Home Khazanah Imam Mubarrad atau Mubarrid, Manakah Penyebutan yang Benar?

Imam Mubarrad atau Mubarrid, Manakah Penyebutan yang Benar?

155
0

Oleh: Arif Abdurrahim

Nama aslinya Muhammad bin Yazid, terkadang digandeng juga dengan kunyahnya, Abul Abbas. Berasal dari Tsumalah, salah satu daerah di Jazirah Arab tempat domisili kabilah Azad. Ia merupakan imam besar madrasah Basrah pemilik beberapa kitab agung dalam bahasa arab, diantaranya; Al-Kamil fi al-Lughah wa al-Adab, Al-Fadhil, Al-Muqtadhab, Syarh Lamiyah al-‘Arab, Ma Ittafaqa Lafzhuwu wa Ikhtalafa Ma’nahu min al-Qur’an al-Majid dan Al-Mudzakkar wa al-Mu`annats. Selain sebagai ahli Nahwu, ia juga oratur ulung dan sejarawan. Bahkan salah satu muridnya pernah memujinya,

ما رأيت أحفظ للأخبار منه

(Ku tidak pernah menemukan orang yang lebih mengetahui sejarah selain dia).

Namanya sering diisyaratkan hanya dengan laqab (nama julukan)-nya saja, yaitu “Mubarrid” (sang penyelesai masalah) sebagai bentuk pujian, terutama di literatur madrasah Bashrah, sedangkan hal sebaliknya, madrasah Kufah acapkali mencelanya dengan merubah shighahnya menjadi “Mubarrad” (yang otaknya beku/kaku sifatnya). Terkait dengan dua penyebutan ini, masing-masing ada sejarahnya.

Konon yang pertama kali tersebar di khalayak saat itu adalah penyebutan “Mubarrid”. Ada bebarapa versi kisah awal penyebutan “Mubarrid” ini, menurut versi yg diutarakan Ibn Jinni (salah satu ahli Nahwu pemilik kitab Khasāis) sebutan tersebut muncul pertama kali tatkala Abu ‘Utsman Al-Mazini (salah satu gurunya) menyelesaikan penulisan karyanya yg berjudul “Al-Alif wa-l-Lam”, Abu Utsman mencoba mengajak murid-muridnya diskusi dan tanya-jawab membedah karyanya, tibalah saatnya sang guru bertanya ke imam Mubarrid, dan tak terduga jawaban yg dilontarkan imam Mubarrid sangat memuaskan padahal pertanyaan yg diajukan terbilang detail dan susah. Lantas sang guru memujinya,

أنت المبرد أى المثبت للحق

(Kamu sang Mubarrid, orang yang menetapkan kebenaran)

Beberapa versi yang lain menyebutkan bahwa penyebutan tersebut dilandasi oleh kehandalannya dalam menuntaskan suatu masalah dengan ilmunya.

Diumpamakan Imam Suyuthi dalam kitabnya Al-Mazhar, masalah dianalogikan sebagai api dan ilmunya lah air yang bisa memadamkannya. Juga disebutkan dalam tahqiqan kitab Al-Muqtadab milik Imam Mubarrid sendiri sebuah syair dengan bahr rajaz.

والكسر في راء المبرد واجب * وبغير هذا ينطق السفهاء

Mengkasrahkan ra’ di kata “Mubarrid” wajib dilakukan * adapun selain kasrah itu perkataan orang yg tidak berilmu

Adapun untuk penyebutan Mubarrad (yang beku otaknya). Penyebutan ini diinisiasi oleh Madrasah kufah sebagai sebuah hinaan, yang memang sudah menjadi rahasia umum ada sedikit konflik antara dua madrasah besar umat islam, Kufah dan Basrah.

Konotasi penyebutan ini terbilang negatif karena dalam bahasa arab “Mubarrad” dipakai untuk mencela seseorang yangg lambat berfikir, atau kaku sifatnya. Bahkan sang Imam sendiri membenci penyebutan ini seperti yg tertuang dalam beberapa literatur,

برّد الله من برّدني

Semoga Allah membekukan (akal) mereka yang menjulukiku “Mubarrad”

Menurut apa yg tertuang di Kitab Al-Aqdul Farid penyebutan Mubarrad pertama kali terjadi kala sang imam berhasil menyelesaikan kitab “Ar-Raudhah”, sebuah literatur yg membahas penyair-penyair abad itu. Sangat disayangkan para Ahli Nahwu Kufah mengkritiki karya ini, mereka menganggap sang imam kurang obyektif dalam memilih penyair dan syair yg akan dimasukkan ke karyanya. Bahkan salah satu mereka dengan pedas mengomentari,

فلم يختر لكل شاعر إلا أَبْرَد ما وجد له

Ia tidak memilih para penyair kecuali yang beku (jelek) kriteria dalam pemilihannya). Lantas karena itulah ia dijuluki Mubarrad.

Ada dalam kitab Al-Alqab menyebutkan bahwa asal muasal penyebutan mubarrad adalah kala ia diminta seorang pemangku jabatan untuk berdiskusi terkait suatu masalah pemerintahan. Sang Imam merasa enggan dengan ajakan tersebut. Akhirnya ia bersembunyi di balik pendingin air (Mubarrid, semacam gentong raksasa) yang terletak di salah satu sudut rumah gurunya, Abul Hatim al-Sijistan.

Diutuslah utusan untuk mencari Imam Mubarrid, Terenduslah persembunyian Imam Mubarrid di rumah gurunya. karena memang tersohor kabar sang Imam sering berkunjung ke rumah gurunya. Tapi sayang, utusan tersebut tak berhasil menemukan jejak sang Imam di tempat tersebut. Setelah utusan tersebut pergi, keluarlah sang Imam dari gentong persembuyian. Melihat peristiwa itu, Abul Hatim meledeknya dengan Mubarrad (sesuatu yang didinginkan) karena kekonyolannya bersembunyi dibalik pendingin air tersebut.

Bahkan Imam Tsa’lab -seorang imam yangg sering berselisih dengan Mubarrid, konflik mereka, dijadikan sebuah matsal (perumpaan) bagi suatu wilayah yg berdekatan tapi terjadi sengketa sehingga tidak memungkinkan kedua penduduknya bercengkrama, mengunjungi satu sama lain. Seperti syair yg termaktub dalam Bughyatul Wu’ah,

فأبداننا في بلدة والتقاؤنا * عسير كلقيا ثعلب والمبرد

(Raga kita terdapat di suatu wilayah tapi pertemuan kita sulit, sesulit perdamaian imam Tsa’lab dan Mubarrid)

Imam Tsa’labb malah melegalkan julukan mubarrod kepada sang imam, bahkan mengatakan bahwa ia berhak dengan itu seperti dalam syair pertama salah satu baitnya:

إن المبرد ذو برد على أدبه * …

Sesungguhnya Imam Mubarrad memang kaku sikapnya

Terlepas dari semua itu, Imam Tsa’lab dan Mubarrid merupakan dua tiang penyangga ilmu nahwu di masanya, seperti tertuang dalam bait syair.

أيا طالب العلم لا تجهلن* وعذ بالمبرد أو ثعلب
تجد عند هذين علم الورى* فلا تك كالجمل الأجرب
علوم الخلائق مقرونة* بهذين في الشرق والمغرب

“Wahai pencari ilmu (kaidah bahasa Arab) janganlah kalian menjadi jahil* bergurulah kepada imam Mubarrid atau Tsa’lab

Niscaya kalian akan menemukan ilmu mereka berdua* dan janganlah menjadi seperti unta yangg punya penyakit menular (permisalan bagi orang yg jahil mengajari orang lain dan menularkan kejahilannya)

Karena sesungguhnya Ilmu (kaidah Bahasa Arab) di dunia, timur dan baratnya * tersambung dengan mereka berdua.”

Singkatnya mungkin dapat disimpulkan bahwa مبرد dengat shighat Isim Fail berarti suatu pujian, dan dengan Isim Maf’ul berarti celaan. Celaan ini ada karena unsur perseteruan antara dua Madrasah besar Bahasa Arab, Kufah dan Bashrah.

Terlepas dari semua itu, kita sebagai penuntut ilmu tidak sepatutnya mencela Imam Mubarrid, karena kapabilitas dan sumbangsihnya dalam kaidah Bahasa Arab sangatlah besar bahkan banyak dari muridnya menjadi Ahli Nahwu terkenal seperti Akhfasy Ashghor dan Zajaaji. Semoga Allah melimpahkan rahmatnya kepada Imam Mubarrid. Amiin.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here