Home Tak Berkategori Menang Kalah, Kita Berhari Raya

Menang Kalah, Kita Berhari Raya

120
0

Oleh: S Rahman*

Di Indonesia istilah hari kemenangan sering digunakan untuk hari raya Idul Fitri, padahal di tempat lain, istilah Hari Kemenangan digunakan sebagai sebutan untuk peringatan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan keagamaan. Seperti di Eropa, ada VE Day (Victory in Europe Day) yang diperingati setiap 9 Mei, hari kekalahan Nazi dan berakhirnya perang dunia II.

Umumnya penjelasan mengenai hari kemenangan dimaksudkan pada kemenangan maknawi umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh, kemenangan atas diri sendiri, bukan kemenangan atas sesama manusia.

Kemenangan yang hadiahnya adalah kondisi jiwa seakan dilahirkan kembali dalam fitrah, murni dari dosa. Tidak salah memang, walaupun sebagian ulama lebih cenderung memaknai kata fitri dengan berbuka daripada fitrah (kesucian), jadi Idul Fitri adalah hari dibolehkannya makan di siang hari.

Sebagaimana Imam Ghazali yang membuat gradasi pemaknaan terhadap puasa Ramadhan, awam yang puasanya hanya menahan diri dari nafsu makan dan seksual, khowash yang puasanya adalah menahan diri dari segala bentuk dosa dan khowasul khowas yang puasanya adalah menahan hati agar tidak terbesit apapun selain Allah. Menurut pembacaan saya, begitu pula dengan pemaknaan terhadap Idul Fitri, ada yang memaknainya sebagai hari dibolehkannya menggosipkan orang lain di siang hari, ada yang memaknainya sebagai hari dibolehkannya makan di siang hari, ada pula yang memaknainya sebagai hari kembali pada kesucian.

Selain itu, ada pula yang memaknainya sebagai titik akhir mujahadah, begitu juga sebaliknya. Imam Ghazali dalam Ihya menyebutkan di antara sikap batin yang tepat selepas menjalankan ibadah puasa Ramadhan adalah menempatkan hati berada di titik tengah antara khawf dan raja’. Begitu pula selepas menjalankan ibadah-ibadah lainnya. Pasalnya siapa dari kita yang tahu berapa persen dari puasa dan ibadah yang diterima Allah?
Kalaupun ada yang tahu –lanjut Al-Ghazali- bahwa puasanya diterima, harusnya ia tenggelam dalam kebahagiaan itu, tidak menyia-nyiakan waktu untuk beemain-main dan lebih memilih untuk terus berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Di sisi lain, seandainya seseorang tahu bahwa puasanya tidak diterima, harusnya ia lebih menyibukkan diri untuk beristigfar dan memperbaiki diri daripada berpesta ria. Hal serupa kita jumpai dalam shalat, di antara rahasia mengapa wirid yang pertama dibaca selepas shalat adalah istighfar, karena itu adalah wujud khawf seandainya secara tidak sadar kita memalingkan muka dari-Nya di dalam shalat, juga karena sejatinya tidak ada amal ibadah yang bisa digunakan untuk membeli surga-Nya.

Berlarut-larut menangisi Ramadhan yang terlewat begitu saja pun kurang tepat. Mengawali kitab A-Hikamnya Ibn Athaillah menyebutkan, “Di antara tanda bahwa seseorang mengandalkan atau bertumpu pada amalnya adalah, turunnya kadar harapan (raja’) ketika amal tersebut terlewatkan.” Nasi sudah menjadi bubur, begitu kata pepatah. Yang harus dilakukan sekarang bukanlah mencari cara mengembalikannya menjadi nasi, akan tetapi mencari bahan-bahan yang membuat bubur jadi lebih nikmat.

Jika memang kemenangan yang dimaksud adalah kemenagan maknawi, harusnya kita sadar bahwa musuh yang dihadapi juga maknawi. Sebulan puasa harusnya sudah mampu membuat kita menyadari hal itu, kalau makna seperti ini tidak kita dapatkan setelah sebualan berpuasa apa yang sebenarnya kita rayakan di hari raya?

Ramadhan hanya satu bulan, masih ada 11 bulan lain menuju Ramadhan lagi. Untuk menghadapi 11 bulan itu, konsentrasi pencarian, suluk dan mujahadah harus tepat. Dalam konstelasi sulu suluk k bernegara alangkah baiknya jika pihak petahana berkosentrasi pada pembangunan dan kemakmuran rakyat, di sisi lain pihak oposisi berkosentrasi menjadi mata dan sudut pandang lain bagi petahana dalam rangka bersama-sama membangun bangsa. Di pihak manapun kita berada, yang kalah ataupun yang menang, secara maknawi atau bukan, hari raya tetap akan datang. Dan urusan memandang hari raya sebagai momen berakhirnya Ramadhan atau momentum awal menyambut 11 bulan lainnya kembali pada individu masing-masing, bukan pada panitia shalat id ataupun panitia halal bi halal.

Syawwal 1440 H.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Akidah Filsafat Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar dan Editor Majalah Latansa Periode 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here