Home Tak Berkategori Harmonisasi Madrasah Empat Madzhab di Mesir

Harmonisasi Madrasah Empat Madzhab di Mesir

159
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

Benih Madrasah dalam Islam di Mesir

Perhelatan keilmuan yang pada kurun abad sebelumnya mampu kita rasakan hingga saat ini dengan adanya berbagai kitab yang dituliskan oleh ulama terdahulu dalam berbagai prespektif dan perbedaan hal-hal cabang. Seperti adanya berbagai madzhab fikih dengan 4 madzhab yang sudah masyhur dan menjadi panutan di berbagai negara. Begitupula al-Azhar dan Mesir yang merupakan tempat terjaga dan berkembangnya 4 madzhab tersebut.

Para ulama terdahulu walau hidup dalam perbedaan madzhab, baik dalam pengajaran atau pengamalannya, tidak ada unsur fanatisme dan penyalahan atas madzhab lainnya yang berbeda. Toleransi dalam berbagai hal sudah menjadi hal yang lazim dipahami dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk itu perlu kiranya bagi kita menilik kembali awal mula penyebaran dan perkembangan 4 madzhab di al-Azhar secara khusus dan Mesir secara umumnya sebagai tolak ukur dalam perbedaan bermasyarakat dan penyebaran ilmu yang pesat. Dalam tulisan singkat ini, penulis ingin mengajak pembaca menyelusuri jejak khazanah Islam di Mesir khususnya terkait 4 madzhab yang ditinjau dari segi pengajarannya.

Pengajaran 4 madzhab di Mesir mulai menyebar saat sejumlah madrasah mulai dibangun dan dioptimalkan pada masa Dinasti Ayyubiyyah. Pada masa itu Madrasah menggantikan peran Masjid al-Azhar sebagai pusat keilmuan yang mana pada masa Dinasti Ayyubiyah ditutup guna menepis penyebaran Madzhab Syiah Ismailiyyah setelah runtuhnya Dinasti Fathimiyyah. Selama kurang lebih 100 tahun setelah dinasti Fathimiyyah runtuh, sejumlah madrasah tersebut mengambil peran sebagai pusat keilmuan. Hingga dinasti setelahnya pun madrasah ini masih tetap berperan, bahkan hingga saat ini, namun dengan beberapa sistem yang telah berbeda dan diubah

Kata Madrasah disini bukanlah yang dipahami ‘urf kita saat ini, yakni sepertihalnya sebuah bangunan dan di dalamnya suatu sistem pengajaran dan pendidikan, atau akrab disebut sekolah. Namun pada tulisan ini, kata madrasah dimaknai sebagai sebuah sistem keilmuan dan pengajaran yang tidak tersempitkan dengan bangunan khusus sekolah saja pada zaman dahulu. Tempat tersebut lebih cenderung pada masjid, karenanya menjadi pusat peribadatan dan keilmuan seperti yang akan kita bahas pada tulisan kali ini.

Adapun madrasah pertama kali yang didirikan di Mesir yaitu Madrasah Shalahiyah yang dibangun oleh Sultan Shalahuddin al-Ayyubi pada tahun 572 M di samping makam Imam Syafi’i, kawasan Qarafah Syughro. Ketika Mesir masih dikuasai Fathimiyyah yang bermadzhab Rafidhah dan Syiah, belum kita temui suatu madrasah yang didirikan oleh Sholahuddin al-Ayyubi. Madrasah Sholahiyyah disebut pula sebagai mahkota madrasah-madrasah karena merupakan madrasah besar yang letaknya mulia, yaitu di samping makam Imam Syafi’i.

Perkembangan Madrasah 4 Madzhab di Mesir

Setelah gagasan madrasah ini mengawali inovasi barunya dalam pengajaran di Mesir, dibangunlah berbagai madrasah mazhab fikih yang lainnya. Hebatnya, di antara madrasah ini terdapat suatu madrasah yang mengajarkan 4 madzhab fikih sekaligus, seperti madrasah Solihiyah, madrasah Raja Dzohir barbyras dan madrasah Sulthan Hasan. Madrasah yang menjadi pusat keilmuan tersebut menjadi jantung pembiasaan kepada masyarakat terkait perbedaan dalam pendapat, khususnya dalam bermadzhab. Dan melalui proses pembelajaran berbagai madzhab itulah madrasah ini seakan menjadi penepis adanya fanatik buta dan pembiasaan sikap toleransi terhadap sesama umat Islam perihal madzhab.

Adapun madrasah 4 madzhab yang pertama kali dibangun yaitu madrasah Solihiyah yang dibangun oleh Najmuddin al-Ayyubi pada 15 Dzulhijjah 636 H. Kemudian pada tahun 641 H, ditertibkan di dalamnya pelajaran-pelajaran 4 madzhab (Syafi’i, Hanafi,Hambali dan Maliki). Adapun yang pertama kali belajar di madrasah tersebut adalah Qadi al-Qudhot Syamsuddin Abu Bakr bin ‘Imad bin Abdul Wahid dari hanabalah.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam al-Maqrizi dalam kitab Suluk, bahwsanya ketika peristiwa yang terjadi tahun 638 H —yaitu ketika membicarakan tentang perang Salib di Suriah— mengatakan bahwa Sultan Sholih Najmuddin Ayyub menawan banyak dari Prancis dan dia memerintahkan mereka untuk membangun Qol’ah Roudhoh dan Madrasah Sholihiyah hingga dijadikan sebuah madrasah belajar.

Selain madrasah Sholihiyah, terdapat pula madrasah Raja Dzohir Baybyras yang mulai dibangun pada 12 Rabiul Akhir 660 H dan selesai pembangunannya pada 662 H. Imam Maqrizi mengatakan bahwa pada hari Ahad, 5 Safar 662 H, para ahli ilmu berkumpul di madrasah tersebut, hadir pula para qari dan guru yang berkompeten di berbagai disiplin ilmu, di antaranya seperti madzhab Syafi’i  dengan pengajar Syekh Taqiyuddin Muhammad bin Hasan bin Razin, madzhab Hanafiyah dengan pengajar Majdu al-Din Abdurrahman bin Shohib Kamaluddin Umar, ahli Hadis dengan pengajar Syekh Syarofuddin Abdul Mu’min bin Kholf al-Dimyathy, para qori 7 qira’at dengan pengajar Syekh Kamaluddin al-Majla. Setelah materi pengajaran disampaikan berlanjutlah pada sesi diskusi ilmu-ilmu yang didapatkan hingga kemudian menyantap makanan diiringi dengan para penyair yang melantunkan syi’ir indahnya tentang pujian bagi kerajaan dan madrasah.

Adapun yang masih bisa kita saksikan jelas saat ini, yaitu bangunan madrasah dan masjid yang bisa kita kunjungi yaitu Masjid Sulthon Hasan, yang di dalamnya terpadat pula madrasahnya. Disebutkan oleh Maqrizi bahwa Sulthan Hasan mulai membangun madrasah pada tahun 757 H dan diteruskan hingga 3 tahun setelahnya tanpa jeda. Jika Mesir Firauniyah bangga dengan piramidnya, maka Mesir Islamiyah harus bangga dan takjub dengan madrasah Sulthan Hasan yang tiada disetarai dan disamai oleh peninggalan sejarah lainnya. Selain bentuk fisik bangungan yang indah dan mematik mata untuk memandangnya, sisi keagamaan dan pusat kelimuan yang menjadi ruh pun selalu diperhatikan.

Dari segi pengelolaan madrasah Sulthan Hasan, Sulthon Hasan menertibkan dari berbagai hal, seperti pengajar, murid, serta pegawai di madrasah. Setiap dari 4 madzhab fikih terdapat seorang syekh yang mengajarkan mengenai madzhab tersebut serta terdiri dari 100 murid yang terbagi menjadi beberapa kelompok dengan komposisi 25 murid yang berhasil lulusdan 3 murid yang belum lulus hingga harus mengulang proses belajar.

Demikianlah sekilas cuplikan khazanah madrasah pada masa dinasti Islam yang mana semuanya beradu pada hormanisasi ilmu, baik antara satu madzhab fikih dengan madzhab lain atau antara satu cabang ilmu dengan cabang ilmu lainnya. Melalui khazanah tersebut, kita mampu berkaca lalu mengambil pelajaran untuk kehidupan kita saat ini. Banyak pemahaman-pemahanan yang digaungkan kepada umat Islam untuk bersikap toleran terhadap berbagai macam hal, termasuk agama, ideologi dan aliran sesat lainnya yang jelas-jelas berbeda. Namun di sisi lain, umat Islam digiring untuk tidak toleran pada golongan-golongan Islam atau madzhab dalam Islam yang masih dalam satu akidah dan syariat Islam.

Hingga kini al-Azhar pun menjadi pusat pembelajaran lintas mazhab, yakni empat mazhab fikih. Namun itu semua tidak pernah membuat satu diantara mereka bertengkar, sebab semuanya memhami bahwa inilah indahnya khazanah keilmuan Islam. Semua ini masih dalam koridor ijtihad para ulama yang sifatnya praduga (zonniy) dan tidak perlu diperselisihkan. Maka sudah semestinya kita menyontoh madrasah di mesir, al-Azhar khususnya. Wallahu A’lam bi al-Showwab.

*Penulis adalah Pimpinan Umum Majalah Latansa IKPM Kairo periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here