Home Sastra Sarah Sepertiga Malam

Sarah Sepertiga Malam

399
0

Oleh: Maulina Dewi*

“Wisudawan dan wisudawati Universitas al-Azhar tahun akademik 2013-2014 memasuki auditorium,” sambut pembawa acara dengan suara lantang, tegas dan penuh wibawa. Standing applause serentak menggetarkan  aula wisuda. Tak sedikit dari audiensi, wisudawan dan wisudawati yang meneteskan air mata bahagia sebagai wujud syukur pencapaiannya selama ini. Seorang lelaki berusia 27 tahun tak bosan-bosan mengulang video yang sudah berumur tiga tahun tersebut. Tepatnya saat nama “Alif Ridho Habiby” dideklarasikan sebagai wisudawan S1 mahasiswa Al-Azhar Fakultas Syari’ah wal Qanun yang mendapatkan predikat mumtâz bi martabah al-syaraf.

Mahasiswa yang kini memilih fakultas Humaniora sebagai program lanjutannya tersebut sangat masyhur di kalangan kawan kampusnya. Kepribadian yang teguh, ambisi yang tinggi, dan prinsipnya yang kuat kerap mengantarkannya menjadi seorang bintang pada setiap jenjang studi yang ditempuhnya. Menulis segala impian di atas lembaran catatannya adalah senjata ampuh yang ia percayai selama ini, tercatat delapan puluh persen lebih dari impian-impian lima tahun terakhirnya berhasil dicapai. Sehingga rasa bahagia dan bangga memenuhi hati seorang laki-laki berhidung mancung, gagah dan berkulit putih ini.

Suhu menunjukkan angka dua belas derajat celcius; alat-alat pemanas ruangan telah dinyalakan, selimut tebal dan pakaian berlapis-lapis pun tak ketinggalan. Pintu, jendela dan setiap lubang udara rumah telah disumpel rapat-rapat. Meski hawa dingin yang berhembus pada sepertiga malam itu mampu menggigit tulang-tulang Alif, tapi dingin itu tidak menyulutkan niat Alif untuk bangun dari tidurnya. “Humayrah-ku… yuk bangun tahajud!” Alif membangunkan Sarah, wanita yang sudah dinikahinya sejak tiga tahun silam dengan lembut.  Alif dan Sarah senantiasa berusaha membiasakan  tradisi orang-orang sholeh dengan menghidupkan sepertiga malamnya.

Gemerlap cahaya memancarkan kilaunya di seluruh penjuru masjid. Ka’bah yang terletak pada poros masjid al-haram dengan seni kaligrafi berwarna keemasan—mengelilingi bawah bagian atas kiswah hitam—dikelilingi merahnya sutera yang lembut dan empuk. Tentu sebuah kolaborasi tenunan gambar yang indah membentang pada sajadah Sarah—tiba-tiba terseret oleh kakinya. Ia beranjak dan lari dari tempatnya menuju kamar mandi. Ia menahan rasa mual yang sudah  tak tertahankan sejak zikir keduanya berlangsung. Entah apa yang terjadi, Alif merasa kegelisahannya adalah kabar gembira; yakni menunggu buah hati sejak tiga tahun pernikahannya akan segera terobati. Tak ayal Senyum merekah dan hati berbunga-bunga menghiasi kecemasannya malam itu.

Keesokan harinya, Alif membawa istrinya ke rumah sakit untuk didiagnosis secara medis. “Pak,  rasa mual yang sering Sarah rasakan, seringnya Sarah muntah, bahkan rasa nyeri dibagian perutnya bukanlah gejala kehamilan seperti yang kita kira!”  kata Dokter Marwah dengan suara parau, ia melanjutkan “Sarah terkena inveksi VHB, virus hepatitis B. Persistensi virus tersebut telah berkembang dalam organ hati Sarah!” dokter meneruskan penjelasan singkatnya.

Tubuh Alif mulai panas dingin, keringatnya mengucur sederas-derasnya, matanya merah membendung kesedihan hingga kekecewaan. Jantungnya berdetak berpuluh-puluh kali lebih cepat, kakinya lemas seakan tak mampu untuk menopang  berat berita ini. “Berikan pertolongan terbaik untuk istri saya dok!” pinta Alif dengan mulut gemetar tak karuan.

Prediksinya yang keliru, benar-benar telah membuatnya merasa bersalah terhadap kehendak Tuhan; terlebih itu adalah penyakit. Alif membayangkan betapa tidak bersyukurnya telah dikaruniai seorang istri yang solehah, lantas lupa bersyukur dan selalu meminta lebih dari pada itu. Meskipun sesuatu yang wajar dalam suatu pernikahan, tapi tetap saja hati kecil memojok-salahkan ketidak sabarannya. Mengapa dia tidak bisa bersabar dan terus berdoa, berdo’a bukan berharap atau terus berangan-angan, karena do’a adalah bahasa terbaik antara dia dan Tuhannya, tanpa menunjukkan rasa terus kekurangan atau keserakahan, melainkan meminta sebuah petunjuk untuk diberikan yang terbaik, bukan yang kita kehendaki.

3 bulan kemudian…

Cuaca cerah dan udara sejuk menemani Alif menyuapi Sarah semangkuk bubur sumsum spesial yang sengaja ia hidangkan pagi itu. “Kring…!” suara notifikasi pesan masuk ponsel Alif, ”Assalamualaikum sdr. Alif, sya membuthkan kedatangan anda di kampus skg!” Sebuah pesan whatsapp yang dikirim oleh dosen pembimbing tesis Alif. Dengan berat hati Alif meminta izin kepada istrinya pagi itu juga.

“Anda telah mengecewakan saya. Sidang tesis yang anda janjikan tidak bisa dilakukan minggu depan, data yang anda dapatkan belum memenuhi persyaratan!” Ungkap dosen  sambil menaikkan kaca mata yang merosot ke ujung hidungnya. Lelaki planner ini tak bisa berkata-kata. Ia segera meninggalkan ruangan dosen dengan segenap tumpukan kertas manuskrip yang belum dijilid. Ia menggerutu penuh kekecewaan dan penyesalan.

Sore itu, Alif menemui Syekh Nukhas di Masjid Arrohman, Muqoṭom. Salah satu syekh dari masyâyikh Al-Azhar yang biasa ia mulâzamah-i bersama istrinya. Ia  datang dengan segudang curahan hati dan pertanyaan-pertanyaan yang ia adukan kepada gurunya.

“Kita ini dibilang subjek, sutradara, diri yang mandiri, terkadang seperti memang benar.” Syekh mencoba memahamkan Alif.

“Li mâdza mitsl dzâlik yâ maulanâ?” Tanya Alif penasaran.

“Sadarkah kita, di tengah rasa mandiri itu, kita sering menemukan momentum bahwa ternyata kita ini diselenggarakan atau disutradarai. seperti detak jantung dan aliran darah kita, bahkan kita tidak bisa membuat skedul harian jam berapa saja mau melakukan buang hajat. Lidzâlika yâ bunayya, kamu tidak bisa menjadwalkan kapan kelahiran anak pertama dari istrimu. Pun istrimu yang 3 bulan lalu masih datang bersamamu ke majlis ini, ternyata sekarang berbaring tak berdaya memerangi penyakitnya. Kemudian tentang diundurnya Sidang tesismu itu. Sungguh target dan impian yang selama ini kamu susun dan tindakan yang kamu tekuni matang-matang bukanlah kepastian, melainkan hanya keyakinan dan optimisme.”

Penjelasannya yang cukup mengucilkan hati seorang yang ambisius. “Idzan, apakah saya hanya bisa pasrah dengan nasib kehidupan? Padahal saya selalu berusaha mengamalkan ilmu yang syekh ajarkan, lantas mengapa saya harus diuji bertubi-tubi seperti ini?”.  Tanya Alif seolah sedang membela dirinya untuk terbebas dari kesalah-takdiran ini.

“Mitsl hâdzâ ya bunayya, poin yang harus kamu garis bawahi adalah bahwa kamu bukanlah santriku!” Tegas syekh.

“Mâdzâ taqud yâ maulanâ?”  Alif bertanya lagi dengan raut muka semakin kecewa.

Inta tilmîdz Allah,  kamu itu santrinya Tuhan, maka perkencang doamu, mintalah arahan dan bimbingan-Nya dalam merealisasikan asamu itu!” jawabnya dengan tegas untuk menguatkan kelemahan iman yang tengah muridnya hadapi.

Petuah dan nasehat yang diungkapkan syekh Nukhas sore tadi terus terngiang dalam benak Alif. Ia merenungkanya sambil bermuhasabah dalam ruangan tembok bercat hijau—kamar Sarah dirawat.

Sarah…yuk kita sholat tahajud berjamaah!” Alif benar-benar tidak pernah meninggalkan jamaah tahajudnya, meski Sarah dalam keadaan berbaring tak berdaya.

“Sarah..!” Alif menaikkan sedikit suara ajakannya dengan mengelus wajah pucatnya.

“Sarah…!” Ketiga kalinya Alif membangunkan dengan menggerakkan tangan dan tubuhnya.

“Saraaaaaaahhh!”  Alif menjerit sejadi-jadinya. Ia memeluk tubuh Sarah yang telah dingin dan kaku. Air matanya membanjiri kesedihan ruangan itu. Wanita idaman yang telah mengisi lembar kehidupan Alif telah lebih dulu bermuara pada pelabuhan terakhir.

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang, maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan; supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.” Suara lirih Syekh Nukhas yang mengutip perkataan Imam Syafi’i menyudahi mimpi Alif malam itu. Dia terbangun dari kursi tepat di samping ranjang Sarah.  Ia baringkan tubuh istrinya yang lemah, ia angkat kepalanya, ia dapati istrinya masih bernafas. Ia menengok ke ECG mobile, untuk meyakinkan perkiraannya. Ternyata jantung Sarah benar-benar masih berdenyut. Tanpa pikir panjang, ia palingkan wajahnya ke arah kiblat untuk bersujud. Alif menangis dan menjerit dalam doa. Ia bersyukur karena Allah masih memberi kesempatan untuk menjaga penyempurna separuh agamanya.[]

Editor: Eka Faturrahman

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo dan salah satu anggota Rumah Bahasa Arab, Kairo.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here