Home Artikel Meyakini Isra’ Mikraj

Meyakini Isra’ Mikraj

205
0

Oleh: Bana Fatahillah*

“Jika ini yang dikatakan oleh Baginda Nabi, sungguh ia telah benar. Bahkan aku akan benar-benar mempercayai apa yang lebih jauh dari ini”
(Abu Bakar As-Shiddiq)

 

Mumkin ‘Aqliy dan Mustahīl ‘Âdiy

Seseorang akan merasa kenyang setelah makan, sebuah benda yang jatuh akan mengarah ke bawah atau air akan setelah dipanaskan, itu semua merupakan pernyataan yang didasarkan pada penelitian terhadap kejadian yang senantiasa berulang-ulang. Dasar acuan seperti ini dinamakan hukm ‘âdiy. Dalam artian terjadinya sesuatu berulang-ulang lah yang menjadi asas sebuah pernyataan, hal ini bisa kita dapati dalam berbagai hukum sebab-akibat dan hukum alam. Berbeda halnya dengan pernyataan, “Satu merupakan setengah dari dua.” Ia tidak didasarkan pada penelitian dalam hukm ‘âdiy, melainkan didasarkan pada nalar, dan inilah yang dinamai hukum akal (hukm ‘aqliy).

Dalam hukum akal ada yang namanya wajib ‘aqliy. Ini berlaku bagi sesuatu yang menurut akal pasti ada dan mustahil tidak ada. Misalnya kursi yang kita duduki di kelas, itu –menurut akal- pasti ada yang menciptkannya walaupun kita tidak tahu siapa, namun sekali lagi pasti ada yang menciptakannya. Ada pula yang disebut mustahil ‘aqliy, ia adalah antitesis dari wajib ‘aqliy. Seperti ketidak mungkinan sesuatu dikatakan diam dan bergerak sekaligus dalam satu waktu. Pernyataan tidak didasarkan pada penelitian berulang-ulangnya sebuah kejadian, melainkanpada nalar dan akal. Selain itu ada pula yang mumkin ‘aqliy. Ini adalah putusan akal terhadap sesutu yang bisa ada dan bisa tidak. Misalnya adanya rumah yang terbuat dari emas, manusia terbang, gedung setinggi awan, dsb, yang mana jika sejenak merenung dan berdiam, akal kita mungkin saja mengiyakannya. Ketiga hal tersebut merupakan macam-macam dari hukum akal. Pun demikian dengan hukm ‘âdiy, ia terbagi menjadi: wajib, mustahil, dan mumkin.

Jika sudah memahami ini, maka akan mudah untuk memahami apa yang disebut sebagai mukjizat, salah satunya Isra Mikraj yang akan kita bahas di sini. Secara lugas kita bisa mengatakan bahwa mukjizat adalah sesuatu yang mustahil ‘âdiy (menyimpang dari hukum sebab-akibat) namun mungkin terjadi secara akal, mumkin ‘aqliy. Hukum alam mengatakan bahwa air itu jatuh dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Namun saat nabi Musa memukulkan tongkatnya ke tanah, air itu justru naik dari bawah ke atas. Jujur saja, jika mau sejenak merenung dan berfikir, akal kalian pasti akan mengiyakan kemungkinan air naik dari bawah ke atas, atau api yang tidak membakar, atau menhidupkan yang telah mati. Sebab ini semua adalah sesuatu yang mungkin terjadi secara nalar, walaupun memang mustahil terjadi secara berulang-ulang karena tidak sesuai dengan hukum alam.

Isra Mikraj Merupakan Sebuah Mukjizat

Meskipun mungkin terjadi secara akal –sebagaimana yang kita bahas sebelumnya– namun para ulama salah satunya adalah Syekh Solih al-Ja’fari, pendiri thoriqoh Ja’fariyyah, mengatakan bahwa dalam peristiwa Isra Mikraj akal tidak mampu untuk menjangkau berbagai kejadian itu semua, sebab jika akal terus diajak untuk membayangkannya, maka yang terjadi adalah pengingkaran terhadap mukjizat Rasul dan peristiwa yang agung ini.

Inilah mengapa, sebagai contoh, Syekh Solih al-Ja’fari dalam kitabnya Siraj al-Wahhaj mengatakan bahwa dalam peristiwa Isra’ Mikraj ini kalian tidak usah sibuk berdebat apakah perjalanan ini dengan ruh atau dengan jasad, sebab akal –secara fitrahnya- selalu berbicara dalam perkara kebiasaan (liana al-‘Aql yatakallamu fi al-Umur al-‘Adiyah). Dan jika terus diajak untuk berfikir, maka sebagaimana yang telah dijelaskan, orang-orang justru akan mengingkari peristiwa ini.

Meski demikian, bahwa peristiwa Isra Mikraj adalah hal yang mungkin terjadi bagi akal. Sebagai contoh, secara nalar perjalanan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis yang ditempuh dalam waktu singkat menggunakan buraq, mungkin terjadi. Akal tidak akan sampai pada deskripsi terperinci tentang bagaimana bentuk dan wujud buraq itu.

Sebagaimana perkataan Syekh Solih, karena akal manusia senantiasa menghukumi apa yang terjadi secara hukm ‘âdiy seperti jarak jauh yang tidak bisa ditempuh dalam waktu sepersekian detik, atau manusia tidak bisa menembus langit, maka para ulama menghimbau untuk tidak menggunakan akal secara mendalam. Dan inilah mengapa nantinya kaum Quraisy tidak percaya mentah-mentah kepada Rasulullah saat bercerita akan persitiwa ini, karena menurut mereka ini adalah hal yang mustahil- namun secara kebiasaan.

Perkara Sam’iyyât atau Khabar Shâdiq

Sebagai manusia kita harus jujur, bahwa terkadang akal kita tidak bisa memikirkan lebih dalam akan sebagian hal. Mau bagaimanapun kita memikirkannya kita tidak akan sampai, khususnya dalam ranah agama ataupun syariat yang diberatkan pada kita. Di sinilah iman seorang muslim dipertanggungjawabkan. Dan inilah mengapa banyak syariat Islam yang dalam pelaksanaannya justru tidak masuk akal, sehingga menjadikan kita cukup mengimaninya. Adapun dalam pembahasan ilmu akidah, perkara-perkara seperti ini disebut Sam’iyyat atau Khabar Shadiq.

Dalam kitabnya Aqîdatu Ahli al-Sunnah wa al-Jamâ’ah, Syaikh ‘Ali Jum’ah mengatakan bahwa sam’iyyat merupakan segala sesuatu yang hanya dapat kita imani atau percayai melalui  kabar yang terpercaya (kullu mâ lâ sabîlâ ila al-îmân illâ ‘an ṭarîq al-Khabar al-Yaqîniy).  Beliau juga menjelaskan bahwa percaya pada hal yang ghaib adalah asas dari sebuah ketaqwaan dan jalan masuk untuk beribadah kepada Allah Swt. Apabila telah meneguhkan padanya, maka, menurut Syekh Ali Jumah, kita adalah orang yang akan mendapatkan cahaya hidayah dari Allah SWT. Sebagaimana yang telah Allah firmankan,  “…hudan lilmuttaqîn. Alladzîna yu`minûna bi al-ghaybi”

Senada dengan hal ini, Imam Ramadhan al-Buthi dalam Kubra Yaqîniyyat nya,  menjelaskan bahwa pembahasan ketiga, yaitu ghaybiyyât atau sam’iyyât tidaklah termasuk pada pembahasan bab ilâhiyyât ataupun nubuwwât, karena keduanya bukan hanya dapat diimani dengan khabar yaqîniy, melainkan dengan akal sehat dan penalaran. Jadi yang merupakan contoh-contoh dari ghaybiyyât adalah yang sampai kepada kita hanya melalui khabar yaqîniy, dan belum sempurna gambarannya, juga masih tertutup bagi kita semua. Seperti kabar tentang tanda-tanda terjadinya hari kiamat, dan apa-apa yang akan dilewati manusia setelah mereka wafat seperti mîzân, shirât, surga, neraka, hisaab, padang mahsyar, dan lain sebagainya yang merupakan perkara-perkara yang tidak bisa diyakini dengan mendatangkan permisalannya sehingga dapat membayangkannya dengan cara qiyas. (Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, Kubrâ Yaqîniyyât al-Kawniyyât Wujûd al-Khâliq wa Waẓîfat al-Makhlûq, Dâr al-Fikr, Beirut : 2016, hal.301)

Selain Malaikat, para Rasul, Kitab-kitab, hari akhir, ataupun qadha dan qadar – yang termasuk dalam rukun iman yang enam, isra’ mi’raj merupakan salah satu yang menjadi pembahasan dalam contoh al-Sam’iyyat. Ini bisa kita buktikan pada nazhamAqiidatul Awam milik Imam Ahmad al-Marzuqi. Setelah membahas semua yang berkaitan dengan Allah dan Rasul, beliau mencatumkan beberapa bait tentang isra’ mi’raj sebagai penutup pembahasan pada nazham tersebut, yang mana juga menunjukkan bahwasanya Isra Mi’raj termasuk dalam pembahasan al-Samiyyat.

Ketika berhadapan dengan hal-hal sam’iyyat kita jangan sok-sok’an menolaknya karena tidak masuk akal. Karena selain pada hakikatnya ini adalah hukum mungkin akal, ternyata manusia dapat mendapatkan sebuah pengetahuan melalui khabar shadiq. Imam Nasafi, salah seorang ulama terkemuka dalam madzhab Hanafi, mengatakan bahwasanya seseorang dapat mengetahui sesuatu melalui tiga sumber, yaitu presepsi indra (idraak al-hawās), proses akal sehat (ta’aqqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar sadiq).

Kemudian Imam Nasafi membagi khabar sadiq tersebut menjadi dua, yaitu apa yang berdasarkan wahyu dan yang bukan. Sederhananya begini, dalam yang bukan wahyu, kabar tentang adanya presiden Soekarno pada zaman dahulu, misalnya, merupakan hal yang benar dan dipercaya sebab kabar ini dikuatkan oleh banyak orang yang mana mereka semua tidak akan sepakat untuk berbohong. Dalam yang berdasarkan wahyu, seperti contoh-contoh al-Sam’iyyat yang telah disebutkan dalam al-Quran dan hadis, begitupun isra’ dan mi’raj yang sedang kita bahas.

 Jika sudah mengetahui bahwa Isra Mikraj adalah perkara sam’iyyât yang sampai kepada kita melalui periwayatan yang terpercaya yakni khabar shâdiq, maka wajib bagi kita sebagai seorang mukmin untuk memercayainya. Namun singkat penulis, sebagaimana yang dijelaskan di awal, tidak perlu memikirkan kejadiannya secara mendalam, sebab selain menjadi larangan oleh para ulama, ini semua akan berakibat pada pengingkaran karena tidak masuk akal.

Jadilah seperti Abu Bakar al-Shiddiq, yang kala itu langsung memercayai apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Bahkan dengan tegas ia mengatakan, kalaupun Rasul memberikan kabar yang lebih (tidak masuk akal) dari ini, saya akan tetap memercayainya. Keyakinan seperti inilah yang harus ditanmkan pada diri seorang muslim, yakni apa yang dibawakan oleh Rasul maka itu adalah sesuatu yang harus dipercayai. Dalam risalah kecilnya, Imam al-Dardiri menegaskan, “Setiapa apa yang datang dari sang pembawa berita gembira, maka itu menjadi hal yang harus dipercayai secara otomatis.”

Semoga dalam peringatan Isra Mikraj ini kita dapat menambah keimanan dengan terus menjalankan dan menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah sepanjang waktunya. Allâhumma âmîn. Wallahu a’lam.

*Penulis merupakan Pimpinan Redaksi Majalah Latansa periode 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here