Home Artikel Eksistensi Pemikiran Islam dalam Wajah Peradaban Barat

Eksistensi Pemikiran Islam dalam Wajah Peradaban Barat

291
0

Oleh : Nafisah Aliyah

Dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari kalangan muda maupun tua, kini merasakan pengaruh peradaban Barat dalam kehidupan sehari-hari. Zaman dimana kebebasan akan moral, kebingungan akan liberalisme, yang malah memicu kontroversi-kontroversi yang kian hebat dan berdampak bagi semua manusia terutama umat muslim di dunia ini. Pemikiran dan adanya peradaban Barat menjadi salah satu faktor utama yang menjadi kompor di dalamnya. Akan tetapi, tidak semua manusia terutama kaum muslim, benar-benar paham apa inti sebenarnya dari peradaban dan pemikiran Barat tersebut.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikiran yang dikenal cukup baik dalam dunia pemikiran Barat maupun Islam, memandang problem terberat yang dialami manusia sekarang adalah hagemoni dan dominasi keilmuan sekular Barat yang mengarah pada kehancuran umat Islam. Gambaran yang nyata dan telah berjalan berapa tahun lamanya hingga sekarang, konflik permasalahan perebutan tanah yang telah Allah Swt. janjikan inilah yang menjadi satu permasalahan hingga kini tak kunjug usai.

Menurut al-Attas, bagi Barat, kebenaran fundamental dari agama dipandang sekedar teoritis. Inilah yang menjadikan kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima.  Jika kita cermati sekali lagi, sesungguhnya Allah Swt. telah menjelaskan kepada kita, akan pemikiran-pemikiran kronis dan perilaku bangsa Barat dalam melakukan penindasan umat Islam.

Sebagai kaum Muslimin, kita harus berpegang teguh dan saling menjalin ukhuwah antara satu sama lain untuk tetap memperjuangkan dan mempertahankan agama Islam. Perlu kita ketahui, hakikat Islam memiliki pemahaman yang bervariasi dalam segi pandang agama. Maksud dari segi pandang ini ditinjau dari makna hakiki Islam itu sendiri dengan makna Islam menurut agama lain. Dalam soal definisi Islam, sangat menarik saat membandingkan konsep yang dipaparkan oleh dua cendekiawan lintas agama, antara Syed Muhammad Naquib al-Attas yang beragama Islam dan W.C Smith cendekiawan kristen. Konsep dua cendekiawan ini banyak menjadi rujukan para ilmuwan lain dalam memberi definisi agama, khususya Islam.

Sejak tahun 1970-an, al-Attas sudah dikenal sebagai ilmuwan Muslim dengan gagasan-gagasannya yang membongkar bahaya sekularisasi di dunia Islam dan mengingat adanya konflik abadi antara peradaban dan pemikiran Islam dengan Barat ini. Begitu pula dengan W.C Smith, meski ia adalah tokoh cendekia kristen, namun ia juga memiliki pandangan akan apa itu beragama yang hakikat aslinya itu adalah agama yang sebenarnya, yakni agama Islam. Jika kita gabungkan pemikiran antara dua cendekiawan ini akan mucul kesamaan pemikiran akan apa makna dari keutuhan agama. “Agama yang benar adalah bukan menunjuk pada nama agama tertentu, tapi adalah suatu bentuk aktivitas disertai dengan keyakinan atas bentuk kepasrahan dan ketundukan. Hanya saja jika ditimbang dan kita dalami sekali lagi, masih tetap agama Islam memiliki kedudukan yang unggul dan lebih sempurna. Karena Islam selain memiliki makna akan hakikat agama yang benar, juga memiliki sandaran keyakinan tauhid yang jelas kepada Allah Swt. dengan disertai pondasi keimanan, dan sebagaimana disebutkan dalam ayat al-Quran dan hadits Nabi yang mewajibkan kaum Muslim memiliki cara dalam menuju sunnah Rasul-Nya dan mencari ridhoNya. Selain itu, sudah jelas dalam al-Quran bahwa Islam adalah agama yang paling sempurna.

Menguak salah satu pembahasan yang dapat kita lihat dalam kehidupan nyata saat ini, tentang permasalahan suatu peristiwa yang terjadi, kita dapat mengambil sampel tentang pengaruh peradaban dan pemikiran Barat atas permasalahan yang sangat rumit, yakni pembahasan seputar Yerussalem ditinjau dari segi keislaman dengan pedoman Quran dan pandangan agama lain dari kitab lain pula yang menjadi pedomannya.

Salah satunya kajian-kajian tentang Yahudi dan Kristen perlu dilakukan dengan serius oleh kalangan muslim, mengingat begitu banyak ayat dan hadits Nabi yang menyebut tentang kedua agama dan kelompok manusia ini. Tafsir-tafsir al-Quran perlu ditelaah, baik klasik maupun modern. Ketika al-Thabari, al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan sebagainya menyusun tafsirnya, belum muncul paham dan gerakan Zionisme. Ketika itu Islam masih memegang peranan yang signifikan dalam percaturan international, dan Yahudi menjadi pihak yang mendapat perlindungan di negeri-negeri muslim. Namun pada kenyataanya keadaan sekarang malah berbalik, yakni kaum Yahudi termasuk sebagai aktor pelaku penindasan terhadap umat Islam, terutama pada saudara semuslim kita di Palestina.

Bangsa Yahudi merupakan bangsa yang paling banyak disorot dan dikritisi di al-Quran maupun Hadist Rasulullah. Bahkan dalam satu hadist Rasulullah Saw. memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti sunah Yahudi dan Kristen. Salah satu ayat yang mengkritisi tentang pembangkangan sikap Yahudi dijelaskan dalam surat al-Baqarah, ayat 96 :

وَلَتَجِدَنَّهُمۡ أَحۡرَصَ ٱلنَّاسِ عَلَىٰ حَيَوٰةٖ وَمِنَ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْۚ يَوَدُّ أَحَدُهُمۡ لَوۡ يُعَمَّرُ أَلۡفَ سَنَةٖ وَمَا هُوَ بِمُزَحۡزِحِهِۦ مِنَ ٱلۡعَذَابِ أَن يُعَمَّرَۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِمَا يَعۡمَلُونَ ٩٦

Dan sungguh kamu mendapati mereka, manusia yang paling tamak pada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih tamak lagi) dari orang-orang musyrik. Masing- masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS 2:96)             

Hal ini menjadi suatu latar belakang, mengapa di dalam al-Quran sangat mendominan sekali pembahasan tentang kaum Yahudi. Ditinjau dari penafsiran kitab al-Alusi bahwa orang-orang Yahudi merupakan suatu kaum yang sangat kufur. Allah Swt. menyebutkan bahwasannya mereka sebagai as- Syaddu an-Nas, karena kekufuran mereka yang sangat berlebihan. Selain itu juga ditinjau dari kebiasaan mereka untuk berbohong dan mengikuti hawa nafsunya.

Telah tertulis dalam firman-Nya,( يَوَدُّ أَحَدُكُمْ لَوْ يُعَمَّرُ اَلْفَ سَنَةٍ )  Masing-masing orang dari mereka ingin agar diberi umur seribu tahun. Begitu inginnya mereka untuk diberi umur yang panjang, namun tidak menutup kemungkinan dengan adanya umur yang panjang, meski seribu tahun sekalipun mereka akan berhenti dari sifat buruk mereka lalu mengerjakan dan senantiasa menaati apa yang Allah Swt. perintahkan. Selain itu dijelaskan dalam kitab tafsir Ibnu Katsir bahwasannya, umur panjang itu sama sekali tidak akan menyelamatkan mereka dari azab, karena orang musyrik tidak akan mengaharapkan kebangkitan kembali setelah kematian, tetapi menginginkan umur panjang. Sedangkan, orang-orang Yahudi juga mengetaui kehinaan yang akan mereka terima di akhirat karena menyia-nyiakan ilmu yang mereka miliki.

Demikian juga mengenai makna ayat diatas, Abdur Rahman bin Zaid bin Aslam mengatakan, Orang Yahudi itu lebih rakus terhadap kehidupan dunia ini daripada orang-orang musyrik, di mana mereka diberi umur seribu tahun lagi. Namun, umur panjang itu tidak akan menyelamatkan mereka dari adzab. Sebagaimana umur panjang yang diberikan kepada iblis tidak memberikan manfaat sama sekali kepadanya, karena ia kafir. Dengan kata lain secara tidak langsung kaum Yahudi dapat diakatakan seperti iblis.

Selain itu, sebelum Allah SWT. menjelaskan di dalam al-Quran, Allah Swt. telah menjelaskan di kitab Injil-Nya. Yahudi identik sekali dengan kekuatan jahatnya, (Yohanes 8:44) telah tertulis bahwasannya, Iblis lah yang menjadi Bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan Bapa segala dusta. Artian kata iblis ini hakikatnya tertuju pada orang-orang Yahudi. Di mana mereka berkiblat pada Iblis sebagai bapa atau sebagai pengikutnya. Maka mereka adalah sebagai pendusta, dan Iblis adalah Bapa segala dusta.

Dengan demikian, mengapa pembahasan kaum Yahudi begitu mendominasi akan firman-firman yang Allah Swt. sampaikan. Pada hakikatnya paham kita sebagai muslim dengan mereka kaum Yahudi sama, yakni memiliki paham agama tauhid. Namun, yang membedakan adalah paham tauhid mereka lebih menjuru pada karakter superior. Dengan maksud mereka memiliki tuhan, namun tuhan mereka hanya diperuntukkan untuk golongan kaum mereka. Dan dengan dasar seperti itulah mereka memiliki cara pandang berbeda dengan kita, dan menimbulkan sifat maupun karakter yang identik kasar dan semena-mena.

Seperti halnya pembahasan permasalahan yang dirujuk dari dua konteks inilah yang sering dilakukan bangsa Barat dalam mengkorek keutuhan Islam. Adanya permainan dalam pemikiran yang mereka lakukan dari dalam dan secara halus itu malah membahayakan. Begitu juga dampak dari pemikiran dan peradaban Barat inilah menjadi pemicu dalam adanya perubahan makna dan timbul pemikiran-pemikiran yang malah melenceng oleh orang-orang muslim itu sendiri, hingga nantinya akan ada kontra, baik sesama Islam maupun dengan aspek politik atau aspek-aspek kehidupan lainnya. Kita sebagai kaum muslim seharusnya dapat menyaring, membentengi, dan tetap mengutuhkan agama Islam. Menanamkan dalam hati kita akan keutuhan dan hakikat Islam yang sesungguhnya. Dan senantiasa memantapkan akidah kita. Hingga Islam nantinya mendasar pada piki ran, akhlak dan hati nurani kita.

*Penulis adalah Pengelola Web Gama Jatim Mesir periode 2018-2019

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here