Home Nusantara Euforia “penjajahan”

Euforia “penjajahan”

80
0

Oleh: Habib Maulana

Seremonial tahunan kekhidmatan yang diselenggarakan oleh hampir seluruh rakyat Indonesia, ditujukan sebagai momentum peringatan terhadap perjuangan para pahlawan, seremonial inipun sebagai ajang mawas diri di umur bangsa yang tak lagi muda ini.
Layaknya perayaan maulid Nabi Muhammad, perayaan inipun menjadi wadah untuk merenungi jasa-jasa para pahlawan dengan harapan nilai yang direnungi dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari; pribadi, sosial maupun beragama. Hingga sampailah rakyat Indonesia pada proses pembangunan moral dan akhlak dengan pembelajaran sejarah bangsa Indonesia.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) arti kata merdeka adalah bebas dari penghambaan, penjajahan, berdiri sendiri dan sebagainya. Tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang lain atau pihak tertentu.


Pada usia Negara Indonesia yang ke-74 ini, banyak sekali euforia masyarakat terhadap kemerdekaan bangsa ini. Memang sudah seharusnya! Jauh, tujuan dari seremonial peringatan Hari Kemerdekaan adalah penghayatan dengan khidmat seperti pemaparan di atas, agar berjalannya seremoni ini meninggalkan kesan dan pesan untuk masyarakat dan bangsa.
Untuk memahami sebuah istilah ‘Medeka’ perlu kiranya kita memahami lebih dalam ‘apa makna penjajahan?’. Dalam sebuah opini di Republika Online yang dipaparkan oleh Agus Yulianto pada 25 agustus 2017, ia memandang bahwasanaya negri dengan segala euforia seremonial 17annya, belum benar-benar merdeka, mungkin dengan istilah lain “masih dijajah”.


Ekonomi Indonesia masih dalam jajahan kapitalisme, tingkat korupsi di Indonesia masih tinggi, Indonesia dikelilingi oleh pangkalan militer Amerika, begitulah beberapa pemaparan kondisi Indonesia dari mas Agus. Namun, dalam pemaknaan istilah ‘jajah’ apakah selalu menampakan wajah disforia? Ataupun istilah ‘merdeka’ selalu menampakan euforia? Toh dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan Indonesia dijajah selama 350 tahun (pernyataan untuk membakar semangat perjuangan), lantas menghasilkan semangat juang rakyat untuk bangkit menyongsong lahirnya kemerdekaan.


Pemaknaan istilah ‘penjajahan’
Pertama, Allah Swt berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negri-negri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf [7]: 96)
Abdullah bin Abbas Radhiyyallah ‘anhuma mengatakan: “Niscaya kami lapangan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan kami mudahkan mereka untuk mendapatkannya dari segala arah” (Tafsir Abi as-Suud, 3/253).
Al-Baghawi dalam tafsirnya menyimpulkan kalimat “al-Barakat” adalah bahwa apa yang diberikan oleh Allah yang disebabkan oleh keimanan dan ketakwaan mereka adalah kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apapun atas mereka.


Dalam ayat ini menjelaskan keadaan suatu negri yang disiksa karena tidak berimanan dan kebertakwaan mereka, sehingga dengan perbuatan mereka inipun dapat mendatangkan suatu kesengsaraan bagi penduduk suatu negri.
Kedua, Beberapa adab yang lazim dilakukan dalam pelaksanaan shalat istisqa adalah memperbanyak itighfar, bertaubat dan menjauhi segala bentuk kezaliman.Shalat istisqa’ merupakan sholat untuk meminta pertolongan Allah atas kesengsaraan yang dihadapi penduduk suatu negri berupa kekeringan karena tak turun hujan yang berkepanjangan.


Hikmah dari pelaksanaan shalat ini adalah sebuah kesengsaraan yang terjadi merupakan ulah kezaliman tangan itu sendiri, sehingga yang sangat perlu dilakukan adalah memohon ampunan dan bertaubat serta menjauhi kezaliman agar tercapainya ampunan dan pertolongan Allah.


Ketiga, Dalam kitab al-Jihad yang ditulis oleh ‘Ali Thahir al-Sulami (1039-1106) seorang Imam bermadzhab syafi’i dari Damaskus. Ia adalah eorang yang aktif menggalang jihad melawan pasukan salib melalui pertemuan-pertemuan umum pada 1105 (498H).


Dalam kitabnya ia mencatat satu-satunya solusi yg dapat menyelamatkan wilayah-wilayah kau mislimin adalah dengan berjihad. Ada dua kondisi yang harus dipersiapkan sebelumnya Pertama, “reformasi moral” untuk mengakhiri “degradasi spiritual” kaum mulimin ketika itu. Ia beranggapan invasi pasukan salib harus dinilai sebagai hukuman Allah, sebagai peringatan untuk bersatu.

Kekalahan kaum muslimin dinilai sebagai kealpaan menjalankan kewajiban agama, dan diatas itu kelalaian menjalankan jihad. Kedua, penggalangan kekuatan Islam untuk mengakhiri kelemahan kaum Muslim yang telah memungkinkan pasukan salib menguasai negri-negri Islam.


Penjajahan yang telah terjadi selama ini, harus dinilai juga sebagai hukuman dari Allah, sebagai peringatan untuk bersatu, dan sudah jelas dengan keinginan luhur dan persatuan rakyat Indonesia telah mendatangkan kemerdekaan untuk bangsa ini.


Pembukaan UUD 1945 menegasskan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”. Rumusan itu sangat indah; sesuai dengan rumusan akidah ahlusssunah; perpaduan aspek Rahmat Allah dan usaha manusia. Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dan kita mengakui, bahwa Allah Swt adalah yang menganugerahi kemerdekaan. Pengakuan ini telah diletakan dalam pembukaan UUD dan selalu dibaca setiap upacara bendera.


Dengan pemahaman seperti ini, kita seharusnya menyadari bahwa kebebasan dari penjajahan bukanlah karena hasil usaha bangsa Indonesia semata, melainkan “berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, sehingga sampailah bangsa ini ke depan pindu kemerdekaannya.
Dalam pemaknaan ‘penjajahan’ tidak benar jikalau selalu dimaknai dengan disforia, pada hakikatnya semua bentuk penjajahan; pribadi atau sosial, adalah suatu tanda kasih sayang dan bisikan cinta Tuhan kepada hambanya, karena dengan sebuah musibah akan menghantarkan seorang hamba kepada sebuah keimanan. “Adakah manusia mengira mereka akan dibiarkan saja mengatakan kami telah beriman, padahal kami belum menurunkan ujian atau musibah, sungguh telah kami uji umat sebelum mereka dengan ujian itu” (QS. Al-Ankabut [ 29]: 2-3).


Indonesia masih dijajah
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian lebih akan lebih berat karena melawan saudara sendiri” itulah yang pernah dikatakan Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia
Dengan lahirnya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, apakah Indonesia telah lepas dari segala bentuk penjajahan?
Untuk melihat sedikit keadaan Indonesia, mungkin bisa kita dengar lagu Negri Ngeri dari grup band Marjinal. “Lihatlah negri kita, yang subur dan kaya raya. Sawah ladang terhampar luas, samudra biru. Tapi rataplah negri kita, yang tinggal hanyalah cerita. Cerita dan cerita, terus cerita? (cerita terus). Pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela, pedagang kaki lima tergusur teraniaya. Bocah-bocah kecil merintih, melangsungkan mimpi dijlalanan, buruh kerap dihadapi penderitaan. Inilah negri kita, alamnya kelam tiada berbintang, dari derita dan derita menderita? (derita terus). Sampai kapankah derita ini, yang kaya darah dan air mata, yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi.


Siklus jajah-merdeka, merdeka-jajah akan terus berlangsung. Dalam proses membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan harus dinilai ketidakmampuan sebuah usaha manusia tanpa memohon pertolongan Allah Swt,kealpaan dari pemahaman akan sebuah penderitaan dan persatuan mengakibatkan hilangnya rasa tidak peduli dan abai akan strategi untuk merekonstruksi negri, tertinggal hanya sebuah keegoismean diri untuk membangu. Padahal dalam sila ke-3 “Persatuan Indonesia” perlu dimaknai, pembangunan negri ini harus dilakukan dengan persatuan, dan musuh dari itu semua adalah keegoismean.


Menuju Indonesia Unggul, bukan hanya dari pembangungan sumber daya manusia dalam segi akademis, lebih dari itu, reformasi moral sangat perlu dilakukan untuk melahirkan bibit-bibit unggul untuk generasi masa depan. Maka dari itu, acara peringatan kemerdekaan sudah seharusnya bukan hanya menampakan sebuah euforia kemerdekaan, tetapi juga euforia penjajahan, agar rakyat Indonesia mengerti keadaan negri ini masih perlu direkonstruksi. Karena makna kemerdekaan akan terasa hambar tanpa istilah penjajahan, begitu pula tidak bisa disebut iman tanpa sebuah ujian.Nilai pesan inilah yang seharusnya direnungkan untuk memperbaiki degradasi moral dan spiritual.

Wallahu ‘alam bi shawab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here