Home Tokoh Imam Ahmad bin Hambal, Kilauan Mutiara dalam Api

Imam Ahmad bin Hambal, Kilauan Mutiara dalam Api

115
0

Oleh: Lathiefa Ighfirlia*

Rabiul Awal tahun 164 H lahir seseorang yang nantinya akan menjadi imam besar, yang terpilih serta kuat dalam pendiriannya dalam menghadapi fitnah dalam otak istana pada masa itu. Ibunya mengandung di Marw -saat ini bernama Mary, Turkmenistan- lalu dibawa dan dilahirkan di Baghdad dengan tujuan dan harapan yang besar. Ayahnya meninggal di usianya yang terbilang masih kecil, itulah yang memaksanya bekerja di samping kegiatan belajarnya. Ibunya keras menahannya karena ternyata ia telah menadzarkan anaknya untuk mengabdi pada ilmu dari sejak dia dalam kandungan sampai mati. Dan dari sinilah didikan seorang ibu berperan besar pada diri seorang Ahmad bin Hambal. Sampai pernah seorang ulama mengatakan, “Hampir saja Ahmad menjadi imam sejak dalam kandungan.”

Imam Hambali, sebut kebanyakan orang, nama lengkapnya adalah Ahmad bin Hambal bin Hilal bin Asad Al-Marwazi Al-Baghdadi. Tapi ia juga sering dipanggil orang-orang pada masanya Abu Abdillah. Ia seorang yang tampan, bersih, dan rapi. Sampai Abdul Malik al-Maimuni berkata, “Aku tak pernah melihat seorang pun yang pakaiannya sangat bersih dan tak juga melihat orang yang sangat memelihara dirinya, jenggotnya, rambutnya, kepalanya, dan badannya kecuali Ahmad.” Diantara sifatnya, ia adalah manusia yang pemalu, sangat mulia, dan sangat baiknya adabnya. Ia juga seorang zuhud yang tak kenal lelah akan ilmu. Ilmu yang ia kuasai pertama adalah Alquran dan hafal pada usia 15 tahun. Lalu pada usia 16 tahun ia sudah belajar hadist, mulai dari Husyaim sampai Abu Yusuf -sahabat Abu Hanifah. Secara tidak langsung sudah berkumpul fiqhur-ra’yi dan fiqhul-atsar dalam pribadi keilmuannya. Ilmu dan hadist-hadist yang beliau dapatkan juga tak serta merta datang dengan sendirinya. Ia mencari dari satu kota ke kota yang lain seperti Bushro, Hijaz, Yaman, Kufa, dan  lainnya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan para ilmuwan terkenal dan penghafal alim ulama yang tersohor seperti Yahya al-Qathani, Yazid bin Harun, Waki’ bin Jarah, Abdirrazaq bin Hamam, Imam Syafi’i, dan masih banyak lagi. Ia telah menghafal sampai sejuta hadist.

Imam Syafi’i begitu memuji muridnya ini. Ia mengatakan bahwa setelah ia keluar dari Baghdad, di sana tak ada orang yang lebih terpuji, lebih saleh, dan lebih berilmu (dari yang ia tinggalkan) daripada Ahmad bin Hambal. Begitu juga dalam sebuah riwayat menggambarkan bagaimana cintanya Imam Hambali dan hormatnya ia kepada gurunya, Imam Syafi’i. Ia mengatakan bahwa ia telah menyebut nama Imam Syafi’i dalam doanya setelah orang tuanya dan doanya selama 40 tahun.

Pada umur 40 tahun, ia menikah dan mempunyai anak-anak yang mewarisi ilmu-ilmunya. Seperti Abdullah dan Shalih yang cukup banyak meriwayatkan hadist dari ayahnya tersebut. Abdullah telah meriwayatkan 120.000 hadist dari tafsir Quran dari ayahnya, sedangkan Shalih sendiri seorang yang faqih dalam meriwayatkan permasalahan-permasalahan yang dihadapkan pada ayahnya dan juga ia adalah seorang hakim yang mengadili segala sesuatu dengan ilmu. Kecerdasan Ahmad bin Hambal juga diceritakan oleh Abdullah. Saat itu ia disuruh untuk mengambil buku karangan Waki’ yang mana saja dan setelahnya boleh menanyakan kepada Ahmad bin Hambal tentang matan dan sanad. Ketika Abdullah bin Ahmad menyebutkan matan, maka Ahmad bin Hambal akan menyebutkan sanadnya, begitu juga sebaliknya.

Pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid, ada seorang ulama bernama Basyar Al-Marisy yang menyebarkan paham Jahmiyyah. Namun pemahaman Jahmiyyah ini belum berani muncul secara terang-terangan karena al-Rasyid mengancam akan menangkap dan membunuh siapa saja yang berpaham demikian. Akhirnya ia menyembunyikan diri pada masa al-Mahdi, Harun al-Rasyid, dan Al-Amin. Al-Rasyid pernah berkata, “Kalau umurku panjang dan masih berjumpa dengan Basyar niscaya akan kubunuh dia dengan cara yang belum pernah kulakukan terhadap yang lain.” Bahkan Fudhail bin Iyadh pernah berharap agar umur ar-Rasyid panjang. Karena dia tahu dengan izin Allah Swt bahwa fitnah mu’tazilah akan berkembang dan mengakar kuat setelah kematian al-Rasyid. Setelah Harun al-Rasyid meninggal, lalu digantikan oleh Al-Amin. Barulah Basyar keluar dari persembunyiannya. Namun Al-Amin masih mempertahankan pendirian ayahnya dan mengancam akan hal itu.

Barulah ketika pada masa kekuasaan al-Ma’mun, khalifah setelah al-Amin, paham Jahmiyyah ini berhasil mengembangkan pemahamannya sampai menjadikan itu sebagai ajaran resmi negara. Dan yang paling fenomenal adalah mereka memaksa seluruh rakyat mengatakan bahwa Alquran adalah makhluk. Siapa yang tidak sependapat dan tidak mengakui maka ia akan disiksa dan dibunuh, termasuk para ulamanya. Imam Ahmad bin Hambal satu-satunya ulama yang berani membantah dan tetap kokoh pada pendiriannya, menyeru dan mengatakan bahwa Alquran itu bukan makhluk, dia adalah kalam Allah Swt. Kemudian ia ditangkap dan dihadapkan kehadapan al-Ma’mun bersama tiga ulama lainnya, yaitu Imam Hassan bin Sajjah, Imam Ubaidah bin Umar, dan Imam Muhammad bin Nuh. Karena beratnya siksaan inilah yang membuat dua ulama pertama akhirnya mengikuti apa yang dipaksakan terhadap mereka sebagai upaya-upaya rukhsoh dan hifdzu nafs. Mereka mengakui dengan lisan tapi mengingkarinya dalam hati mereka. Sedangkan Imam Hambali dan Imam Muhammad bin Nuh dengan tegas menolaknya. Akhirnya mereka dimasukkan ke penjara dan setelah beberapa hari kemudian, dibawa ke Tharsus dengan keadaan dirantai kedua tangan dan kakinya.

Imam Muhammad bin Nuh meninggal karena tak kuat dengan siksaan terhadapnya. Yang  tersisa hanya Imam Ahmad, satu-satunya yang masih berpegang pada jalan yang benar ketika seluruh umat beraqidah melenceng dan yang masih lurus hanya mengingkari dalam diam. Itulah yang membuat ia dipenjara dan dicambuk setiap hari sampai ia mau mengatakan apa yang diinginkan para tokoh mu’tazilah. Tak tega dengan apa yang dihadapi oleh Imam Ahmad, banyak ulama yang membisikinya untuk menyembunyikan aqidahnya dulu agar selamat dari siksaan, tapi ia menjawab, “Lalu bagaimana kalian menyikapi hadist yang diriwayatkan oleh Khabbab r.a. bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kamu ada yang kepalanya digergaji, tapi tak membuatnya berpaling dari agamanya.” Mereka hanya terdiam mendengar jawaban Imam Ahmad. Ia juga mengatakan, “Aku tak peduli dengan penjara, sesungguhnya rumahku dan penjara rasanya sama saja dan tak ada bedanya. Dan aku tidak takut dibunuh dengan sebilah pedang, aku hanya takut tersebarnya fitnah ini dan aku takut kalau nantinya aku tak bisa bersabar.”

Maka ketika cambuk pertama mengenai kulit punggungnya dengan keras, ia mengucapkan, “Bismillah.” Ketika cambuk kedua dilontarkan kembali, ia mengucapkan, “Laa haula walaa quwwata illaa billaah.” Lalu cambuk ketiga ia meneriakkan dalam sakitnya cambukan, “Alquran kalam Allah Swt dan bukanlah makhluk!!!” Dan ketika cambukan keempat ia membaca surat At-Taubah ayat 51, “Katakanlah, sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang ditetapkan oleh Allah bagi kami.” Kulit punggungnya sudah tak lagi mengelupas tapi robek. Sampai darah merah mengalir di seluruh badannya begitu deras.

Di tengah penyiksaan terhadap Imam Ahmad, Allah Swt mencabut nyawa al-Ma’mun. Dikira dengan kematian al-Ma’mun akan menemui titik terang atas fitnah ini, ternyata tidak demikian. Al-Ma’mun telah membaiat saudaranya al-Mu’tashim agar meneruskan pemahaman ini. Penyiksaan semakin menjadi-jadi dan ini tak lepas dari hasutan seorang ulama kerajaan yang bernama Qodhi Ahmad bin Abi Du’ad, seorang yang pandai dalam berbicara tapi tak punya pendirian. Di dalam penjara, Imam Ahmad sholat berjamaah dengan orang-orang yang dipenjara, sedangkan ia dalam keadaan terpasung. Suatu waktu ia dipanggil oleh al-Mu’tashim untuk berdebat dengan Abdurrahman bin Ishaq, Ahmad bin Abi Du’ad, dan para antek-anteknya mengenai masalah ini dan mengapa ia tetap bersikukuh tak mau mengakui Alquran itu makhluk. Mereka mengadakan debat ini selama tiga hari untuk mengalahkan Ahmad, dan ternyata setelah tiga hari itu mereka ingin meneruskannya lagi karena belum puas. Jawaban Imam Ahmad membuat mereka selalu kalah dan tak mampu membantah lagi. Walaupun demikian ia tetap dimasukkan kembali ke dalam penjara.

Pada bulan Ramadhan, beliau kembali disidang oleh al-Mu’tashim. Tapi beliau tak berubah. Lalu beliau dicambuk sampai darah benar- benar membanjiri tubuhnya. Baginda mengatakan, “Aku sungguh mengasihimu hai Ahmad! Bila kau merasa sakit maka ikutilah saya. Dan akuilah bahwa alquran itu makhluk. Supaya kamu selamat dari deraan ini.” Imam Ahmad menolak, “alquran itu kalam Allah Swt. bukan makhluk!”

Hal ini membuat al-Mu’tashim geram. Akhirnya beliau dicambuk terus menerus sampai baju yang beliau kenakan menjadi terpotong-potong. Sampai beliau merasa bahwa tali pengikat kainnya putus dan kain terakhir yang menutup auratnya hampir turun ke bawah. Lalu beliau menengadahkan wajahnya ke atas dan berdoa, “Ya Allah! Atas nama-Mu yang menguasai Arsy, jika Engkau mengetahui bahwa aku mempertahankan sesuatu yang benar. Maka janganlah Engkau jatuhkan penutup auratku.” Seketika itu kain yang tadinya hampir terjatuh tetap pada tempatnya sehingga auratnya tak jadi terlihat oleh khalayak ramai. Dan penyiksaan itu baru berakhir ketika maghrib, para hakim dan orang-orang yang hadir berbuka puasa di hadapannya. Sementara ia dibiarkan saja tidak diberi secuil makanan atau minuman untuk berbuka. Begitu seterusnya sampai pada hari ketiga ia pingsan tak sadarkan diri.

Suatu saat ketika ia cambukan itu berhenti, wajahnya menyiratkan sakit yang terasa amat dalam dan nampak lelah menggantung dalam tubuhnya yang luka dan bersimbah darah, seseorang berkata, “Wahai Ahmad! Berdoalah atas orang-orang yang menzalimimu itu.” Lalu beliau menjawab, “Bukan termasuk orang bersabar, siapa yang berdoa atas orang yang menzaliminya.”

Dan juga ketika di penjara, seorang sipir penjara benar-benar kasihan melihatnya dan berkata kepadanya, “Hai Imam! Semua orang sudah tahu akan pendapatmu. Katakan saja bahwa Alquran itu makhluk. Aku tak tahan melihatmu disiksa seperti ini.” Lalu beliau menyuruh sipir itu menengok ke jendela dan bertanya apa yang dia lihat. Ia mengatakan, “Aku melihat bahwa seluruh penduduk negeri Baghdad berdiri di setiap ambang pintu rumah mereka dengan membawa buku dan pena.” Artinya mereka bersiap mencatat apa yang akan Imam Ahmad katakan tentang pendapat tersebut. Beliau berkata pada sipir tersebut, “Maka pantaskah Ahmad bin Hambal selamat, sedangkan yang lainnya sesat?” Sipir itu terdiam.

Setelah Al-Mu’tashim meninggal digantikan oleh Al-Watsiq dan setelahnya adalah al-Mutawakkil. Barulah pada masa khalifah al-Mutawakkil, semua paham tentang mu’tazilah dibersihkan dari dalam istana dan semua ulama yang ditahan dibebaskan, termasuk Imam Ahmad bin Hambal. Ia diperbolehkan mengajar kembali.

Pada tahun 241 H, penyakitnya kian hari bertambah parah. Di detik-detik akhir hayatnya ia meminta keluarganya untuk membantunya berwudhu. Dan tanggal 12 Rabiul Awal bertepatan dengan hari Jum’at, beliau meninggal dunia pada usia 77 tahun. Beliau telah menunaikan nazar ibunya yaitu mengabdikan dirinya untuk ilmu dan Islam dari buaian sampai liang lahat. Sebanyak kurang lebih 2.500.000 orang hadir ketika sholat jenazahnya. Dan hari itu sebanyak 20.000 orang terdiri dari Yahudi, Nasrani, dan Majusi masuk islam. Ia dimakamkan di pemakam al-Harb, dan di dalam prosesi pemakamannya terdapat 4 golongan: Muslim, Nasrani, Yahudi dan Majusi. Allahu a’lam bisshowab.

*Pegiat Kajian Ar-Razi Ikpm Kairo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here