Home Al Azhar Syekh Mutawalli Al-Sya’rawi, Pemimpin Para Da’i

Syekh Mutawalli Al-Sya’rawi, Pemimpin Para Da’i

436
0

Oleh: Ummu Maghfirah*

“Kita semua sama-sama terkurung dalam kesendirian, namun sebagian dalam ruang gelap tanpa cahaya, dan sebagian dalam ruang berjendela”

Begitulah yang dituturkan oleh Kahlil Gibran, salah seorang penyair arab yang masyhur di kalangan kita semua. Manusia yang hidupnya diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah lagi pastinya diselimuti oleh berbagai tanggung jawab pada dirinya. Akan tetapi betapa banyak manusia yang lalai terhadap orientasi akan hidupnya di dunia ini. Ini semua tentu menjadi sebuah keprihatinan bagi diri kita semua.

Namun di samping itu tak selamanya dunia ini dipenuhi oleh kelalaian dan tangan orang yang merusak. Ada di antaranya yang Allah jadikan pemimpin, taladan dan pelajaran bagi kehidupan untuk orang-orang yang berakal.

“Ya Tuhan Kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Lindungilah kami dari azab neraka” (Ali- Imran: 191)

Segala peristiwa kronologis yang telah berputar dari masa ke masa merupakan bagian dari kuasa-Nya. Cerita tersebut seperti terulang kembali, namun di masa yang berbeda dan tokoh yang berbeda pula. Sebagai orang yang berakal,  hendaklah kita mengambil pelajaran dari peristiwa yang menimpa manusia dari berbagai sebabnya, salah satunya ialah perjalanan seorang tokoh atau ulama dengan peran dan tabiatnya.

Berbicara tentang pelajaran (ibrah) dan keteladanan, Allah telah hadirkan sebelum kita dari kalangan ulama yang berjuang dalam medan dakwah dan pendidikan. Salah satunya adalah Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi, salah satu ulama abad ke-20 di Mesir.

Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi lahir pada 16 April 1911 M di Desa Daqadus, distrik Mith Ghamr, provinsi Daqahlia, Mesir. Dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang shaleh dalam ketaatan pada Allah Swt. Keluarganya merupakan petani di desa tempatnya tinggal.

Kelahirannya pun telah Allah berkahi. Beliau dilahirkan ketika waktu subuh tiba, hingga ayahnya yang setiap hari biasa berjamaah di masjid, hari itu terpaksa untuk meninggalkannya. Ayahnya bernama Mutawalli Al-Sya’rowi. Saat itu pula sang paman, Ahmad Al-Sya’rowi, merasa heran mengapa saudaranya tidak shalat berjamaah di masjid. Karena hal itu, pamannya mendatanginya di rumah untuk membayar rasa herannya. Hal tersebut membuktikan bahwa beliau berada dalam keluarga yang taat.

Sebelum kelahiran beliau, ayahnya bermimpi perihal anak ayam yang berada di atas mimbar masjid al-Azhar. Anak ayam yang dimimpimya itu telah lahir pada subuh itu, tutur ayahnya. Berangkat dari mimpinya tersebut, kedua orang tunya telah berniat mewakafkan anaknya untuk al-Azhar, yaitu dengan menyekolahkannya di al-Azhar dari awal pendikan, Madrasah Ibtidaiyyah (sekolah dasar) hingga pendidikan terakhirnya. Hal tersebut diharapkan agar beliau menjadi ulama dan dai di Mesir nantinya.

Berangkat dari pendidikan yang ditempuh secara berkelanjutan di al-Azhar membawanya menjadi ulama fenomenal abad 20. Dalam perjalanan pendidikannya, Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi hampir tidak mau  melanjutkan pendidikannya di al-Azhar dengan alasan ingin tingal di desa kelahiraanya bersama saudaranya sebagai petani desa.

Namun orang tuanya tidak mengizinkan hal tersebut, dan menyuruhnya terus menempuh pendidikannya di al-Azhar. Sang Imam mengiyakan permintaan tersebut dengan memberi syarat kepada orang tuanya agar dibelikan berbagai buku klasik dari literatur-literatur ulama terkemuka dalam berbagai bidang, seperti tafsir, hadis, bahasa, dan lain sebagainya. Ayahnya pun menyanggupi permintaan sang anak, sambil berkata:

“Anakku, aku faham bahwa semua buku-buku tersebut sebenarnya tidak diwajibkan untuk kamu, tapi aku memilih untuk membelinya dalam rangka memberikan ilmu pengetahuan yang menarik agar kamu haus dengan ilmu”

Karena keinganan orang tuanya yang begitu besar, Imam Sya’rawi pun mematuhi kedua orang tuanya, akhirnya beliau menyelesaikan pendidikan strata 1 di al-Azhar Fakultas Bahasa Arab serta diizinkan untuk mengajar pada tahun 1943 M. Disinilah terlihat peran orang tua yang berpengaruh pada anaknya.

Setelah pendidikan magisternya selesai, Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi diberi izin untuk mengajar di kampung halamannya, Thanta, dan selanjutnya di Iskandaria. Tak berhenti untuk mengajar di negrinya saja, beliau pun diutus untuk menjadi dosen mata pelajaran Aqidah di Universitas Ummul Qurra pada tahun 1950 M dan juga universitas King Abdul Azis pada 1976 M.

Selain itu Imam Sya’rawi memiliki peran penting dalam perekonomian Mesir pada masanya. Beliaulah pencetus pertama keputusan mentri perihal pembuatan bank Islam pertama di Mesir, yakni Bank Faisal, yang sampai saat ini masih dimanfaatkan oleh warga Mesir. Ini merupakan wewenang Dr. Hamid Sayyih, Mentri Ekonomi dan Keuangan, yang diserahkan kepadanya dan disetujui oleh warga parlemen Mesir.

Berbagai bidang ditekuninya dalam rangka media dakwah, mulai dari mengajar di Al-Azhar, mengadakan majelis ilmu, bahkan ke ranah pemerintahan dan politik pernah beliau rasakan. Perannya bagi Al-Azhar dan pemerintahan Mesir sungguh luar biasa. Karena retorikanya yang amat baik dalam memberikan ceramah dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan  ia pun diberi julukan ‘imam al-du’at’ (Pemimpin para Dai). Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi terkenal dengan metode tafsirnya yang bagus, mudah, serta sesuai bagi semua kalangan dan kebudayaan.

Makam Imam Mutawalli Al-Sya’rawi di desa Daqadus

Begitulah beberapa paparan sederhana tentang Syekh Muhammad Mutawalli Al-Sya’rowi. Selama masa hidupnya beliau telah berjuang dalam bidang ilmu, dakwah dan pemerintahan. Beliau wafat pada hari Rabu, 17 Juni 1998 M/22 Shafar 1419 H dalam usia 87 tahun. Adapun diantara karya-karyanya yaitu Al-Mukhtar min Tafsi al-Qur’an, Mujizat al-Qur`an al-Kariim, Al-Isro wa al-Mi’raj, Al-Qashaahu al-Qur’any fi surat al-Kahfi, dan masih banyak karya lainnya yang belum bisa disebutkan satu persatu.

Setiap masa ada orangnya/ulamanya. Syekh Muhamad Mutawalli Al-Sya’rowi telah menjadi contoh sebagai salah satu ulama feniomenal pada masanya yang bergerak dalam berbagai bidang. Dan masa saat ini, semoga kita bisa mengikuti semangatnya dalam menuntut ilmu.

Referensi: Pengantar Tafsir Khawatir al-Sya’rawi

*Penulis adalah Editor Buletin Cakrawala IKPM Kairo periode 2018-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here