Home Opini Santri juga Anak Muda dan Manusia Biasa

Santri juga Anak Muda dan Manusia Biasa

297
0

Oleh: Salman Abdulrobby*

Akhir-akhir ini, bulan Oktober 2019, sedang populer di sosial media tentang film Joker yang melahirkan kutipan-kutipan unik dan beraneka ragam. Keramaian kutipan tersebut intinya tentang pentingnya presisi bersikap dalam menghadapi suatu permasalahan karena hal yang baik bisa saja berangkat dari hal yang buruk ataupun sebaliknya dan variabel serupa lainnya. Namun jangan lupa, sebulan yang lalu, September 2019, warga sosial media Indonesia ‘diributkan’ dengan peluncuran trailer film The Santri yang rencana akan tayang bertepatan dengan Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober.

Berbagai respon muncul mengikuti masifnya penanyangan trailer tersebut. Tentu saja ada yang mendukung penayangan film tersebut dan menganjurkan masyarakat menontonnya karena di dalamnya mengandung makna keislaman yang moderat. Ada juga yang menyayangkan dengan diproduksinya film tersebut karena beberapa cuplikan adegan yang menjadi trailer tidak mencerminkan norma santri yang banyak masyarakat kenal. Data dari kedua sudut pandang tadi bisa pembaca akses di internet.  

Hari ini kebetulan tanggal 16 Oktober 2019, beberapa hari sebelum HSN dan juga rilis film the Santri. Bagi pembaca yang akan mengikuti film tersebut sudah dibekali, minimal, dua sudut pandang yang kontras. Pertanyaannya, akan lebih condong ke arah sudut pandang mana kesimpulan dari plot yang dihidangkan film tersebut? Tentu saja kita tidak bisa mengetahuinya sebelum menontonnya. Bagi santri yang belajar ilmu mantik akan teringat kaidah dasar, “Menghukumi atas suatu hal merupakan bagian dari konsepsi.”

Berangkat dari hal tersebut, penulis hanya ingin ikut iuran berpikir, “Apakah santri adalah identitas diri? Apakah kalau santri kesannya selalu baik, sedangkan kalau siswa umum kesannya tidak sebaik santri? Jika santri diumpamakan sebagai sehelai baju seragam untuk suatu lingkungan tertentu dan berkaitan dengan fenomenanya, ketika ada remaja berumur 17 tahun memakai pakaian tersebut yang didapat dari toko bernama ‘pesantren’, apakah itu artinya remaja tersebut, dengan baju seragamnya, tidak bisa menginjakkan kakinya di lingkungan lain yang memiliki fenomena serupa? Ataukah santri adalah nilai dan semangat yang bersifat tak kasat mata yang  tidak dilihat dan dinilai dari sekedar fenomena yang nampak?”

Untuk menjawab pikiran liar tersebut secara komprehensif dan presisi, memerlukan setumpuk makalah dan puluhan diskusi intensif. Maka dari itu penulis membatalkan usahanya untuk menjawab pikirannya sendiri dan lebih memilih untuk bergumam dan mengingatkan diri sendiri khususnya, serta warga sosial media umumnya yang menuntut santri supaya sesuai dengan konsep mereka tentang santri. Bahwa santri adalah manusia biasa yang jika dipaksakan mengikuti konsep orang lain yang menilainya, ia juga bisa berteriak memberontak, “Lha itu kan yang ada di pikiran anda, Om!” Manusia lain memiliki konsep di pikirannya bahwa santri tidak akan berinteraksi lebih dengan lawan jenis.

Namun kenyataannya banyak juga santri yang berbuat demikian dengan ribuan cara masing-masing. Apalagi di zaman sosial media ini yang memberikan kesempatan kepada para santri, yang juga anak muda, untuk menembus batas zona laki-laki dan perempuan di suatu lingkungan pesantren. Fenomena tersebut bisa ditemukan pada cerita yang beredar di mulut para santri.

Manusia lain memiliki konsep bahwa santri tidak akan bertoleransi dengan agama lain dalam bentuk memasuki rumah ibadat mereka bahkan memberikan hadiah, misalkan nasi tumpeng. Namun kenyataannya, santri juga manusia biasa sebagaimana anak muda dan para pemeluk agama lain yang sama-sama makhluk ciptaan Tuhan yang semestinya saling meyayangi dan berbagi. Ciptaan Tuhan yang seyogyanya menjaga kerukunan dan keamaan satu sama lain sehingga terbentuklah kehangatan kasih sayang bagi semua makhluk.

Jika konsep yang ada dipikiran banyak manusia mengenai santri justru mendinginkan kehangatan kasih sayang antar makhluk Tuhan, lantas masih berlakukah semboyan “kemanusiaan sebelum beragama?”

*Penulis adalah sarjana Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo dan Editor Majalah La tansa 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here