Home Tak Berkategori K. H. Hasan Abdullah Sahal, Figur Kyai Santri

K. H. Hasan Abdullah Sahal, Figur Kyai Santri

205
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

“Inilah obat rindu saya pada antum semua. Ana uhibbukum. Saya tetap ingin menjadi Kyai santri. Bukan Kyai podium. Bukan Kyai whatsapp. Bukan pula kyai facebook,” tutur bapak Pimpinan mengakhiri sambutannya dalam acara silaturrahmi bersama alumni Gontor di Mesir pada awal Ramadhan 1440 H kemarin. Kalimat penutup namun mengawali semangat baru kami setelah usainya perkumpulan berlangsung.

Awal Ramadhan, kunjungan K.H. Hasan Abdullah Sahal ke Kairo membawa keberkahan yang kami rasakan. Berupa nafas panca jiwa yang terhembus dari rentetan kalimatnya. Singkat, jelas dan menghipnotis masa. Kunjungan keempat beliau ke Kairo menjadi batu pijakan untuk lompatan yang lebih tinggi. Nilai yang disampaikan pada kesempatan tersebut telah terangkum pada tulisan sebelumnya dengan hemat yang penulis ketahui dan simak.

Jiwa yang besar terlahir dari jiwa yang besar pula, begitulah realita yang sering kita saksikan dalam kehidupan masyarakat. Tepat tanggal 24 Mei 1947, desa Gontor, yang terletak di daerah Ponorogo Jawa Timur, menjadi saksi lahirnya seorang yang denga jiwa besar yang nantinya akan menjadi sentral figur dalam surga yang bernama “Gontor”. Dengan menyanding nama ayahnya yang saat itu menjadi trimurti Gontor, ia pun diberi nama Hasan Abdullah Sahal.

Ia merupakan putra keenam dari salah satu Trimurti Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu K.H. Ahmad Sahal dan Ibu Sutichah. Nafas perjuangan dan keikhlasan keduanya terukir dalam sebuah tulisan ringan pada buku tetralogi pertama Trimurti.

Pendidikan formal beliau awali di Gontor, yaitu lulusan salah satu SD Desa Gontor tahun 1959. Kemudian dilanjutkan di PMDG dan tamat pada tahun 1965. Seusainya pendidikan yang setara dengan SMA tersebut, beliau menjadi mahasiswa IPD (Institute Pendidikan Darussalam) Fakultas Ushuluddin sekaligus mengajar di KMI selama 2 setengah tahun. Pendidikan beliau belum berakhir di situ, melainkan melanjutkan kembali di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin Universitas Islam Madinah dan selesai pada tahun 1967. Selanjutnya bidang hadis menjadi sasaran empuk sebagai spesifikasi di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo hingga tahun 1977.

Mengemban Amanat Sebagai Pimpinan Pondok

Sebelum wafatnya Pak Sahal pada April 1977, beliau menyampaikan pesan tertulis dan lisan untuk Hasan yang belum sempat untuk bertemu. “Pak Zar, nanti yang mangku masjid, Hasan.” Begitulah pesan Pak Sahal untuk anaknya yang keenam ketika masih dalam perjalanan pulang dari Mesir. (Muhammad Husein Sanusi dkk, Trimurti, Sekilas Buku Kedua Tetralogi Trimurti hal. 294)

Pada Jum’at pertama, Hasan belum kunjung datang. Pada saat itu, Pak Zar yang menjadi Imam Shalat Jum’at. Pada Jum’at berikutnya, beliau telah hadir dan berada di Pondok Gontor. Sedih tak terbayang, namun kesedihan itulah yang menjadi bahan bakar untuk melanjutkan pengabdian suci dalam berjuang menuju masa gemilang.

Jum’at itu pula Hasan menjadi imam Shalat Jum’at. Yaitu berawal dari Pak Zar yang masih berdiri di depan sebagai imam menarik Hasan yang berada di belakangnya ketika iqamat dikumandangkan. Sejak saat itulah Hasan menjadi imam dan Pak Zar makmum di belakangnya hingga beliau wafat tahun 1985.

Dari 2 tahun setelah kemerdekaan Indonesia hingga sekarang, 2019, telah menginjak angka 72 tahun. Raut penuh juang yang berdiri di hadapan para santrinya ini mengembalikan warna nilai pondok yang mulai mumudar di diri seorang santri, terlebih santri yang tengah jauh dari dinamika dan lingkup pondok.

Begitulah rangkaian singkat perjalanan kyai kita. Beliau telah mewarisi nilai, jiwa luhur dan perjuangan dari ayahnya, K. H. Ahmad Sahal, yang hidupnya didedikasikan untuk umat. Setelah wafatnya K. H. Imam Zarkasyi pada tahun 1985, K.H. Hasan Abdullah Sahal mengemban amanat untuk meneruskan pengabdian suci sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor ketika berusia 38 tahun hingga saat ini. Telah berselang selama 34 tahun beliau menjadi salah satu figur kyai santri yang berdiri dengan keteladanan.

Beberapa kali dalam satu tahun ajaran, Pak Hasan berkunjung ke pondok putri untuk menghadiri beberapa even acara bersama para santri putri atau guru. Sungguh kesempatan yang sangat ditunggu-tunggu dan merugi jika disia-siakan. Bertemu beliau dalam jarak 15 meter atau lebih dari panggung dan podium sudah membakar ulang semangat yang mulai pudar. Berbeda dengan santri dan guru yang hidup satu lingkup pondok bersama beliau di Gontor Pusat. Penulis yang merupakan santri putri tak sering untuk bertatap muka langsung dengan sosok bapak dan kyai santri, K. H. Hasan Abdullah Sahal.

Senyum simpul beliau ketika berada di podium tak bisa lepas dari setiap kesempatan. Tak ada tegang, jiwa kebapakan kami rasakan, lagu ayah terselip kami nyanyikan bersama di beberapa perkumpulan. Pembawaan sambutan berbobot yang diiringi humor apik kami rindukan. Tak jarang luapan tawa terhelat di aula perkumpulan. Hingga pertemuan 1 Ramadhan lalu pun demikian.

Kyai santri, begitulah beliau menyebutnya. Sejak perkumpulan yang penulis ikuti, beliau sering menyampaikan seperti yang ada pada kutipan pertama tulisan ini. “Saya tetap ingin menjadi kyai santri, bukan kyai podium, bukan kyai whatsapp, bukan pula kyai facebook.”

Sejalan dengan pengertian pondok pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam dengan masjid sebagai pusat yang menjiwainya dan kyai sebgai sentral figurnya. Keteladanan melalui suatu figur merupakan salah satu media pendidikan di pondok. Panca jiwa yang lazim disifati oleh seorang santri terfigur dalam keteladanan pak kyai. Bentuk interaksi beliau secara langsung melalui teladan yang santri contoh, nasehat, amanat dan hadirnya di hadapan kita.

Pada 24 Mei 2019, sudah 72 tahun K. H. Hasan Abdullah Sahal telah mewarnai dunia pendidikan khusunya. Bapak dan kyai bagi kami, kyai santri. Walau bukan sebagai anak secara biologis, namun nafas dan darah pendidikan serta nilai-nilai yang telah dicurahkan di Darussalam menjadikan saya, kami dan seluruh santri Gontor seperti anak kandungnya.

Sebagaimana nama Darussalam, yang artinya kampung nan damai, harapan kami ingin tetap menjadi santri penghuni Darussalam secara keadaan walau telah berbeda medan juang. Yaitu besar artinya bagi pecinta damai, kecil artinya bagi yang suka ramai. Lapang dan luas bagi yang berakal, sempit dan picik bagi yang nakal. Dalam dan jauh penyelamannya bagi yang sabar. Dangkal dan mudah bagi anak yang berperangai kasar.

Selamatlah pemuda-pemuda yang mempunyai niat yang suci dan murni, masuk dan bernaung di Darussalam.

(Muhammad Husein Sanusi dkk, Trimurti, Cita-Cita Suci Kedamaian dan Keselamatan, hal. 268)

Akhir kata, “Maafkan kami bapak. Sebagai seorang santri yang belum mampu menjadi apa yang diharapakan, belum menerapkan nilai yang diajarkan dalam keteladanan, atau bahkan baru mengetahui belum mengamalkan. Selama 5 hingga 6 tahun ditempa masih melek walang, hingga keluar di medan juang lain pun belum mandiri dan masih sering memohon untuk bernanung. Di suatu masa, ketika kami harus kembali, maka jika sikap masih terlampau jauh dari harap, nasehatmu laksana air ketika dahaga. Begitupula di hari yang berbarkah ini, di mana 72 tahun usia Bapak saat ini. Semoga selalu dinaungi rahmat dan karunia-Nya di tanah damai di bawah ozon keberkahan, Darussalam. Serta anugerah kesehatan, kekuatan dan kelancaran dalam segala urusan terkhusus sebagai bapak Pimpinan PMDG.

Selamat Ulang tahun bapak.
Dari kami, santrimu di negeri para nabi, doa dan ridhamu harapan kami.”

*Penulis adalah calon mahasiswa Fakultas Bahasa Universitas al-Azhar yang sedang menjabat sebagai Editor di Buletin Cakrawala IKPM Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here