Home Tsaqafah Genealogi Bangsa Arab Pra-Kelahiran Rasulullah Saw

Genealogi Bangsa Arab Pra-Kelahiran Rasulullah Saw

201
0

Oleh: Fiki Roi’atuz Zibrija*

Ahad (9/2), Kajian Ar-Razi IKPM bekerja sama dengan Pojok Peradaban gelar Seminar Sejarah dengan tajuk “Mendaras Sejarah, Sosial, dan Budaya Bangsa Arab Sebelum Kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam”. Seminar ini dilaksanakan di Sekretariat IKPM dengan pemateri Mihtakhuddin Wibowo, founder Kajian Pojok Peradaban.

“Istilah ‘Arab sebelum Islam’ menurut saya kurang pas, karena agama Islam adalah agama yang satu dengan ajaran tauhid, dari diutusnya Nabi Adam As hingga Rasulullah Saw. Rasulullah itu diutus sebagai pelengkap atau mukammil syari’atil islam bukan sebagai pembawa agama yang baru,” tutur Miftah di awal pembicaraan.

Sebelum mempelajari kehidupan Bangsa Arab, hendaknya kita mengetahui geografis Arab itu sendiri. Daerah Arab mempunyai julukan syibhul jazirah atau dalam bahasa Indonesia ‘mirip pulau’ atau biasa yang disebut semenanjung. Disebut semenanjung Arab karena daerah ini dikelilingi oleh lima perairan, yaitu laut Mediterania, laut Merah, samudera Hindia, teluk Arab, dan di bagian atas ada sungai Eufrat dan Tigris. Daerah Arab pada zaman dahulu dikenal memiliki daerah dan iklim yang ekstrim, dengan dikelilingi oleh gurun-gurun yang tandus, terkhusus di sebelah utara semenanjung Arab, kendati demikian daerah selatan Arab termasuk daerah yang subur.  

Dalam sudut pandang bangsa luar Arab, seperti Yunani dan Romawi, mereka membagi Arab menjadi tiga bagian; pertama Arab Sa’idah yang meliputi daerah Yaman, Hijaz, dan Najd, kedua Arab Shakhriyah berasal dari kalimat صخر yang berarti batu, yang mencakup daerah Jordan, Sinai, dan Nabatean, orang Nabatean sendiri terkenal membuat rumah-rumah mereka dengan batu, seperti contohnya Petra yang ada di Jordania, dan yang ketiga adalah Arab Shahrawiyah atau yang berarti padang pasir mencakup daerah Syam.

Selain itu, Miftah juga menyebutkan sudut pandang bangsa Arab dalam membagi wilayahnya sendiri; pertama ada wilayah Tihamah, wilayah ini dikenal dengan wilayah yang subur, kedua wilayah Hijaz, ketiga Najd (daerah tengah Arab) atau biasa disebut dengan jantung Arab, keempat Arudh, dan kelima adalah Yaman.

Setelah mengetahui geografis serta pembagian bangsa Arab, mari kita beranjak ke asal-usul bangsa Arab. Dalam asal-usul bangsa Arab, para sejarawan secara jamak membaginya menjadi tiga; yang pertama Arab Baidah (كانت سادت وبادت) dulu pernah ada dan akhirnya menghilang, dan mereka ini yang tidak sampai ke kita. Arab Baidah biasa disebut dalam Qur’an dan Ahd al-Qadimseperti kaum Ad, Tsamud, Jadis, dan ‘Amaliq. Yang kedua adalah Arab Aribah yang merupakan orang Arab asli atau sisa-sisa dari Arab Baidah, mereka merupakan keturunan dari Ya’rib bin Qahtan yang memiliki nasab ke Nabi Hud As dan merupakan anak dari Sam bin Nuh yang mempunyai julukan Abu al-‘Arab. Yang ketiga adalah Arab Musta’ribah, mereka pada asalnya bukan orang Arab, namun pada akhirnya menjadi seperti Arab asli, meraka berasal dari Suryani dan Ibrani.

Bangsa Arab, lanjut Miftah, memiliki corak kehidupan dan mata pencaharian yang bermacam-macam, seperti orang non nomaden yang hidupnya berpindah-pindah atau hador, yaitu kebalikannya. Hal ini disebabkan tanah yang diduduki oleh hador sudah subur seperti daerah selatan Jazirah Arab. Namun ada juga orang-orang di sebelah utara Arab yang bersifat nomaden dan sering berpindah-pindah dikarenakan iklim dan keadaan yang ekstrim, seringkali para kabilah-kabilah berperang untuk memperebutkan suatu tempat yang dinilai subur seperti oase, apalagi yang ditumbuhi kurma. Karena pada saat itu, tempat dimana adanya air, disanalah terdapat peradaban. Tidak cukup di situ ada juga yang bermata pencaharian sebagai pemandu jalan, biasanya para pedagang asing sering menggunakan jasa ini untuk membantu mengarahkan jalan di tengah alam cukup ekstrim, dan yang terakhir ada juga yang bermata pencaharian sebagai pedagang.

Sedangkan dalam kehidupan sosial, bangsa Arab adalah bangsa yang merdeka. Hal ini disebabkan benteng-benteng alam yang melindungi mereka dari jamahan serta incaran bangsa lain untuk menjajah mereka. Dengan kondisi ini mereka memiliki plus dan minus; segi plusnya mereka mempunyai akhlak yang tinggi serta terjaga, terutama pada karamnya, namun segi minusnya mereka mempunyai fanatisme yang tinggi, apalagi terhadap kabilahnya.

Dalam segi agama, Arab Aribah dan Musta’ribah pada aslinya menyembah Tuhan yang esa, namun lama-kelamaan akhirnya menyimpang dari ajaran itu, sehingga dari mereka ada yang menyembah berhala mitologi, menyembah bintang-bintang, bekepercayaan animisme dan menyembah roh-roh leluhur, dan ada juga yang menyembah jin dan malaikat lalu mereka percaya bahwa mereka adalah anak tuhan. Namun dari semua yang menyimpang ini, masih ada orang Ahnaf dan berpegang teguh kepada ajaran nabi Ibrahim As.

Bangsa Arab juga terkenal dengan bangsa yang memiliki sastra yang tinggi, salah satu faktornya adalah kemurnian bahasa mereka. Sastra dalam bahasa arab dibagi menjadi dua, yaitu syair dan prosa. Syair dibagi menjadi bermacam-macam, seperti Ritsa atau menangisi orang yang meninggal, Madh yang berarti syair yang memuji seseorang, biasanya dengan tujuan mendapatkan harta atau kedudukan dari orang yang dipuji ini, meskipun ada juga beberapa orang yang memang benar-benar tulus dalam memuji seseorang, kemudian ada Wasf atau syair deskriptif yang menggambarkan sesuatu, lalu Ghazal atau syair rayuan kepada perempuan, dan terakhir adalah Mu’allaqat yang merupakan kumpulan syair terbagus dari penyair ulung pada masanya, dan konon syai-syair itu digantung di atas Ka’bah. Kemudian untuk prosa seperti Wasoya atau wasiat, Qasas (cerita-cerita), Saja’ul Kuhhan atau sajak yang digunakan oleh peramal pada zaman dahulu. Bahasa Arab adalah cabang dari bahasa Semith, sedangkan tulisan Arab sendiri merupakan kombinasi dari tulisan Nabatean dan Suryani.

Untuk tatanan politik, bangsa Arab memiliki tiga sistem; pertama sistem kabilah atau sekelompok dari orang-orang badui, dan biasanya tidak terlalu besar jumlahnya, kedua sistem emirat (kerajaan kecil) yang terdiri dari kabilah-kabilah kecil, dan biasanya terletak di daerah yang strategis dan jalur perdagangan, dan ketiga kerajaan seperti kerajaan ratu Saba pada zaman nabi Sulaiman As.

“Bagaimana cara mengetahui bahwa sejarah yang kita pelajari itu memang benar?” ujar salah satu penanya di akhir sesi seminar, lalu beliau menjawab “Yang pertama kita harus tau masadir dari kejadian tersebut yang ditulis pada zaman itu juga, bukan setelah satu abad ataupun dua abad, bisa jadi ada distorsi yang memang dilakukan oknum yang tak bertanggungjawab, selain itu kita memang harus tau karateristik para penulis, karena ada beberapa tulisan yang  dinisbatkan bukan kepada penulisnya, maka dari itu amanah ilmiyah sangat dibutuhkan dalam menjaga kemurnian itu semua”.

Dengan mengetahui genealogi bangsa Arab pra kelahiran Rasulullah Saw, setidaknya kita dapat mengungkap alasan yang tersembunyi di balik ketetapan Allah Swt dalam memilih semenanjung Arab sebagai bangsa pertama yang menerima dakwah agung ini serta syariat Islam yang turun di dalamnya, sehingga tidak mungkin bisa terlepas antara kehidupan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasulullah Saw dan setelahnya.

*Penulis adalah pegiat Kajian Arrazi IKPM Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here