Home Tak Berkategori Bukankah Gender Ajaran Islam?

Bukankah Gender Ajaran Islam?

401
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Belum lama ini saya mendapatkan sebuah meme di WA bertuliskan: “I believe in Gender Equality not because I’m a feminist, but because I’m a Muslim” lalu di bawah tulisan itu ada tulisan lagi berbunyi: “All human are equal the only thing that differentiate us is our deeds

Kira-kira terjemahan kalimat itu seperti ini: “Saya percaya dengan kesetaraan gender bukan karena saya seorang feminis, namun justru karena saya Islam” “Semua manusia ialah setara, adapun hal yang menjadikan kita berbeda adalah apa yang kita kerjakan”

Dalam benak saya, pembuat meme itu –mungkin– berasumsi bahwa dalam ajarannya Islam mengusung kesetaraan. Artinya tidak ada pendikotomian atau subordinasi antara laki-laki dan perempuan; semua di mata Allah Swt. sama dan setara, sehingga keluarlah argumen ini. Dan ini tidak salah, namun hanya kurang ketelitian dalam telaah.

Pertama-tama saya katakan, membaca wacana gender itu bukan hanya soal “kesetaraan”(equal) –dalam makna yang dimaksud. Kalau hanya soal ini, Islam sudah lama mengusung dan menjunjungnya. Bahkan bisa dikatakan Islamlah yang tampil sebagai pelopor dalam kesetaraan ini. Islam menghapuskan tradisi arab atau berbagai daerah lainnya yang merendahkan dan menomorduakan perempuan, kemudian mengangkat derajat mereka semua.

Sebagai contoh, konon, bangsa Arab jahiliyyah sangatlah benci bila anak yang lahir adalah perempuan. Sebab menurut mereka anak perempuan tidak mampu membawa manfaat dalam hidup, khususnya bekerja. Akhirnya merekapun tega mengubur hidup-hidup anak perempuan mereka atau bahkan membunuhnya. Fenomena ini pun bisa kita lihat di al-Qur`an salah satunya di surat al-Nahl.

Jika ingin melakukan komparasi bagaimana Islam memuliakan perempuan dengan kelompok atau peradaban lainnya, kita akan menemukan perbedaan yang amat signifikan di dalamnya. Tidak perlu melihat ke sejarah romawi atau barat di masa dulu, cukup melihat sejarah eropa abad XIX dan XX. Kita akan temukan betapa ajaran Islam sangat menghargai perempuan, antara lain, dengan menyejajarkannya dan memberinya hak-hak sipil yang setara dengan laki-laki serta mendorongnya mencapai kedudukan yang terhormat. Contoh kecilnya saja ialah dalam menuntut ilmu. Baik laki ataupun perempuan semua berhak untuk menuntut ilmu, bahkan diharuskan.

Quraisy Syihab pernah bercerita bahwa istri rekannya, Syekh Hasan As-Syafi’I, pakar Ilmu Kalam milik al-Azhar, pernah ditolak untuk membuka tabungan di salah satu bank di Inggris sebelum mendapat izin suaminya. Hal ini tentu bertolak belakang dengan apa yang ada di negri-negri Islam yang bukan saja memberi hak kepada istri untuk maksud tersebut, tetapi juga hak istri –dalam konteks hukum- untuk merahasiakan kekayaan pribadinya dan mengeluarkannya tanpa sepengetahuan suaminya, sebagaimana yang temaktub dalam surat An-Nisa [4]: 32 (lihat Quraish Shihab, Islam yang Saya Pahami, hal. 124)

Selanjutnya mari kita lihat kepada wacana gender yang ‘katanya’ karena menjadi muslim lah kita mengamininya.

Gender adalah wacana yang bisa dikatakan mengandung misi, filosofi dan ideologi. Gender adalah wacana yang lahir dari rahim kekecewaan perempuan barat terhadap mereka, khususnya apa yang dilakukan gereja. Ini bisa kita lihat dari apa yang dikatakan al-Maududi, sebagaimana dikutip Dinar Dewi Kartika, bahwa ada dua doktrin dasar gereja yang membuat kedudukan perempuan di barat abad pertengahan tidak ubahnya seperti binatang. Pertama, gereja menganggap perempuan sebagai ibu dari dosa yang berakar dari setan jahat. Kedua, Perempuanlah yang menjerumuskan laki-laki ke dalam dosa dan kejahatan serta menuntutnya ke neraka. Bahkan Tertullian (150M) bapak gereja pertama pernah menyatakan tentang doktrin Kristen terkait perempuan sebagai berikut: “Perempuan membukakakan pintu bagi masuknya godaan setan, membimbing kaum laki-laki ke pohon terlarang untuk melanggar hukum Tuhan, dan membuat laki-laki menjadi jahat serta menjadi bayangan Tuhan.”

Latar belakang kelam inilah yang akhirnya memunculkan gerakan-gerakan perempuan yang menuntut hak dan kesetaraan dengan kaum laki-laki. Sebelum terma feminis popular sebagai ungkapan umum, kata-kata seperti womanism, the woman movement atau women questions telah digunakan terlebih dahulu di barat. Semuanya bermuara pada satu hal, yakni ingin menuntut keadilan bagi kaum wanita.

Dengan cerdiknya para aktivis gerakan perempuan tersebut memanfaatkan Revolusi yang terjadi di Eropa untuk menyuarakan kepentingan mereka. Sebagai contoh, pada Revolusi Puritan Inggris Raya pada abad ke-17, kaum perempuan puritan berusaha untuk mendifinisikan ulang area aktivitas perempuan dangan menarik legitimasi doktrin-doktrin yang menjadi otoritas bapak, laki-laki, pendeta dan pemimpin politik. Artinya gerakan ini sudah mulai berani memasuki area public atau bahkan agama sekalipun.

Dan seiring berjalannya waktu, konsep gender ini pun akhirnya diperluas dan dikembangkan maknanya oleh para aktivis feminis di barat. Memang pada mulanya para feminis menggunakan isu hak dan kesetaraan perempuan sebagai landasan perjuangannya, tetapi feminisme akhir 1960-an menggunakan istilah penindasan dan kebebasan yang kemudian mereka menyatakan dirinya sebagai gerakan pembebasan perempuan. Dan sampai saat ini semakin popularlah konsep gender equality sebagai gerakan mainstream milik mereka.

Dari berbagai realita ini, saya ingin ingin menyimpulkan bahwa melihat wacana gender bukan hanya sebatas ‘kesetaraan’. Ini kurang tepat. Apalagi kalau dikaitkan dengan meme yang saya cantumkan di awal tulisan, bahwa gender itu diamini justru karena Anda seorang muslim. Padahal jika kita lihat Islam sudah lebih jauh menyoal gender equality –meskipun istilah ini tidak bisa seratuspersen diterima– sebelum terma ini dipoplerkan feminis.

Jika ditanya: Lah kan intinya sama aja memperjuangkan keadilan perempuan? mungkin itu hanya kasat mata. Padahal jika diteliti basis yang digunakan feminis adalah kebebasan (freedom) dalam segala aspek. Sementara agama ia mempunyai rambu-rambu yang sulit untuk ditabrak apalagi atas nama kebebasan. Gampangnya seperti ini, dulu ada sahabat Nabi bernama Asma binti Yazid yang dikenal sebagai orator kaum perempuan (khatiibatunnisa’) yang menyuarakan aspirasi perempuan pada masa itu. Ia bertanya –mungkin bisa dibilang protes- kepada Nabi kenapa laki-laki dapat pergi ke medan perang sementara kami (perempuan) hanya di rumah, mengandung anak. Kalian tau apa kata Rasul? beliau menjawab bahwa kebaikan perempuan pada suaminya untuk mencari ridhanya dan mengikuti persetujuannya itu setara dengan apa yang dilakukan oleh laki-laki.

Jujur ini adalah cara pandang yang diajarkan Nabi pada kaum perempuan islam. Dan ini tidak akan kita temukan pada konsep gender yang dibawakan oleh feminis. Kesetaraan menurut mereka ialah sama dan serupa, seperti narasi: jika laki-laki dapat memimpin keluarga, kenapa perempuan tidak! Ini lah yang tidak akan kita temukan dalam Islam. Perbedaan peran dalam posisi keluarga bukanlah ketidakadilan. Sebab keadilan bukanlah samarasa samara, sebagaimana yang dipahami di barat.

Dari kisah Asma juga kita bisa belajar bahwa keliru kalau melihat feminisme hanya sebatas gerakan wanita untuk menuntut keadilan lantas saya sebagai muslim/muslimah perlu mengusungnya. Feminisme itu lahir dari sejarah yang panjang. Ia tidak bisa diartikan sebagai gerakan menuntut keadilan.

Karenanya, kalau hanya soal ‘kesetaraan’ seperti yang dijelaskan di atas, Islam sudah lebih jauh mengusungnya dan bahkan bisa dikatakan sebagai pelopornya. Dan saya rasa, jika hanya sebatas ini juga, kaum agamawan, Islam khususnya, tidak perlu repot-repot ikut berkomentar soal gender dan tetek bengeknya.Wallahu a’lam bisshowab

*Penulis adalah mahasiswa Tafsir al-Azhar yang kebetulan senang dengan Studi Gender.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here