Home Artikel Dampak Nativisasi dan Deislamisasi Terhadap Sejarah Kepahlawanan di Nusantara

Dampak Nativisasi dan Deislamisasi Terhadap Sejarah Kepahlawanan di Nusantara

138
0

Oleh : Bana Fatahillah*

“Sejarah merupakan alat ideologisasi. Sebab jika diperhatikan, hampir seluruh ideologi yang ada mengantarkan pemahamannya lewat sebuah sejarah, layaknya kelompok Syiah, Khawarij, Komunis, dan lain sebagainya. Dari sinilah mengapa sejarah menjadi suatu hal yang penting untuk diketahui dan dipelajari.” Begitulah kata Dr.Tiar Anwar, ketua PP Pemuda Persatuan Islam (PERSIS) dan seorang Doktor sejarah lulusan Universitas Indonesia, dalam seso perkuliahan Sekolah  Pemikiran Islam  (SPI) Fatahillah di Institute for Studies Islamic Thought and Civilizations (INSISTS).

Nativisasi diambil dari kata native, yang berarti  asli, orang asli ataupun pribumi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Nativ-isme bermakna sikap atau paham suatu negara atau masyarakat terhadap suatu kebudayaan sendiri berupa gerakan yang menolak pengaruh, gagasan atau kaum pendatang. Maka, nativisasi, pun dapat dipahami bahwa ia layaknya kata bertambahkan “isasi” lainnya, yaitu upaya menyebarkan sebuah “isme” atau paham-paham, seperti kata islamisasi dan liberalisasi.

Dalam istilah banyak sejarawan, nativisasi diartikan sebagai  satu cara  pandang yang melihat bahwa sejarah Indonesia menafikan unsur-unsur asing yang ada, dan sebuah usaha mengembalikan unsur-unsur asli yang ada di sebuah Negara atau Masyarakat.

Pembicaraan yang dikerucutkan dalam pembahasan nativisasi adalah, pengembalian  produk asli  budaya leluhur indonesia, yaitu hindu, Budha dan Animisme. Sementara produk-produk seperti Islam, Kristen dan Yahudi adalah produk luar yang diimpor ke Indonesia. Namun, dalam menyikapi hal ini, Dr. Tiar menegaskan bahwa nativisasi itu sendiri sebenarnya tidak mempunyai pijakan epistimologi yang komperhensif. Lebih tegas lagi beliau berkata:

“Jadi yang ia katakan sebagai produk asli pun sebenarnya tidak ada yang asli dari Indonesia itu sendiri. Hindu, Budha dan Animisme pun merupakan barang impor dari luar. Namun, karena yang (dianggap) pertama kali menginjakkan kakinya di Nusantara ini adalah paham tersebut, maka itu semua dikatakan asli dari Indonesia. Dan setiap kebudayaan mempunyai sifat dinamis yang akan selalu berubah, maka kebudayaan akan mati  dengan seiring berkembangnya zaman.” Seperti budaya memakai pakaian adat, penyembahan di Candi-candi, dan tradisi adat lainnya yang sudah tidak selaras lagi dengan berkembangnya zaman.

Nativisasi tidak lain dan tidak bukan adalah misi dari para orientalisme Barat yang ingin men-sekulerkan rakyat muslim di Indonesia, sehingga mereka tidak kenal lagi, bahwa dulu Indonesia pernah dibela dan diperjuangkan oleh para pejuang muslim serta sejumlah ulama. Tokoh tokoh orientalisme seperti Thomas Stanford Rafless, seorang tokoh orientalis yang menulis buku “The History of Java”, serta menjadi orang pertama yang mengembangkan teori hindu pertama kali di Indonesia. Adalagi William Rasden dengan bukunya “The History of Sumatra,” yang berusaha memisahkan antara “adat” dengan “agama” serta berpendapat bahwa adat adalah karakter orang Sumatra, yang mana itu bertentangan dengan ajaran agama yang ada (khususnya Islam).

Para orientalis tersebut membuat suatu gagasan dan melakukan berbagai penelitian mengenai sejarah di Indonesia, lalu membuat itu semua terlihat lepas dari agama. Karena menurut mereka, Islam adalah satu ajaran yang merusak dari berjalannya misi kristenisasi di Indonesia. Karena kita tau kristenisasi adalah satu dari tiga faktor  tujuan para kolonial datang ke Nusantara ini, atau yang kita kenal dengan 3G: gold (kekayaan), glory (kekuasaan), gospel (penyebaran agama kristen)

Dalam peristiwa perang Diponegoro (1825-1830), misalnya,  mereka membuat sejarah dari ‘penyebab khusus’ perang ini adalah; pemasangan patok oleh Belanda untuk pembangunan jalan yang melintasi dan Makam leluhur pangeran Diponegoro. Pemasangan patok tersebut dilakukan tanpa izin dan semena-menanya, sehingga sangat ditentang oleh pangeran Diponegoro.(lihat, Sugiharsono, et al, Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTS Kelas VIII Ed.4, hal.62). para sejarawan muslim berpendapat, bahwa ketik menyebut sebab ini, membuat seakan-akan pangeran Diponegoro berperang hanya untuk perebutan sebuah “makelar tanah,” yang mana itu merupakan hal yang kurang cocok dijadikan sebab utama dari perang tersebut.

Hal ini diluruskan oleh Dr. Tiar dalam bukunya “Sejarah Nasional Indonesia Prespektif baru,” yang merupakan sebuah terobosan baru dari buku sejarah dalam prespektif Islam dan telah merivisi beberapa buku sejarah dari tingkat menengah. Dalam peristiwa ini para penulis membuat kutipan besar bahwa, “Pangeran Diponegoro pejuang muslim yang tangguh. Bukan hanya tanah Nusantara yang diperjuangkan, melainkan pembelaan terhadap Agama Allah-lah yang lebih utama”. Ia menyatakan dengan terang bahwa perlawanannya tersebut adalah perang sabil (jihad di Jalan Allah Swt.) menghadapi kaum kafir. (selengkapnya lihat, Tiar Anwar Bahtiar dkk, Sejarah Nasional Indonesia Prespektif baru, hal.90)

Beliau adalah Raden Mas Ontowiryo, dikenal dengan Pangeran Diponegoro, putra sulung Sultan Hamengkubuwono III. Ia lahir pada 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang selir bernama R.A Mangkarawati. Walaupun dari keturunan raja, Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan hidup bersama rakyat daripada tinggal di Keraton. Oleh sebab itu, ia lebih memilih menimba ilmu di Pesantren di daerah Tegalrejo. Beliau adalah ulama dan seorang mujahid.

Dan jika membaca kisah-kisah perjalanan Diponegoro, rasanya kurang cocok jika penyebab terjadinya perang tersebut adalah karena perebutan tanah. Lebih jelasnya, pada saat itu Diponegoro melihat kristenisasi yang mulai menyebar di Tanah Jawa, dan keadaan umat Islam saat itu sangat terdesak oleh penjajahan Belanda, yang membangkitkan dirinya untuk memperjuangkan agamanya. Jadi bukan hanya karena makelar tanah. Sebab nantinya, dampak dari pengabaian nilai keislaman pada peristiwa ini adalah lupanya para pelajar, umat muslim khususnya, dengan sosok keislaman milik Diponegoro.

Bentuk deislamisasi lainnya adalah Penamaan kapitan Patimura dengan “Thomas Matulesi” yang identik  dengan nama orang  kristen. Adapun sebenarnya, ia  adalah Ahmad Lusy, akrab dengan panggilan Mat Lusy, seorang muslim yang taat dan pemberani dari daerah Maluku.  Ia adalah seorang  pahlawan dan mujahid. Pada saat itu kerajaan Maluku adalah kepulauan dengan kerajaan-kerajaan islam terbanyak. Daerah tersebut pernah diberi julukan oleh orang Arab sebagai  jaziirot al-mulk . Pattimura dengan semangat jihadnya memipin perang rakyat maluku terhadap belanda dan berhasil merebut Benteng Duurstede di Sapura dari tangan penjajah.

Berbicara mengenai  perjuangan pahlawan, mayoritas hanya mengetahui bagaimana para pahlawan-pahlawan tersebut berperang, lantas ia menang atau kalah, dan terakhir mereka wafat, lalu di singkan ke berbagai derah. Karena memang ini adalah salah satu misi dari sekularisasi yang ada dalam pengkajian sejarah.

Bisa dilihat bagaimana sejarah mengupas dengan jelas bagaimana silsilah candi, macam-macamnya, hingga kerajaan hindu dan budha secara mendetail. Sebaliknya, di mana sejarah banyak mengungkap bagaimana peran Muhammadiyyah, Nahdahatul Ulama, para Pesantren-pesantren, Kerajaan-kerajaan Islam, dan berabagai peninggalannya secara menyeluruh. Walaupun ada, itu mungkin tidak sebanyak yang diawal. Buya Hamka pernah bergumam, “Orang Indonesia lebih mengenal siapa itu Gajah Mada, dari Raden Fatah”. Inilah sebuah deislamisasi sejarah.

Dalam memasukkan pemahaman nativisasi sejarah, simbol atau icon yang selalu ditunjukkan untuk mewakilkan Indonesia dimata Dunia adalah sebuah candi. Apa karena Candi Borobudur termasuk salah satu keajaiban Dunia yang ada. Inilah dampak yang terjadi dari sebuah nativisasi sejarah. Orang seakan melihat Indonesia dahulu berjaya dan berkuasa ditangan  Majapahit, Sriwijaya, Mataram, serta kerjaan-kerajaan lain, yang mana itu tidak ada unsur keislaman. Sehingga mereka lupa dengan perjuangan-perjuangan para da’i dari kerajaan islam, ulama-ulama yang berusaha menyatukan Nusantara, serta para kyai yang andil di barisan terdepan dalam mengusir penjajah di Nusantara ini.

Kita tidak menafikan semua sejarah yang ada. Tentang itu, dari adanya kerajaan hindu budha di Nusantara ini, ataupun segi segi perjuangan pahlawan yang lainnya. akan tetapi setidaknya kita lebih beradab dalam  mendudukkan sesuatu. Lebih tepatnya, sebagai orang Islam, kita harus lebih bisa memproporsionalkan sesuatu. Tau akan kerajaan hindu budha, lantas kita tidak tau kerajaan Islam yang lebih banyak membawa perubahan pada Nusantara ini. Mengetahui kisah para raja Hindu dan budha, namun tidak mengenal kisah, bahkan nama-nama ulama yang ada pada kerajaan islam dan pahlawan di Nusantara.

Dr. Tiar berpesan, “Kalian semua, serta seluruh rakyat Indonesia harus mengetahui sejarah yang benar. Kalaupun sudah terlanjur disampaikan kepada mereka hal-hal yang menyimpang, maka satu-satunya jalan adalah dengan membenahi “guru sejarahnya”. Sejarah perlu banyak dikaji dan ditelaah dari berbagai sumber. Dan nantinya sumber yang kuat itulah yang akan menegakkan sebuah penulisan sejarah.” Wallahu a’lam bissowab.

*Penulis adalah Pimpinan Redaksi Majalah Latansa IKPM Kairo periode 2017-2018.

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here