Home Nusantara Hizbullah, Panji Tauhid Merah Putih dalam Perjuangan Kemerdekaan

Hizbullah, Panji Tauhid Merah Putih dalam Perjuangan Kemerdekaan

398
0

Oleh: Fakhri Abdul Gaffar Ibrahim*

Belakangan ini cukup sering kita mendengar isu mengenai Enzo Zenz Allie, seorang taruna Akademi Militer(AKMIL) yang diduga punya kaitan erat dengan HTI. Pasalnya ada beberapa foto dalam akun media sosial miliknya memperlihatkan liwa’ dan arrayah bersamanya. Namun, jauh di benua biru Eropa, di kota Arnhem, salah satu kota Kerajaan Belanda Pin merah putih dihiasi dengan kalimat tauhid dipajang. Bronbeek, sebuah bekas istana kerjaaan di Arnhem menjadi tempat pin yang menjadi saksi sejarah perjuang bangsa Indonesia terhadap Belanda.

Mungkin dalam buku sejarah Indonesia tak banyak kita dapati tentang keterangan dari benda tersebut. Pin itu merupakan lambang dari Barisan Hizbullah dan Barisan Sabilillah. Mungkin bisa jadi asing bagi generasi muda Indonesia hari ini. Tidak heran, nama kedua laskar rakyat ini memang jarang diperkenalkan dalam buku-buku sejarah di bangku sekolah.

Padahal kalau kita tilik balik, Hizbullah punya andil strategis pada peristiwa penting dan menentukan di tanah air. Seperti, pertempuran Palagan Ambarawa, Pertempuran 10 November di Surabaya, Pertempuran 5 hari di Semarang. Selain pertempuran pasca kemerdekaan, penumpasan pemberontakan PKI Muso tahun 1948 juga tak lepas dari peran kedua laskar ini. Laskar yang lahir dari rahim kesadaran jihad umat Islam di Indonesia.

Barisan Hizbullah lahir untuk mengentaskan masyrakat dari kesengsaraan akibat penjajahan. Landasan utama perjuangan laskar ini adalah menggunakan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman hidup. Dalam konsep Islam, kebatilan dan kezaliman tidak mendapat tempat dalam muka bumi. Maka menghilangkannya adalah sebuah keharusan. Dengan diiringi semangat cinta tanah air dan keinginan untuk merdeka, maka terbentuklah barisan Hizbullah.

Terbentuknya Hizbullah dimulai dari terpukulnya Belanda dengan kedatangan Jepang. Walau pada hakikatnya kedatangan Jepang setali tiga uang dengan Belanda. Namun, Jepang mengijinkan para pemimpin ormas Islam yang terdiri dari Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), PSII, dan lain-lian yang tergabung dalam Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) untuk membentuk barisan relawan yang berisi para pemuda Islam yang tidak bisa bergabung di PETA.

Pada 14 oktober 1944, lahirlah barisan Hizbullah di Jakarta. Pelatihan pertama kali diselenggarakan di Cibarusa, Bogor, Jawa Barat dengan diikuti oleh 500 pemuda muslim yang berasal dari 25 keresidenan di Jawa dan Madura. Pelatihan ini dilakukan di bawah pengawasan perwira Jepang bernama Yamagawa dengan dibantu instruktur PETA selama 3,5 bulan. Keanggotaan pada masa berikutnya sempat mencapai 50.000 personil.

Di bidang kerohanian mereka di bawah bimbingan sejumlah ulama antara lain K.H. Musthafa Kamil, K.H. Mawardi, K.H. Imam Zarkasyi, Kyai Mursyid, Kyai Syahid, K.H. Abdul Halim, K.H. Thohir Dasuki, Kyai Roji;un dan K.H. Abdullah.

Sebagai tanda lulus dari pelatihan, mereka akan mendapatakan syahadah yang diketahui oleh ketua Masyumi, yaitu K.H. Hasyim Asy’ari. Secara umum sambutan masyarakat terhadap barisan Hizbullah cukup positif. Karesidenan Surakarta, misalnya, mengirimkan 25 pemuda yang sebelumnya merupakan hasil seleksi secara ketat untuk mengikuti pelatihan.

 Sambutan yang menggembirakan terhadap pembentukan Hizbullah, juga datang dari para mantan pemimpin Partai Arab Indonesia. Setelah laskar P.A.I dibubarkan, para pemuda peranakan ini gelisan, sebab tidak ada lagi wadah untuk melakukan perjuangan bersama umat Islam lainnya. Maka harapan mereka untuk menyumbang tenaga dalam membela nusa dan bangsa terwadahi dengan adanya laskar Hizbullah ini.

Peran Perjuangan dalam Medan Perang

Perlu diketahui peristiwa pada 10 November 1945 bukan merupakan peristiwa tunggal. Butuh beberapa rentetan peristiwa sebelum berhasil mengusir Belanda dari Surabaya. Peristiwa ini diawali dengan perebutan senjata antara rakyat Indonesia dan Sekutu selepas Jepang hengkang mulai 2 September 1945. Melihat situasi ini K.H. Hasyim Asy’ariy mengundang para ulama Nahdatul Ulama dari seluruh Jawa dan Madura di Surabaya 21-22 Oktober. Hasilnya, para tokoh yang berkumpul akan menggerakan umat untuk berjihad dan kemudian melahirkan fatwa yang dikenal dengan sebutan Resolusi Jihad. Pada bagian inilah Hizbullah memilikai peran besar untuk mengoordinasikan kekuatan rakyat dalam perjuangan.

Selanjutnya, peristiwa Palagan Ambarawa yang merupakan momen terpenting bagi Indonesia dalam mengusir Inggris. Pasalnya, kota Ambarawa yang kini berada dalam wilayah Jawa Tengah, dulunya merupakan salah satu pusat pertahanan penting bagi sekutu. Pertempuran ini berlangsung dari 20 November hingga 25 Desember 1945.  Kedatangan Inggris di Ambarawa yang utamanya untuk mengurusi para tawanan, justru diboncengi dengan tentara NICA dan mempersenjatai para tawanan.

Dalam perang ini Kolonel Sudirman, yang juga merupakan anggota Muhammadiyah yang taat beragama, menerapkan strategi perang supit urang. Dengan strategi ini pasukan musuh bisa dikepung dan dihancurkan dari berbagai lini, melihat kondisi geografis Ambarawa yang dikelilingi oleh bukit. Strategi ini merupakan strategi kuno yang sudah sangat lama digunakan oleh raja-raja jawa. Dalam kitab Kamandaka, sebuah kesusastraan Jawa kuno strategi ini dikenal dengan makara wyuha. Makara di sini berarti udang atau sejenis kepiting dan wyuha artinya gelar pasukan atau susunan pasukan.

Dalam pengunaan strategi ini pasukan setidaknya dibagi kedalam beberapa kelompok: kelompok pertama,menempati bagian kepala atau tubuh. Pasukan dalam posisi ini merupakan pasukan induk yang memiliki kekuatan paling besar. Tugasnya menghabisi musuh yang dibuat lemah oleh pasukan supit maupun kaki. Kelompok kedua, merupakan kaki udang. Pasukan di kaki kiri melakukan pergerakan dari Jambu ke Bandingan dan Baran. Pasukan ini berfungsi untuk menyabu dan mempersiapkan medan perang termasuk mengantisipasi jebakan musuh.

Terakhir, kelompok ketiga,  adalah bagian supit pasukan ini biasanya berfungsi untuk menimbulkan ketidakstabilan di pihak lawan. Serangan-serangan biasanya dilakukan secara mendadak dengan bergeriliya layaknya capit. Barisan Hizbullah dalam pertempuran tersebut mendapat tugas tempur di sejumlah titik sapit. Bersama barisan gabungan lainnya dari Surakarta, Hizbullah berhasil menembak jatuh pesawat terbang sekutu di Rawa Pening.

Kilas balik sejarah mestinya membuat masyarakat Indonesia lebih arif. Tidak semua dapat dikisahkan, namun sebagian kecil bisa dicatat tentang eksistensi barusian Hizbullah, laskar umat Islam yang ditakuti oleh Belanda maupun sekutu. Hendaknya kita tidak mengecilkan peran berbagai elemen dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Maka tugas kita adalah mengingat jasa-jasa mereka dengan kontribusi nyata bagi negeri. Ketika sebagian orang justru ingin mengubur dan melupakan kebaikan masa lalu para pejuang.

*Penulis merupakan Mahasiswa Strata 1 Sastra Arab Universitas Al-Azhar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here