Home Artikel Jejak Kurban dalam Kemuliaan Nasab Rasulullah Saw

Jejak Kurban dalam Kemuliaan Nasab Rasulullah Saw

93
0

Oleh: Nafisah Alliyah*

Dzulhijah, merupakan bulan terakhir dalam kalender Islam. Secara harfiah Dzulhijah terdiri dari dua kalimat, Dzu artinya pemilik dan al-Hijjah artinya para pengunjung baitullah. Selain menjadi salah satu perayaan umat Islam seluruh dunia, dalam konteks syariat hari raya Idul Adha menjadi lebih agung peringatannya ketimbang hari raya Idul Fitri. Sebagaimana ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, dari segi takbir yang dikumandangkan. Rentan waktu takbir saat hari raya Idul Fitri, dimulai sejak awal malam 1 Syawal, hingga pagi hari dimana shalat ied telah dilaksanakan. Berbeda dengan hari raya Idul Adha yang dianjurkan untuk mengumandangkan takbir hingga 3 hari tasyrik. Dengan ini terhitung hingga 4 hari, dimulai dari malam hari arafah. Mengapa demikian? Karena ketika hari tasyrik, umat muslim masih diperbolehkan untuk menyembelih hewan kurbannya. Dengan ini, menjadi faktor utama lafadz takbir terus dikumandangkan.

Kedua, jumlah hari yang diharamkan puasa pada bulan Syawal hanya sehari pertama saja. Dibandingkan dengan hari raya Idul Adha, yang diharamkan berpuasa selama 4 hari (10-13 Dzulhijah).

Ketiga, tepat hari raya Idul Adha menjadi wadah pemersatu kaum muslim seluruh dunia dalam melaksanakan ibadah haji. Semestinya ini menjadi bentuk konferensi mereka untuk membahas persoalan-persoalan umat Islam. Hal ini ditandai dengan adanya para jamaah haji yang wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah. Dan sebagai bentuk solidaritas sesama umat muslim, bagi mereka yang tidak haji, disunnahkan untuk berpuasa pada tanggal 8 dan 9 Dzulhijah.

Kempat, hari raya Idul Adha juga ditandai dengan penyembelihan kurban oleh seluruh umat Islam didunia yang mampu melaksanakannya. Sesuai dengan makna yang terambil dari kata taqarrub, manfaat dari adanya syariat berkurban guna mendekatkan diri kepada Allah SWT, salah satunya ikhlas untuk saling berbagi.

Syariat Kurban dan Kemuliaan Nasab Rasulullah.

Ditinjau secara historis syariat kurban telah ada  dari kisah keturunan nabi yang pertama, Habil dan Qabil anak dari nabi Adam As. Habil adalah seorang peternak, sedangkan Qabil adalah seorang yang ahli bertani. Pada masanya, datanglah dimana Allah SWT menguji keimanan mereka.

Mereka dipertintahkan untuk mengeluarkan dari apa yang telah mereka usahakan. Dengan keyakinan dan keikhlasannya, Habil mengeluarkan hewan ternaknya yang paling layak. Sedangkan Qabil, hanya mengeluarkan hasil pertaniannya yang sudah mau membusuk. Maka berkatalah Habil, tidaklah Allah SWT menerima kurban seseorang kecuali dengan ketaqwaan dan keikhlasan seorang hambanya.

“Daging (hewan kurban) dan darahnya, itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah SWT, tetapi yang sampai kepada-Nya ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah SWT atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS:Al-Hajj: 37)

Selanjutnya, sering sekali kita dengar, tentang nabi Ibrahim yang menerima wahyu untuk menyembelih anaknya nabi Ismail as. Menjadi bentuk keikhlasan dan ujian ketaqwaan seseorang hamba yang luar biasa bagi nabi Ibrahim.

Perintah Allah agar Nabi Ibrahim AS mengorbankan anaknya adalah simbol mengorbankan apa yang paling dicintai untuk Tuhan. Nabi Ibrahim AS pun melakukannya, Nabi Muhammad SAW melanjutkannya, dan diabadikan dalam syariat Kurban. Sebuah ibadah yang berdimensi vertikal (ketaatan pada Allah) dan horizontal (sedekah dagingnya).

Kisah yang terakhir, bisa dibilang cukup jarang terdengar oleh masyarakat umumnya. Kisah hendak disembelihnya Abdullah bin Abdul Mutholib ayah Nabi Muhammad Saw. Ketika Abdul Muthalib menggali zam-zam, banyak suku Quraisy yang berusaha merebutnya atau meminta agar dimiliki bersama. Namun Abdul Muthalib tidak bersedia. Sementara Abdul Muthalib tidak memiliki banyak keturunan lelaki. Akkhirnya dia bernadzar, jika memiliki 10 anak lelaki, maka akan disembelih satu. Dengan harapan, ketika anak lelakinya banyak, dia bisa lebih leluasa dalam mengelola zam-zam.

Abdul Muthollib pun bernazar. “Apabila saya memiliki 10 anak, maka ia akan mengorbankan salah satu anaknya sebagai bentuk rasa syukurnya.” Setelah beberapa tahun kemudian, Allah mengabulkan doanya. Alhasil, Abdul Muthollib juga harus memenuhi nazarnya.

Namun, para kerabat dan pemuka kaum Quraisy menentang keputusan tersebut. “Bagaimana mungkin engkau mengorbankan salah satu dari anakmu, sedangkan kau adalah pemuka kami disini. Niscaya hal tersebut akan menjadi tradisi yang berkelanjutan bagi kaum Quraisy.” Dengan mempertimbagngkan perkataan itu, Abdul Muthollib pergi dan menemui seorang Rahib. Akhirnya, sang Rahib menyuruhnya untuk datang keesokan harinya.

Hari kedua Abdul Muthollib menemui sang Rahib kembali. Rahib itu menyuruhnya untuk mengambil sepuluh bilah lempengan kayu, dan menuliskan semua nama anak-anaknya di salah satu sisi dari setiap kayu tersebut. Dan terakhir lempengan kayu tersebut dibalik dan diacak, untuk memutuskan salah seorang nama dari sepuluh anaknya.

Setelah diacak dan diambil, keluarlah nama Abdullah -anak keempat yang paling disayang olehnya-. Abdul Muthollib akhirnya bertanya, bagaimanakah caranya ia bisa menuntaskan nazarnya, namun anak juga tetap utuh tanpa ada yang dikorbankan. Sang Rahib hanya menjawab, untuk mengikuti dahulu apa yang ia perintahkan.

Diambillah 2 lempengan kayu. 1 lempengan kayu yang telah tertulis nama Abdullah. Dan satu lempeng lagi kayu yang kedua sisinya kosong tanpa tulisan apapun. Sang Rahib  mengacak kembali lempengan itu, dan menyuruh Abdul Muthollib untuk mengambilnya. Jika yang terambil adalah lempengan kayu yang sala satu sisinya terdapat nama Abdullah, maka gantinya terhitung qurban unta 10 ekor. Taruh dan acak ulang. Dan pengambilan kayu tersebut bergenti hingga kayu yang didapat adalah kayu yang kedua sisinya tanpa tulisan apapun.

Dilakukanlah Abdul Muthollib dengan disaksikan para kaum Quraisy. Hingga perputaran pertama, kedua, ketiga, nama Abdullah selalu saja terambil. Hingga akhirnya pada putaran ke-sepuluh, baru terambillah kayu yang tanpa tulisan tersebut. Dengan ini, gugur nazarnya dengan membelih 100 ekor unta. Tepat pada saat itu, menjadi sejarah kaum Quraisy dan qabilah-qabilah disekitar Mekkah untuk makan daging unta yang diberikan oleh Abdul Muthollib.

Kejadian ini menunjukkan bagaimana perlindungan yang Allah berikan untuk terlahirnya Nabi terakhir, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada peluang ayahnya meninggal sebelum menikah, namun Allah jaga kehidupan Abdullah dari keinginan Abdul Muthalib untuk menyembelihnya.

Selamat hari raya Idul Adha 1440 H

*Penulis adalah Editor Majalah La Tansa 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here