Oleh: MS. Yusuf al-Amien, Lc*

Dalam kehidupan masyarakat modern yang majemuk, tema “Toleransi” kerap menjadi bahan pembicaraan yang tak pernah usang untuk selalu dikaji. Kata “Toleran” sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “Bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.” Dalam aplikasi di lapangan, penerapan sikap toleran tidak selalu menapaki jalan lurus tanpa hambatan dan rintangan, tak jarang toleransi dalam praktiknya kerap menghadapi onak berduri yang mencederainya.

Sikap intoleran acapkali muncul dari pihak yang kurang terbuka wawasan dan pergaulannya, sehingga ia memandang segala yang ia yakini adalah sebuah kebenaran absolut yang tidak menerima pembanding; apa yang ia lihat, dengar dan alami selama ini kerap terbatas oleh sekat-sekat eksklusif dalam perspektif kaku yang menyebabkannya terpasung pada ruangan “kedap suara” yang dipenuhi dengan cermin di setiap sudutnya, sehingga tiada objek yang ia lihat melainkan dirinya sendiri dan tiada suara yang ia dengar kecuali kata hatinya sendiri. Maka, kebenaran adalah dirinya dan segala yang berbeda dengan dirinya adalah salah.

Islam sebagai agama yang luhur, telah datang untuk mengajarkan sikap toleran dan menghapuskan segala bentuk fanatisme. Allah telah menegaskan, bahwa diciptakannya manusia dalam beragam suku dan bangsa itu tidak lain agar manusia dapat saling mengenal satu dengan yang lainnya. Sebagaimana Allah telah memastikan, bahwa perbedaan tersebut merupakan ketetapan-Nya yang takkan pernah bisa dihapuskan. Oleh karena itu, para Rasul telah diutus oleh Allah sebagai pemberi peringatan dan petunjuk, bukan sebagai agen yang diberi mandat untuk memaksa manusia agar memiliki satu pandangan dan keyakinan. Walaupun memang, seluruh utusan Allah itu telah diperintahkan untuk menyeru kepada ajaran Tauhid, namun seruan tersebut adalah dakwah dengan akal dan kerelaan, bukan dengan paksaan dan desakan.

Oleh karena itu, risalah yang telah dibawa Nabi Besar Muhammad Saw. adalah risalah paripurna yang menyempurnakan seluruh risalah para Rasul sebelumnya, dan Rasulullah Saw. dalam sabdanya telah menegaskan: “Aku telah diutus dengan —membawa— agama yang lurus dan toleran (Al-Hanîfiyyah Al-Samhah).”

Bertolak dari spirit ini, dapat dipastikan bahwa seluruh ajaran Nabi Muhammad Saw. adalah ajaran yang senantiasa mengacu kepada nilai-nilai generik toleransi dalam segala cakupannya. Dari sini perlu digambarkan terlebih dahulu sketsa toleransi dalam bingkai kemasyarakatan beragama; yang setidaknya, toleransi melalui perspektif ini dapat dibagi ke dalam dua kategori besar, yaitu: “Toleransi Internal” dan “Toleransi Eksternal.”

Yang dimaksud dengan “Toleransi Internal” di sini adalah sikap toleran yang harus dimiliki antar sesama penganut keyakinan dalam sebuah agama tertentu. Misalkan di dalam Islam, meskipun Islam adalah agama independen yang berdiri utuh, namun interpretasi terhadap Teks Agama (Al-Qur`an dan Sunnah) yang dilakukan oleh para pemeluknya kerap menghasilkan penafsiran heterogen, yang dalam kelanjutannya akan melahirkan corak pemikiran serta metode tertentu yang berbeda antara satu aliran dengan lainnya. Perbedaan ini terus berkembang hingga membidani sebuah madrasah metodologi pemikiran yang disebut dengan “Mazhab.”

Perbedaan Mazhab dalam Islam ini telah muncul dalam berbagai cabang keilmuan Islam; mulai dari Akidah, Syariat hingga ke dalam disiplin ilmu tata-bahasa Arab. Dalam tataran lapangannya, perbedaan tersebut kerap memicu gesekan-gesekan antar-mazhab hingga melahirkan polemik panjang tak berpenghujung dan tak jarang menyebabkan bentrok fisik.

Imam Syafi’i, salah seorang pelopor Mazhab Fikih terbesar di dunia pernah menegaskan, “Pendapat kami benar, namun mungkin saja salah; dan pendapat yang lain salah, namun mungkin saja benar.” Pernyataan ini menunjukkan tingkat toleransi tinggi yang dimiliki oleh seorang Imam Mazhab, maka sudah seharusnya karakter tersebut dimiliki juga oleh para pembelajar dan golongan awam yang masih berada pada level taklid Mazhab. Dalam Toleransi Internal ini juga, kita mendapatkan formulasi “Kaidah Fikih” yang mengatakan: “Tiada pengingkaran atas perkara yang masih diperselisihkan, namun pengingkaran itu dalam perkara yang telah disepakati.”

Maksudnya, di dalam Islam itu terdapat perkara ijtihadi yang membuka ruang multi-tafsir dalam implementasi hukumnya; seperti membaca Qunut dalam shalat Subuh, dua kali azan untuk shalat Jum’at dan perkara lainnya yang serupa, di mana ketika terdapat perbedaan di dalamnya, seseorang tidak bisa mengingkari atau menyalahkan pihak yang berseberangan dengannya. Dan di sisi lain, dalam Islam juga terdapat perkara-perkara substansial yang bersifat paten dan takkan pernah berubah; seperti Keesaan Allah, kewajiban Shalat, keharaman Riba dan sebagainya; ini adalah permasalahan-permasalahan yang telah disepakati hukumnya, sehingga apabila ada yang menyelisihinya berarti jelas salah dan ia harus diingkari karena tiada ruang ijtihad di dalam masalah tersebut.

Peneguhan sikap Toleransi Internal ini dapat diaplikasikan melalui landasan kesepemahaman antar-mazhab, sehingga adagium yang mengatakan: “Kita hendaknya saling toleran dalam titik perbedaan, dan saling bekerjasama dalam titik kesepakatan” adalah representasi tepat dalam konteks ini. Masih banyak poin persamaan yang bisa dibidik dalam pendayagunaan potensi umat sehingga tidak terjebak di dalam kubangan debat khilâfiyyah yang bersinambung. Pemberdayaan wakaf, optimalisasi potensi zakat dan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an, adalah contoh kecil dari lahan yang bisa digarap oleh semua umat Islam lintas-mazhab.

Setelah “Toleransi Internal,” hal kedua yang tak kalah pentingnya adalah “Toleransi Eksternal,” yaitu sikap tenggang-rasa antara pemeluk satu agama dengan penganut agama lainnya. Sejarah mencatat, intoleransi agama ini pernah melanda peradaban manusia dan menyebabkan konflik perang yang telah menelan ribuan korban jiwa; krisis intoleransi tersebut muncul karena adanya pemaksaan dogma tertentu kepada orang lain dengan menyalahgunakan kekuasaan dan kekuatan.

Al-Qur`an telah menegaskan, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…” dan sejarah juga telah mencatat, bahwa Rasulullah tidak pernah memaksakan sebuah kaum untuk memeluk agama Islam; hal tersebut tergambar jelas saat penaklukan Makkah misalkan, yaitu saat Rasulullah berada di puncak kekuatan dan berhadapan dengan kaum Quraisy yang dahulu senantiasa menyakiti Rasulullah beserta para pengikutnya; jika berkenan, bisa saja kala itu Rasulullah memaksa mereka untuk masuk Islam atau membunuh mereka semua, tapi sebaliknya, Rasulullah malah memaafkan dan membiarkan mereka pergi bebas. Namun justru dari kecerdasan toleransi ini, kaum Quraisy akhirnya berbondong-bondong memeluk Islam dengan penuh kerelaan tanpa sedikitpun pemaksaan.

Saat berada di Madinah, Rasulullah juga hidup berdampingan dengan non-Muslim serta memprakarsai sebuah ikatan perjanjian antara umat Islam dan kaum Yahudi yang tertuang di dalam Piagam Madinah. Mufakat konstitusional ini adalah landasan bernegara yang dijadikan pijakan bagi setiap pemeluk agama yang tinggal di Madinah kala itu. Dari sini lahirlah hukum yang menegaskan bahwa sesama penduduk Madinah memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam bernegara.

Oleh karena itu, Islam sebenarnya tidak mengenal istilah “Minoritas.” Dan menurut Grand Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib, terma “Minoritas” adalah perkara baru dalam peradaban Islam yang senantiasa dihindari oleh Al-Azhar dalam rilis resminya maupun berbagai pidatonya. Terma tersebut hendaknya diganti dengan istilah “Fikih Kewarganegaraan” (Fiqh Al-Muwâthanah), karena redaksi “Minoritas” itu mengesankan adanya marjinalisasi sebuah kelompok tertentu dalam lapisan masyarakat, sedangkan terma “Kewarganegaraan” lebih selaras dengan makna egaliter dan keadilan bagi setiap individu dalam hak dan kewajibannya di sebuah negara.

Maka di era globalisasi ini, saat perkembangan peradaban manusia begitu pesat dalam berbagai lininya, pembumian nilai “Toleransi Eksternal” perlu dikokohkan dengan mencari titik-temu antara umat beragama. Allah sendiri telah menegaskan, “Katakanlah: ‘Wahai ahli kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kalian…” Titik persamaan (Kalimah Sawâ`) antara umat Islam dengan non-Muslim setidaknya dapat kita temukan dalam dua hal substansial; yaitu Akhlak dan Substansi Syariat.

Dalam sabdanya, Rasulullah telah menegaskan, “Sesungguhnya aku telah diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (Makârim Al-Akhlâq).” Norma dan nilai-etik adalah perkara fitri yang paten sepanjang masa. Semenjak dahulu orang telah mengetahui bahwa jujur itu baik dan dusta itu buruk, bersih itu mulia dan kotor itu tercela. Akhlak dan norma semacam ini adalah perkara yang dapat dijadikan fokus bersama lintas-agama, sehingga dapat dicanangkan sebuah gerakan lintas-agama dalam menjaga kebersihan kota, atau menjaga keamanan masyarakat dengan ronda Siskamling misalkan.

Adapun perkara kedua adalah Substansi Syariat (Maqâshid Syari’ah). Sekalipun setiap agama memiliki Syariat yang berbeda-beda, tetapi di sana terdapat unsur esensial dalam setiap Syariat yang menjadi titik-temu bagi seluruh pemeluk agama, yang itu tercermin dalam “Lima Elemen Dasar Tujuan Syariat,” yaitu menjaga Agama, Jiwa, Akal, Keturunan/Kehormatan dan Harta.

Lima hal primer ini (Dharûriyyât Al-Khams) adalah perkara prinsipil yang diakui oleh setiap ajaran agama. Maka seluruh pemeluk agama harus bermufakat dalam menjaga kelima hal tersebut, serta saling bahu-membahu dalam mencegah dan melawan segala hal yang dapat mengganggu keberlangsungannya ataupun merusak keberadaannya.

Demikianlah lanskap toleransi yang perlu kita pahami bersama, sebagai langkah awal untuk meneguhkan nilai-nilai luhur guna menancapkan akar perdamaian antar umat beragama dan mengokohkan kerukunan individu dalam masyarakat bernegara.

*Mahasiswa S2 Fakultas Syariah wal Qonun, Program Magister Ushul Fikih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here