Home Artikel Beragama Dengan Beradab

Beragama Dengan Beradab

210
0

Oleh: Dr. Muhammad Ardiansyah*

Ketika bicara tentang agama, kita boleh merujuk Hadits Jibril. Dalam Hadits yang panjang itu, kandungan agama ada tiga macam. Islam, iman dan ihsan. Dengan istilah lain, aqidah, syariah dan akhlak. Jadi ketika beragama, artinya kita mengamalkan ketiga unsur agama itu dengan baik. Jangan sampai agama kita rusak karena cara beragama yang salah.

Umat Islam adalah umat pertengahan (washatiyyah). Ini mestinya bukan sekedar slogan, tapi harus menjadi pengamalan. Jadi dalam beragama, kita tidak boleh ekstrem, baik ke kanan atau ke kiri. Yang ekstrem kanan biasanya mengusung slogan pemurnian, mengajak langsung kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah, membenturkan antara al-Qur’an dan Sunnah dengan ulama, pandangannya cenderung mono-tafsir, dan seringkali menolak istilah yang tidak bertentangan dengan Islam. Konsekuensinya, vonis bid’ah, syirik, bahkan kafir mudah ditujukan kepada saudaranya yang masih Muslim. Kongkretnya, Maulid dihukumkan haram, bermadzhab tidak perlu, setiap yang berbeda dianggap sesat, istilah tasawuf harus ditolak karena tidak ada contohnya pada masa Nabi, dan sebagainya.

Di sisi lain yang ekstrem kiri mengusung jargon pembaharuan, menafsirkan al-Qur’an dan Sunnah dengan metode asing, merendahkan ulama sambil memuji tokoh Barat, pandangannya serba relatif, dan sering menciptakan istilah baru yang merusak makna Islam.

Konsekuensinya, ajaran Islam dianggap kadaluarsa, al-Qur’an dan Hadits ditafsirkan sesuai selera, pandangan ulama digusur dan digeser dengan pandangan tokoh Barat, semua pandangan dianggap benar meskipun jelas keliru, dan Islam dipaksa tunduk pada ruang dan waktu. Akhirnya, muncul pemikiran dan praktik beragama yang aneh.

Hukum fiqh seperti nikah beda agama, nikah sejenis, perlu ditinjau ulang. Natal bersama perlu diapresiasi sebagai bentuk toleransi, bahkan paham semua agama benar pun tidak boleh disalahkan. Karena menurut mereka, semua agama akan menuju kepada Tuhan yang sama.

Dua cara beragama seperti ini adalah keliru dan tidak beradab. Oleh karena itu, dalam beragama, adab harus menjadi asas yang tidak boleh diabaikan. Pentingnya adab dalam beragama ini telah disebutkan para ulama sebagaimana dikutip Hadratusy Syeikh K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adab al-Alim wa al-Muta’allim

التوحيد يوجب الإيمان. فمن لا إيمان له لا توحيد له. والإيمان يوجب الشريعة. فمن لا شريعة له لا إيمان له ولا توحيد. والشريعة توجب الأدب. فمن لا أدب له لا شريعة له ولا إيمان له ولا توحيد.

Tauhid itu menuntut keimanan. Barangsiapa yang tidak ada keimanan, maka tidak ada Tauhidnya. Iman menuntut adanya syariah. Barangsiapa yang tidak ada syariah, maka tidak ada keimanan dan Tauhidnya. Dan syariah menuntut adab. Barangsiapa tidak ada adabnya, maka tidak ada syariah, keimanan dan Tauhidnya.

Ketika bicara adab, maka maknanya tidak sebatas sopan santun terhadap sesama. Ilmuwan Melayu ternama, Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas, menyebutkan bahwa “Adab is recognition, and acknowledgement of the reality that knowledge and being are ordered hierarchically according to their various grades and degrees of rank, and of ones proper place in relation to that reality and to ones physical, intellectual, and spiritual capacities and potencial”

Jadi adab sangat berkaitan dengan ilmu dan amal. Pengamalan ilmu yang benar ini akan melahirkan keadilan, yaitu kondisi di mana segala sesuatu berada pada tempatnya yang benar. Dalam konteks hubungan dengan sesama manusia, adab ini akan membantu kita memposisikan setiap manusia pada tempatnya, sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka.

Allah Swt. menciptakan manusia di dunia dalam kondisi yang tidak sama. Oleh karena itu, perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah bagaimana menyikapi perbedaan itu dan meletakkannya. Jika disikapi dengan adab dan diletakkan dengan adil, maka perbedaan akan melahirkan rahmat. Tapi jika disikapi tanpa adab dan tanpa sikap yang adil, maka akan menjadi musibah.

Dalam konteks hubungan beragama dan antar agama, kita harus memahami bahwa perbedaan itu ada yang bersifat ushul dan bersifat furu’. Jika diletakkan sesuai tempatnya, maka semua akan baik-baik saja. Masalah itu kemudian muncul, karena ada yang meletakkan masalah furu’ di tempat ushul, atau meletakkan masalah ushul di tempat furu’. Akhirnya, perbedaan amaliyah selalu diperdebatkan. Bahkan perdebatan ini seperti terjadwal rutin dari bulan Muharram sampai bulan Dzulhijjah. Mulai dari membaca doa awal tahun, peringatan Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, dan sebagainya terus dibahas tanpa sikap toleran.

Sebaliknya, masalah ushul seperti haramnya zina, LGBT, natal bersama, dan pluralisme agama dianggap masalah furu’. Akibatnya, muncul sikap toleransi yang kebablasan. Yang jelas haramnya diakal-akali agar bisa jadi halal. Yang Allah dan Rasul-Nya katakan sesat malah dianggap kelompok yang selamat. Masalah yang sifatnya mutlak dikatakan hanya sebatas perbedaan tafsiran saja yang sifatnya relatif. Akhirnya, semua serba boleh, serba benar, dan akan masuk surga semuanya.

Untuk bersikap toleran, kita tidak boleh gegabah memvonis sesat orang Muslim, apalagi sampai mengkafirkan mereka. Perbedaan furu’iyyah ini bukanlah hal baru, tapi sudah ada sejak masa Nabi hingga hari ini. Ulama pun banyak berbeda pendapat dalam Masalah furu’iyyah. Bukan yang beda madzhab, bahkan yang satu madzhab pun tak sedikit yang berbeda pandangan. Tapi, perbedaan itu disikapi dengan adab, sehingga tidak saling cela, tapi saling doa.

Begitu juga, kita tidak perlu menyamakan yang memang berbeda agar dianggap toleran. Atau membenarkan yang memang salah. Jika ada yang meyakini ada Tuhan selain Allah, itu hak mereka. Kita boleh menghargai keyakinan mereka, tapi sebagai Muslim, tidak boleh ikut membenarkannya. Atau ada yang meyakini Nabi Isa as meninggal disalib. Silakan saja, itu urusan mereka. Tapi sebagai Muslim, kita tidak perlu latah mengamini keyakinan mereka, apalagi sampai ikut Natal atau Paskah di gereja. Sebab Allah Swt. berfirman bahwa Nabi Isa as tidak mati disalib. Bahkan sampai kini masih hidup dan akan turun kembali ke dunia, melanjutkan syariat Nabi Muhammad Saw. Singkatnya, seperti kata guru kami, Dr. Syamsuddin Arif, “toleransi itu memahami kekeliruan dan menghormati keragaman, bukan membiarkan kesalahan dan membenarkan kekeliruan.”
Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan, bahwa teguh memegang agama itu wajib. Toleransi dalam beragama itu juga penting.

Namun keduanya harus dipadukan dengan adab dan akhlak sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab beragama tanpa beradab malah akan mengubah wajah Islam yang rahmatan lil aalamiin menjadi balaa’an ‘alal Islam wal Muslimin.
Wallaahu a’lam bi al-shawaab

Ditulis oleh Dr. Muhammad Ardiansyah(Pengasuh Ponpes at-Taqwa Depok)

Sumber foto: Hidayatullah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here