Home Tsaqafah Fustat, Kompleks Berkumpulnya Tiga Agama Samawi

Fustat, Kompleks Berkumpulnya Tiga Agama Samawi

178
0

Oleh: Fiki Roi’atuz Zibrija*

Fustat merupakan ibukota pertama Mesir dibawah naungan kekuasaan muslim, kota ini dibuka oleh Amru bin Ash pada tahun 641 M setelah mendapatkan izin dari Umar bin Khattab untuk melakukan ekspansi ke daerah Mesir dan menaklukkan Alexandria yang menjadi ibukota dari Mesir kala itu. Kata Fustat sendiri diambil dari kalimat ‘fossatum’ yang berarti tenda, karena Amru bin Ash mendirikan tenda pertama kali di daerah sekitar benteng Babilonia, ada juga yang mengatakan bahwa Fustat berarti kota.

Daerah ini terletak di sebelah timur bantaran sungai Nil, Fustat juga dikenal dengan nama Misr Qadimah atau Old Cairo. Daerah ini sudah jauh ada dari kehidupan Mesir kuno, karena letaknya yang strategis, yaitu diantara pertemuan lembah dan delta sungai Nil, serta diantara padang pasir dan sumber air yang berasal dari sungai Nil. Kota Fustat ini bahkan menggeserkan wilayah Memphis yang menjadi ibukota Fir’aun pada zaman Mesir kuno setelah akhirnya dipindah ke Luxor.

Sebagian besar kawasan Fustat berada di atas daerah bekas Benteng Babilonia (atau yang disebut orang Arab ‘Qasr Shama’ yang dibangun oleh Trajan di sekitar abad kedua, hanya sebagian sedikit dari bekas benteng yang dapat dilihat sampai saat ini meliputi bagian pintu selatan benteng, dan dibangun diatasnya Gereja Gantung, adapun beberapa gereja serta sinagoge juga dibangun di sekitar kawasan ini.

Kota ini pernah menjadi salah satu kota terkaya di dunia pada masanya, semua itu berbalik 180 derajat ketika perang salib terjadi,menteri dari dinasti Fatimiyah memerintahkan untuk membakar kawasan Fustat guna menghindari penjajahan yang dilakukan oleh tentara salib, penduduk yang menempati kawasan Fustat diminta untuk meninggalkannya, api berkobar memakan habis semua yang ada di dalamnya selama 54 hari dan meninggalkan asap tiga hari setelahnya, yang mengakibatkan ikut terbakarnya warisan-warisan sejarah seperti sisa-sisa benteng Babilonia, bahkan Masjid Amru bin Ash juga mengalami kerusakan akibat pembakaran ini.

Ada beberapa hal yang menarik yang perlu diulas tentang daerah ini, Fustat merupakan kompleksyang menjadi tempat berkumpulnya tiga agama samawi, yaitu Islam, Kristen, dan Yahudi, meskipun Kristen dan Yahudi sekarang bukan Kristen dan Yahudi pada zaman dulu yang masih memegang ajaran ilahi dari Sang Maha Kuasa. Mesir sebelumnya bukan negara Islam, mayoritas penduduknya berkeyakinan Kristen Koptik serta dibawah kekuasaan Byzantium dengan ibukotanya Alexandria, sedangkan Islam sendiri baru disebarkan sekitar abad keenam atau ketujuh hingga sampai ke Mesir, dan yang terakhir bangsa Yahudi yang ada di Mesir merupakan Yahudi yang pertama ada jauh dengan bangsa Yahudi yang ada di Israel dari keturunan Nabi Ya’qub a.s.

Ketiga agama tersebut hidup berdampingan secara harmonis, ini dapat diindikasikan dengan melihat beberapa peninggalan-peninggalan bersejarah dan manuskrip yang terkesan religius dan historis yang berada di daerah Fustat, sepertimasjid Amru bin Ash (masjid yang pertama kali didirikan di Afrika), Sinagoge Ben Ezra yang menjadi tempat peribadatan orang Yahudi, dan ada beberapa gereja juga seperti Gereja Gantung, Mar Girgis dan lain sebaginya.

Salah satu peninggalan penting dari agama Islam yang ada di Fustat adalah Masjid Amru bin Ash yang mendapat julukan Taj Jawami’, Masjid Fath dan Masjid Atiq. Masjid ini merupakan masjid keempat yang dibangun oleh Islam setelah di Madinah, Mekkah, Kufah,meskipun bentuk masjid saat ini bukan bentuk asli masjid yang pertama kali dibangun, namunmasjid ini masihmenjadi simbol dan mempunyai pengaruh besar bagi kehidupan umat Muslim di Mesirsetelah Amru bin Ash membuka daerah Fustat hingga sekarang.Masjid ini juga menjadi pusat kegiatan ilmu sebelum adanya Masjid al-Azhar, dimana para penuntut ilmu belajar ilmu agama Islam dan bahasa Arab, diantaranya ada Imam Syafi’i, Imam Laits, Sayyidah Nafisah dan Ibnu Hajar Al-‘Asqolani. Pada awalnya ukuran masjid hanya dengan luas sekitar 675 meter persegi dan mempunyai enam pintu sampai pada tahun 53 H/ 672 M, namun seiring berjalannya waktu masjid ini mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, hingga ukuran masjid saat ini mencapai 13.200 meter persegi.

Untuk peninggalan dari agama Kristen adalah Gereja Gantung (Kanisah Mu’allaqah atau The Hanging Church) yang menjadi gereja tertua yang ada di Mesir,dinamakan gereja gantung karena letaknya sendiri di atas benteng Babilonia, yaitu di antara dua menara di bagian pintu selatan benteng, gereja ini tampak lebih tinggi sekitar 13 meter dari tanahdan terkesan lebih tinggi daripada bangunan yang lainnya, sejarah mengatakan bahwa gereja ini dibangun sekitar akhir abad ketiga dan awal abad keempat. Banyak sekali aksen-aksen sejarah yang terlihat di dalam gereja ini, bahkan ada yang berasal dari abad kedelapan. Masih ada beberapa gereja lain yang ada di kawasan ini seperti Gereja Mar Girgis, dan Gereja Abu Syarjah.

Karena ada beberapa gereja-gereja yang dibangun di kawasan ini, Museum Koptik merupakan tempat untuk menyimpan peninggalan-peninggalan Kristen Koptik, serta menjadi tempat warisan budaya Kristen Koptik terbesar yang ada di Mesir, meseum ini ditemukan pada tahun 1910 oleh Marcus Simaika. Beberapa koleksi peninggalan serta artefak dari bangsa Koptik tercatat dari abad ketiga hingga abad kesepuluh masih tersimpan di sini. Bagian pintu museum ini tampak seperti bagian depan pintu Masjid Aqmar, ini menunjukkan bahwa orang Koptik mempunyai hubungan yang baik dengan konsep dan beberapa peraturan Muslim terutama pada zaman dinasti Fathimiyah.

Peninggalan historis agama Yahudi menjadikan lengkapnya tiga agama samawi berkumpul di daerah Fustat, Sinagoge Ben Ezra merupakan tempat peribadatan orang Yahudi tertua yang masih ada di Mesirhingga sekarang. Pada awal mulanya bangunan ini bukan menjadi sinagoge, melainkan gereja Kristen Ortodoks, namun berubah menjadi sinagoge ketika beberapa kelompok dari orang Yahudi dan pemimpinnya yang bernama Ibrahim Ben Ezra membeli tempat ini, maka dari itu nama gereja dinisbatkan kepada Ben Ezra. Gereja ini merupakan tempat peribadatan Yahudi yang cukup penting dan bersejarah, beberapa manuskrip dari terjemahan Taurat milik yahudi tersimpan disini, selain itu ada juga sepuluh perintah Allah (The Ten Commandments)yang tertulis pada perjanjian lama (al- ‘Ahdu al-Qadim).

*Penulis adalah mahasiswa Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here