Home Tak Berkategori Kenapa Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram?

Kenapa Masjidil Aqsha dan Masjidil Haram?

257
0

Oleh: Risma Zuhdiyyah*

Isra Mi’raj merupakan salah satu pengalaman spritual luar biasa yang dialami oleh Nabi Saw. Sebuah peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah Islam dan terekam di beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Kejadian ini pada saat umur Rasulullah menginjak 50 tahun, setelah wafatnya istri beliau Sayyidah Khadijah binti Khuwailid Ra. Melalui perjalanan pada malam hari itu, Allah hendak menghibur keadaan hati Sang Rasul Saw.

Isra secara istilah berarti perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina), dan mi’raj adalah perjalanan Rasulullah Saw dari Masjidil Aqsha naik menuju sidrat al-muntaha. Terkait 2 tempat yang pernah menjadi saksi kejadian Isra Mi’raj, yakni Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, penulis akan membahasnya melalui pendekatan historis.

Masjidil Haram

Titik tolak sebelum Rasulullah Saw melakukan perjalanan isra menuju Masjidil Aqsha adalah Masjidil Haram. Mungkin sejenak terbesit dalam pikiran kita, mengapa Masjidil Haram?

Menurut Nurcholish Madjid dalam bukunya yang berjudul Islam Agama Peradaban, alasan pertama yakni karena Rasulullah Saw berasal dari Mekkah dan tinggal disana. Alasan kedua, terkait sejarah Masjidil Haram itu sendiri, mengandung makna bahwa Makkah sebagai titik tolak semua ajaran para Nabi dan Rasul, yaitu Tauhid dan Islam. Dalam makna lain yang lebih mendalam, Makkah melambangkan permulaan ajaran agama tauhid, ajaran tentang ketuhanan yang Maha Esa. Dan Makkah, sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an adalah rumah suci atau tempat ibadah yang pertama kali dibangun untuk umat manusia,

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”(Qs. Ali ‘Imran [3]: 96)

Dalam beberapa riwayat menurut para ulama, Masjidil Haram didirikan olah Nabi Adam As. Yang dimaksud disini adalah ka’bah. Pada saat itu ka’bah didirikan dengan bahan yang masih terbilang sederhana, sehingga keberadaannya tidak bertahan lama. Kemudian Nabi Ibrahim Ra dan putranya, Ismail melanjutkan pembangunan ka’bah tersebut dengan mengangkat fondasinya.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 127)

Terkait perpindahan kiblat yang semula menghadap Masjidil Aqsha, kemudian atas perintah Allah kiblat dipindahkan ke arah Masjidil Haram. Dahulu kala tepatnya sebelum Rasulullah Saw berhijrah ke Madinah, Rasul Saw berkiblat menghadap ke arah Masjid al-Aqsha. Sewaktu berada di Makkah, Rasulullah lebih memilih untuk shalat di bagian selatan ka’bah, karena pada saat yang sama, Rasul ingin menghadap ka’bah dan tetap berkiblat ke arah Masjid al-Aqsha. Namun pada saat hijrah ke Madinah, Rasul tidak dapat melakukan hal demikian seperti ketika beliau di Makkah. Rasul Saw tetap shalat berkiblat menghadap ke Baitul Maqdis, namun dengan perasaan kurang tentram karena posisi beliau membelakangi ka’bah. Akhirnya, Rasul memohon dan berdoa kepada Allah Swt sampai pada akhirnya turunlah firman Allah:

Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 144)

Menurut sejarah, Khalifah Umar bin Khattab Ra adalah yang pertama kali membangun tembok dan dinding sekeliling Masjidil Haram, kemudian perluasan dilanjutkan secara urut oleh khalifah-khalifah yang menjabat setelahnya. Renovasi demi renovasi pun terus dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi sampai saat ini.

Masjidil Aqsha

Titik transit setelah melakukan isra, sebelum Rasulullah melakukan mi’raj menuju sidratul muntaha. Pada saat itu Masjidil Aqsha dalam artian bangunan fisiknya tidak ada, kecuali hanya beberapa bagiannya yang kurang penting.

Terkait apa yang terjadi pada Masjidil Aqsha dalam catatan sejarah masa lampau, yaitu saat Nabi Dawud As berhasil melawan Jalut dan bala tentaranya. Masih dalam sebuah misi yang sama dengan Nabi Musa As, Nabi Dawud melanjutkan perjuangan Nabi Musa yang belum seslesai untuk membebaskan Bani Israel (Anak cucu Bani Ya’qub) dari penindasan Fir’aun untuk membawa mereka ke Kana’an (Palestina Selatan). Menurut keterangan, pasukan Nabi Dawud dibawah pimpinan Thalut dengan jumlah bala tentaranya yang terbilang sedikit jumlahnya, berhasil menaklukkan bala tentara Jalut dengan jumlah lebih banyak. Sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an,

Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya. Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 249)

Renungan yang dapat kita ambil dari kisah Nabi Dawud As, betapa pentingnya segi kualitas apabila dibandingkan dengan segi kuantitas. Kemenangan tersebut juga semata menunjukkan bahwa kesabaran, tekad dan semangat yang kuat, serta ketaatan pasukan Nabi Dawud kepada pemimpin mereka Thalut merupakan beberapa faktor yang tidak dapat terlepaskan. 

Nabi Dawud pun berhasil menaklukkan Yerusalem dan mendirikan Masjidil Aqsha, kemudian Nabi Sulaiman melanjutkan pembangunan Masjidil Aqsha oleh Nabi Daud As, menggantikannya dengan bangunan yang besar dan amat megah. Orang Makkah menyebutnya Masjidil Aqsha, karena jauh dari Mekkah. Disebut juga Haikal Sulaiman. Dikenal orang Arab dengan sebutan Baitul Maqdis, atau al-Bayt al-Muqaddas yang berarti kota atau tempat yang suci.

Masijidil Aqsha mengalami kehancuran hebat sebanyak dua kali. Penghancuran pertama oleh Raja Nebuchadnezzar yang berasal dari Babilonia, dan kedua olah Kaisar Titus yang berasal dari Romawi pada tahun 70 M. Terkait dua peristiwa tersebut sudah termaktub dalam Al-Qur’an (Surah al-Isra’: 4-8). Meski dengan berbagai versi para mufassir berusaha menerangkan tentang dua kejadian itu. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memaparkan bahwa kemungkinan eksekutor peristiwa penghancuran tersebut adalah balatentara Raja Sunjarib dari al-Maushil, kemungkinan juga Nebukadnezzar dari Babilonia.

Patrick Sophronius (ia adalah salah satu petinggi agama Romawi Timur) sebagai penguasa Yerusalem saat itu, menurutnya karena begitu pentingnya kota itu bagi kaum Muslim, maka Patrick tidak akan menyerahkannya kecuali kepada pemimpin tertinggi umat Islam pada saat itu, Yaitu Khalifah Umar bin Khattab Ra. Ketika menerima kota tersebut Umar menyatakan bahwa kota Yerussalem adalah kota suci tiga agama; Islam, Yahudi, dan Kristen.

Menurut keterangan Ibnu Khaldun, ketika Khalifah Umar selesai membuat sebuah perjanjian dengan Patrick Sophronius, Umar hendak shalat sebagai wujud syukur atas terbebasnya Yerussalem. Karena perjanjian tersebut diadakan di gereja, Patrick mempersilahkannya untuk melaksanakan shalat di gereja tersebut, namun Umar menolak. Ia berjalan keluar dan pergi ke sebuah tangga agak jauh dari gereja tadi, lalu melaksanakan shalat disana. Khalifah Umar sengaja tidak melaksanakan shalat di gereja tersebut, dengan alasan saat itu masih dalam suasana perang, ditakutkan apabila Umar melaksanakan shalat di gereja tersebut maka rakyat mengira bahwa gereja tersebut sudah menjadi masjid.

Kemudian Khalifah Umar bertanya kepada Patrick, “Dimana kah bekas masjidnya Nabi Sulaiman?” Patrick mengajak Umar mendaki bukit Moria, ketika masuk kompleks masjid itu dan dilihatnya di atas batu suci terdapat sampah menggunung yang dilemparkan orang-orang Nasrani sebagai penghinaan kepada orang Yahudi. Umar sangat marah, kemudian perlahan membereskan dan membersihkan tempat itu. Di sekitar situ terdapat shakhrah, yang dahulu pernah menjadi kiblat Rasulullah Saw sebelum pindah ke Makkah. Di tempat itu, Umar memerintahkan untuk didirikan masjid -kini Masjidil Aqsha- sebagaimana dipaparkan olah Ibnu Khaldun.

Dapat disimpulkan, bahwa peristiwa Isra Mi’raj adalah salah satu bukti kekuasaan Allah Swt. Sejarah dua masjid ini pun seakan memberikan indikasi bahwa dipilihnya kedua masjid tersebut bukanlah tanpa sebab, disamping kita bukan ingin mengatakan ketetapan-Nya dilandasi oleh sebab. Hanya sebuah pendekatan. Dalam riwayatnya Rasul juga pernah mengatakan: “jangan melakukan persiapan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjidku ini, dan Masjidil Aqsha.  

Kejadian luar biasa yang beroperasi sesuai dengan kehendak Ilahi ini pun bahkan tidak dapat dijangkau oleh pemikiran manusia. Peristiwa ini juga sebagai bukti kebenaran Islam dan penyempurna risalah kenabian serta memiliki hubungan yang begitu erat dengan sejarah agama Islam, dan perlahan akan terungkap dari masa ke masa. Terkait ayat-ayat isra mi’raj yang sudah terekam dan terbukti dengan kejadian masa lampau yang sarat akan makna sejarah, seakan menyuratkan hikmah bahwa kita sebagai manusia diamanati untuk bisa mentadabburi dan dan mengambil pelajaran darinya.

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Ushuluddin al-Azhar dan pegiat Kajian Arrazi IKPM Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here