Oleh : Sayyid Rahman

Aku baru saja tiba di Sahara yang membentang menutupi sebagian besar bagian utara Benua Afrika. Baju gombrong penuh debu, celana kain berikat pinggang tali seadanya dan sepatu yang hampir sama sekali kehilangan warna aslinya, khas musafir kehabisan bekal yang hampir menemui ajal. Ini bukan kilas balik cerita-cerita tentang Kolombus, Vasco da Gama ataupun Ibnu Batutah. Apalagi perjalanan ultradimensi ruh dan jiwa, seperti yang dijalani Sidharta.

Bunga bukanlah jati, kokoh mengakar, tegak menjulang tinggi. Jati senang sekali menertawakan angin yang mencoba merobohkan dirinya, bunga tidak demikian. Bunga lebih memilih berteman baik dengan angin, mereka sering bercanda, bertukar cerita atau sekedar bertegur sapa. Bunga suka mendengarkan cerita angin tentang jagat yang ia lalui, tentang bukit-bukit, tebing, ngarai, lembah dan muara. Terlebih ketika angin bercerita tentang Sahara, “Menakjubkan! Seperti lautan.” Kata angin.

“Kalau begitu bawa aku ke sana sekarang juga!” Pinta bunga pada angin dengan memasang wajah penuh harap.

“Bukannya aku tidak mau, tapi…” melihat ronanya mukanya yang tiba-tiba berubah, angin merasa tidak tega. “Jika memang itu maumu, aku akan membawamu bersamaku, di musim selanjutnya kau akan terbangun di sana.” Bunga tersenyum, ronanya kembali lagi.

Angin mulai bergerak, berhembus bersama bunga dalam bentuk serbuk. Mereka menari-nari di atas aliran sungai, hamparan sawah, jajaran gunung berbatu, melewati garis masa, mengejar cakrawala.

Bunga terbangun, satu persatu daunnya tumbuh, diiringi kuncup, lalu kelopaknya yang bermekaran, pertanda musim telah berganti. Pertama kali ia membuka mata, terhampar di hadapannya jutaan, ratusan juta, atau bahkan tak terhitung butiran pasir. Matanya tertegun tapi bibirnya tersenyum, bunga merasa bahagia angin sudi memenuhi harapannya.

Di tempatnya dahulu bunga sering dipanggil kembang, yang dalam semua maknanya memiliki indikasi kebaikan. Kembang mawar, kembang melati, kembang desa, kembang kota, atau bahkan per-kembang-an. Saking baiknya bahkan ada beberapa orang yang mengkultuskan dan memuja-mujanya. Mereka biasa memanggil bunga dengan sebutan kembang tujuh rupa. Semakin maju peradaban kembang mendapat nama lain, bunga. Tidak beda dengan nama lamanya, nama bunga hampir tidak memiliki konotasi negatif. Bahkan aura negatif dari kata bangkai bisa dinetralisir kala disandingkan dengan nama bunga menjadi bunga bangkai, yang mengingatkan pada prestasi salah satu saintis kenamaan, Rafles.

Di satu sore bunga melihat sepasang kekasih yang saling bersitegang, saling angkat suara satu sama lainnya. Bunga tidak tahan hanya melihat mereka berdua bertengkar dari tempatnya, “Oh tanah! Ku mohon bawalah diriku ke tempat mereka berdua! Karena aku terlahir seperti ini, tanpa kaki. Gerak yang mampu kulakukan hanya gerakan kecil mengikuti arah cahaya, tapi aku percaya kau mampu menggeser tempatku tumbuh ke dekat mereka berdua, dadaku sesak sekali melihat sepasang kekasih yang tidak lagi saling mengasihi. Kumohon tanah!” Seketika tanah bergetar, bunga bergeser mendekati sepasang kekasih itu.

Kehadiran bunga yang mengejutkan mereka ternyata mampu mengetuk hati sepasang kekasih itu, karena memang sebenarnya keduanya tidak kehilangan kasih sama sekali, namun hanya tertutup oleh tumpukan ego dan emosi. Bunga dicabut dari tempatnya, “Ini untukmu, maaf Mas sudah kasar tadi!” ucap si pria pada wanitanya dengan menahan gengsi.

Bunga terbangun, tempat sekitarnya terasa asing. Ia sudah berada di pot batu berukuran tanggung yang ditempatkan di depan rumah, dari luar ia mendengar suara-suara yang ada di dalam rumah. Seorang lelaki dewasa, seorang wanita, dan satu bayi. Ia tidak ingat betul, tapi ia sangat yakin itu adalah sepasang kekasih yang terselamatkan olehnya. Tampaknya kala itu ia ditanam dan dirawat, hingga sekarang ia tidak sendiri lagi. Di sekelilingnya tumbuh bunga-bunga yang serupa dengannya.

Beberapa musim berlalu, bunga sudah beberapa kali terlahir kembali dan mendapat tubuh baru. Di sepanjang usia hidupnya sudah banyak senyum bermekaran yang ia saksikan, sampai ia berkenalan dengan angin saat ia tumbuh di halaman belakang rumah.

Di tengah luasnya gurun sahara bunga sendirian, lagi. Ia mencoba berteman dan mengakrabkan diri dengan pasir, mereka acuh dan hanya berduyun-duyun ke sana- ke mari tanpa kepastian. Ia ingin berkenalan dengan burung yang sesekali bayangannya melintas di atasnya, “Ah, tentu saja… Para penghuni dunia atas tidak akan mampu memahami bahasa penghuni dunia bawah.” Pikir Bunga.

“Mungkin di sini aku akan bisa berbincang dengan mentari!”

“Wahai mentari, perkenalkan namaku bunga, aku datang dari tempat yang sangat jauh…” Mentari hanya terdiam tak menyahut.

“Atau mungkin aku mengakrabkan diri saja dengan sang waktu?!”

“Wahai waktu, aku tahu kau selalu menemaniku, tapi izinkan aku memperkenalkan…” Bunga terdiam.

“Tentu saja, waktu yang sangat sibuk tidak mungkin sempat mendengar ocehanku.”

“Kenapa semua mengacuhkanku? Aku tidak meminta apapun dari kalian, bahkan jika ada yang kuminta itu hanya senyum kalian. Sesulit itukah tersenyum untukku?” Bunga mengungkapkan kesepiannya. “Jauh aku datang ke tempat ini, hanya karena aku mendengar dari angin kalian tidak pernah merasakan hangatnya kasih dan senyuman,  atau pun membara dan gilanya kebencian. Kalian gersang.”

Belum selesai dari monolognya, angin datang. “Ah angin, apa kau datang untuk menemaniku? Katakanlah pada mereka bahwa aku hanya ingin melihat senyum mereka!” Angin tidak menjawab. “Angin, angin apa yang kau lakukan? Jika kau berhembus seperti ini kau akan mencabut akarku. Ah, angin… angiiiin!” bunga terpisah dari akarnya sebelum sempat menghasilkan serbuk sari.

Aku kuburkan ia di tempatnya terjatuh setelah beberapa saat sebelumnya kumandikan dengan air mataku. Tidak banyak yang dapat aku katakan, aku hanya mampu tersenyum melepas kepergiannya. Setelah sekian banyak kebaikan yang ia sebarkan, kebaikan yang selama ini mengelilingiku, kebaikan yang selama ini membuatku tumbuh di rumah yang penuh kasih, kebaikan yang menurut cerita ayahku mampu menyatukannya dengan ibu.

Lamat-lamat di tengah gurun itu terdengar suara, “Tenanglah anak manusia, kami tidak benar-benar mengacuhkannya. Kami hanya ingin ia lebih dekat dengan Sang Kekasih, kami yakin ia akan sangat senang bisa melihat senyum-Nya.”

Aku terkejut dan setengah takut, suara misterius itu membangunkanku dari tidurku. Dan di samping ranjangku tergeletak setangkai bunga dan secarik kertas bertuliskan, “Ayah, aku pergi dulu. Ayah terlalu lelap tertidur, aku tidak sampai hati membangunkan ayah. Minggu depan aku akan mengunjungi ayah lagi. Tertanda, anakmu.”

Tampaknya sore nanti aku harus keluar dan duduk di beranda, menyapa mentari senja, meski tak se-senja usiaku yang sudah kepala tujuh. Tapi untuk sekarang, aku harus tersenyum dan menyapa bunga yang sedari tadi tertidur di sampingku.

Didedikasikan untuk: Almh. Ananda Tsuroyya Razunat Hala, bunga indah yang membuat Tuhan tersenyum dan memetiknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here