Home Travel Mozaik Islam di Benua Biru

Mozaik Islam di Benua Biru

338
0

Oleh: Naili Izzah Ramadhani*

Ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran di daerah Semenanjung Arab, bangsa Eropa justru mulai bangkit dari tidurnya yang panjang, yang kemudian banyak dikenal dengan Renaissance.

Kebangkitan tersebut bukan saja dalam bidang politik, yakni keberhasilan Eropa dalam mengalahkan kerajaan Islam ataupun bagian dunia lainnya, tetapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Harus diakui, justru dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan negara-negara baru Eropa, meskipun sejatinya kemajuan tersebut tidak bisa dilepaskan dari andil Islam saat menguasai Spanyol.

Dari Islam di Spanyol itulah Eropa banyak menimba ilmu pengetahuan. Ketika Islam menguasai Spanyol, Abdurrahman, dari Dinasti Umayyah di tahun 756 M, dapat membentuk suatu khalifah tersendiri dan dapat mempertahankan kekuasaanya hingga tahun 1031 M. Masjid Cordova juga berhasil dibangun pada masa dinasti tersebut. Tak hanya itu, Cordova menjadi pusat kebudayaan Islam yang penting di Barat, yang merupakan tandingan Baghdad kala itu di Timur. Apabila di Baghdad terdapat Bait al-Hikmah serta Madrasah Nizamiah, dan di Kairo terdapat Masjid Al-Azhar serta Dar al-Hikmah, maka di Cordova terdapat Universitas Cordova sebagai pusat ilmu pengetahuan yang didirikan oleh Abdurrahman III.

Sepanjang sejarah, bangsa Eropa memiliki hubungan yang pasang surut dengan Islam dan kaum muslimin. Pemerintahan Islam di Andalusia, Spanyol pada abad ke 8 hingga ke 15, adalah pemerintahan Islam yang pertama kali berinteraksi dengan bangsa Eropa. Pada periode ini, kaum muslimin telah membangun kota-kota dan pusat-pusat ilmu, budaya dan ekonomi di Eropa. Pada kenyataannya, Eropa melalui peradaban Islam di Andalusia dapat berkenalan dengan keilmuan periode Romawi dan Yunani kuno. Keadaan Eropa sebelum itu terkukung dalam kegelapan dan kebodohan selama 10 abad.

 Andalusia merupakan nama arab untuk jazirah Liberia yang pada masa sekarang dikenal dengan Spanyol dan Portugis. Orang-orang mendiami Andalusia sebelum kedatangan bangsa Goth dan Vandal, bahkan sebelum bangsa Celtik yang mendiami keduanya. Daerah ini dikuasai oleh Islam setelah penguasa Bani Umayyah merebut tanah Semenanjung ini dari bangsa Gothi Barat pada masa Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Islam masuk ke Spanyol (Cordoba) pada tahun 93 H (711 M) melalui jalur Afrika Utara di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad yang memimpin angkatan perang  Islam untuk membuka Andalusia.

Sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Bani Umayah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi di zaman Khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa Khalifah Al-Walid, Hasan ibn Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair. Di zaman Al-Walid itulah, sosok Musa bin Nushair mulai memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Al-jazair dan Maroko.

Penaklukan atas wilayah Afrika Utara, dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi dari Khalifah Bani Umayyah, memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan) sampai tahun 83 H (masa al-Walid). Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan Kerajaan Romawi, yaitu Kerajaan Gotik.

Dalam proses penaklukan Spanyol, terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis dan penyelidik. Thariq bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad.

Sebuah gunung tempat pertama kali Thariq dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya, dikenal dengan nama Gibraltar (Jabal Thariq). Dengan dikuasainya daerah ini, maka terbukalah pintu secara luas untuk memasuki Spanyol. Dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situlah Thariq dan pasukannya menaklukkan kota-kota penting seperti Cordova, Granada dan Toledo (Ibu kota kerajaan Goth saat itu).

Di antara hal yang menarik perhatian dari pergantian berbagai peradaban adalah bahwa sesungguhnya peradaban yang datang belakangan berdiri di atas peradaban yang lama. Ini berarti tidak ada suatu peradaban yang berangkat dari nol. Inilah mengapa peradaban Islam memiliki pengaruh sangat besar dalam peradaban Eropa modern yang datang setelahnya. Karena pengaruh peradaban Islam-Eropa mencakup banyak bidang, seperti kemajuan dalam bidang intelektual, di antaranya: filsafat, sains, fikih, musik, kesenian, bahasa dan sastra juga mendominasi beberapa sisi hingga mencakup beberapa level kehidupan di Eropa secara umum. Tidak ketinggalan juga dengan berbagai sistem serta norma yang diisi oleh Islam, di antaranya aspek perkembangan ilmiah, undang-undang, sosial, politik dan lain sebagainya.

Tak hanya dalam akademik, aspek-aspek pembangunan yang berbentuk material pun mendapat perhatian lebih dari umat Islam. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar-pasar mulai dibangun, begitupun dengan bidang pertanian yang mulai dikenalkan dengan sistem irigasi yang belum dikenal sebelumnya. Pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung, seperti pembangunan kota, istana, masjid, pemukiman, dan taman-taman. Di antara pembangunan yang megah adalah Masjid Cordova, Kota Al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, Tembok Toledo, Istana Al-Makmun, Mesjid Seville, dan Istana Al-Hamra di Granada.

Islam di Spanyol saat itu kemajuannya sangat ditentukan oleh adanya penguasa-penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan umat Islam, seperti Abdurrahman Al-Dakhil, Abdurrahman Al-Wasith dan Abdul Kahman Al-Nashir. Toleransi beragama ditegakkan oleh para penguasa terhadap penganut agama Kristen dan Yahudi, sehingga mereka ikut berpartisipasi mewujudkan peradaban Arab-Islam di Spanyol. Untuk orang Kristen, sebagaimana juga orang-orang Yahudi, disediakan hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran agama mereka masing-masing.

Meskipun ada persaingan yang sengit antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan. Sejak abad ke-11 M dan seterusnya, banyak sarjana mengadakan perjalanan dari ujung barat wilayah Islam hingga ke ujung timur, sambil membawa buku-buku dan berbagai gagasan. Hal ini menunjukkan bahwa, meskipun umat Islam terpecah dalam beberapa kesatuan politik, namun masih terdapat titik pemersatu yang disebut kesatuan budaya dunia Islam.

Adapun penyebab kemunduran dan kehancuran peradaban Islam di Eropa antara lain sebagai berikut: konflik Islam dengan kristen, para penguasa muslim tidak melakukan Islamisasi secara sempurna, tidak adanya ideologi pemersatu juga kesulitan ekonomi. Ini semua karena di paruh kedua masa Islam di Spanyol, para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat “serius”, sehingga lalai membina perekonomian akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik juga militer serta tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan keterpencilan.

Kemajuan Eropa yang terus berkembang hingga saat ini banyak berhutang budi kepada khazanah ilmu pengetahuan Islam yang berkembang di periode klasik. Memang banyak saluran bagaimana peradaban Islam mempengaruhi Eropa, seperti Sicilia dan Perang Salib, tetapi saluran yang terpenting adalah nuansa keilmuan Islam milik Spanyol.

Maktabah dalam dunia keilmuan Islam adalah satu yang terdzolimi, karena jarang yang mengkaji dan menelitinya padahal ia merupakan salah satu lembaga yang menjadi asas dalam perkembangan keilmuan Islam pada masa kejayaannya. Maktabah tidak lepas dari turats karena dialah wadah ilmu pada masa itu. Pusat perkembangan keilmuan dunia Islam umumnya ada di tiga tempat, yaitu (i) Baghdad yang dahulu dengan Baitul Hikmahnya mempunyai 7000 ilmuan, namun sekarang telah diluluh-lantahkan oleh hegemoni barat (Amerika) dengan alasan yang tidak masuk akal, (ii) Damaskus yang sekarang masih terjebak konflik musim semi arab atau arab spring dan (iii) Andalus yang telah hilang dari genggaman Islam 5 abad yang lalu, dan terakhir (iv) Kairo yang masih bertahan hingga saat ini.

Andalus merupakan bibit dari kemajuan Eropa. Budaya literasi berkembang luas di sana bahkan memiliki buku hanya untuk sekedar koleksi adalah sebuah trend pada masa itu. Perpustakaan terbesar Andalus saat itu terdapat di Jami’ Cordoba dengan koleksi 400 ribu buku. Sedangkan seluruh buku yang dimiliki Eropa saat itu hanya berkisar 15-200 ribu jilid buku.

Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk hubungan politik, sosial, maupun perekonomian, dan peradaban antar negara. Orang-orang Eropa menyaksikan kenyataan bahwa Spanyol berada di bawah kekuasaan Islam jauh meninggalkan negara-negara tetangganya Eropa, terutama dalam bidang pemikiran dan sains di samping bangunan fisik.Yang terpenting di antaranya adalah pemikiran Ibn Rusyd (1120-1198 M). la melepaskan belenggu taqlid dan menganjurkan kebebasan berpikir. la mengulas pemikiran Aristoteles dengan cara yang memikat minat semua orang yang berpikiran bebas. la mengedepankan sunnatullah menurut pengertian Islam terhadap pantheisme dan anthropomorphisme Kristen. Demikian besar pengaruhnya di Eropa, hingga di Eropa timbul gerakan Averroeisme (Ibn Rusydisme) yang menuntut kebebasan berpikir. Namun pihak gereja menolak pemikiran rasional yang dibawa gerakan Averroeisme ini.

Pengaruh peradaban Islam, termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd, ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda-pemuda Kristen Eropa yang belajar di berbagai universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada, dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol, mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuwan-ilmuwan Muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Setelah pulang ke negerinya, mereka mendirikan sekolah dan universitas yang sama. Universitas pertama eropa adalah Universitas Paris yang didirikan pada tahun 1231 M, tiga puluh tahun setelah wafatnya Ibn Rusyd. Di akhir zaman Pertengahan Eropa, barulah berdiri 18 buah universitas. Di dalam universitas-universitas itu, ilmu yang mereka peroleh dari universitas-universitas Islam diajarkan, seperti ilmu kedokteran dan filsafat. Pemikiran filsafat yang paling banyak dipelajari adalah pemikiran Al-Farabi, Ibn Sina dan Ibn Rusydi.

Pengaruh ilmu pengetahuan Islam atas Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-12 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa kali ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari dan kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Latin.

Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara yang sangat kejam, tetapi ia telah memberikan pengaruh terhadap berbagai gerakan penting di Eropa. Seperti halnya gerakan kebangkitan kembali kebudayaan Yunani klasik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, rasionalisme pada abad ke-17 M, dan pencerahan (aufklarung) pada abad ke-18 M. Maka sudah semestinya kita sebagai muslim turut mengkaji seluruh aset penting yang diwariskan oleh ulama kita semua, khususnya di Andalusia. Karena di negri itulah bisa dikatakan puncak dari keilmuan Islam bermuara. Wallahu a’lam.

 *Penulis merupakan Pimpinan Umum Majalah Latanasa IKPM Kairo periode 2018-2019 dan juga Pegiat Kajian Sejarah Islam Ar-Razi Center.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here