Oleh: S Rahman*

Fenomena gempa yang secara beruntut terjadi di Indonesia menuai berbagai macam sikap, salah satu yang menarik perhatian saya adalah perdebatan baik di media sosial maupun di dunia nyata tentang hakikat bencana itu sebagai azab atau bala’.

Bukan berarti ingin memperkeruh suasana padahal tidak mampu memberikan sumbangan apa-apa pada korban bencana, namun akan sangat sayang sekali jika refleksi ini dilewatkan dan di kemudian hari kita mengulanginya lagi.

Sebenarnya perdebatan semacam ini (azab atau bala’) sangat sering terjadi di kehidupan sehari-hari, terutama setelah era smartphone di mana internet ada di tangan setiap orang (maaf kalau terlalu hiperbolik).

Keberadaan internet telah memicu semangat kita untuk mencari kebenaran, dengan asumsi dasar ia menyediakan segala informasi yang kita butuhkan. Akan tetapi sangat disayangkan, karena semangat mencari tahu kebenaran ini terkadang bahkan sering kali tidak diiringi dengan semangat mempelajari kebaikan. Loh bukannya yang benar sudah pasti baik? Ya, kalau kita pakai teori deontologis-nya Kant dan tidak jika dipandang secara teleologis.

Terlepas dari teori Kant dan kawan-kawannya, setidaknya bisa kita simpulkan bahwa ada sudut pandang yang melihat bahwa kebenaran dan kebaikan merupakan dua hal yang berlainan. Semisal mengatakan bodoh pada anak karena selalu mendapatkan nilai jelek di satu pelajaran, memang benar dia bodoh dalam pelajaran tersebut namun mengatakannya pada anak tidaklah baik, karena mungkin justru akan menghilangkan semangat belajarnya.

Nah, hari-hari ini kita sangat sibuk mencari kebenaran, kebenaran azab atau bala’, kebenaran capres satu atau capres dua dan kebenaran-kebenaran lainnya tanpa menanyakan pada diri kita sendiri ‘what next?’ Kalau nanti sudah tahu kebenarannya terus apa? Atau bertanya-tanya jangan-jangan semangat kita bukanlah semangat mencari kebenara tapi semangat mencari pembenaran? Jangan-jangan kita hanya ingin beda dengan lawan politik atau ideologi kita? Jangan-jangan kita termasuk golongan yang menjadikan ayat suci sebagai komoditi dagang di pasar pembenaran? Dan seterusnya.

Untuk mempermudah menganalisa, mari tengok indikasi semangat mencari kebenaran yang diungkapkan Imam Syafi’i. Bahwa setiap kali berada dalam perdebatan ia justru berharap kebenaran muncul dari lisan lawan debatnya. Mari bertanya pada diri sendiri, siapkah kita jika harus menerima kebenaran dari lawan?

Mengapa harus bertanya what next? Dalam kasus ini saya pernah mengalami dan mungkin anda juga pernah mengalaminya, setelah mempelajari dan tahu tentang hakikat (kebenaran) sombong, saya justru menggunakannya untuk menilai orang lain. Secara tidak langsung yang saya lakukan bukanlah mempelajari kebenaran, namun mencari pembenaran nafsu saya sendiri menyebut orang lain sombong. Tentu saja bisa anda bayangkan jika hal semacam ini terjadi dalam lingkup yang lebih besar seperti ormas, aliran, atau bahkan negara.

Kebenaran tidaklah cukup untuk menjadi bekal kehidupan, dibutuhkan kebaikan sebagai medianya, dan lebih-lebih dibumbui nilai-niali estetika sehingga menimbulkan keindahan. Karena sesungguhnya Allah Swt adalah Dzat Yang Maha Indah dan mencintai keindahan.

Toh, metode kita mencari kebenaran tidak beda jauh dengan yang dilakukan nenek moyang zaman dahulu sebelum berkembangnnya sains. Bagaimana tidak, zaman dahulu, karena hal-hal mistis sangat dipercaya, gerhana dianggap terjadi karena ada buto yang memakannya. Kemudian setelah barat mendapatkan pencerahan dan mengekspansi pengaruh dan produk-produk pemikirannya lalu secara tidak sadar dan perlahan fikiran kita menjadi agak materialis, kita menganggap terjadinya bencana dikarenakan dukungan dan gerakan politik yang dilakukan oleh tokoh tertentu.

Selama metode kita mencari kebenaran hanya didasarkan spekulasi dan kebetulan atau bahkan otak-atik gathuk semata, kenapa harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk mempertahankan kebenaran itu? Kebenaran harus disampaikan sebagai kebaikan, terlalu ‘ngeyel’ dengan kebenaran yang diyakini hanya akan semakin menjauhkan orang lain darinya, apalagi jika keberanan itu cuma sekedar kebetulan.

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Akidah Filsafat Universitas al-Azhar, Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here