Home Sastra Apel Pak Atul

Apel Pak Atul

129
0

Oleh Ahmad Fuadi, Alumni Gontor, Country 1992, IG @afuadi

Jurnalis Alumni Gontor sangat kehilangan Pak Atul. Beliaulah guru para jurnalis dan mantan jurnalis alumni gontor. Beliau juga yang sangat antusias dan memprakarsai berdirinya Jago.

Pagi itu, 11 Desember 2018, kabut tipis masih mengapung di atas tanah Gontor. Saya berjalan agak terburu sambil melirik arloji. Jam 6.45 sebelum jaros di depan qo’ah berdentang, saya sudah berdiri di depan sebuah rumah mungil dan sederhana di komplek Buyut Makkah. Beberapa kali diketok, pintu triplek berkelir coklat pupus itu tidak kunjung terbuka. Saya pikir wajar, karena saya bertamu kepagian, dan saya tidak membuat janji pula dengan sahibul bait. Kedatangan mendadak saya ini agak coba-coba saja, sayang kalau ke Gontor tidak menyalami beliau. Dia, Pak Atul, atau lengkapnya Ustad Nasrullah Zainal Muttaqin Zarkasyi. Dia saya anggap salah satu guru dan inspirator menulis saya sejak nyantri di pondok dulu.

Merasa tidak enak karena pintu tidak juga dibuka, saya sudah beringsut pergi. Tiba-tiba pintu berderik terkuak. Dan di balik pintu, muncul wajahnya. Sekilas sangat mirip dengan wajah ayahnya, KH Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor. Dia keluar sambil mengancingkan buah baju bagian atasnya.

“Ah ente. Fuadi,” sambutnya dengan suara gelaknya yang khas. Kami duduk di sofa cokelat, ditemani teh hangat. Seperti biasa dia kerap tersenyum kalau sudah mengobrol hangat, topiknya sangat beragam, bisa hilir mudik dari Barat sampai Timur. Ingatannya selalu tajam dan daya apresiasi sastranya kuat. Saya kebetulan mengajak Pak BR, seorang teman yang menjadi investor utama film-film laris. Segera Pak Atul terlibat diskusi menarik karena dia ingat dengan detil beberapa adegan film itu.

Semangat dan energinya tetap sama. Ketawanya masih berderai. Cuma saya menangkap kesan dia agak sedikit letih. Badannya tampak lebih kurus dari yang pernah saya lihat setahun dua tahun lalu. Di lengannya tampak beberapa bintik dan benjolan hitam. Mungkin jejak jarum untuk rutinitas cuci darahnya. “Saya sudah ikhlas,” katanya sambil tertawa tanpa beban, saat menyinggung kegiatannya bolak-balik ke rumah sakit ini.

Saya lalu pamit dan mendoakan beliau sehat dan terus bisa menginspirasi santri untuk menulis dengan baik. Banyak kenangan personal saya dengan Pak Atul sejak dulu. Sekitar tahun 1990, saat Gontor belum kenal PLN dan listrik masih mengalir dari mesin generator, Pak Atul sudah punya komputer yang canggih di masa itu, sebuah Apple Macintosh Classic. Di sebuah ruang kerja kecil yang diapit rumah Pak Syukri dan Perdos, saya dan teman saya Kholil diizinkan memakai komputer itu sampai subuh, ketika mengedit tulisan untuk majalah. Malam-malam dia muncul. “Akhi ini buat kalian.” Dia mengantarkan penganan dan qohwah untuk menemani kami sahirul lail. Kok ya dia percaya saja sama santri yang baru belajar pakai komputer ini. Padahal itu barang mahal yang masih jarang dimiliki orang.

Di pertemuan kelas 5 atau kelas 6 di BPPM, dengan penuh semangat dia ajari kami menulis karya ilmiah. Sesekali dia datang ke kantor redaksi Itqan di Tunis lantai 2, dia selalu memberi tasyjik yang membuat kami semangat menulis berlembar-lembar setelah itu. Dia juga kerap membawa majalah Tempo dan menyarankan kami untuk belajar menulis jurnalistik yang baik seperti kualitas wartawan Tempo. Mungkin karena ini saya akhirnya benar-benar jadi wartawan Tempo selepas dari Gontor.

Saat saya akan menerbitkan Negeri 5 Menara, dia ikut membaca manuskrip dan memberi masukan berharga. Pernah ada wartawan ingin mewawancarai guru menulis saya, tak ragu saya menyebut nama Pak Atul, dan dia lalu diwawancara oleh SCTV. “Dalam sastra itu ada yang disebut denouement..perenungan itu luar biasa buat saya,” katanya waktu itu memuji buku saya. Ah, saya saja baru dengar apa itu denouement. Pak Atul memang kerap menyisipkan ilmu baru atau teori sastra dalam obrolannya. Posisinya cukup unik di Gontor, saat kebanyakan guru senior tamatan universitas berbasis Islam, maka Pak Atul adalah sarjana sastra dari UGM. Di Gontor yang menggunakan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa resmi, maka dia berperan sangat penting sebagai penjaga bahasa Indonesia Gontor.

Petang ini, tepat 17 hari setelah saya mengetok pintu triplek di Buyut Makkah, saya membaca pesan duka di WAG Jago, grup para jurnalis dan mantan jurnalis alumni Gontor. Pak Atul, inspirator menulis saya ini wafat di RS Darmo Surabaya. Saya tatap lagi foto-foto kami di HP dari dua pekan lalu yang rasanya baru kemarin.

Selamat jalan Pak Atul. Mungkin karena antum sudah ikhlas, sekarang antum tak perlu lagi wajib cuci darah berkali-kali tiap bulan. Semoga semua keikhlasan antum mengajar saya, anak-anak Itqan dan Darussalam Post, dan semua santri Gontor, menjadi investasi akhirat antum. Semoga ketekunan antum menjalani rutinitas mengajar dan pengobatan, menjadi prosesi cuci rohani antum menuju husnul khatimah.

Terima kasih Pak Atul. Di setiap huruf dan kalimat yang saya tulis di novel dan buku saya, saya merasa ada jejak sidik jari antum. Dan ini Insya Allah jadi amal jariyah antum. Lakum alfatihah.

*beliau adalah penulis triologi novel “syurga 5 menara”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here