Home Opini Menyoal Sejarah dan Permasalahan Kekinian

Menyoal Sejarah dan Permasalahan Kekinian

227
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Apa yang kita alami saat ini sejatinya merupakan akumulasi dari apa yang terjadi di masa lalu. Sejarah pasti berulang dalam bentuk dan kemasan yang berbeda. Bumi adalah bumi dan manusia tetaplah manusia, sementara hakikat dan esensi peristiwa di setiap zaman itu ialah sama. Maka dalam mengkaji sejarah, ini bukan berarti kita dituntut untuk hidup atau kembali pada masa itu, melainkan untuk menarik sebuah pelajaran sebagai benang merah dengan apa yang terjadi pada masa kini.

Hubungan antara sejarah dan persoalan saat ini adalah hal konkret, yaitu masa lalu (sejarah), masa kini bahkan masa yang akan datang. Pernyataan tersebut didasarkan pada surah al-Hasyr [59]: 18)

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنَوُا اتَّقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

(الحشر (59):18)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. (Al-Hasyr [59]: 18)

Dalam ayat tersebut, kita dapati 3 kondisi yang mana seseorang berada di dalamnya, yaitu masa kiniولتنظر , masa yang akan datang لغد dan masa lalu ما قدمت. Ketiga masa tersebut saling berkaitan dalam suatu persoalan. Ketika berada di masa kini, kita melihat yang lalu sebagai pelajaran bagi masa yang akan datang.

Adapun Sirah atau sejarah Islam merupakan suatu khazanah yang sangat mahal bagi umat Islam sebagai modal dalam membangun kesadaran diri terhadap identitasnya sebagai seorang muslim. Ketika seorang muslim telah kehilangan sejarahnya, maka ia pun telah kehilangan identitasnya. Lalu bagaimanakah ketika persoalan kaum muslimin dengan sejarahnya melemah? Maka saat itu pula identitas kaum muslimin mulai terpuruk.

Berangkat dari sejarah dinamika kehidupan Arab Jahili, Asep Shabari, pendiri Sirah Comunity Indonesia (SCI) dalam pertemuannya di Sekretariat IKPM Cabang Kairo pada Selasa (6/2), menerangkan bahwa saat masyarakat Arab mulai memeluk Islam, hal ini bukan sekedar terjadinya perpindahan seseorang dari kafir menjadi Islam, dari yang tidak shalat menjadi shalat, dari yang menyembah berhala menjadi tidak. “Namun ada sebuah nilai peradaban yang digagas oleh mereka sehingga menjadi karakteristik Islam yang hadir,” ujar alumni Gontor tahun 94 tersebut.

Replika kecilnya adalah sosok Umar bin Khattab. Jika ingin melakukan sebuah komparasi antara Umar (Jahiliyyah) dengan Umar (semasa Islam) maka kita akan menemukan sejumlah perbedaan yang amat signifikan. Di masa jahiliiyahnya, Umar-bisa dikatakan- hanya ‘jagoan kandang’. Namun setelah masuk Islam dan mendapat pendidikan yang tajam dari Rasulullah, keberaniannya bukan hanya berskala Madinah saja. Dua poros kekuatan dunia saat itu, Romawi dan Persia, berhasil ditumpaskan di bawah kepemimpinannya dengan sekali jalan melalui dua pasukan yang berbeda.

“Jika kita teliti dan amati, konsep dan landasan pemerintahan dalam Islam pada masa Khalifah adalah sesuatu yang baru. Islam memang belajar dari Persia, Romawi, Iraq, dll, setelah peperangan yang terjadi, namun mereka melakukan sebuah inovasi dengan kreativitas yang hadir lewat intelektual dan analisa mereka terhadap masalah,” lanjut Asep.

Pada masanya, Umar adalah orang pertama yang menetapkan BUMN di negeri Madinah. Saat itu ia mengelola kekayaan negara dengan amat teliti, bahkan dengan kekayaan yang berlimpah ia dapat membagikan 100 dinar ke setiap kepala penduduk Madinah yang sudah baligh. Hebatnya lagi, saat itu Umar sudah memikirkan bagaimana penduduknya beserta generasi setelah mereka dapat hidup sejahtera. Dalam menjalankan pemerintahannya, ia mempunyai konsep: Al-Maalu maalullah wa al-Naasu ‘Iyaalullah wainnamaa ana qasim (kekayaan adalah milik Allah sementara rakyat adalah tanggungan Allah, maka aku di sini hanyalah penyalur kekayaan tersebut). Inilah mengapa Umar merasa pentingnya simpanan negara.

Sejarah Umar bin Khattab yang singkat ini -dan lainnya yang tidak disebutkan- seakan sedang berdialog dengan tantangan negara di dunia Islam saat ini, Indonesia salah satunya. Betapa naifnya melihat kondisi keuangan dan ekonomi saat ini. Bukan ingin membandingkan masa Umar dan masa ini, namun bagaimana kita bisa mencontoh apa yang telah diberikan oleh pendahulu kita. Bayt al-Maal atau kas negara yang dikelola oleh Khulafarasyidin bisa menjadi solusi tepat untuk kesejahteraan masyarakat dalam generasi yang banyak.

Jika ini merupakan contoh pelajaran dalam bentuk fisik, yakni perihal konseptual pengelolaan harta negara, kita juga bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi dari Bani Israil kala bersama Nabi Musa. Menurut Asep, pelajaran penting dari Bani Israil ialah perihal ‘mentalitas’. Memang dari awalnya hati mereka sudah siap dan menerima untuk dijajah. Sehingga meskipun pada akhirnya Nabi Musa dapat menyelamatkan mereka dari cengkraman Firaun, mereka tetap saja membangkang dan melawan Nabi Musa.

Bisa-bisanya mereka, saat baru saja selamat dari laut merah yang menenggelamkan Firaun lantas meminta kepada Nabi Musa untuk menjadikan berhala sebagai tuhan mereka. Apakah mereka tidak berfikir untuk sedikit lega dan bersyukur atas petunjuk yang Nabi Musa sampaikan. Saat dikarantina di Bukit Sinai pun mereka membuat ulah lagi dengan meminta Nabi Musa untuk menurunkan makanan-makanan yang ia konsumsi di Mesir dahulu kala di bawah cengkraman Firaun. Ini semua menunjukkan adanya mentalitas seorang budak yang senantiasa ingin dijajah, dan tidak mau merdeka. Dalam artian, mereka tidak bisa menentukan pilihan baik dan buruk, serta mempertimbangkan berbagai hal dalam kehidupannya, inilah yang dimaksud mentalitas jajahan, ujar Asep.

Negeri kita pun demikian. Dahulu, kala VOC datang sebagai korporasi asing kita mengusirnya dengan penuh ketegasan. Namun saat ini, kita seakan-akan memberikan karpet merah kepada perusahaan asing untuk berinvestasi di negeri ini, serta memberikan aset-aset negara ini kepada mereka. Jika ini terus berlangsung dalam kehidupan bangsa, lantas apa bedanya kita dengan Bani Israil yang belum bisa menentukan pilihannya dalam suatu hal kebaikan.

Ini baru sebagian kecil apa yang dapat kita relevansikan dengan sejarah. Pada hakikatnya apa yang kita persoalkan saat ini merupakan persoalan yang sudah dihadapi oleh pendahulu kita. Tugas kita adalah mengkaji apa yang telah mereka perbuat sehingga Islam pernah menjadi peradaban yang gemilang, lalu mengaplikasikannya di dalam kehidupan kita; baik dalam skala negara, keluarga, ataupun pribadi. Kerangka sejarah yang kita bangun dan susun haruslah menuaikan sebuah hasil, jadi bukan hanya kumpulan data yang tertumpuk, sebab seperti inilah mempelajari sejarah dengan baik. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah Founder dan Pimpinan Redaksi Baca Latansa.com IKPM Kairo. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here