi Suriah merupakan bagian dari sebuah rangkaian ini yang terjadi dikarenakan faktor internal, dan faktor eksternal. Faktor internalnya dalam hal ini adalah masalah mengenai konstitusi Suriah, masalah kepemimpinan yang diktatorial, dan tentu saja pelanggaran HAM.

Gelombang Arab Spring yang secara bersamaan setelah aksi di Tunisia, dampak dan gelombangnya semakin meluas tak terbendung terjadi di hampir seluruh negara Arab. Faktor itu sebenarnya memiliki keterkaitan, yaitu mengenai demokrasi. Negara-negara arab, tidak terkecuali Suriah, mayoritas dari seluruhnya dipimpin oleh seorang diktator dengan system otoriter, berkekuatan penuh dan sebagian besar menjabat dengan waktu yang terlampau sangat lama.

Penjatuhan rezim yang tidak sepenuhnya berhasil menyebabkan negara tersebut mengalami sebuah konflik berkepanjangan yang berdarah, tidak sedikit dari masyarakat sipil yang jatuh menjadi korban dan menyebabkan negara tersebut mengalami salah satu krisis humanitarian terbesar di dunia.

Arab Spring yang diharapkan menjadi awal kebangkitan harapan akan kehidupan yang lebih baik dan lebih demokratis di kawasan Timur Tengah, terutama dunia Arab, justru menampilkan wajah yang lebih menyeramkan. Musim Semi itu setidaknya telah mengorbankan lebih dari 250.000 orang di Suriah sampai karena konflik yang terus berkepanjangan.

Dapat dilihat bahwa Arab Spring di Suriah tidak bisa dikatakan berhasil, namun di satu sisi juga tidak bisa dikatakan gagal. Arab Spring di Suriah dapat dikatakan gagal karena Arab Spring di Suriah berdarah dan cenderung memakan waktu yang terlampau cukup lama dibandingkan dengan Mesir yang berhasil menumbangkan Hosni Mubarak dalam aksi selama 18 hari dan Tunisia yang sukses menjatuhkan. Suriah tidak mampu mencontoh penjatuhan rezim di Tunisia yang cenderung damai, bahkan seburuk buruknya tidak dapat mencontoh Mesir dan Libya yang penjatuhan rezimnya cukup terbilang cepat.

Satu hal yang dapat dikatakan pasti mengenai apa yang akan terjadi di Suriah, Pemberontak dan pihak pihak yang menjadi lawan daripada Assad tidak akan dengan mudah membuat Assad menjadi seperti dulu lagi.

People Power

Dua peristiwa besar yang menggulingkan rezim diktator kuat, Ben Ali di Tunisia dan Mubarak di Mesir, menyadarkan rakyat di negara-negara Arab bahwa mereka dapat membawa perubahan di negaranya tanpa harus mengandalkan bantuan AS atau komunitas internasional.

Berakhirnya era kekuasaan kedua diktator tersebut karena kekuatan dari bawah, people power, meskipun terbantu dengan adanya tekanan dari pihak luar. Oleh karena itu, setelah Mubarak dinyatakan mundur, demonstrasi-demonstrasi anti-pemerintah sudah terjadi di sejumlah ibu kota negara di negara Timur Tengah lainnya, seperti Aljazair, Yaman, dan Bahrain. Sejumlah pemimpin negara Timur Tengah, seperti Suriah dan Jordania, mengantisipasi efek domino tersebut dengan menjanjikan dan melakukan serangkaian pembaruan kondisi ekonomi dan politik.

Peran Vital Media Massa

Peran media, selain peran intelektual dan people power, sangatlah besar dalam gejolak The Arab Spring di negara-negara Arab yang berlangsung sejak awal 2011 lalu. Karena media memainkan peran kunci itulah sehingga beberapa pengamat menyebutnya dengan istilah “Internet revolutions”. Media massa-lah yang berfungsi secara efektif dan masif menyampaikan protes dari rakyat terhadap rezim Ben Ali di Tunisia ke seluruh negara-negara Arab, bahkan dunia.

Pemberitaan media itulah yang membangkitkan kesadaran dan gerakan yang sama di beberapa negaranegara Arab, termasuk di Mesir dan Suriah.

Memahami vitalnya peran media dalam membangkitkan gerakan perlawan dari rakyat itulah sehingga pemerintah Mesir, sebelum lengsernya Mubarak, mengambil kebijakan menutup akses layanan internet, telepon, email, dan layanan dunia maya lainnya.

Oleh karena itu, keberhasilan masyarakat Mesir mengakhiri kekuasaan Mubarak dapat dikatakan sebagai buah kemenangan media sosial. Aksi jalanan oleh ribuan massa yang mengubah peta perpolitikan di negara-negara Arab tidak dapat dilepaskan dari gerakan yang dirintis melalui dunia maya, termasuk melalui Facebook.

Kita dapat menarik kesimpulan bahwa The Arab Spring yang bergejolak sejak awal 2011 lalu menjadi awal kebangkitan gerakan massa untuk menuntut adanya perubahan tatanan sosial politik. Peristiwa politik penting di negara-negara Arab tersebut terjadi karena banyak faktor yang terlibat memengaruhi, yaitu peran kelompok-kelompok intelektual, baik itu di Tunisia, Mesir, dan Suriah, serta pengaruh dari media sosial.

Yang Bisa Kita Pelajari Bersama dari Arab Spring

Media sosial telah memudahkan arus perputaran informasi antar masyarakat di Timur Tengah. Para pemuda di Mesir sudah siap menghadapi aparat keamanan karena mendapat informasi dari pemuda di negara lain.

Melalui media sosial, bahkan, aktivis yang ditahan oleh pemerintah tetap bisa menyebarkan suara, ide, pikiran dan gagasan-gagasannya. Dampak jejaring sosial di Timur Tengah memang luar biasa. Bahkan ketika jejaring sosial itu mulai dilarang oleh pemerintah, bukannya berhenti, gelombang kemarahan malah makin membesar. Media sosial membantu aktivis mengorganisasi gerakan dan berinteraksi, namun peran terbesarnya muncul ketika jejaring sosial itu menghilang.

Hassan Nafaa, seorang profesor ilmu politik di Universitas Kairo, menyebut para pemuda sebagai “the Internet or the Facebook Generation, or just call them the Miracle Generation”.

Sanjungan tersebut diberikan karena ia melihat sebuah keajaiban yang diciptakan oleh anak muda dalam memanfaatkan kemajuan teknologi digital. Bukan hanya meruntuhkan kekuasaan otoriter, pemanfaatan internet bahkan mendorong demokratisasi di seluruh Timur Tengah. Tentu saja hal keajaiban itu bisa terjadi dimana-mana, termasuk Indonesia.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here