Home Artikel Film Chhichhore, Arti Menjadi Pejuang bukan Pencundang

Film Chhichhore, Arti Menjadi Pejuang bukan Pencundang

90
0
Poster Film Chhichore

Oleh: Nurman Haris*

Film ini mengisahkan kehidupan tujuh sahabat yang tinggal di asrama pada sebuah perguruan tinggi di India. Annirudh “Anni” Pathak adalah seorang Insinyur paruh baya yang bercerai dan tinggal bersama anak remajanya Raghav, yang sedang menunggu hasil JEE-nya, dengan harapan bisa masuk ke Institut Teknologi India (IIT).

Menjelang pengumuman hasil tes, Anni memberi Raghav sebotol sampanye (minuman alkohol dari sari anggur), menyajikannya bahwa mereka akan merayakan keberhasilan bersama. Tanpa disadari, pemberian sebotol sampanye itu memberikan tekanan kuat pada Raghav akan kegagalannya.

Hari yang ditunggu-pun datang, Raghav benar-benar mengetahui bahwa ia telah gagal. Takut dikatkan “pecundang” ia-pun lompat dari balkon. Anni segera ke rumah sakit dan mencoba menghibur mantan istrinya Maya, Ibu Raghav, yang telah lebih dahulu berada di sana.

Dokter menjelaskan kepada Anni dan Maya, bahwa anaknya menderita sejumlah cedera otak, serta kondisi tersebut diperparah dengan tidak adanya kemauan dari Raghav untuk hidup. Putus asa, Anni mencoba menceritakan kisahnya kepada Raghav di saat ia masih menjadi mahasiswa kala itu, dengan harapan bisa membangkitkan semangat Raghav kembali. Meskipun menanggapinya, Raghav ragu apakah itu benar. Dalam upayanya, Anni mencoba mendatangkan teman lamanya untuk bertemu Raghav dan bersama-sama menceritakan kisah mereka.

Pada tahun 1992 di hari pertama kuliah, Anni mengetahui bahwa ia di tempatkan pada asrama H4, yang terkenal sebagai asrama “pecundang”. Nama tersebut sudah melekat kepada para asrama karena mereka berkinerja buruk di Kejuaraan Umum Olahraga (KU) tahunan. Anni yang tidak puas dengan keputusan tersebut mencoba untuk mengubah akomodasi, meskipun petugas memberi tahu bahwa proses pengajuan memerlukan pertimbangan.

Sementara itu, Anni bersahabat dengan lima teman asramanya. Yaitu, Gurmeet ”Sexa” Singh Dhillon, seorang senior hiperseksual, Acid, senior yang terkenal lidah kasar, Derek, salah satu atlet terbaik di kampus dan kecanduan rokok, Sundar “Mummy” Shrivastav, anak lelaki mommy yang sakit-sakitan, dan Bevda, siswa senior pecandu alkohol. 

Selama dua bulan ke depan Anni memupuk persahabatan dekat dengan lima temannya itu dan mulai berkencan dengan Maya. Sementara itu, Raggie, senior asrama H3, perumahan yang terkenal megah dan makanan yang “layak”, mencoba untuk merayu Anni agar mau pindah ke asrama H3 karena atletisitasnya. Bagaimana-pun ia menolak dan memutuskan untuk tetap bersama teman-temannya. Mendengar itu Raggie marah dan menyebutnya “pecundang”, Raggie juga mengungkapkan bahwa ia pernah memberi penawaran pada Derek untuk pindah ke asrama H3, namun ia menolaknya.

Tidak terima dengan sebutan “pecundang”, Anni bekerja sama dengan Derek untuk menghilangkan julukan asramanya itu. Setelah UTS selesai, Derek mulai menyeleksi anggota asramanya untuk ikut berpartisipasi di KU, namun ia segera menyadari lemahnya kekuatan mereka dalam hal olahraga, sehingga kecil kemungkinan untuk memenangkan kejuaraan. Untuk memotivasi mereka, ia memohon kepada mereka semua untuk meninggalkan satu hal yang mereka sukai. Sedangkan Anni datang dengan serangkaian rancangan untuk mengelabuhi peserta lain agar mereka lolos ke final.

Usaha mereka berhasil, hingga tersisa tiga pertandingan penentu juara umum KU pada tahun itu. Lomba estafet 4x400m, kompetisi catur, dan turnamen basket. Melihat hal tersebut, Raggie mulai khawatir H3 akan kalah dari sekumpulan “pecundang’. Ia mencoba menyabot Derek dan Bevda, namun usahanya gagal. Derek berhasil finish pertama pada lomba estafet dan Bevda dapat mengalahkan musuhnya di final kompetisi catur. Sementara di sisa waktu turnamen basket, Anni mencoba mencetak triple point untuk kemenangan H4, akan tetapi usahanya gagal. Meskipun begitu, Raggie memberikan selamat kepada mereka karena telah melakukan permainan yang bagus.

Anni dan teman-temannya mengatakan, bahwasannya H4 sejak saat itu dan seterusnya tidak lagi disebut sebagai pecundang. Karena mereka sendirilah yang berusaha untuk melepaskan julukan itu. Dan setahun kemudian, Raghav sudah bisa pergi ke kampus, ia meminta kepada pemirsa untuk tidak menanyakan jurusan dan peringkat se-India-nya, yang terpenting ia sudah bahagia.

***

Sebagai penonton, kita seolah diingatkan bahwa manusia dituntut untuk selalu berusaha, bukan melihat kepada hasil semata. Terkadang kita lupa cara menjalani hidup, karena terlalu memikirkan menang, kalah, sukses, dan gagal, itulah salah satu pesan yang dapat diambil Raghav pada hari-hari opname di rumah sakit.

Dan hal tersebut telah di firmankan Allah pada kalam-Nya, “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasannya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya)”. Dalam hal ini sudah jelas bahwasannya seorang manusia akan memperoleh hasil dengan apa yang telah diusahakannya sendiri, bukan dari orang lain.

Pelajaran kita kali ini adalah seorang manusia dituntut untuk terus selalu berusaha, karena itulah wujud ikhtiyar (usaha) sebagai hamba. Mengenai hasil, Allah-lah yang akan menentukan. Akan tetapi jangan salah paham mengenai hasil dari usaha yang telah dilakukan. Jangan berfikiran bahwa kesuksesan yang didapat adalah berkat usaha yang gigih. Karena itu telah menghilangkan keberadaan qada` (ketentuan) Allah, seolah-olah dirinya sendiri yang menentukan hasil dengan apa yang telah diusahakannya.

Maka yang dibutuhkan dalam kehidupan adalah menumbuhkan jiwa pejuang bukan pencundang. Jiwa pejuang merupakan sebuah dorongan jiwa yang selalu berusaha untuk mempertahankan dan menumbuhkan semangat dalam mencapai tujuan yang mulia. Pandangannya selalu ke depan, serta menghadirkan pikiran-pikiran positif dalam setiap pergerakannya.

Sementara pecundang, dalam kamus KBBI berarti, ”yang dikalahkan”. Ia terkalahkan oleh nafsu dan pandangan-pandangan negatif yang hadir dalam setiap langkahnya. Ia sering berbalik arah sebelum melihat jalanan yang berada di depannya. Tidak berani mengambil resiko, berputus asa sebelum mencoba meraih asa.

Itulah yang sudah dilakukan H4 untuk mengakhiri julukan “pecundang” bagi mereka. Berusaha sekuat tenaga agar trofi KU pada tahun itu berhasil dimilikinya, walaupun pada turnamen basket yang menjadi penentu kejuaran belum bisa mereka menangkan. Akan tetapi mereka sudah menghilangkan rasa takut dan berusaha untuk memperoleh kesuksesan tersebut.

Hal ini selaras dengan apa yang dipesankan oleh Habib Ahmad bin Abdurrahman al-Maqdi, seorang faqih dan pengajar pengajian bermanhaj Azhar, bahwasannya syarat sebuah kesuksesan bukanlah terbebas dari kegagalan, akan tetapi syarat sebuah kesuksesan adalah tidak berhenti (dalam usaha) ketika kegagalan menghampirinya.

Hakikat seorang pejuang adalah yang mampu melawan diri sendiri, sehingga ia bisa terus bangkit ketika gagal, serta selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi dirinya dan orang lain. Mengedepankan suatu pergerakan, bukan hasil akhir semata.

Baginya dikalahkan oleh lawan memang menyakitkan, akan tetapi jika terkalahkan oleh diri sendiri itu penghinaan yang lebih menyakitkan. Oleh karenanya, hasil bukanlah segalanya, namun kebahagiaanlah tujuannya. Jika hasil bisa membuat pecundang putus asa, maka pejuang kan bahagia dengan apa yang telah ia perbuat. Seperti halnya Raghav, yang melarang pemirsa untuk menanyakan jurusan dan peringkat se-India-nya, atau kepuasan dari penghuni H4 yang asramanya sudah tidak disebut lagi “pecundang”.

Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang selalu berusaha. Bukan hanya melihat hasil, tapi tetap memperjuangkan hasil. Berusaha semaksimalnya bukan sebisanya. Serta menerima apa yang telah menjadi ketetapan-Nya. Wallâhu a’lam bi al-Shawwâb.    

*Penulis adalah Mahasiswa Al-Azhar Jurusan Fakultas Syariah Islamiyah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here