Oleh : Alfa Rosida*

Di sebuah kantor, ketika jam telah menunjukkan waktu shalat dzuhur seorang karyawan masih sibuk di depan meja kerjanya. Setelah satu jam berlalu barulah ia pergi ke mushala untuk menunaikan shalat setelah itu ia bergegas pergi untuk menatap layar komputernya lagi. Di kemudian hari sang karyawan mendapat panggilan untuk menghadap pimpinan perusahaan.  Ia mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Mulai dari penampilan, kecakapan dan lain seterusnya. Bahkan ia rela datang lebih awal dan menunggu datangnya sang pimpinan. Akan tetapi berbeda halnya ketika hendak menunaikan shalat, ia hanya pergi ke mushala tanpa ada persiapan. Shalat yang ia lakukan seakan-akan hanya untuk menggugurkan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Seringkali seseorang bisa bertahan berjam-jam di depan layar handphone akan tetapi ketika mengikuti shalat berjamaah selama setengah jam bahkan berjam-jam ia tak sanggup. Ketika sedang shalat jasad berdiri di atas sajadah, akan tetapi bisa jadi sang hati sedang berada di tempat lain hingga terkadang ia lupa berapa jumlah rakaat yang sudah dilakukan. Saat itu seakan-akan hanya anggota gerak saja yang ikut shalat berjama’ah sedangkan hatinya tidak.

Jika kita meruntut kembali kepada zaman rasul dan para sahabat betapa mereka bisa bertahan lama dalam shalat mereka. Mereka menikmati tiap gerakan shalat dengan khusyuk seolah tak peduli dengan keadaan dunia di sekitarnya.

Suatu hari di zaman Rasulullah Saw. tepatnya dalam pertempuran Dzat Ar-riqâ’  dua orang dari pasukan muslim ditugaskan untuk berjaga malam. Salah seorang dari mereka berasal dari kaum Muhajirin yang bernama Ammar bin Yasir dan orang yang kedua berasal dari kaum Anshar yang bernama Abbad bin Bisyr. Keduanya bersepakat bahwa yang berjaga pertama adalah Abbad dan Ammar berjaga setelahnya. Ketika berjaga setelah merasa kondisi sudah aman, Abbad menunaikan shalat malam. Ternyata ada seorang musuh yang mengintai dan kemudian melesatkan anak panah tepat di tubuh Abbad yang sedang shalat. Seketika ia mencabut anak panah tersebut dan melanjutkan shalatnya kemudian sang musuh melepaskan anak panah kedua kalinya dan Abbad tetap melakukan hal yang sama. Sang musuh merasa heran dan akhirnya memanah untuk ketiga kalinya dan Abbad masih melanjutkan shalatnya. Hingga setelah selesai shalat Abbad membangunkan Ammar yang sedang tidur. Setelah bangun Ammar terkejut melihat Abbad yang telah bersimbah darah di tubuhnya. Lalu ia menanyakan mengapa Abbad tidak menghentikan shalatnya ketika ia tertusuk panah. Abbad menjawab ia tidak menghentikannya karena ia sedang membaca ayat-ayat Allah Swt. dan menikmatinya hingga ia enggan memutusnya. Dan jika bukan karena amanah untuk melindungi nabi Muhammad Saw. dan kaum muslimin ia akan membiarkan musuh membunuhnya hingga ia selesai shalat. Begitulah kehusyukan para sahabat ketika sudah hanyut dalam shalat mereka.

Lalu mengapa para sahabat bisa menikmati shalat mereka? Bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan shalat seperti mereka?

Bisa jadi kita belum bisa melakukannya karena kita belum memahami makna shalat yang sesungguhnya. Secara bahasa shalat diartikan sebagai doa, sedangkan menurut istilah shalat adalah ibadah yang diawali dengan Takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dengan syarat dan rukun yang telah di tetapkan dalam syari’at. Selain itu shalat adalah ibadah yang paling utama bagi seorang muslim, sebagaimana ia adalah satu-satunya ibadah yang diperintahkan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj dimana saat itu nabi Muhammad Saw. naik ke langit ke tujuh untuk menerima perintah dari Allah Swt. secara langsung. Dan masih banyak lagi keutamaan -keutamaan yang terdapat pada ibadah yang satu ini.

Namun di samping pengertian shalat yang telah disebutkan, ada hal lain yang tak kalah penting untuk dipahami. Shalat adalah pertemuan kita dengan tuhan kita. Karena itulah kita harus menyadari siapa kita dan siapa tuhan kita −Dialah yang menghidupkan , mematikan memberi rezeki, dan yang paling berkuasa atas diri kita− dengan begitu kita bisa tahu seberapa pentingnya pertemuan itu dan persiapan seperti apa yang harus dilakukan sebelumnya. Dan jika kita ingin menikmati sebuah pertemuan, kita harus bisa mengambil hati orang yang kita temui dan berbicara santai untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan. Dengan begitu kita bisa bertahan lama dalam pertemuan itu tanpa menyadari berapa banyak waktu yang telah terlewatkan.

Jika suatu pertemuan adalah pertemuan yang indah, maka akan jadi pertemuan yang dirindukan dan dinanti-nantikan. Layaknya pertemuan seseorang dengan kekasihnya. Mungkin seperti itulah gambaran shalatnya nabi dan para sahabat yang bisa sangat khusyuk dalam shalatnya.

Jika kita telah memahami dan menyadari makna shalat yang sesungguhnya, semoga kita bisa mengamalkan shalat dengan baik, menikmati, meresapi, menjalaninya dengan hati dan tidak menganggapnya sebagai beban agar mendapatkan manfaat yang nyata dari shalat yang telah kita kerjakan. Wallahu a’lam bi al-awâb.

*Penulis adalah anggota Rumah Syariah Mesir dan Mahasiswi Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar, Kairo. 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here