Home Artikel Film Bad Genius dan Problema Pendidikan Kita

Film Bad Genius dan Problema Pendidikan Kita

295
0
Cuplikan Dari Film Bad Genius

Oleh: Bana Fatahillah*

Rinranda Nilthep atau yang akrab disapa Lyn adalah anak yang super jenius. Berbagai olimpiade Ia sabet dan menangkan. Prestasinya di sekolah tidak pernah tidak nomor satu, alias pasti ranking pertama. Sebagai anak dari ayah yang berprofesi sebagai guru, Lyn selalu membuat ayahnya bangga dengan prestasi yang ia raih.

Suatu hari, Lyn dipindahkan oleh ayahnya dari sekolah lamanya. Meski berat hati, Lyn harus menerimanya, sebab ia tau saat itu ayahnya sedang mengalami krisis ekonomi. Tak butuh pikir panjang, setelah melihat kejeniusan beserta deretan prestasinya, pihak sekolah langsung menerima Lyn sebagai murid  dengan menggratiskan biaya sekolah Lyn. Bahkan ia diberikan beasiswa studi di Singapura setelah lulus.

Di sekolah inilah banyak terjadi perubahan pada sosok Lyn. Perubahannya terlihat derastis saat ia berteman dengan Grace, salah satu perempuan di kelasnya. Karena tak tega melihat Grace frustasi mengerjakan matematika, ia pun memberikan contekan padanya tatkala ulangan berlangsung.

Ternyata Grace tidak bisa menjaga rahasia contekan ini. Pacarnya, Pat, mengetahui hal tersebut, dan bahkan memberikan masukan serta usulan untuk membisniskan “potensi”  yang ia miliki. Pat menyarankan agar Lyn dapat memberikan contekan kepada sejumlah murid, dengan syarat ia harus membayar sejumlah 1,2 juta untuk setiap contekan. Awalnya Lyn ragu. Namun setelah mempertimbangkan keadaan ekonomi keluarganya, Lyn pun mengiyakannya.

Dagangan ini pun laris manis dan berhasil, sampai Bank, sosok laki laki yang menjadi rival Lyn disekolah yang mempunyai kepintaran sama dengannya, mengadukan kecurangan ini ke pihak sekolah. Beasiswa Lyn pun ditarik, dan kepergiannya ke Singapura pun sirna. Ayahnya kecewa dan menyuruh Lyn mengembalikan semua uang milik temannya.

Singkat cerita, Grace diminta orang tua pacarnya untuk dapat membantu Pat lulus dalam ujian beasiswa Luar Negri bernama STIC. Mereka menganggap Grace lah yang telah mengajari Pat sehingga lulus. Padahal tidak. Itu adalah usaha Lyn. Tanpa pikir panjang, dimintalah Lyn untuk melakukan “kecurangan” untuk kesekian kalinya dengan cara yang amat licik. Grace berani bayar berapapun asalkan ia dan pacarnya dapat lulus dalam ujian ini.

Grace dan pacarnya tidak mau tau. Apapun caranya, ia harus lulus dalam ujian ini. Ia tidak memikirkan nasib Lyn jika tertangkap berbuat licik. Yang penting, dalam benak dua orang itu, mereka harus dapat nilai baik dan lulus dalam ujian STIC. Berkat Lyn, mereka pun akhirnya lulus dengan nilai yang amat baik. Meski di balik kesuksesan itu terdapat penderitaan yang dialami oleh Lyn.

* * *

Sebagai penonton, saya berfikir bahwa film itu seakan-akan sedang berdialog dengan realita saat ini. Dimana kepintaran seseorang hanya dinilai dari nilai akademik saja. Jika nilai dan prestasinya bagus, itu berarti dia anak yang pintar. Jika ijazahnya mendapatkan predikat A berarti ia jenius. Mau baik ataupun buruk akhlaknya itu hal belakangan. Mau nilai itu ia raih murni dari dirinya sendiri ataupun “jalan pintas”, itu urusan nanti.

Lyn memang sosok yang terdesak masalah ekonomi sehingga berani “membisniskan” kepintarannya dengan licik. Tapi, sebagai pengamat film tersebut, saya tidak bisa menyalahkan Lyn begitu saja. Justru temannylah yang menjadi “setan” berbentuk manusia yang senantiasa menggoda, yang menurut saya harus disalahkan. Model seperti merekalah yang kini menjamur di para pelajar kita hari ini.

Pelajar kita hari ini —atau mungkin sejak dulu— terlalu memuja nilai akademik dalam orientasi sekolahnya. Stigma “anak pintar” pun identik dengan mereka yang nilai akademik nya bagus dan prestasinya gemilang. Akhirnya, untuk dapat meraih itu semua dan untuk ‘dianggap’ sebagai anak pintar, praktik contek-menyontek pun dijadikan salah satu jalan untuk sampai hal tersebut—bahkan tidak sedikit yang menjadikannya “jalan utama”.

terkait praktik contek-menyontek, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencatat bahwa pada tahun 2018 jumlah siswa yang diadukan  mencontek pada Ujian Nasional berjumlah 187 siswa. Jumlah ini terhitung lebih sedikit dibandingkan 3 tahun sebelumnya, yakni pada 2015, sebanyak 365. Meski adanya penurunan drastis dalam jumlah, sebagaimana yang dituturkan Anies, namun menurut saya budaya ini masih tetap menjamur di pendidikan kita.

Rasanya kurang adil jika kita menilai kepintaran seseorang hanya dari nilainya saja. Hal ini memang karena pendidikan kita terlalu fokus pada nilai kognitif, mengesampingkan bermacam kecerdasan apalagi sampai mengesampingkan kejujuran. Jika demikian, yakni kepintaran hanya diukur dari nilai semata, bagaimana nasib orang yang memang dasarnya kurang mampu mencerna pelajaran. Bukankah kompetensi setiap anak itu berbeda beda. Jika ingin dipukul rata semua, berarti itu tak adil.

Menurut Prof. Howard Gardner, tokoh pendidikan dan psikologi berkebangsaan Amerika, tipe kecerdasan beserta ciri-cirinya dibagi menjadi delapan;  kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis atau logika, kecerdasan spasial, kecerdasan kinetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalis.

Karenanya tidak adil rasanya jika individu yang berprestasi di bidang olahraga (memiliki kecerdasan kinetik-jasmani) tetapi nilai kognitifnya kurang, kita anggap bodoh.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengapresiasi siswa yang memiliki prestasi di bidang non-kognitif adalah dapat disertakannya dokumen prestasi atau penghargaan ke dalam portofolio pendaftaran masuk Sekolah atau perguruan tinggi. Namun dengan pesimis, rasanya cara tersebut tidak cukup untuk mengubah mindset ini. Perlu adanya perubahan sistem pendidikan yang menghargai setiap kecerdasan.

Terkait perbedaan kompetensi setiap orang, Baginda Nabi telah menjelaskannya. Beliau berkata: manusia itu adalah barang tambang layaknya emas dan perak (al-Naaasu Maadin, Kamaadin al-Dzahab wa al-Fiddhoh). Ada yang emas, perak, alumunium, besi, bahkan batu bata sekalipun. Logikanya, tidak semua hal dapat dibuat dengan emas. Terkadang kita butuh besi dan baja atau bahkan batu bata untuk membuat sesuatu. Tatkala membangun sebuah rumah, apakah Kalian akan menggunakan emas sebagai pondasinya. Tentu tidak. Emas memang dicari. Tapi tidak semua hal dibuat dengan emas.

Begitupun manusia. Dalam berbagai lini kehidupan tidak semua yang “nilai akademiknya bagus” yang akan menempati berbagai posisi. Memang nilai akademiknya tidak bagus, namun untuk soal aliran listrik, ia jagonya, maka kita tidak butuh orang yang IPK nya 4. Yang kita butuhkan adalah dia yang jago dalam arus listrik. Banyak orang multitalen yang skillnya memadai namun nilai akademiknya tidak seberapa.

Ada cerita populer, yang menurut banyak tokoh kisah ini diambil dari kitab Matsnawi milik Rumi. dikisahkan, suatu hari ada seorang ilmuwan yang hendak menyebrangi laut bersama seorang nelayan. Di tengah perjalanan, ilmuwan ini bertanya banyak soal ilmu kepada si nelayan. Karena tidak mampu menjawabnya, ilmuwan itu pun mencela nya sambil mengatakan: betapa menyesalnya dirimu wahai nelayan karena tidak mengetahui ilmu ini, ini dan ini. Nelayan pun terdiam sambil menyimpan kegeraman

Tak lama kemudian terjadilah badai di Laut dan kapal pun mulai goyang. Dengan tenang Nelayan itu bertanya; apakah tuan mengetahui ilmu berenang? “Tidak” Jawabnya. Sambil tersenyum jahat nelayan itu berkata, sungguh menyesalah tuan karena tidak bisa berenang. Dan sekarang lawanlah ombak ini bersama ilmu yang tuan miliki, karena Saya akan melawannya dengan ilmu renang yang Saya miliki. Ilmuwan itu pun hanyut terbawa ombak.

Jika mengibaratkan ilmuwan tersebut emas, maka tidak sepatutnya ia menghardik yang bukan emas. Sebab di satu sisi, nilai “ke-emasannya” tidak akan manfaat dalam posisi yang harusnya diisi oleh yang bukan emas, batu bata misalnya. Begitulah sedikit gambaran akan potensi setiap orang; ada yang emas ada yang bukan.  

Sekali lagi, kita tidak bisa memukul rata kepintaran setiap orang. Nilai akademik bukan jaminan seorang pelajar bisa menyelesaikan permasalahan kehidupan. Meminjam kutipan Rocky Gerung, “Ijazah atau nilai akademik itu hanyalah sebuah bukti Anda pernah sekolah bukan bukti anda pernah berpikir”. Mereka yang anjlok dalam nilai akademik, belum tentu gagal dalam kehidupannya. Justru merekalah yang kini sukses dalam kehidupan dan banyak mengisi lini kehidupan.

Dr. Adian Husaini, seorang Doktor dan Pakar dalam Pendidikan, juga pernah menyampaikan bahwa pelajar saat ini lebih diarahkan untuk menjawab soal ujian bukan soal soal kehidupan. Sehingga yang menjadi orientasi adalah nilai semata. Bukan akhlak mulia atau skill dan bakat seorang anak. Jika pendidikan di Indonesia terus seperti ini, maka kita hanya akan mencetak orang orang apatis yang tak peduli masyarakatnya; orang orang pragmatis yang memntingkan nilai akademiknya dengan jalan apapun itu.

Semoga Pendidikan kita tidak terjebak dalam belenggu nilai akademik semata, tanpa memperhatikan aspek lain di luar hal tersebut. Wallahu a’lam bi al-Shawab. Dan untuk yang belum nonton film ini, saya sarankan nonton secepatnya. Saya jamin kalian akan dibuat diam dengan sejumlah adegan di dalamnya.

*Penulis merupakan pimpinan redaksi La Tansa 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here