Home Nisaiyah Ibu Mulia Melahirkan Generasi Utama

Ibu Mulia Melahirkan Generasi Utama

88
0

Oleh: Anisah Zahrah*

Ibu adalah pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Layaknya buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya, seorang anak adalah cerminan dari pendidiknya. Hasil dari didikan itu akan terlihat ketika anak tumbuh dewasa, akankah dia menjadi pribadi yang baik ataupun sebaliknya.

Seorang guru memiliki anak dari istri yang bernotabene seorang pedagang, maka sang anak pun akan lebih memahami sistem perdagangan dengan baik dibanding menjadi seorang guru. Anak seorang pegawai negeri dari istri dengan basic dunia pertekstilan, maka anak akan lebih banyak melihat dan memperhatikan ibunya menjahit di rumah. Seorang petani memiliki anak dari seorang ustadzah/da’iyah, anak pun juga akan selalu dibawa dalam berbagai majlisnya.

Karunia dan rahmat Allah Swt yang paling besar di dunia ini adalah orang tua yang senantiasa mencintai kita, mendidik kita, berkorban dalam hidupnya, berjuang untuk kebaikan dan kemaslahatan kita semua. Allah Swt mengajarkan kepada kita semua untuk memuliakan orang tua, berlaku ihsan kepada ke-2 nya.

Perintah ini telah disebutkan langsung secara eksplisit dalam Al-Qur’an, disandingkan langsung bersama perintah untuk mentauhidkan Allah. Waqodho rabbuka alla ta’budu illa iyyahu wa bil walidaini ihsana. Ihsan adalah Ghoyatul birr, artinya adalah puncak dari kebajikan dan kebaikan yang semaksimal mungkin setelah berbakti kepada Allah Swt dan Rasul-Nya adalah kepada orang tua.

Di antara kedua orang tua kita, ada yang mempunyai hak dan kewenangan lebih atas kebajikan dan bakti kita. Seperti yang salah seorang sahabat tanyakan kepada Rasulullah, siapakah yang lebih berhak kuperlakukan dengan baik? Ummuka, ummuka, ummuka tsumma abuuka. Ternyata di antara kedua nya, ibu mendapatkan kedudukan yang sangat luhur dan mulia dalam Islam, itu disebabkan karena terdapat peran-peran penting utama yang diberikan Islam kepada ibu.

Seperti mengandung, peran ini tidak dapat digantikan dan diperankan oleh siapapun. Ketika ia mengandung dengan penuh kesusahan dan kesulitan, berat badannya akan bertambah atau mungkin malah berlipat ganda, ia akan mempunyai kesulitan-kesulitan psikologis yang dirasakan, akan ada perubahan-perubahan dalam dirinya. Seperti yang digambarkan dalam Al-Qur’an, “Wahnan ala wahnin” kesusahan di atas kesusahan yang lain.

Kedua, setelah ibu mengandung kita, pada saat kurang lebih 9 bulan maka ia akan melahirkan kita. Saat kelahiran pun merupakan saat yang sangat kritis, karena tidak jarang seorang ibu harus meregang nyawa, berkorban untuk keselamatan bayinya yang kadang-kadang nyawa sang ibu sendiri tidak tertolong. Pengorbanan yang sangat agung dan luar biasa bagi seorang ibu dan ini pun tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.

Ketiga, setelah kita dilahirkan maka ibu masih dengan penuh kecintaannya menyusui kita, membimbing kita, mengarahkan kita serta mendidik kita. Pada saat menyusui itu pun banyak hal yang harus dilakukan oleh seorang ibu agar bayinya tumbuh dengan sehat. Ia harus menjaga makanannya, setiap saat ia harus sedia, berjaga agar sang bayi tidak pernah kehausan dan kelaparan.

Demikianlah pengorbanan-pengorbanan sang ibu yang tidak bisa dilakukan oleh orang lain dan tidak pernah bisa diwakilkan kepada orang lain, sehingga sangat tepat ketika Rasulullah Saw menjawab bahwa orang yang paling berhak agar kita berbakti dan berbuat baik kepadanya adalah ibu kita, ibu kita, ibu kita, baru kemudian ayah kita.

Setelah kita memahami betapa mulia peran seorang ibu kepada anak-anaknya, ada peran lain yang menunjukkan kemuliaan seorang ibu. Seorang ibu akan lebih mulia, bukan hanya karena bisa melahirkan dan mempunyai putra, tetapi kemuliaan itu juga terletak karena ia mampu mendidik generasi masa depan.

Seorang ibu diibaratkan dalam sya’ir Arab sebagai sebuah madrasah, jika engkau persiapkannya maka sungguh engkau telah menyiapkan generasi yang mempunyai akhlak dan budi pekerti yang luhur. Anak-anak akan belajar dari ibu tentang moralitas, akhlak terpuji dan kebiasaan-kebiasaan yang baik.

Anak-anak akan belajar melalui keteladanan seorang ibu sehingga sangat tepat jika dikatakan bahwa, al-ummu ustadzul asatidzatil ula, ibu adalah guru bagi semua guru yang ada di muka bumi ini, guru yang pertama dan guru yang utama.

Tidak ada seorang pun, siapakah dia? apakah dia profesor? Doktor? ahli pendidikan? Pengarang? atau tokoh-tokoh di masyarakat? hingga presiden sekali pun, kecuali mereka semuanya pernah dididik dengan intensif oleh ibunya. Maka di sinilah seorang ibu memiliki kedudukan yang istimewa dalam Islam, bukan hanya karena dia melahirkan tetapi lebih dari itu, sekali lagi karena dia dijadikan tauladan utama bagi anak-anaknya, pendidik utama dan pertama bagi generasinya.

Jikalau seorang wanita menyadari peran ini dan semua umat Islam menyadari betapa sentral dan strategisnya kedudukan dan peran keutamaan seorang ibu adalah tanggungjawab kita semuanya untuk ikut menyiapkan para pendidik yang terbaik, generasi yang utama ini melalui perhatian kita mendidik wanita-wanita muslimah.

Anak-anak gadis kita, anak-anak remaja putri kita, kita didik dengan sebaik-baiknya agar kelak mereka di setiap rumah tangga muslim akan menjadi pendidik utama bagi generasinya. Bahwa mereka menjadi harapan masa depan umat dan bangsa ini, agar mereka mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, dengan memilih pendidikan yang terbaik, yang akan mampu mendesain masa depan mereka untuk menjadi ummahat muslimat sholihat, menjadi ibu-ibu, murabbiyat, pendidik-pendidik yang sholihah bagi generasinya.

“Kalau mereka menyadari bahwa kedudukan ini sangat mulia, tentu mereka tidak akan mencari-cari kemuliaan lainnya di luar rumah dengan peran-peran yang tidak jelas. Tentu mereka tidak akan mudah tergoda dari propaganda-propaganda para liberalis yang ingin menggiring anak-anak putri kita keluar dari peran utama sebagai pendidik agar mereka bisa menjadi mangsa serigala-serigala di tengah-tengah masyarakat yang sangat membahayakan masa depan umat dan bangsa ini,” kata Ust. Ahmad Suharto, M.Pd.I

Musuh-musuh Islam sangat sadar, bahwa untuk menghancurkan bangsa dan umat Islam, mereka akan menghancurkan pendidik utamanya, menghancurkan para pemuda dan pemudinya, melalui peradaban barat yang mereka trending-kan, tentu saja dengan seperti itu masa depan umat dan bangsa ini akan dapat dihancurkan karena moralitas calon pendidik dan ibu-ibu masa depan juga sudah akan dihancurkan oleh mereka.

Maka dari itu sangat penting bagi kita untuk mendidik para pendidik terlebih dahulu untuk membentuk generasi utama. Proses lebih utama daripada hasil. Proses pembentukan, pemupukan, pengolahan, penggemblengan lebih utama untuk mendapatkan hasil maksimal.


والبلد الطيب يخرج نباته بإذن ربه والذي خبث لا يخرج إلا نكدا. الأعراف ٧:٥٨
“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.” (Al-A’raf 7:58)


Segala yang baik hanya akan menghasilkan hal yang baik pula, dan sesuatu yang buruk tidak lain hanya akan menghasilkan yang buruk juga. Tanah subur yang baik akan melahirkan Nabi Ibrahim As yang mengajak pamannya kepada tauhid. Sedangkan tanah yang buruk akan melahirkan suatu yang buruk serupa Kan’an anak Nabi Nuh As, meskipun bibitnya baik.

Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Al-Baqorah 2:223)

*Penulis merupakan editor majalah La Tansa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here