Home Al Azhar Inilah yang Menjadi Latar Belakang Penulisan Qasidah Burdah

Inilah yang Menjadi Latar Belakang Penulisan Qasidah Burdah

980
0
photo: facebook/الجامع الأزهر

Oleh: Bana Fatahillah*

“Layaknya asbabun nuzul dalam ayat al-Qur`an dan asbabul wurud dalam hadis nabi, qashidah burdah pun memiliki sebab khusus yang melatarbelakangi penulisannya,” ujar Syekh Faozi Konate, salah seorang pakar bahasa asal Pantai Gading, dalam majlis Burdah al-Bushiri yang diadakan di masjid al-Azhar pada Rabu (4/12) kemarin.

Dalam banyak riwayat dikisahkan, bahwa sang pemilik qasidah, Muhammad bin Sa’id bin Hammad, atau yang dikenal dengan Imam al-Bushiri (w. 697), terkena semacam penyakit struk yang hampir melumpuhkan seluruh anggota badannya. Berbagai tabib telah ia datangi untuk dapat mengobatinya, namun sayang tak ada satupun dari mereka yang dapat menyembuhkan penyakitnya.

Di tengah penderitaan yang sedang dialaminya, ia tidak pernah luput untuk bermunajat pada Allah Swt serta bershalawat atas Rasul-Nya. Sebagaimana yang kita ketahui, ia merupakan tokoh sufi yang kecintaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya sangatlah besar dan melebihi apapun. Ia dididik langsung oleh sosok Abul Abbas al-Mursi, seorang tokoh sufi besar asal Iskandariah yang menggantikan posisi Abu Hasan al-Syadzili dalam tarekat Syadziliyyah.

Akhirnya pada suatu hari, murid dari Abul Abbas al-Mursi  ini memutuskan untuk menulis sebuah kumpulan syair yang berisikan tentang pujian atas Nabi Saw, dengan harapan agar pujian yang ditulisakannya ini dapat menjadi wasilah dalam kesembuhan atas penyakitnya.

Perlu diketahui, kemampuan Imam Bushiri dalam menulis prosa dan syair sangatlah kuat. Sebelum bertemu dengan Abul Abbas di Iskandariah, ia banyak berguru kepada ulama-ulama ternama di daerahnya pada saat itu, di antaranya adalah Abu Hayyan al-Andalusi, seorang ulama ahli dan pakar bahasa yang telah mencetak lebih dari 40 ulama dalam majlisnya, serta penulis kitab “Tafsir Al-Bahr al-Muhit” yang bermuatan dengan dimensi ilmu bahasa dan keindahannya. Jadi selain mahir dalam berbagai lmu agama, al-Bushiri juga diberikan oleh Allah kemampuan dalam merangkai kata untuk membentuk prosa ataupun syair, hingga ia pun mendapat julukan “Imam al-Syu’ara” dan “Syaair al-Aimmah” (pemimpin para penyair dan penyairnya para ulama).

Ia pun mulai menulis qasidah tersebut dalam keadaan sakit yang menyerang tubuhnya.

Syekh Zaki Ibrahim dalam kitabnya “al-Madaih al-Nubuwwah” menceritakan bahwa di tengah penulisan qasidah tersebut, ia tertidur dan bertemu dengan Nabi Saw dalam mimpinya.Ia pun  membacakan bait tersebut dihadapan Baginda Nabi. Dan pada saat sampai pada bait yang berbunyi “Famablaghal Ilmi fiihi annahu basyarun” ia pun tersentak diam tak sanggup meneruskan lanjutan bait tersebut. Saat itu lah Rasulullah berkata: “Katakanlah: wa annahu khaira khalqillahi kullihimi

Akhirnya bait tersebut pun dimasukkan oleh sang Imam ke dalam qasidahnya. Bahkan lafadz ini didendangkan berkali-kali oleh sang Imam di setiap awal baitnya. Lafadznya sangat masyhur di telinga kita, yaitu: “mawlaya sholli wasallim daiman abada, ala habibika khairi khalqillahi kullihimi,” yang kita bacakan di setiap awal pembacaan burdah atau setiap pergantian judul dalam burdah. Ulama berpendapat, bahwa rahasia di balik seringnya bait ini diucapkan adalah, sebagai doa kepada Rasulullah Saw yang mana lafadznya langsung diberikan oleh beliau, yakni kepada Imam Bushiri dalam mimpinya.

Keberkahan Qasidah Milik Imam Al-Bushiri

Dalam kitabnya “al-Zubdah al-Raiqah,” Syekh Zakaria al-Anshari bercerita, bahwa usai menyelesaikan seluruh baitnya, ia pun kembali bertemu Baginda Nabi dalam tidurnya. Wajah Imam Bushiri diusap oleh tangan Baginda Nabi Saw dan dikalungkan selendang (burdah) miliknya, dan seketika itu ia langsung sembuh dari penyakitnya, seperti orang yang belum pernah terkena penyakit apapun. Malam itu, tidak ada satupun orang yang mengetahui isi qasidahnya beserta kejadiannya saat itu.

Namun keesokan harinya, saat ia keluar dari rumahnya, ada salah seorang hamba Allah yang bertanya tentang qasidah tersebut.

“Perkenankan saya untuk mendengarkan qasidah yang tuan buat untuk menyanjung Nabi Saw kemarin malam!” ujarnya. Imam Bushiri pun seketika terkejut dan kaget karena ia merasa belum memberitahu siapapun apa-apa yang terjadi pada dirinya semalam.

“Qasidah seperti apa yang kau maksud?” tanya al-Bushiri

“Yakni yang tuan tuliskan pada masa sakit. Karena semalam aku mendengar qasidah ini digubah di hadapan Rasulullah Saw, dan beliau pun sangat menikmatinya. Kemudian diberikanlah selendang miliknya kepada tuan, hingga dikenalah qasidah ini dengan nama ‘Burdah’ dan orang-orang pun bertabaruk dengannya. Qasidah tersebut berbunyi… amin tadzkkurin..,”  jawab hamba Allah tersebut sambil membaca awal penggalan dari bait Burdah milik al-Bushiri.

Dalam hal ini Syekh Fauzi menjelaskan bahwa inilah salah satu keistimewaan seorang wali Allah, yang selalu mengiringi setiap pekerjaannya dengan nilai keikhlasan, sehingga ia tidak perlu mengenalkan kepada khalayak ramai, sebab merekalah yang akan mengetahuinya sendiri.

Dalam kisah lain dikatakan, ada seorang yang melihat kawannya yang buta dalam mimpinya, dan ia berkata pada yang buta tersebut “letakkanlah burdah terserbut pada matamu, maka akan sembuh.” Dan saat bangun diambilah burdah tersebut kemudian diletakkan pada matanya juga dibacakan isinya, ia pun akhirnya sembuh.” (Syekh Zakaria al-Anshari: 148)

Akhirnya terkenelah kumpulan qasidah ini dengan sebutan ‘Burdah’. Awalnya kitab ini diberi nama “al-Kawakib al-Durriyyah fi Madhi Khair al-Bariyyah” namun ia lebih terkenal “Burdah” (selendang) karena selendang yang dikalungkan oleh Nabi ke sang Imam dalam mimpinya, atau “Bur`ah” (penyembuh) karena telah menyembuhkan penyakit sang Imam, atau yang terakhir terkenal dengan (iii) “Miimiyah” (bait syair yang diakhiri hurum mim) karena jika diperhatikan akhir setiap bait syair tersebut berakhiran huruf ‘mim’ yang menunjukkan nama “Muhammad” Saw.

Kini Qasidah Burdah sudah sangat masyhur seantreo dunia; baik barat maupun timur, arab ataupun non-arab. Mayoritas ulama pun sudah mengakui qasidah ini serta mengajarkan dan mengenalkannya pada murid mereka. Bahkan ia pernah dijadikan hadiah oleh Ibnu Khaldun terhadap Timorlenk, seorang penguasa kejam Turki-Mongol dan pendiri kekaisaran di Timur Persia dan Asia Tengah, dan pernah juga dijadikan wasilah kemenangan oleh Abdul Qadir Al-Jazairi saat bertempur dengan pasukan Francis lewat bait yang dituliskan di bawah bendera panji kemenangannya, yaitu bait yang berbunyi:

“Siapapun yang senantiasa bersama Rasulullah, maka baginya adalah kemenangan, meskipun ia dihadapkan dengan harimau di hutan sekalipun”

Kini hampir setiap masjid di penjuru dunia membacakan qasidah ini berbagai waktu, ada yang setiap minggu, setiap bulan, bahkan setiap hari. Dan tidak sedikit pula mereka yang sudah menghafalnya  dan menjadikannya sebagai wirid yang dibaca setiap harinya.

Sudah sewajarnya kita, sebagai seorang muslim, untuk cinta kepada Nabi Muhammad Saw. salah satunya dengan memujinya (madh) lewat syair dan kata-kata. Jika sebagian kelompok melarangnya dengan alasan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah kalian bersikap berlebihan terhadapku, sebagaimana orang Nasrani terhadap putra Maryam, sebab aku hanyalah Hamba-Nya, dan sebutlah “Abdullah” dan “Rasulullah,” maka ketahuilah bahwasanya dalam hadis ini Imam Muslim berkata: “Pemuliaan terhadap seseorang itu dilarang apabila sampai titik yang berlebihan dan terjadinya fitnah terhadap yang dimuliakan.”

Maka untuk seorang Nabi Muhammad yang merupakan utusan Allah dan juga kekasih-Nya, maka sudah semestinya jika ia  dimuliakan, disanjung, dan dipuji, sebab Allah dalam al-Qur`an pun memerintahkan kita untuk bershalawat atas Nabi, begitupun Nabi sendiri dalam hadisnya yang selalu mengingatkan kita untuk bershalawat kepadanya. Ini semua tentunya tidak sampai seperti orang-orang di luar Islam yang menjadikan sosok manusia sebagai tuhannya. Beliau memang manusia layaknya kita, tapi ingat, ia bukan sembarang manusia, ia Rasul yang diutus Allah untuk menyampaikan risalah Ilahi. Wallahu a’lam.

*Penulis adalah Editor Majalah Latansa IKPM Kairo periode 2018-2019. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here