Home Artikel Kemuliaan Nur Sayyidina Muhammad Saw.

Kemuliaan Nur Sayyidina Muhammad Saw.

208
0

*Oleh: Habib Maulana

Dalam sebuah tradisi sufi, terdapat keyakinan tentang cikal-bakal penciptaan alam semesta ini berasal dari cahaya Nabi Muhammad Saw. Karena dengan penciptaan makhluk, Allah akan menampakan kebesaranNya.

Seperti dalam Hadits Qudsi bahwasanya Allah berfiman, Kuntu kanzan mukhfiyan fa ahbabtu an ‘urafa fa khalaqtu al-khalqa fabi ‘arafuni. Aku adalah harta tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Kuciptakan makhluk. Dengan Aku, mereka akan mengenalKu. Terlepas dari berbagai perdebatan shahih atau dhaif, para ulama sufi menerima Hadits Qudsi ini sebagai bukti keagungan Nabi Muhammad Saw.

Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Madarij al-Shu’ud syarh Barzanji mengutip perkataan Ka’ab al-Ahbar tentang penciptaan Nur Sayyidina Muhammad. Beliau mengatakan, ketika Allah menginginkan untuk menciptakan alam semesta, Dia mengambil sedikit dari cahayaNya dan diciptakanlah dari cahayaNya, nur Muhammad Saw.

Dengan nur Muhammad, Allah membagi ciptaanNya menjadi 4 bagian. Bagian pertama menjadi Lauh, bagian kedua menjadi Qalam. Setelah selesai penciptaan Qalam, Allah berkata kepadanya, “Tulislah!” Mendengar keagungan perintah Allah, ia terdiam selama 1000 tahun. Setelah itu ia berkata, “Apa yang aku tulis?” Allahpun berfirman kepadanya, “Tulislah kalimat La Ilaha Illa Allah!”

Dari kalimat inilah lahir Ilmu Allah yang diturunkan kepada makhluk-Nya yang menjadi petunjuk bagi mereka. Setelah Ia menulis kalimat mulia itu, ia kembali diperintahkan menulis ketetapan untuk umat manusia. Ia mulai menulis ketetapan dari manusia pertama, Adam As dan para keturunannya, “Barangsiapa yang taat kepadaNya, maka Allah akan memasukan mereka ke syurga dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaNya, mereka akan dimasukan ke dalam neraka.”

Setelah itu ia menuliskan ketetapan untuk para pengikut Nabi Syits hingga Nabi Isa dan para pengikutnya dengan ketetapan yang sama; siapa yang taat akan mendapatkan syurga dan siapa yang bermaksiat akan dimasukan ke dalam neraka.

Begitu juga Qalam diperintahkan oleh Allah Swt untuk menulis ketetapan untuk umat Nabi Muhammad, ia menuliskan, “Barangsiapa yang taat kepada Allah, ia akan masuk syurga dan barangsiapa yang bermaksiat kepadaNya…” ketika ia hendak menuliskan “maka ia akan masuk neraka”, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, “Beradablah kamu di hadapan umat Muhammad” (atas kemuliaan Nur Nabi Muhammad), maka ia menggantinya ketetapan dengan, “Barangsiapa yang bermaksiat kepadaNya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun.” Sebagai bukti kecintaan Allah kepada kekasihNya.

Bagian ketiga dari nur Nabi Muhammad menjadi ‘ArsyNya dan dari bagian terakhir dari cahayanya, Allah menciptakan 4 bagian lagi. Bagian pertama Allah ciptakan akal, bagian kedua tercipta makrifat, dari bagian ketiga Allah ciptakan cahaya ‘Arsy dan seluruh cahaya yang ada di kehidupan ini, sehingga tak ada satupun cahaya yang mampu menandingi keindahan cahayanya.

Bagian terakhir dari nur Muhammad, Allah simpan di bawah ‘ArsyNya. Lantas, ketika Allah menciptakan Adam As, Dia menitipkan cahaya Rasulullah di pundaknya. Melihat cahaya yang berada di pundak Adam, para Malaikatpun bersujud kepadanya atas kemuliaan cahaya yang berada di dirinya.

Allahpun memasukan Adam As ke Syurga. Ketika Nabi Adam As memasuki syurga, seluruh malaikat hanya berdiri dibelakangnya dengan membuat barisan, sambil terus menatap Nur Muhammad. Nabi Adam bertanya kepada Allah, apa yang membuat para malaikat berbaris -membuat shaf -melihat Nur Muhammad. Allah berkata kepada Adam, “Sesungguhnya ia adalah kekasihKu. Dialah Nabi terakhir, penutup semua Nabi.”

Cahaya Muhammad selalu dipindahkan dari satu manusia mulia ke manusia mulia lainnya. Sejak diciptakannya Adam As, Allah menitipkan cahaya itu kepadanya hingga cahaya tersebut terus berpindah kepada Abdullah bin Abdul Muthalib. Dari pasangan Abdullah dan Aminah, lahirlah manusia yang mulia, pemimpin para Nabi, cahaya bagi kegelapan, Baginda Muhammad Saw.

Ada sebuah ungkapan indah yang disampaikan oleh Ahmad Syauqi Bik, Penyair ternama Mesir, ketika Ia menyanjung Rasulullah dengan syairnya. Di awal bait ia menuliskan Wulida al-Huda falkainatu dhiya, Telah lahir seorang kekasih semesta alampun dikelilingi oleh cahaya indah. Menurut riwayat, diceritakan bahwasanya Rasulullah bertanya kepada Jibril, “Wahai Jibril, berapa umurmu?” Jibril menjawab, “Tentu banyak ya Rasulullah”

Kemudian Rasulullah kembali bertanya kepada Jibril, “Dengan umur sebanyak itu, apa hal yang paling berkesan dalam umurmu?” Jibril berkata, “Wahai Rasulullah, setiap 70 ribu tahun sekali selalu datang cahaya yang menembus langit, cahayanya sangat indah sehingga seluruh alam terpesona dengannya. Setelah genap cahaya itu lewat sebanyak 70 ribu kali, disitulah puncak dari segala keindahan itu terjadi.”

“Kapan itu Jibril?” Nabi kembali bertanya.
“Ketika engkau dilahirkan ya Rasulullah.” Jawab Jibril
“Lalu kemudian Allah memerintahkanku untuk untuk membawa seluruh malaikat turun ke bumi. Ia memerintahkan seluruh malaikat untuk menyambut kedatangan Nabi terakhir,” tambahnya.

Kemudian Allah menyuruh Jibril untuk mengumpulkan para Nabi dan Rasul untuk menyambut Imam para Nabi dan Rasul, kekasihNya, cahaya di atas seluruh cahaya alam semesta. Seluruh alam bergembira dengan lahirnya manusia mulia, Baginda Muhammad Saw.

Imam Ghazali pun mengatakan bahwa nur Muhammad dengan cahaya Allah memiliki keterikatan yang sangat kuat. Dalam kaidah mantiq dikatakan bahwa esensi setiap bagian tidak bisa dipisahkan oleh esensi Maqsum sehingga esensi dari nur Muhammad tidak bisa dipisahkan dari asal-muasalnya. Begitupun alam semesta ini merupakan satu bagian dan nur Muhammad sebagai asal dari bagian tersebut.

Maka tak heran jika cahaya matahari yang mengenai tubuh Rasulullah tak mampu untuk menciptakan siluet atau bayangan. Karena cahaya yang terpancar dari Matahari merupakan sebagian kecil dari nur Muhammad. Dialah kekasihNya, cahaya di atas cahaya.

Hari ini merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad yang selalu diperingati setiap tahunnya. Orang yang tidak bahagia dengan kelahirannya, pada dasarnya tidak mengetahui eksistensi manusia mulia, Nabi Muhammad Saw. Hingga dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Abu Lahab, seorang yang sangat membenci Rasulullah, mendapatkan keringanan siksa setiap hari senin, karena ia ikut berbahagia dengan kelahiran manusia mulia ini.

Di hari yang mulia ini, marilah kita memperbanyak shalawat kepada baginda besar Muhammad Saw. Dengan harapan, kelak Rasulullah akan berbahagia menerima kita sebagai umatnya. Allahuma Shali ‘ala Muhammad.

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas al-Azhar Kairo

Sumber foto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here