Home Artikel Kenali Sejarahnya, Kelak Kau Akan Cinta Padanya

Kenali Sejarahnya, Kelak Kau Akan Cinta Padanya

457
0

 

Oleh: Tim Kajian Ar-Razi*


Pembelaan adalah manifestasi dari sebuah cinta. Adapun bukti kecintaan seseorang adalah selalu mengingatnya. Dan mengingatnya tidak akan sempurna kecuali dengan mengenal sejarahnya

 Urgensitas Sejarah Nabi Dalam Kehidupan Manusia

1400 tahun yang lalu, manusia terbaik, hamba Allah juga utusan termulia di antara seluruh makhluk dilahirkan di muka bumi ini. Kemuliaan yang dimilikinya bahkan mengalahkan malaikat yang setiap waktunya digunakan untuk taat beribadah dan mematuhi perintah Allah. Ialah baginda Nabi Muhammad Saw yang dilahirkan dari pasangan Abdullah dan Aminah Ra.

Dari berbagai bukti yang ada, beliau sangatlah pantas menyandang gelar ‘manusia terbaik’ dan ‘kebanggaan alam semesta’. Pada saat Nur Baginda Nabi masuk ke dalam rahim Sayyidah Aminah Ra,  Allah mengutus para malaikat agar membukakan pintu surga Firdaus dan memberi kabar gembira ini kepada semua penghuni langit dan bumi. Bahkan tanah-tanah di sekitar wilayah tersebut yang sebelumnya gersang menjadi sangat subur. Hewan-hewan yang hidup di darat dan di laut, serta burung-burung yang terbang di udara pun berkicau seraya membincangkan peristiwa ini.

Tidak hanya itu. Angin yang bertiup dari utara pun menyampaikan kabar gembira ini kepada angin selatan, timur dan barat. Bahwa nanti akan muncul seorang penghulu tujuh petala langit dan bumi, maka sembilan bulan yang akan datang bumi akan gempar dengan berita bahwa akan lahirnya seorang insan yang istimewa.

Dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad ﷺ lahir pada bulan Rabiul Awwal, tepatnya pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun Gajah 576 M. Bulan ini tidaklah termasuk dalam golongan bulan-bulan mulia seperti Ramadan, ataupun Asyhur al-Hurum yang empat; Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab, yang diberitakan oleh Allah dalam al-Qur`an.

Jika ada sebuah pertanyaan, mengapa manusia terbaik kebanggaan Alam semesta —Nabi Muhammad ﷺ— tidak dilahirkan pada bulan-bulan dan tempat yang mulia tersebut?

Untuk menjawabnya, kita semua harus mengetahui satu hal, bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ tidak dimuliakan karena waktu ataupun tempat. Namun waktu dan tempat-lah yang menjadi mulia sebab Nabi Muhammad lahir. Beliau tidak dilahirkan di tempat yang mulia. Makkah menjadi mulia karena ditempati sebagai kelahiran Rasulullah. Jika Nabi Muhammad Saw dilahirkan di bulan-bulan mulia bisa jadi akan timbul persepsi, bahwa Nabi menjadi mulia sebab lahir di bulan mulia. Maka Allah pun menciptakan kelahiran Baginda Nabi di bulan lain yang justru memberi pertolongan dan kemuliaan di bulan lain itu sendiri.

Pada bulan yang mulia ini, kita tidak akan membahas atau memperdebatkan tentang hukum perayaan Maulid atau memaksa mereka yang menganggap perayaan ini perkara bid’ah untuk dirayakan. Karena percuma saja, mau sebanyak apapun dalil yang diberikan, mereka tidak akan pernah mau peduli. Maka lebih baik kita membahas tentang pentingnya mengenal sejarah Baginda Nabi.

Karena akan terasa aneh seseorang yang tidak mengenal sejarah Nabi, namun mengaku-ngaku membelanya, bukankah pembelaan adalah manifestasi dari sebuah cinta. Adapun bukti kecintaan seseorang ialah senantiasa mengingatnya. Dan mengingatnya tidak akan sempurna kecuali dengan mengenal sejarahnya.” Oleh sebab itulah para ulama mengatakan:

إِنَّ مَنْ أَحَبَّ شَيْئًا أَكْثَرَ مِنْ ذِكْرِهِ

 “Sesungguhnya siapapun yang mencintai akan suatu hal, ia akan senantiasa mengingatnya.”

Mungkin ada sebagian orang yang mengaku cinta terhadap Nabi, namun faktanya mereka lebih mengenal sejarah orang lain dibandingkan Rasulullah ﷺ. Lebih ironi lagi jika tokoh yang lebih diunggulkan tersebut adalah orang di luar Islam!! Meskipun mereka memiliki pengaruh besar dalam catatan sejarah, akan tetapi sejarah mereka hanyalah dinilai hebat dalam sebagian sisi kehidupan saja, dan itupun tidak sempurna. Berbeda dengan sejarah Nabi yang menurut para ulama, merupakan satu-satunya yang sempurna dari seluruh aspek kehidupan.

Sejarah Nabi adalah sejarah paling lengkap yang pernah ada dibandingkan tokoh-tokoh yang pernah dikisahkan. Sejarah beliau dihimpun mulai dari masa kecil, masa muda (sebelum diangkat menjadi Nabi hingga diutus menjadi Nabi), hingga ia dipanggil oleh Allah Swt. Sungguh, betapa langka riwayat sejarah yang ditulis dengan lengkap dan otentik seperti ini dan dapat dibuktikan secara periwayatan melalui sanad.

Sejarah hidup beliau sarat dengan pelajaran dari segala lini kehidupan. Baik saat ia menjadi figur sebagai seorang kepala keluarga, seorang ayah, seorang teman, seorang pemimpin negara, pimpinan perang dan lain sebagainya yang kesemuanya mengandung pelajaran yang bisa dipetik. Semua lini kehidupan tersebut membuahkan keteladanan yang sangat luar biasa, yang mana semuanya telah ada dan dicontohkan oleh Rasulullah dalam sejarahnya. Pantas kiranya jika dalam al-Qur`an Allah menyanjungnya dengan perkataan:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ

Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berada di atas perangai yang mulia.” (Qs. Al-Qalam: 4)

Perhatikanlah, pujian kepadanya bukan hanya dari manusia, namun juga dari Rabb al-Alamin, yakni Tuhan pencipta alam semesta ini, yang diabadikan dalam Al-Qur`an yang dihafal oleh jutaan kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.

Ketahuilah, bahwasanya langkah awal untuk mencintai Allah adalah dengan mengikuti Rasul-Nya, sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31 yang artinya:

“Katakanlah (Muhammad), Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku , niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini turun ketika ada suatu kaum yang mengaku mencintai Allah, yang kemudian diuji oleh Allah sebagaimana yang disampaikan ayat tersebut. Ibnu Katsir mengutip sebuah syair berbunyi,“yang menjadi masalah itu bukan apakah kamu mencintai, tapi apakah kamu dicintai.”

Sebab dalam hubungan terhadap Allah, pengakuan itu tidak penting, yang terpenting adalah pengakuan cinta-Nya terhadap dirimu. Dan Allah akan mencintaimu ketika kamu mengikuti Rasulul-Nya. Maka dapat diambil kesimpulan, untuk dicintai oleh Allah, kita harus mengikuti utusan-Nya. Dan langkah untuk mengikuti Nabi ialah, kita harus mengenal dan mengetahuinya, sebab kalau tidak kenal bagaimana bisa mengikutinya?!

Salah satunya adalah dengan mempelajari sirah Nabi. yang mana sejarah beliau dapat dengan mudah dibaca apalagi buku-buku sejarah di zaman sekarang sudah diterjemahkan dan diteliti riwayat-riwayatnya! Hanya kitanya saja yang malas mencari dan membaca.

Dampak dari butanya umat akan sejarah ini ialah, sikap acuh di saat Nabi Muhammad ﷺ dilecehkan, dihina, direndahkan serta dipalsukan sejarah hidupnya dipalsukan oleh para Orientalis. Mereka diam seribu bahasa tanpa pembelaan sedikitpun, bahkan menganggap itu hal biasa. Lebih miris lagi paham-paham itu diadopsi dalam beberapa buku pelajaran sejarah di Indonesia, yang merupakan pengaruh dari para orientalis.

Sikap ini pun dapat dijadikan suatu barometer, “Apakah ia seorang muslim yang membela Rasulullah ﷺ atau malah ia seorang yang menghina atau melecehkannya”

Pandangan Ulama tentang Pentingnya Mempelajari Sirah Nabawiyyah

Salah satu contoh sosok yang larut dalam sejarah Nabi ialah Sultan Muhammad II. Faktor terbesar dalam berhasilnya penaklukan Konstantinopel oleh al-Fatih pada tahun 1453  ialah karena al-Fatih terinspirasi dari sejarah berbagai penaklukan yang dilakukan oleh Nabi. Ia belajar dari berbaga faktor kekalahan serta keberhasilan kaum muslimin dalam berbagai peristiwa peperangan, sehingga dijadikan pelajaran baginya saat menaklukkan bumi Konstantinopel.

Sesungguhnya mempelajari sirah Nabawiyyah merupakan bagian dari agama ini. Karenanya, para salaf terdahulu menaruh perhatian besar dalam mempelajari kisah Nabi Muhammad.  Banyak sekali kutipan dari mereka yang menunjukan betapa besar perhatiannya terhadap sejarah Nabi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidak cukup hanya sibuk mempelajari fikih beserta dalilnya dari hadis Nabi, karena itu semua tidak cukup untuk memperbaiki jiwa. Kecuali jika itu semua dipadukan dengan mempelajari raqaiq (hal-hal yang melembutkan hati) serta mempelajari sejarah para salaf al-Shalih, khususnya sejarah Baginda Nabi Muhammad sebagai teladan umat ini.

Ibnul Jauzi (w. 597 H) pernah mengatakan, Inti dari perkara-perkara yang pokok adalah ilmu, dan ilmu yang paling bermanfaat adalah memperhatikan sejarah Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya. (Shaid al-Khâtir, hal. 80)

Menurut Ibnul Jauzi, meskipun kita butuh mempelajari ilmu fikih dan hadits-hadtis Nabi Muhammad ﷺ untuk mempelajari bagian dari agama ini, tetapi hal ini tidak cukup untuk membersihkan dan meluruskan hati. Seseorang butuh untuk mempelajari ar-Raqaiq, mengkhususkan waktu untuk mempelajari Zuhud dan perkara yang berkaitan dengan akhirat. Sehingga dia akan semakin yakin bahwa dunia ini akan sirna. Dirinya akan disidang oleh Allah Swt.

Maka dari itu, hendaklah kita memberikan perhatian khusus untuk mempelahari sirah (perjalanan hidup) orang-orang terdahulu. Sebab ketika kita mempelajari sirah perjalanan orang-orang terdahulu termasuk bagaimana ibadah mereka, maka hal ini akan meluruskan hati kita kita, apalagi jika yang kita pelajari adalah sirah Nabi Muhammad ﷺ.

Selain itu, pada kenyataannya kita tidak akan bisa menguasai ilmu fikih dengan baik dan sempurna jika kurang menguasai sirah Nabi, karena banyak sekali hukum-hukum yang tidak dapat diketahui kecuali lewat sejarah Nabi. Dengan mengetahui alur sejarah perjalanan nabi, hal tersebut akan lebih memudahkan kita untuk memahami fikih, begitupun juga pembahasan asbabun nuzul ayat dan asbabul wurud hadits yang merupakan pembahasan sirah juga, dan akan membantu dalam memahami hukum fikih dari suatu ayat ataupun hadits.

Karena saking pentingnya mempelajari sirah Nabi, perkara ini dimasukkan ke dalam bagian dari agama. Sampai-sampai Ibnu Abbas Ra. seorang dari kalangan sahabat dan juga termasuk maha guru dalam bidang tafsir membuat majlis khusus tentang sirah Nabi.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa sang Turjuman al-Qur`an tersebut memiliki waktu khusus untuk mengajarkan sirah. Di samping keahliannya dalam permasalahan tafsir,  beliau mengkhususkan waktu untuk mengajarkan sirah Nabi Muhammad. ‘Ubaidillah bin ‘Utbah ketika menyifati majelis Ibnu Abbas Ra., beliau mengatakan:

وَلَقَدْ كُنَّا نَحْضُرُ عِنْدَهُ فَيُحَدِّثُنَا الْعَشِيَّةَ كُلَّهَا فِي الْمَغَازِي

“Kami menghadiri majelis Ibnu ‘Abbas pada suatu sore dan seluruh waktu beliau habiskan untuk mengajarkan tentang sirah Nabi (tentang peperangan Nabi). ( Maghazi Rasulillah milik Urwah bin Az-Zubair)

Sebab mempelajari sirah Nabi ﷺ bisa dikatakan sebuah usaha aplikatif untuk menemukan gambaran Islam yang utuh dalam sosok suri tauladan paling agung, Nabi Muhammad Saw.

Tujuan Mempelajarai Sirah Nabi Muhammad Saw.

Ada baiknya, sebelum mengakhiri tulisan ini kami sematkan di antara tujuan sebenarnya yang menjadi sasaran mempelajari sirah Nabawiyyah. Ini semua bertujuan agar mempelajarinya tidak bersifat sia-sia:

  1. Memahami kepribadian Rasulullah Saw ,elalui napak tilas kehidupan yang beliau lalui. Hal ini perlu dilakukan untuk membuktikan bahwa sosok Rasulullah ﷺ. bukanlah sekedar sosok jenius yang sangat terpandang dikalangan kaumnya. Lebih dari itu, beliau adalah utusan tuhan yang risalahnya didukung oleh wahyu Allah Swt yang diturunkan langsung dari hadirat-nya.
  2. Agar setiap orang dapat menemukan sosok suri tauladan paling luhur dalam segala sendi kehidupan. Setelah itu menjadikan sang suri tauladan tersebut sebagai teladan yang segala tindak-tanduknya diikuti. Tidak diragukan lagi, contoh luhur apapun yang dicari manusia, mereka pasti dapat menemukannya dalam pribadi Rasulullah Saw dengan sangat jelas dan sempurna. Itulah alasan Allah Swt sendiri menasbihkan Rasulullah Saw sebagai teladan bagi umat Manusia. Allah berfirman, Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu,” (Qs. Al-Ahzab [33]:21)
  3. Agar setiap orang, melalui pemahaman yang lebih baik terhadap sirah Nabi ﷺ dapat semakin mudah memahami al-Qur`an sekaligus merasakan semangat dan hal yang diinginkan olehnya. Apalagi, sebagian besar ayat al-Qur`an memang ditafsirkan dan dijelaskan oleh hadits Rasulullah ﷺ.
  4. Agar setiap muslim dapat menghimpun sebanyak mungkin manfaat yang terkandung di dalam peradaban dan ajaran Islam yang benar, baik menyangkut ranah akidah, hukum, maupun akhlak. Apalagi tidak bisa dipungkiti bahwa kehidupan Rasulullah Saw adalah potret paling nyata yang menghimpun semua prinsip pokok ajaran dan hukum.
  5. Agar setiap dai dan guru muslim dapat menerapkan berbagai metode pendidikan dan pengajaran yang diwariskan Rasulullah ﷺ. Beliau adalah seorang guru, juru penerang, sekaligus murabbi paling utama yang telah berhasil dengan gemilang dalam menerapkan semua metode pendidikan paling cemerlang disamping fase dakwah yang beliau jalani.

(dikutip dari Fiqih Sirah Nabawiyyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhal al-Buti)

* * *

Dari pemaparan singkat ini, kita bisa mengetahui bahwa sirah Nabi mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia, umat Islam khususnya. Sebagaimana yang disebutkan diawal, untuk dapat mencintai Allah, kita hendaklah mencintai Rasul-Nya, untuk mencintai Rasul, kita haruslah mengenalnya, dan lewat jalur mana lagi kita dapat mengenalnya kalau bukan dengan mempelajari sejarah hidup baginda Nabi.

Jadi tak perlu dipungkiri lagi bahwa dengan mepelajari sirah Nabawiyyah kita dapat melihat semua aspek kemanusiaan Rasulullah dalam bentuk yang paling luhur untuk menjadi contoh bagi kita semua. Semoga kita semua dapat menjadi pengikutnya yang setia dan mendapatkan syafaatnya di hari akhir kelak. Amiin. Wallahu a’lam

*Salah satu kelompok kajian eksklusif milik IKPM Kairo yang mengkaji kitab “Fiqh al-Sirah al-Nabawiyyah” karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buti.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here