Home Tak Berkategori Isra’ Mi’raj, Hukum Akal yang Dipatahkan.

Isra’ Mi’raj, Hukum Akal yang Dipatahkan.

365
0

Oleh: Ummu Maghfiroh*

Ketika kerasnya kehidupan di bumi menimpanya, tak bermakna langit pun demikian. Begitulah sedikit gambaran bagaimana Allah menunjukan kasih sayang pada kekasih-Nya. Pasca tahun kesedihan (am al-huzn) yang menimpa Rasulullah Saw pada tahun 10 kenabian, Allah Swt menunjukkan kuasa-Nya sebagai bentuk kasih sayang. Yaitu melalui peristiwa Isra’ Mi’raj pada tanggal 27 Rajab tahun 11 kenabian, atau 2 tahun sebelum hijrahnya ke Madinah.

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu peristiwa dakwah Islam yang penting dari 3 peristiwa lainnya. Begitulah yang dipaparkan oleh Syekh Mutawalli Sya’rawi terkait peristiwa Isra’ Mi’raj. Adapun dua lainnya yaitu peristiwa pengutusan Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasul serta peristiwa hijrah Rasulullah Saw. ke Madinah.

Ketika dihadapkan dengan peristiwa tersebut -yaitu luar dari kebiasaan atau akal manusia-, akal pasti akan mengingkarinya jika tanpa didasari iman. Untuk itulah peristiwa tersebut merupakan salah satu mu’jizat Rasulullah Saw. yang harus diimani. Telah termaktub dalam al-Qur’an Surah al-Isra’ ayat pertama:

 “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Qs. Al-Isra: [17]: 1)

Aturan Akal tentang Jarak dan Waktu yang Dipatahkan

Dalam susunan kata pada sebuah bahasa kita akan mendapati tiga komponen penting di dalamnya, yaitu subjek (fa’il), kata kerja (fi’il), dan objek (maf’ul). Dan Jika hendak melihat kadar atau kekuatan sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang (fail) kita bisa melihat dari dampak yang diberikan si pelaku terhadap pekerjaan tersebut.

Misalnya, dikatakan bahwa Fulan membawa suatu barang berat, maka ‘pembawaan’ barang berat tersebut terjadi karena pelaku memberikan dampak yang kuat, dan itu menunjukan dia memang kuat. Namun ketika yang membawa barang berat tersebut adalah anak kecil atau si lemah, maka tidak bisa kita bandingkan kekuatan dan pembawaan barang berat tersebut padanya. Jadi ketika si Fulan yang kekuatannya biasa atau anak kecil tersebut membawanya maka ia punya perbandingan tersendiri, berbeda dengan kekuatan si fulan pertama yang kuat.

Untuk itu, setiap peristiwa atau kejadian kita melihatnya dari sang subjek atau pelaku. Yaitu dengan tidak menisbatkan suatu kejadian kepada qanun (aturan) pelaku lainnya yang berbeda. Seperti contoh di atas, menisbatkan si fulan yang lemah bisa membawa barang berat seperti yang si fulan kuat lakukan.

Lalu bagaimanakah dalam peristiwa Isra’ Mi’raj?

Mari kita menelisik peristiwa Isra’ Mi’raj dalam surah al-Isra ayat pertama. ‘Subhana al-ladzi asra bi abdihi’ untuk memahami peristiwa ini, kita lihat pada kalimat ‘asra‘. Yang menjalankan Rasulullah Saw. dalam peristiwa cinta malam hari tersebut adalah Allah. Maka kejadian tersebut terjadi dari kuasa Allah Swt. secara langsung. Karenanya tidak benar jika menjadikan Rasulullah Saw sebagai subjek atas kuasa Allah tersebut. Baginda Nabi pun tidak pernah mengatakan bahwa, ‘Saya yang berjalan ke sana’. melainkan ada suatu ‘Kekuatan besar’ yang menjalankannya dalam perjalanan tersebut.

Maka dari itu ketika ada yang mengatakan bahwa Rasulullah melakukan perlananan tersebut dengan kekuatannya sendiri, bukanlah suatu pernyataan yang benar. Syekh Mutawalli Asy-Sya’rowi dalam buku ringkas namun penuh makna dan pembelajaran yang diterbitkan oleh Majma’ Buhuts mengupas tuntas seputar Isra’ Mi’raj dari segi pembahasan mendalam dilihat dari pemikiran yang salim. Di antara yang beliau kemukakan bahwa Rasulullah Saw belum mendatanginya dengan kekuatannya sendiri, melainkan beliau sebagai objek pertama, yaitu yang dijalankan saat Isra’. Pendapat tersebut merujuk pada pahamaman dalil tentang Isra’ di atas dengan pendalaman bahasa Arab.

Adapun ketika kaum musyrik mengingkari kejadian tersebut dan berkata: “kami mendatanginya (masjidil aqsa) dengan unta dalam berbulan-bulan”  kemudian membandingkannya dengan apa yang terjadi pada Rasulullah Saw, bukanlah suatu diskusi dan perbandingan yang bisa diterima. Kenapa? Syekh Sya’rawi menegaskan, karena pada dasarnya subjek pada perjalanan Rasulullah Saw adalah kekuatan besar Allah Swt. sedangkan perjalanan biasa kaum yang menentang Rasulullah merupakan kekuatan biasa. Keduanya tidak sah untuk dibandingkan. Kesalahan dalam membandingkan kekuatan Allah dengan kekuatan manusia biasa menjadi kesalahan dalam berpikir. Lagi-lagi semuanya berdasar pada iman!

Poin penting pertama, kita telah mengetahui bahwa subjek perjalanan Isra’ Nabi Muhammad Saw merupakan Allah Swt yang menjalankannya bukan kekuatan dan aturan manusia biasa. Untuk itu tidak sah jika menerapkan mukjizat Rasulullah Saw, yakni Isra Mi’raj, ke aturan manusia biasa. Mengapa? Karena setiap kejadian akan berbeda dengan subjek yang melakukannya baik dalam kekuatan, jarak, waktu dan lain sebagainya.

Asumsi ini dikuatkan oleh Syekh Sya’rawi menunjukkannya dalam suatu permisalan, yaitu seorang ayah yang mengatakan: “Saya dan anak saya yang masih bayi mendaki Gunung Himalaya.” (Sha’adtu ana bi ibnii al-radhi’ ila jabal Himalaya) Ketika terdapat pernyataan tersebut, akal tidak akan mengingkari, melainkan akal akan menerimamya saja. Lain halanya jika dikatakan “anak saya yang masih bayi naik gunung Himalaya.” Maka pernyataan tersebut akan diinkari. Logikanya jika kekuatan makhluk saja bisa kita imanii, kenapa untuk mengimanai kekuatan yang lebih besar dari siapapun kafir Quraisy tidak bisa?

Begitupula berkaitan dengan waktu dalam hal yang dilakukan. Artinya kecepatan suatu hal tergantung pula dengan kekuatan dan subjek. Seperti ketika melakukan perjalanan menggunakan onta, berbeda dengan perjalanan yang dilakukan dengan mobil atau motor di suatu jalan di tengah padang pasir.

Perjalanan Isra yang dilakukan selama satu malam tersebut, tidak bisa dinafikkan karena dengan kekuatan Allah Swt.  Lalu mengapa membutuhkan waktu semalam dan tidak terjadi secara langsung saja?

Dalam peristiwa Isra, Rasulullah menaiki buraq yang secepat kilat, hingga dalam sekejap bisa sampai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Buraq tersebut merupakan bukti kekuatan dari Allah Swt. Selain unsur kendaraan yang perlu kita ketahui, dalam Isra ditunjukkan pada Rasulullah Saw. berbagai tanda dan kejadian yang mana di baliknya terselip pelajaran. Peristiwa-peristiwa yang ditunjukkan pada Rasulullah Saw. tersebut membutuhkan waktu sedangkan kendaraan dalam perjalanan Rasulullah tidak berkaitan dengan waktu.

Pengingkaran kaum musyrik pada peristiwa Isra’ Mi’raj, mengandung banyak hikmah dan pelajaran. Salah satunya menjadi bukti kebenaran Rasulullah Saw hingga banyak dari karya para ulama yang mengabadikan peristiwa tersebut dan kita mampu membacanya. Semakin banyak pengingkaran yang dilontarkan, semakin kuat pula kebenaran Rasulullah Saw dalam peristiwa tersebut. Logikanya, seperti yang Syekh Sya’rawi katakan, kalau itu mimpi untuk apa kaum kafir Quraisy repot-repot mengingkarinya. Sedangkan mimpi itu umumnya dibiarkan. Apalah arti orang yang ngigo di mimpinya. Nah, pengingkaran kafir Quraisy tersebut justru menjadi bukti bahwa Isra Mikraj benar-benar terjadi, begitulah yanh Syekh Sya’rowi tegaskan.

Selain itu, peristiwa tersebut juga menjadi ujian bagi umat Nabi Muhammad Saw. Apakah mempercayai kekasih Allah, Rasulullah Saw. dalam peristiwa tersebut atau terhasut perkataan yang menentangnya? Begitupula untuk melihat siapakah yang membenarkan dan mempercayainya.

Hingga seorang yang membersamai Rasulullah Saw. di Gua Hira -ketika Hijrah ke Madinah-, adalah satu-satunya yang mempercayainya,

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” [Qs. At-Taubah [10]: 40]

Itulah Sayyidina Abu Bakar yang kemudian mendapat gelar Al-Siddiq, karena kepercayaannya dan pembenarannya terhadap peristiwa Isra Mi’raj saat orang-orang mengingkarinya.

Begitulah perjalanan Isra sebagai pendahuluan bagi akal manusia untuk mempercayai Rasulullah Saw. ketika mengkabarkan tentang peristiwa Mi’raj. Setelah aturan waktu dan jarak dipatahkan yang berhubungan tentang bumi, maka tidak dinafikkan lagi bahwa aturan langit dan udara pun mampu dipatahkan. Karena Allah Swt. yang menciptakan berbagai aturan di alam ini, maka bagi-Nya pula kekuatan untuk meniadakan aturan-aturan tersebut. Hingga peristiwa yang menjadi mukjizat Rasulullah Saw. tidak ada yang mampu mendatangkan sepertinya, karena keluar dari kebiasaan dan kewajaran manusia yang Allah karuniakan pada Nabi dan Rasul-Nya. Wallahu A’lam bi al-Showwab.

*Penulis adalah Pimpinan Umum Majalah Latansa IKPM Kairo 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here