Oleh: Fakhri Abdul Gaffar*

Layaknya sebuah ilmu, ilmu sosial pun memiliki kaidah-kaidah universal dalam menjelaskan segala fenomena yang ada di dalamnya. Jauh sebelum kaidah itu dirumuskan oleh pemikir-pemikir Eropa, di abad ke-8 H Ibnu Khaldun telah merumuskan itu dalam ‘magna opusnya’ Muqaddimah yang merupakan jilid pertama dari buku sejarahnya al-I’bar yang terdiri dari 7 jilid.

Latar belakang penulisan Muqadimah adalah sebagai kritik terhadap analisis sejarah. Ibn Khaldun berpendapat bahwa sejarah adalah pembahasan dari pola sosial individu, masyarakat dan lingkunganya dalam suatu kurun waktu tertentu. Maka mengetahui gejala sosial dan morfologi masyarakat adalah hal yang diperlukan dalam menganalisa sebuah peristiwa.

Sebagai ilmuwan yang memiliki kreatifitas tingkat tinggi, sikap Ibnu Khaldun kadang sulit dipahami. Betapa tidak, ia terkesan meminggirkan beberapa otoritas ilmu sejarah yang sudah diakui secara luas dan memiliki reputasi tinggi. Ibn Athir, umpamanya, tidak terlalu mendapat tempat dalam hidupnya. Yang tidak kalah sulit adalah memahami sikapnya tentang tradisi keilmuan yang lahir dan berkembang di Andalusia, tempatnya berkiprah dan berkarir beberapa tahun. Dari sekian pakar sejarah yang berjaya di wilayah ini, hanya Abu Hayyan yang ia sebut dalam Muqaddimah.

Dalam hal ini Ibn Khaldun mengunakan istilah ‘waqiatul ‘Imran wa Basyar’ atau kita kenal sekarang —dalam Sosiologi— sebagai fenomena sosial yang murupakan sumber dimana kaidah Sosiologi itu diambil. Ibnu Khaldun bukan hanya seorang filsuf, melainkan juga sosiolog, politikus dan ahli sejarah. Sosiologi menurutnya merupakan sarana untuk memahami sejarah dan kondisi sosial masyarakat pada suatu generasi, proses perubahan dalam suatu masyarakat, faktor dan pengaruhnya dalam peta peradaban suatu bangsa.

Dalam konteks sosiologi, Ibnu Khaldun membagi masyarakat menjadi tiga tingkatan: pertama, masyarakat primitif (wahsy), dimana mereka belum mengenal peradaban, hidup berpindah-pindah serta hidup secara liar. Kedua, masyarakat pedesaan, hidup menetap walaupun masih sederhana. Mata pencaharian mereka dari pertanian dan peternakan. Dalam kelas ekonomi mereka dibagi menjadi tiga, yaitu: petani, penggembala sapi dan kambing serta penggembala unta. Sedangkan yang ketiga, masyarakat kota. Masyarakat ini menurutnya sebagai masyarakat berperadaban, di mana mata pencahariannya dari perdagangan dan perindustrian. Tingkat ekonomi dan kebudayaan cukup tinggi, mampu mencukupi kebutuhannya bukan hanya kebutuhan pokok, melainkan juga kebutuhan sekunder dan mewah.

Muqaddimah merupakan karya yang sulit ditandingi. Dalam kitab tersebut, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa ‘ashabiah merupakan asas berdirinya suatu negara, dan faktor ekonomis adalah faktor terpenting yang menyebabkan terjadinya perkembangan masyarakat. Ia bicara secara umum mengenai al-‘Umran sebagai gagasan pokok, yang ditopang dengan enam gagasan pendukung yang ia bagi dalam enam bab, yakni:

Bab pertama,  membahas mengenai sifat dasar peradaban atau budaya manusia, yakni berkumpul dan bersosialisasi adalah hal dasar dari fitrah manusia. Begitupun dengan pola sosial kehidupan manusia yang dipengaruhi oleh keadaan geografi lingkungan di mana ia tinggal dan pengaruh wahyu dan nubuwah.

Bab kedua, membahas sifat peradaban dan budaya desa, kebiasaan kerja keras, dan konsep kesukuan yang tidak jauh berbeda dengan teori evolusi sosial sebelum dilontarkan oleh Herbert Spencer, teori pemindahan solidaritas mekanis ke solidaritas unsur sebelum didengungkan oleh Durkheim yang didengungkan jauh setelah masa Ibn Khaldun.

Bab ketiga mengenai konsep negara, kerajaan, kekhalifahan, dan kesultanan yang dari sini muncul konsep rise and fall of civilization, yakni bagaimana sebuah peradaban muncul, pekembang, redup lalu sirna.

Bab keempat membahas mengenai konsep bangsa dan kehidupan perkotaan. Bab kelima,  konsep kehidupan dan segala aktifitas yang ada di dalamnya terutama profesi dan industri. Jauh sebelum teori ekonomi klasik muncul di tangan Adam Smith dan Marx. Ibn Khaldun lebih dulu membahas tentang nilai ekonomi bahkan spesialisi profesi dalam masyrakat. Bab keenam,  membahas konsep ilmu pengetahuan, pembagiannya, cara pengajarannya, dan segala hal yang terkait dengannya.

Selanjutnya, dalam mengeksplorasi sejarah, Ibnu Khaldun mempunyai keistimewaan dibandingkan dengan ahli sejarah lainnya. Dia mampu menegakkan kembali otoritas kebenaran sejarah melalui pembacaan yang kritis terhadap peristiwa masa lalu. Dalam Muqaddimah, ia membagi pembahasan tentang sejarah dan peradaban umat manusia ke dalam empat bagian yang terdiri dari satu pengantar dan tiga pokok bahasan.

Pertama, pengantar yang menguraikan tentang manfaat besar historiografi (ilmu sejarah), pengertian tentang segala metode historiografi dan secara sepintas menyebutkan kesalahan para sejarawan.

Kedua, pembahasan pertama yang menguraikan tentang peradaban (‘umran) dan ciri-cirinya yang hakiki. Ciri tersebut mencakup: kekuasaan, pemerintahan, mata pencaharian, penghidupan, keahlian-keahlian dan ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya.

Ketiga, pembahasan kedua yang menguraikan sejarah, generasi, dan negara sejak terciptanya alam hingga kini. Dalam pokok bahasan ini juga mengandung ulasan sekilas tentang bangsa bangsa terkenal dan negara-negara yang sezaman dengan mereka. Seperti: bangsa Nabti, Siryani, Persia, Israel, Qibti, Yunani, Rumawi, Turki dan Eropa.

Keempat, pembahasan ketiga menguraikan sejarah bangsa Barbar yang merupakan bagian dari mereka, khususnya kerajaan dan negara-negara Maghribi.

Maka dalam filsafat sejarah Ibnu Khaldun, struktur analisi sejarah terdiri dari: (i) pelaku sejarah, (ii) substansi sejarah dan (iii) pembaca sejarah.

Seorang pembaca sejarah harus menguasai kaidah dalam periwayatan sejarah, karakteristik pelaku sejarah, tabiat yang ada, problematika perpecahan umat dan sebagainya. Hal ini agar sejarah yang dibacanya dapat dipahami secara utuh dan terhindardari keterputusan mata rantai generasi. Ketiganya harus saling berkaitan dan tidak mungkin meninggalkan salah satunya. Banyak pemikir sejarah yang mengatakan bahwa Ibnu Khaldun merupakan penggagas filsafat sejarah. Hal ini bisa dibuktikan dari berbagai karya Ibnu Khaldun yang tersebar di belahan dunia dan gagasannya yang cemerlang mengenai sejarah. Menurutnya, masyarakat adalah makhluk historis yang hidup dan berkembang sesuai dengan hukum-hukum khusus yang berkenaan dengannya. Hukum-hukum tersebut dapat diamati dan dibatasi lewat pengkajian terhadap sejumlah fenomena sosial.

Kebesaran pemikiran Ibn Khaldun telah banyak mempengaruhi filsuf Eropa dan pemikir pada masa pencerahan. Ibn Khaldun telah mampu membuka sinyal teori evolusi sosial sebelum dilontarkan oleh Herbert Spencer; teori pemindahan solidaritas mekanis ke solidaritas unsur sebelum didengungkan oleh Durkheim; teori hegemoni kekuasaan sebelum disampaikan oleh Max Weber; mengungkap teori surplus nilai sebelum Karl Marx; dan kaidah dialektika sebelum Hegel, di samping teori lain seperti filsafat evolusi sejarah dan kreasi barunya, ilmu sosiologi serta ilmu budaya.

Genealogi pemikiran Ibnu Khaldun, khususnya teori sejarahnya telah merambah ke seluruh struktur masyarakat, Semua kalangan, baik rakyat, pemerintah maupun kaum terpelajar mempunyai semangat yang tinggi untuk mempelajari pemikiran sejarahnya. Hal ini karena sejarah merupakan disiplin ilmu yang dipelajari secara luas oleh bangsa-bangsa dari berbagai generasi. Sejarah mengeksplorasi keterangan tentang peristiwa-peristiwa politik, negara dan peristiwa-peristiwa masa lampau. Ia tampil dengan berbagai bentuk ungkapan dan perumpamaan.

Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Muqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Lewat Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; “Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk sosial berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte, pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi ke-intelektualan positivisme Barat, metode penelitian ilmu ternyata pernah dikemukakan oleh pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun. Rekam jejak Ibnu Khaldun masih ada hingga kini. Sebagai seorang pelajar muslim, tak sepatutnya kita melupakan atau bahkan meninggalkan karya-karya dari buah pemikiran seorang Ibnu Khaldun.

Dari berbagai uraian di atas, setidaknya kita mengetahui betapa agungnya kitab “Muqaddimah” yang diwariskan oleh Ibnu Khaldun untuk kita semua. Maka tugas kita sebagai umat muslim, pelajar khususnya, harus menelaah dan mengetahui apa yang telah dituliskan oleh ulama kita. Semoga ini semua dapat menjadi api pemantik bagi kita untuk terus semangat dalam menggali wawasan dan pengetahuan sebagaimana perintah Baginda Nabi Saw untuk terus belajar dan menuntut ilmu. Wallahu a’lam.

*Penulis merupakan pegiat Kajian Sanad Center dan Pimpinan Redaksi Majalah Latansa IKPM Cabang Kairo periode 2018-2019.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here