Oleh: Silvani Yuzarni*

Pernahkah anda bingung mendapati istilah pornografi dianggap kebebasan ber-ekspresi, istilah sodomi menjadi gay, sedangkan taat beragama dianggap radikal? Pernahkah anda menyaksikan rok mini menjadi tren? Punk menjadi gaya hidup? Bersikap arogan, kasar dan berkata semau gue menjadi hal yang keren? Jika anda pernah menyaksikan itu semua, maka selamat datang di era postmodernisme.

Apa itu Postmodernisme?

Mendefinisikan postmodernisme bukanlah hal yang mudah, karena jangkauannya yang luas meliputi filsafat, literatur, ilmu-ilmu sosial, arsitektur dan lain sebagainya. Setiap disiplin ilmu mempunyai definisi tertentu mengenai postmodernisme, bahkan setiap ilmuwan pun berbeda-beda dalam memaknai istilah ini. Menurut mereka, menyatukan seluruh pemahaman tentang postmodernisme menjadi sebuah definisi yang tunggal dan mapan, yang mana mencederai postmodernisme itu sendiri karena salah satu prinsip yang diusungnya adalah relativisme (tidak ada kebenaran yang tunggal).

Maka untuk mempermudah pemahaman kita, tulisan ini akan membahas postmodernisme dari salah satu sudut pandang saja, yakni filsafat. Sejarah filsafat Barat terbagi menjadi beberapa periode; periode pertama adalah filsafat Yunani klasik, kedua filsafat abad pertengahan yang kental sekali dengan pengaruh agama Kristen, kemudian periode ketiga filsafat modern yang bersikeras melepaskan filsafat dari dogma gereja, lalu periode yang paling terkini dan yang menjadi pokok pembahasan kita adalah postmodernisme.

Secara literal, postmodernisme adalah faham yang berkembang setelah modernism, yaitu sebuah gerakan intelektual untuk mengkritisi dan menilai kembali secara radikal pemikiran modernism yang dinilainya tidak mampu membawa manusia pada kehidupan yang lebih baik dan maju. Jika postmo adalah lawan dari modernisme, maka memahami postmo berarti harus memahami modernisme terlebih dahulu. Modernisme yang diawali oleh filosof Prancis Descartes, mempercayai kebenaran akal dan objektivitas ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, manusia dengan akalnya pasti mampu mencapai kebenaran. Pendek kata, akal menurut modernisme adalah ukuran satu-satunya untuk mengetahui baik buruk sesuatu.

Modernisme berarti keteraturan. Keteraturan berarti rasional, semakin rasional seseorang atau sebuah komunitas, maka hidupnya akan semakin teratur dan maju. Pertanyaan seperti bagaimana menjadikan dunia bebas dari kekacauan dan ketidakteraturan adalah perhatian para modernis. Akibatnya, dunia modern sangat anti pada hal-hal yang dinilai menyimpang. Sebagai contoh hal-hal yang dianggap teratur, maju dan rasional oleh modernisme adalah kulit putih, laki-laki, heteroseksual atau pernikahan antara pria dan wanita. Sebaliknya, kulit hitam, perempuan, gay dan lesbian di mata modernisme adalah ketidakteraturan dan kekacauan yang harus dihindari. Golongan terakhir ini oleh modernisme masuk pada kriteria liyan atau the others yang otomatis selalu berada di posisi subordinat dan tak jarang diperlakukan semena-mena.

Lalu kemudian postmodernisme muncul untuk pertama kali di Prancis sekitar tahun 1970-an, ketika Jean Francois Lyotard menuangkan pemikirannya tentang era postmodernisme di mana narasi-narasi besar dunia modern seperti rasionalisme, kapitalisme dan komunisme tidak dapat lagi dipertahankan. Postmo datang untuk mengkritik homogenitas dan menjunjung keberagaman, menentang keseriusan dan memilih kejenakaan, menggantkan universal dengan segala sesuatu yang local dan  partikular. Di antara beberapa karakteristik postmo:

  1. Relativitas

Jika modernisme meyakini akan adanya sebuah kebenaran absolut yang mampu dicapai oleh akal manusia, postmo dengan keras menolak adanya kebenaran absolut bahkan yang datang dari agama sekalipun. Bagi postmo, kebenaran berbeda-beda tergantung perspektif setiap orang atau kelompok, apa yang dianggap benar oleh seseorang belum tentu benar oleh orang lain, apa yang dianggap benar hari ini belum tentu benar esok hari. Setiap orang bebas berfikir, berpendapat, berperilaku sesuai dengan apa yang ia yakini.

       2. Tidak ada narasi besar di dunia ini

Kaum postmodernis berpendapat bahwa selama ini yang dianggap kebenaran itu tak lain hanyalah hasil narasi atau sejarah atau cerita yang dibesar-besarkan oleh pihak yang sedang berkuasa. Misalnya, narasi besar pada abad pertengahan adalah percaya pada Tuhan dan kitab suci. Implikasinya, semua hal yang terjadi dinilai dari sudut pandang Tuhan dan kitab suci. Postmo berusaha melawan narasi ini dengan mengetengahkan narasi-narasi kecil yang selama ini terpinggirkan seperti atheism dan agnotisme.

Moral Menurut Postmodernisme

         Postmo bisa jadi berjasa dalam membawa sudut pandang baru terhadap keberagaman, membuka pintu kesempatan bagi berbagai kelas sosial terutama kaum minoritas, mengecam ekploitasi alam, mengangkat nilai toleransi dan demokrasi. Namun postmo, selain merupakan mimpi buruk bagi kemajuan sains dan teknologi karena prinsip relativitasnya itu, juga merupakan sandungan besar bagi perbaikan moral. Bagaimana tidak, benar dan salah bagi postmodernisme bukan lagi biner yang bertentangan, melainkan sebuah sinonim yang bisa berjalan selaras. Perbuatan yang benar bisa menjadi salah, dan yang salah bisa menjadi benar, tergantung siapa yang menilai, dan dalam konteks seperti apa perbuatan tersebut dilakukan.

Bagi para pembela postmo, moral adalah privasi masing-masing individu. Moral sama sekali bukan urusan agama, bukan pula urusan pemerintah, atau otoritas manapun. Setiap individu dengan akal dan intuisinya berhak menentukan standar baik buruk perbuatannya. Semua nilai-nilai yang manusia percaya keabsahannya sepanjang sejarah dunia menjadi kabur di mata postmo.

Maka satu-satunya nilai yang dijunjung tinggi para postmodernis adalah kebebasan. Manusia pada dasarnya adalah bebas; bebas berpikir, bebas berbuat dan berbicara, bebas berkeyakinan, bebas beragama apa saja, bebas berpihak pada siapapun, bebas memilih gaya hidup, bebas menentukan kecenderungan seksual sehingga tidak mengherankan jika di era postmodern, gay, lesbian dan biseksual adalah hal yang lazim, diekspos ke masyarakat banyak agar menjadi hal yang tidak tabu lagi.

Untuk melindungi nilai kebebasan ini, maka diperlukan sikap toleransi dari setiap individu. Toleransi menjadi trending topic yang dielu-elukan di zaman postmodernisme. Toleransi seolah menjadi kata kunci segala permasalahan di dunia ini. Dan sebagaimana kebebasan yang tanpa batas, toleransi pun menjadi tanpa batas.

Revolusi Moral dengan Akhlak Islamiyah

Akhlak merupakan puncak kesempurnaan agama Islam, ia adalah visi dan misi tertinggi dari risalah Nabi Muhammad Saw. Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”, “agama adalah akhlak yang baik”. Visi ini dijewantahkan dalam setiap aspek agama Islam, baik dalam akidah (keyakinan), maupun syari’ah (ibadah). Dalam akidah misalnya, Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Mu’min yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Sedangkan dalam ibadah, hampir seluruh ibadah yang disyari’atkan kepada manusia bertujuan untuk memperbaiki akhlak; sholat untuk melindungi diri dari perbuatan keji dan munkar; puasa untuk mengendalikan hawa nafsu dan menghindari penyakit hati dan lisan; zakat untuk membersihkan harta dan diri dari sifat kikir, menumbuhkan rasa empati dan saling membantu; dan haji melatih diri untuk tidak berbantah-bantahan, berdebat dalam kesia-siaan dan tidak berbuat maksiat.

         Dari uraian di atas kita bisa melihat bahwa perbaikan moral dalam Islam tidak bisa lepas dari aturan agama. Islam datang untuk menegaskan kebaikan dan keburukan. Ini tidak berarti bahwa kaum sebelum datangnya Islam tidak dapat mengerti dengan akalnya apa itu baik dan buruk, karena fitrah manusia pasti mengatakan bahwa jujur itu perbuatan baik dan bohong itu perbuatan buruk. Namun Islam – seperti yang dikatakan Rasulullah Saw. -, menyempurnakan gagasan-gagasan yang telah diketahui manusia tentang kebaikan dan keburukan kemudian membentuk prinsip-prinsip etik Islam yang lebih sempurna, yang tidak berubah-ubah dan dapat diterapkan di manapun dan kapanpun. Tidak hanya itu saja, Islam juga menjelaskan ganjaran dari tiap perbuatan baik dan buruk berupa pahala dan dosa sebagai bentuk motivasi bagi manusia agar terus berbuat baik.

Perbaikan moral dalam Islam adalah tanggung jawab bersama, bukan sekedar urusan pribadi seperti yang dikatakan postmo. Perintah saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, juga menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran beberapa kali diulang-ulang di dalam AlQuran. Ini indikasi yang sangat jelas bahwa Islam menentang masyarakat individualis yang mementingkan pencapaian dan kehendak pribadi dengan mengabaikan dampak baik dan buruknya di kehidupan bermasyarakat.

Ketika postmo mempopulerkan sikap toleransi, perbedaan, kebebasan, dan kata-kata lain yang serupa semisal kasih sayang, menghargai dan memaafkan, Islam tak cukup sebatas itu. Seorang muslim selain diperintahkan untuk mengasihi, menghargai, dan memaafkan, tapi juga disuruh berlaku adil, tegas dan berani. Keberanian di sini bukanlah keberanian jahiliyah yang membabi buta tanpa arah dan landasan, keberanian menurut Islam adalah keberanian yang berlandaskan iman kepada Allah, keberanian dalam mempertahankan harga diri dan agama. Keberanian, seperti kata salah seorang filsuf akhlak Muslim Ibnu Miskawaih, adalah bentuk paling mulia dari pengendalian kekuatan amarah dalam diri manusia.

Bukanlah hal yang singkat membicarakan kesempurnaan akhlak dalam Islam karena sejatinya akhlak muslim tak lain merupakan refleksi semu dari sifat Allah Swt yang Maha Sempurna; kebaikanNya yang tak terbatas, kasih sayang-Nya, pemaaf-Nya, juga kemurkaan-Nya, sifat membalas-Nya pada suatu kemungkaran. Kedua sisi yang berlawanan ini ada tanpa mengurangi kesempurnaan itu. Menonjolkan satu sisi dengan mengabaikan sisi lainnya yang tak kalah penting adalah konsep pemikiran yang rancu.

Kesimpulan

         Revolusi moral dengan tetap berfaham postmo adalah hal yang sia-sia jika tidak dapat dibilang mustahil. Relativitas nilai dan kebenaran yang rancu, toleransi yang lebih mengarah kepada ketidak acuhan, kebebasan tanpa batas, kesemuanya dapat menjerumuskan generasi kepada nihilisme, kehidupan tanpa tujuan serta kebobrokan moral.

*Penulis adalah Pemred Majalah La Tansa Tahun 2006-2007

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here