Home Tsaqafah Catatan Gemilang Peradaban Intelektual Islam di Bagdad

Catatan Gemilang Peradaban Intelektual Islam di Bagdad

230
0

Oleh: Risma Zuhdyah*

Bagdad, kota yang kaya akan sejarah peradaban. Terletak di tepi barat sungai Tigris. Kota yang dahulu pernah menjadi bagian dari Babylonia kuno ini, diperkirakan dibangun di atas tanah bekas ibu kota kekaisaran Persia. Dan hingga saat ini dihuni oleh mayoritas penduduk yang berasal dari seluruh Iran, terutama dari daerah Khurasan.

Sejarah telah merekam bahwa Bagdad pernah memegang peranan penting serta turut memberikan kontribusi menakjubkan pada dunia Islam, baik dalam bidang keilmuan, kebudayaan, maupun peradaban. Sekitar 12 Abad silam, Bagdad menjadi pusat peradaban Islam. Bahkan dalam jangka waktu satu generasi sejak pertama kali berdirinya, Bagdad sudah menjadi pusat keilmuan Islam. Dari kota ini lah banyak menelurkan para tokoh intelektual dan ulama-ulama kharismatik.

Banyak kisah dalam ‘Seribu satu malam’ berlokasi di Bagdad, termasuk cerita ‘Sinbad’ yang termasyhur, melambangkan kehebatan budaya Bagdad sebagai “The Golden Age of Islam” pada masanya.

Pada tahun 132 H/750 M, dinasti Abbasiyah lah yang membangun kota Bagdad menjadi salah satu kota metropolitan pada masa keemasan Islam. Dalam kurun lima abad kekhalifahannya, dinasti Abbasiyah lebih mengutamakan perkembangan peradaban melalui ilmu pengetahuan. Dinasti ini kurang berminat terhadap penaklukan sebagaimana pada dinasti Ummayah, tetapi pada dinasti Abbasiyah ini lebih berminat besar terhadap pengetahuan dan masalah dalam negeri. Hal tersebut terlihat pada upaya penerjemahan berbagai karya ilmiah secara besar-besaran baik berasal dari penjuru timur maupun barat, pemberian fasilitas yang layak kepada para penuntut ilmu, dan merancang sebuah institusi yang tidak diragukan lagi reputasinya dalam dunia pendidikan, yaitu Baitul Hikmah.

Pada masa permulaannya, belum bisa ditemukan pusat-pusat pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah. Akan tetapi sejak masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid mulailah dibangun pusat-pusat pendidikan formal seperti Darul Hikmah dan pada masa Al-Ma’mun dibangun Baitul Hikmah yang kelak dari lembaga ini melahirkan para sarjana dan ahli ilmu pengetahuan yang membawa kejayaan bagi umat Islam.

Baitul Hikmah adalah perpustakaan dan pusat penerjemahan pada masa dinasti Abbasiyah. Sebuah institusi yang berdirinya diprakarsai oleh Harun Ar-Rasyid ini, didirikan pada tahun 813 M. Terletak di Baghdad, karena kota ini dianggap sebagai pusat intelektual dan keilmuan pada Zaman Kegemilangan Islam (The golden age of Islam). Bahkan sejak awal berdirinya, Bagdad sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya K. Hitti menyebutkan bahwa Bagdad sebagai profesor masyarakat Islam. Pada masa ini umat Islam telah banyak melakukan kajian kritis tentang ilmu pengetahuan, sehingga mengalami kemajuan begitu pesat. Salah satu bentuk pengalihan ilmu pengetahuan dilakukan dengan cara menerjemahkan berbagai buku karangan bangsa-bangsa terdahulu, seperti buku-buku karya bangsa Yunani, Romawi dan Persia. Berbagai naskah yang ada di kawasan Timur Tengah dan Afrika seperti Mesopotamia dan Mesir juga menjadi perhatian.

Pada masa Al-Ma’mun lah, ilmu pengetahuan dan kegiatan intelektual mengalami masa kejayaanya. Karena pada saat itu, Baitul Hikmah yang menjadi pusat kegiatan ilmu pengetahuan. Pada masa itu banyak karya-karya Yunani yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Selanjutnya model ini dikembangkan di Darul Hikmah Cairo kemudian diterima kembali oleh barat melalui Cordova dan kota-kota lain di Andalusia. Pada masa pemerintahannya, khalifah Al Ma’mun banyak membangun strategi-strategi untuk mempertahankan serta meningkatkan peradaban saat itu, termasuk mengirim tim sarjana ke berbagai pusat ilmu di dunia, untuk mencari kitab-kitab penting yang harus diterjemahkanya. Hal inilah salah satu yang menjadikan Islam mengalami kemajuan.Karena umat Islam bisa mempelajari berbagai ilmu pengetahuan yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Pada masa ini berkembang berbagai macam ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun agama. Dalam bidang Agama seperti Al-Quran dan tafsir, Hadist, Fiqih, qira’at, ilmu kalam, bahasa dan sastra. Dalam bidang tafsir, terdapat dua metode yang dikembangkan. Metode penafsiran pertama, tafsir bi al-ma’tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil rujukan dari Nabi dan para sahabat. Kedua yaitu tafsir bi al-ra’yi, yaitu metode penafsiran yang lebih mengutamakan pemikiran akal. Selain itu, ilmu pengetahuan umum juga mengalami perkembangan yang signifikan, terutama dalam bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia, dan sejarah. Dalam lapangan astronomi dikenal dengan nama al-Farghani, sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolabe.

Dalam ranah kedokteran, dikenal dengan nama Ar-Razi dan Ibnu Sina. Ar-Razi adalah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930. Ia merupakan penggagas pertama tentang penyakit campak. Dalam bidang kedokteran, ia berguru pada Hunayn bin Ishaq di Bagdad.

Selain Ar-Razi, tokoh legendaris muslim yang karyanya masih abadi hingga sekarang adalah Ibnu Sina. Ia mendapat julukan “Bapak kedokteran modern”. Dan ada satu karya monumentalnya “Qanun fi at-thibb”, yang hingga kini masih digunakan sebagai referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Disamping itu, berkembang juga empat madzhab fikih yang hingga saat ini masih masyhur dan banyak dijadikan pedoman oleh mayoritas umat muslim di berbagai belahan dunia. Di antaranya, Imam Abu Hanifah Ra. pendiri madzhab Hanafi, Imam Maliki ibnu Anas Ra. pendiri madzhab Maliki, Muhammad ibn Idris Asy-Syafi’i Ra. pendiri madzhab Syafi’i, dan Muhammad ibn Hanbal Ra. pendiri madzhab Hanafi. Di samping empat pendiri madzab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak para mujtahid lain mengeuarkan pendapatnya secara bebas sekaligus mendirikan madzhabnya. Namun karena pengikutnya tidak berkembang.

Pemikiran dan madzhab itu seakan tenggelam seiring berlalunya zaman. Hingga Akhirnya dalam penyerangan Bagdad, oleh pasukan bangsa Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M, invasi Mongol beserta pasukannya berhasil membumihanguskan kota yang pernah menjadi teladan dalam sejarah peradaban Islam itu. Beberapa kesaksian menyebutkan bahwa air sungai Tigris yang mengairi kota Bagdad berubah warna menjadi hitam didominasi warna merah. Warna hitam berasal dari tinta buku-buku yang luntur dan warna merah berasal dari darah para ilmuan dan filsuf yang terbunuh.

Begitulah. Agaknya, sejarah Islam selalu memerlukan musuh untuk menciptakan pahlawannya, melahirkan orang-orang yang ikhlas, bersungguh-sungguh, dan benar-benar berjihad untuk menegakkan agama-Nya.

Kemajuan sebuah peradaban biasanya berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pengetahuan di dalamnya. Begitu pula catatan tentang gemilangnya peradaban intelektual di Bagdad, tak akan bisa lepas dari peran fondasi pokoknya yaitu agama Islam dan ilmu pengetahuan yang berkembang didalamnya.

*Penulis adalah Editor Majalah Latansa Periode 2018-2019 dan kontributor di Website Gamajatim Mesir

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here