Home Opini Islam dalam Perkembangan Dunia Internet

Islam dalam Perkembangan Dunia Internet

86
0

Oleh: Alif Fathan*

Terkadang, orang yang terlalu fokus pada bidang tertentu bisa sangat mengesalkan. Alasannya sederhana, beberapa dari mereka, kerap menggunakan ‘fokus’ sebagai alibi ketidaktahuan akan informasi tertentu. Tapi itu belum seberapa, titik paling mengesalkan adalah, ketika ia menganggap orang yang menekuni hal yang sama, dan mempelajari bidang lain merupakan keanehan, ganjil, atau bahkan dipandang sebagai sebuah kesalahan.

Contohnya saja, kita mungkin sering mendengar ungkapan: “Kuliah Usuluddin kok kerjaannya bikin desain sama ngedit video” atau “Anak Syariah kok yang dipantengin situs Tech in Asia”. Seakan ada titel tertentu bagi seseorang untuk boleh mengakses sebuah informasi. Yang tanpanya, ia akan dilihat aneh, bahkan menyimpang.

Kalau boleh menarik mundur, seharusnya kita lebih banyak mencontoh ulama’ terdahulu yang pantang mendikotomikan ilmu pengetahuan. Sebut saja Ibnu Sina, pengarang buku Qanun fii at-Tibb yang menjadi rujukan kedokteran modern, kepakarannya pada dunia pengobatan tidak dapat diragukan. Namun demikian, ia tidak meninggalkan ilmu agama, mempelajari Fikih Mazhab Hanafi dari Syaikh Ismail al-Zahid, bahkan sudah menjadi hafidz pada umur 10 tahun.

Contoh lain yang lebih dekat, adalah Prof. Dr. Abdul Maik Karim Amrullah, yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka. Membahas keilmuannya dalam Agama, kitab Tafsir al-Azhar yang ditulisnya merupakan bukti kongkrit yang tak terelakkan. Uniknya, Tafsir al-Azhar dikenal unik karena mendemonstrasikan keluasan pengetahuannya dalam berbagai disiplin ilmu, baik Islam ataupun non-keagamaan. Ia dikenal sebagai ulama’, bahkan menjabat sebagai ketua Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) pertama, namun tidak meninggalkan disiplin ilmu lain. Filolog Prancis Gerard Moussay menuliskan, Buya Hamka mampu unggul dalam berbagai bidang seperti: jurnalistik, sejarah, antropologi, bahkan politik.

Sikap inilah yang semestinya ditiru. Membuka diri selebar-lebarnya untuk menerima wawasan, tanpa membatasi diri dengan bidang ataupun disiplin ilmu yang ditekuni, walaupun tetap diberi porsi lebih. Sehingga, memiliki referensi yang luas sebagai bahan improvisasi, media, ataupun perbandingan yang menyokong cita-cita kelak. Terlebih, pada unsur-unsur yang berpengaruh besar pada perkembangan peradaban manusia, teknologi contohnya.

Teknologi dan peradaban manusia merupakan dua variable yang tak terpisahkan. Hal ini dapat difahami mengingat salah satu tolak ukur terbesar dalam mengukur peradaban adalah kesejahteraan masyarakat dan kemudahannya dalam menjalankan kelangsungan hidup, yang tentunya banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Bahkan dalam dunia industri, ukuran kemajuan revolusinya diukur dari teknologi yang digunakan dalam produksi massal, termasuk pada tingkat 4.0 belakangan ini, yang banyak dipengaruhi oleh kemampuan pertukaran data machine to machine via akses internet.

Internet menjadi kian menjamur belakangan ini. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2018 lalu, pengguna internet di Indonesia naik 10,12%, sehingga mencapai 171,17 juta pengguna dari 264 juta penduduk Indonesia, atau sebesar 64,8%. Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah umat Islam sudah maksimal dalam mengaplikasikan akses internet? Berikut penulis akan mengulas pemanfaatan internet oleh umat Islam dari berbagai bidang:

Media Da’wah & Sumber Informasi

Sudah cukup banyak media Islam yang memaksimalkan potensi internet sebagai wadah publikasinya. Konten yang disajikan pun beragam, dari fikih kontemporer, worldview Islam, hingga opini dan berita seputar Islam. Bisa dibilang cukup baik sebagai media da’wah, namun sayangnya, belum banyak media yang menjadi penyedia sumber informasi bagi pelajar muslim. Baik dari info beasiswa, rekomendasi buku dan kitab, ataupun tips perkuliahan di luar negeri. Ada baiknya jika menambahkan konten-konten tersebut demi mendukung keilmuan pelajar muslim dalam pembelajarannya.

Perantara Zakat, Infaq, dan Sedekah

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) memperkirakan, bahwa potensi zakat Indonesia pada tahun 2019 adalah sekitar Rp. 252 trilliun. Namun demikian, Zakat yang diterima BAZNAS per Mei 2019 lalu baru mencapai Rp. 8,1 trillun. Sedangkan, zakat merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa, tidak semua Muslim membayarkan zakatnya dengan perantara Badan Amil Zakat. Namun, melihat data yang disajikan oleh BAZNAS, penulis rasa zakat yang dibayarkan diluar Badan Amil Zakat pun tidak banyak. Dengan kata lain, masih banyak Muslim di Indonesia yang belum membayarkan zakat sebagaimana mestinya.

Permasalahan ini seharusnya dapat diselesaikan dengan peluncuran aplikasi yang memudahkan umat Islam untuk berkonsultasi, menghitung serta menyalurkan zakat, infaq dan sedekah. Sebenarnya sudah ada beberapa, namun belum dimaksimalkan dengan publikasi dan fitur yang memadai. Andai mebayar zakat, infaq, dan sedekah bisa semudah belanja online, mungkin dana yang didapat bisa lebih banyak membantu saudara kita yang membutuhkan.

Forum Konsultasi dan Tanya Jawab

Februari lalu, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia meluncurkan aplisaki SehatPedia. Aplikasi tersebut berfngsi sebagai layanan konsultasi kesehatan gratis yang dapat diakses melalui ponsel pintar. Inovasi seperti ini memudahkan bagi masyarakat untuk terhubung dengan ahli sebagai konsulta  pada bidang tertentu.

Bayangkan saja, apabila aplikasi seperti SehatPedia dapat diterapkan untuk permasalahan konsultasi Syari’ah. Mungkin, banyak dari permasalahan khilafiyyat di Indonesia yang dapat diselesaikan. Sehingga tidak menjadi permasalahan yang menggenang ditengah masyarakat awam. Dan akan lebih mudah tentunya untuk berkonsultasi dengan ulama yang berkopenten dalam menyelesaikan permasalahan Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Demikian banyak manfaat yang sebenarnya dapat diraih dari Internet untuk mendukung kehidupan seorang Muslim. Maka sudah seharusnya kita tidak menutup diri untuk turut mengetahui dan mempelajari apa yang bisa menjadi media dakwah dalam menegakkah tembok Agama kita. Wallahu a’lam bi al-Shawab

*penulis merupakan kru majalah La Tansa 2018-2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here