Home Artikel Objektivitas Muslim dalam Rahmatan lil Alamin

Objektivitas Muslim dalam Rahmatan lil Alamin

206
0

 

Oleh: Albi Tisnadi Ramadhan*

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَلَمِيْنَ

Konsep rahmatan lil ‘alamin masih menjadi pembicaraan yang selalu hangat di sepanjang waktu. Bukan karena padanan kata yang tersemat di dalam ayat tersebut, akan tetapi karena konteks ayat tersebut berbicara tentang seseorang yang terlalu indah tuk tergambar, terlalu merdu tuk dilantunkan dan terlalu lembut tuk disentuh.

Menjadi dirinya tentu saja tidak mudah, sebagai penuntun akhir bagi seluruh umat tugasnya amatlah berat. Paling tidak ia harus masuk kriteria ‘sempurna’ –di antara manusia- untuk bisa membuktikan kredibilitasnya sebagai pembawa risalah ilahi, timbangan kebenaran selain akal dan panca indera yang telah dianugerahkan pada setiap manusia.

Nabi Muhammad Saw, tentu nama ini paling tidak pernah didengungkan dalam pendengaran kita. Sebagai salah seorang pengagumnya, aku hampir tidak percaya jika pada zaman ini masih ada yang tidak mengenalnya. Aku mengenalnya dari berbagai suratan. Maklum saja, sebagai seorang yang terlahir dari keluarga muslim, keluargaku telah paling tidak mengenalkan siapa sosok Muhammad Saw. Selain itu pada akhir dasawarsa ini, aku semakin mengenalnya dari berbagai macam orang, kalangan, bahkan sekte-sekte yang mengatasnamakan paling “Islam”. Aku tidak ingin berbicara tentangnya dalam banyak hal. Sedikit saja. Hanya pada potongan ayat yang kutuliskan pada baris sebelum tulisan ini dimulai, yaitu sifat yang “tertanam” pada diri sosok itu, Rahmatan lil Alamin

Semula, ku coba mencari beberapa nama yang mungkin disematkan pada dirinya kriteria rahmatan lil alamin, tentunya dengan kaca signifikansi perannya bagi penduduk bumi. Sempat terbenak dalam kepalaku nama Adam As sebagai khalifatullah pertama di muka bumi, Ibrahim sebagai bapak dari kepercayaan samawi (Abrahamic faiths), atau Aristoteles sebagai al mu’allimul Awwal, guru pertama. Lainnya, sempat terdetik nama-nama ilmuan, baik yang terlahir dari khazanah keilmuan Islam seperti khawarizmi dengan konsep trigonometri, Ibnu Sina (Avisena) dengan kedokteran, atau Ibnu Khaldun sebagai bapak ilmu sosiologi; Thomas Alva Edison penemu lampu atau Aleksander Graham Bell penemu telfon, Namun nampaknya sinar mereka sirna karena apa yang mereka hasilkan hanya bersikap materi, temporal, dan pada nyatanya tampa temuan mereka kehidupan akan berjalan.

Ketika itu mata, hati dan akal tertuju hanya padanya: Abul Qasim, Muhammad bin Abdillah bin Abdil Muthallib. Pilihan ini tentunya tidak didasari dengan analisa rumit yang dilakukan oleh Michael Hart, yang pula telah menobatkan Muhammad Saw. sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang sejarah. Bagiku satu-satunya alasan mengapa dia dinobatkan sebagai manusia paling berpengaruh di muka bumi ini adalah karena ayat ke-107  pada surat Al Anbiya, yaitu ‘wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin.

Dalam Bahasa Arab, kata rahmatan merupakan nomina masdar yang memiliki berbagai jenis makna yang bisa dipadankan satu dan lainnya: Ampunan (ghufrân), kedekatan (qarâbah) dan kelembutan (riqqah). Al-Qur`an dan Hadis sangat banyak menggunakan kata dasar rahima dalam berbagai kondisi dan situasi yang kurang lebih mengandung makna yang telah disebutkan sebelumnya.

Terdapat banyak hal unik yang dapat ditadabburi dari ayat ini, di antaranya adalah, surat Al-Anbiya  ini termasuk dalam golongan  surat Makkiyah, yakni surat-surat dalam al-Qur`an yang banyak mengandung poin-poin esensial agama (Akidah). Di antara banyaknya sub bab pembahasan akidah adalah pembahasan Irsal al-Rusul –delegasi Tuhan di muka bumi yang berperan sebagai penyambung lidah sekaligus pemeran nilai-nilai ilahiah. Selanjutnya, dari sekian banyak studi kasus, kisah, arahan dan lain sebagainya tentang keutamaan Nabi Muhammad Saw dan umatnya, mengapa ayat wa maa arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamiin ini diturunkan di Periode Makkiyah, dan di surat yang memang banyak membicarakan tentang kenabian? Tentunya tidak ada yang percuma di dalam al-Qur`an, sebagaimana yang diutarakan Quraish Syihab, bahwa Al Qur`an adalah hamalatul wujuh sebuah objek yang bisa diambil intisarinya dari berbagai perspektif.

Dalam hal ini Tuhan seakan memberikan pesan tersurat bahwa keutamaan Nabi ini sungguh melebihi para delegasi pembawa risalah lainnya. Yang pertama, ayat ini hadir di dalam surat Makkiyah yang pembahasaannya menjadi poros ajaran Islam. Kedua, Surat Al-Anbiya yang tentunya mengisahkan banyak Nabi dan Rasul telah menetapkan melalui salah satu ayat di dalamnya yaitu ayat 107, bahwa Baginda Nabi adalah yang terbaik di antara mereka –radhiyallu ‘anhum.

Jika dilihat dari kacamata pembahasan ilmu Balaghoh (diskursus Islam yang membahas tentang kesesuaian penggunaan bahasa Arab dalam kondisi tertentu) ayat 107 ini mengandung sebuah tema pengkhususan (Qashr shifah ‘ala maushuf) dengan cara nafy dan istisna. Maksudnya, kalimat rohmatan lil’alamin yang jika diterjemahkan secara bebas berarti ‘rahmat bagi seluruh alam’ hanya dikhususkan pada diri Nabi Muhammad Saw seorang, tidak pada nabi dan rasul lainnya.

Syekh Mutawalli Sya’rawy (w.1419 H), seorang mufasir kontemporer, dalam magnum octopusnya khawatir Al-Sya’rawy mendukung pernyataan ini dengan menyatakan bahwa ayat ini sangat berhubungan dengan diutusnya nabi Muhammad Saw. sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Karena ke-rahmatan bagi seluruh alam hanya bisa disematkan jika ia terlahir sebagai penutup dan penyempurna bagi risalah sebelumnya.

Terkait konsep rohmatan lil’alamin ini juga, Imam Zamakhsyari (w.538 H), seorang mufassir yang condong pada corak bahasa pada tafsirnya memiliki padangan yang cukup bisa diperhitungkan. Menurutnya, sifat  rahmatan lil ‘alamin benar-benar sungguh nyata dalam diri Muhammad Saw. Kedatangannya sungguh menjadi sebab kebahagiaan bagi seluruh umat apabila mereka mengikutinya. Oleh karena itu, dia menganalogikan seorang yang tidak menerima dan mengikuti seruan Nabi Muhammad Saw. bagai seorang gembala yang membiarkan binatang ternaknya kehausan dan mati padahal di sampingnya sungguh terdapat air yang melimpah untuk binatang ternaknya.

Kita bisa melihat bahwa analogi yang digambarkan oleh Zamakhsyari tentunya tidak terlepas dari tingkah dan prilaku kaum kafir yang menolak secara keseluruhan dakwah Nabi Muhammad Saw, padahal tentunya telah jelas risalah kenabian nampak pada dirinya.

Urgensi Rahmatan lil’alamin bagi seorang Muslim

Para mufassir, baik klasik maupun kontemporer, banyak menjadikan objek ayat tersebut bagi Ummatut Da’wah, pemeluk agama lain. Bahkan ulama-ulama klasik abad pertama periode keislaman banyak memperdebatkan tentang tafsiran lil ‘alamin apakah hanya terkhusus untuk umat yang mengakui kenabian Muhammad SAW, atau memang bagi seluruh alam. Tentunya penulis lebih condong pada pendapat bahwa lil ‘alamin tentunya benar-benar bagi seluruh alam termasuk bagi kaum kafir. Sebagaimana Ibnu Abbas (w. 68 H) yang digelari Turjuman al-Qur`an menerangkan bahwa rahmat bagi umat muslim adalah berupa hidayah yang diberikan atas iman yang dianugerahkan pada muslim, sementara bagi orang kafir rahmat ini berupa terhapusnya rekam jejak kesalahan para pendahulunya dengan hadirnya Nabi Muhammad Saw. Perdebatan ini direkam jelas oleh Ibnu Jarir Ath Thobari (w. 310 H) dalam tafsirnya.

Sampai saat ini sangat jarang pemikir Islam ataupun mufassir yang mencoba menerapkan rahmatan lil ‘alamin ini dalam pribadi Muslim. Padahal role model, pemeran utama, dari konsep itu adalah Nabi mereka sendiri, yang mana lebih utama untuk diikuti dan dicontoh. Imbasnya adalah, nilai-nilai yang terdapat pada rahmatan lil ‘alamin seperti: kelembutan, pengampuan dan kedekatan hanya akan menjadi isapan jempol bersama tanpa adanya tekad untuk menjadikannya sebagai panutan. Dari sini muncul berbagai gerakan yang mengatasnamakan Rasulullah Saw. dan Islam, namun merusak, menghancurkan, mengadu domba, memfitnah, menyakiti saudaranya, bertindak korup dsb. Hal ini karena semboyan rahmatan lil ‘alamin hanya berdiri di hadapan rumahnya, tanpa diizinkan masuk untuk dimanifestasikan ke dalam amalan kehidupan sehari-hari.

Kini umat Islam memang perlu kembali mengenal nabi mereka, membaca sirah nabawiyyah, mentadaburi perjalanan hidup dan perjuangannya, mengambil intisari dan pelajaran dari berbagai peristiwa yang dialami semasa hidupnya. Dengan demikian, momentum peringatan maulid Nabi Muhammad Saw. ini sungguh sangat urgen dalam menanggulangi dekadensi moral manusia. Telah jelas di hadapan kita bahwa kerusakan yang terjadi selama ini jika diakumulasikan bersumber dari hilangnya nilai-nilai ketuhanan dalam diri manusia. Lebih jauh lagi hal ini dikarenakan umat Islam buta bahwa ada sosok rahmatan lil ‘alamin yang pernah hidup menerangi dunia ini. Sampai saat ini dia tetap hidup, nilainya tetap hidup, tapi kita yang memang menutup mata. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dirasat Islamiyyah Universitas Al-Azhar, Kairo, juga Pimpinan Redaksi Media Informatika Mesir periode 2017-2018.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here