Home Tokoh Ibnu Hisyam Al-Anshari, Madrasah Nahwu dengan Komposisi Dua Mazhab

Ibnu Hisyam Al-Anshari, Madrasah Nahwu dengan Komposisi Dua Mazhab

331
0

 

Oleh : Bana Fatahillah*

Jika menemukan seseorang atau lembaga pendidikan dengan nama Qotr al-Nadâ, maka hal pertama  yang terbesit di benak penulis adalah, nama itu disandarkan kepada sebuah kitab milik seorang ahli nahwu dari daratan Mesir yang bernama Ibnu Hisyam atau Jamaluddin bin Abdillah bin Hisyam al-Anshari.

Tak bisa dipungkiri, putra kelahiran tahun 708 H tersebut merupakan imam dalam ilmu nahwu yang karyanya sudah tersebar di seluruh penjuru dunia serta dipakai dalam bahan mengajar nahwu. Karyanya sangatlah banyak, baik yang sudah dicetak ataupun naskah yang sedang diteliti, di antaranya ialah Qotr al-Nadâ, Syudzûr al-Dzahâb, Mughnî al-Labîb, Qawâid al-I’râb, Awdhâh al-Masâlik, Nuktah al-‘Irab dan lain sebagainya. Sebenarnya masih banyak lagi, namun mungkin kitab-kitab inilah yang sudah tersusun rapih di rak mayoritas pelajar.

Karya Ibnu Hisyam sebenarnya diperuntukkan untuk mereka yang sudah melewati ilmu nahwu dalam tingkat pemula (mubtadi). Sebagai contoh, kitab Qotr al-Nadâ tidak bisa dipahami untuk mereka yang belum menamatkan Ajrûmiyyah milik Ibnu Ajrum, Mulhah al-I’râb milik Imam Hariri atau kitab-kitab setingkat dengannya. Ini semua karena pembahasan di dalamnya sudah menggunakan banyak istilah yang sekiranya tidak dijelaskan secara rinci, sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab pemula.

Kata madrasah di sini bukan mengindikasikan pada madrasah sebagai sarana pembelajaran. Namun lebih ke metodologi yang dibentuk dalam kitab-kitabnya. Bagi mereka yang ingin masuk dalam batas laut teritorial Ibnu Hisyam, maka ia harus menjumpai hal-hal yang sudah dirancang olehnya, terkhusus terkait metode dan konteks bahasa yang tertera di dalamnya.

Ibnu Hisyam mempunyai metode sendiri dalam meracik kitab-kitabnya. Ia sangat terkenal dengan ahli nahwu yang senang menggabungkan antara dua mazhab nahwu; bashrah dan kufah.  Ibnu Hisyam tidak condong pada mazhab tertentu. Terkadang ia menyebutkan pendapat semua mazhab lalu diambil yang paling râjih menurut mayoritas ulama, namun terkadang ia juga menggabungkan dua pendapat sekaligus (talfîq) dalam satu permasalahan. Terkadang ia condong ke bashrah, dan terkadang ia berpaling ke kufah, sungguh unik! Dalam hal ini mungkin Ibnu Hisyam bisa disebut “allâmadzhabiyyah”, dan  itu tidak masalah, karena memang nahwu berbeda halnya dengan fikih, yang membutuhkan mazhab tertentu.

Selain menggabungkan dan memilah milih berbagai pendapat jumhûr ulama, Ibnu Hisyam sangatlah lihai dan cermat dalam membuat pembagian (taqsîmât), yang tidak banyak dilakukan oleh ulama-ulama sebelum ataupun sesudahnya. Selain itu, dalam kitab-kitabnya, Ibnu Hisyam memberikan sebuah permasalahan yang mungkin tidak ditemukan selain dalam kitabnya, dan inilah yang menjadikan karyanya selalu dipakai oleh umat muslim sampai saat ini.

Dalam permasalahan i’râb misalnya. Pada matn kitab Qotr al-Nada, Ibnu Hisyam mengikuti pendapat yang mengartikan i’râb secara lafadz, yaitu pengaruh yang jelas atau tersembunyi akibat masuknya berbagai faktor (atsarun zahirun aw muqaddarun yajlibuhu al-Amil). Namun jika diperhatikan dan diteliti, saat menuliskan syarh ia justru menulis pengertian i’râb secara maknawi, yaitu perubahan pada akhir kata karena berbedanya faktor yang masuk  (mâ yataghayyaru âkhiruhu bisababi mâ yadkhulu alaihi al-Amil), sebagaimana yang didefiniskan oleh Ibnu Ajrum dalam Jurumiyyahnya. Talfîq  semacam ini pun juga dilakukannya dalam permasalahan fi’il muari al-mu’tal al-Akhir, dimana ia menggabungkan pendapat antara Imam Sibaweih dan Ibnu Sarraj sekaligus.

Selain mengkomparasi dua pendapat mazhab, terkadang ia meruntuhkan suatu pendapat dengan dalil yang dibuatnya. Dalam bab isim, misalnya, Ibnu Hisyam menggugat al-Farra, ulama periode ke-3 dalam madrasah kufah, Ibnu Sarraj, seorang ulama masa terakhir madrasah kufah dan mayoritas pendapat ulama kufah yang mengatakan bahwasanya kata “ni’ma”, “bi’sa”, ‘asa” dan “la’alla” termasuk dalam kategori huruf bukan isim. Dan dalam hal ini ia sependapat dengan ulama bashrah.

Namun uniknya, dalam permasalahan âmil fi’il mudhari’ Ibnu Hisyam justru memuji dan mengiyakan seorang al-Farra –yang ia bantah pada permasalah di atas– yang mengatakan bahwa âmil fi’il muâri’ adalah terlepasnya ia dari huruf nashab dan jâzim. Kali ini ia menginduk pada Kufah dan harus membantah perkataan ulama bashrah dengan berbagai dalil. Bukan hanya jumhur bashrah, Ibnu Hisyam pun mempreteli perkataan dari berbagai pendapat ulama Kufah yang tidak sejalur dengan al-Farrâ dan pengikutnya.

Dalam beberapa permasalahan, Ibnu Hisyam terkadang mengatakan ‘A’ dalam suatu kitab dan ‘B’ dalam kitab lainnya. Sebagai contoh dalam permasalahan huruf lan”, Ibnu Hisyam membantah Imam Zamakhsyari yang mengatakan bahwa huruf lan mengandung makna kelanjutan (al-Ta’bid) dan Ibnu Sarraj yang mengatakan bahwa “lan” mengandung makna doa. Ia mengatakan sesungguhnya “lan” hanya bermakna pengingkaran (al-Nafyu), dan menjadikan sebuah verba ke waktu yang akan datang (al-Istiqbâl). Pendapat ini ia tuliskan di Qotr al-Nadâ . Namun dalam kitab Mughni al-Labîb dan Awdhah al-Masâlik ia justru mengatakan bahwa lan dapat bermakna doa, sebagaimana pendapat Ibnu Sarraj yang ia bantah.

Ini semua adalah contoh kecil dari permasalahan yang ada. Di sana masih banyak hal serupa yang tidak bisa disebutkan satu persatu di sini.  Semua metode yang dilakukan Ibnu Hisyam sama sekali tidak mengurangi kepiawaiannya dalam ilmu nahwu, justru inilah hakikat seorang ahli dan pakar dalam suatu ilmu. Tulisannya tidak mungkin dibuat  tanpa adanya landasan yang sempurna. Dan sebagai seorang penulis, metode seperti ini boleh-boleh saja jika ia tuliskan dalam karyanya.

Ini bukan berarti Ibnu Hisyam tidak konsisten. Sebab seperti yang dikatakan diawal, bahwasanya perbedaan dalam mazhab nahwu tidak begitu krusial dibanding fikih. Dan ulama mutaakhirin biasanya menggunakan metode seperti ini dalam berbagai karyanya. Namun di antara deretan ulama, Ibnu Hisyam lah yang paling menonjol dalam hal demikian.

Dari metode singkat yang dilakukan Ibnu Hisyam dan pemaparan singkat di atas, setidaknya ada dua pelajaran yang dapat kita ambil:

Pertama, jangan sampai cepat-cepat menyalahkan suatu pendapat yang bertentangan dengan kita. Sebab bisa saja, kita semua belum mengetahui pendapat lain yang berbicara dalam masalah tersebut. Kedua, perluaslah cakrawala keilmuan kita semua, khususnya ketika memasuki satu disiplin ilmu. Sebab di sana akan kita jumpai berbagai pendapat yang belum kita ketahui sebelumnya. Dengannya kita tidak cepat-cepat menghukumi satu permasalahan tanpa ilmu, atau bahkan menyalahkan seseorang.

Karena sebuah pepatah arab mengatakan “man katsura ilmuhu qalla inkâruhu” (barang siapa yang banyak ilmunya, maka sedikit mengingkarinya). Dan pepatah lain mengatakan, “Wa qul liman yadda’i anna al-Ilma Ma’rifatan, alimta syai`an wa ghabat ‘anka asy-sya` (katakanalah kepada mereka yang sombong dengan ilmunya, kau baru mengetahui satu hal akan tetapi kau buta akan banyak hal). Semoga ini dapat menjadi pelajaran penting bagi kita semua, amin. Wallahu a’lam bimuradihi. 

*Penulis merupakan Pimpinan Redaksi Majalah  Latansa periode 2017-2018 dan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo.   

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here