Home Opini Khataman Qur’an, Tradisi Salaf yang mulai Dikesampingkan

Khataman Qur’an, Tradisi Salaf yang mulai Dikesampingkan

328
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Sebagian orang berasumsi bahwa tidak perlu berlomba-lomba dalam mengkhatamkan al-Quran. Yang bagus itu berlomba-lomba untuk memahami isi dan kandungan al-Quran. Sebab, kata mereka, berapa banyak orang yang sering mengkhatamkan al-Quran tapi tidak memahami maknanya lantas tidak bisa bertadabbur dengannya.


Asumsi ini saya dapatkan dari salah satutulisan yang ada di media sosial. Entah banyak yang mengamininya atau tidak, alakullihal asumsi ini akan tetap ada dan menyebar. Dan bagi saya perkataan ini ada indikasi menyampingkan kegiatan mengkhatamkan al-Quran, walaupun tidak secara gamblang. Padahal, jika kita telisik, khatam Quran adalah praktek yang dilakukan oleh para salaf kita, dari sahabat Nabi dan para tabiin. Untuk itu mari kita lihat bagaimana semangat mereka dalam mengkhatamkan al-Quran.

Syekh Abdullah Sirajuddin al-Husaini, ulama kenamaan Syiria berkata bahwa diantara tradisi para salaf jika masuk bulan Ramadhan adalah mengkhatamkan al-Quran dalam shalat Tarawih. Dan ini beragam; Ada yang mengkhatamkan selama sepuluh hari, ada yang tujuh hari dan ada yang tiga hari. Ada juga yang mengkhatamkannya diluar Tarawih, namun masih saat Ramadhan. Imam Syafii dan Abu Hanifah, misalnya, mengkhatamkan al-Quran sebanyak dua kali dalam sehari. Atau Imam Bukhari yang khatam sekali dalam sehari, dan mengakhiri khatamannya saat berbuka dengan harapan mendapatkan doa mustajab di waktu tersebut. Atau yang lebih menakjubkan lagi, Imam Mujahid bin Jabr yang mampu khatam antara waktu maghrib dan Isya pada bulan Ramadhan.

Fenomena ini bukan amalan yang dilakukan asal-asal. Mereka menyontoh baginda Nabi dan para sahabat yang memanjangkan bacaannya saat solat tarawih atau diluar itu. Hingga mereka pun mengikutinya. Kita pasti sudah populer dengan kisah sahabat Hudzaifah yang pernah ikut solat Tarawih bersama Nabi. Awalnya ia kira Nabi akan rukuk setelah membaca seratus ayat surat al-Baqarah. Ternyata tidak. Ia pun terus mengira setiap seratus ayat atau bergantinya surat, bahwa Nabi akan rukuk. Dan ternyata masih tidak. Hingga beliau pun rukuk setelah menyelesaikan surat An-Nisa. Bagi yang belum tau, surat An-nisa itu menghabiskan 5 juz dua lembar. Dan Kalian bisa membayangkan sendiri bagaimana itu dihabiskan dalam satu rakaat.

Para sahabat pun tak kalah ekstremnya. Saat khalifah Umar bin Khattab mengumpulkan masyarakat untuk tarawih berjamaah, Ubay bin Ka’ab, yang diperintahkan untuk menjadi Imam membaca tiap satu rakaat 200 ayat lebih. Bahkan diriwayatkan mereka semua pulang dari shalat tarawih dan langsung melaksanakan sahur, sebab waktu subuh akan tiba. Itu artinya shalat tarawih mereka sepanjang malam dan tidak berhenti kecuali untuk sahur. Poinnya adalah: semangat mengkhatamkan al-Quran, khususnya dalam bulan ramadhan, memang sudah dicerminkan oleh baginda Nabi dan sahabat.

Jika ini semua pada saat Bulan Ramadhan, maka diluar itu kita juga akan melihat bagaimana semarak salaf kita dalam mengkhatamkan al-Quran.

Imam Nawawi dalam Al-Adzkarnya meriwayatkan bahwa salaf berbeda-beda dalam mengkhatamkan al-Quran. Ada yang selesai dalam dua bulan, sebulan, sepuluh malam, delapan malam, tujuh malam –dan inilah yang banyak diterapkan oleh kebanyakan salaf– enam malam, atau bahkan hanya butuh tiga malam. Ini semua hanya satu kali khataman. Imam Nawawi kemudian melanjutkan bahwa disana ada yang mengkhatamkan sebanyak tiga kali dalam sehari, atau bahkan khatam sebanyak delapan kali dalam sehari; empat kali dipagi hari, dan empat kali di malamnya.

Memang ada riwayat yang memakruhkan khatam al-Quran kurang dari 3 hari, sebagaimana hadis Nabi: “Tidak sempurna orang yang mengkhatamkan al-Quran kurang dari tiga hari” namun Imam Nawawi memberi penjelasan bahwa keadaan itu tergantung keadaan orangnya. Bagi mereka yang mampu khatam dalam sehari, sebagaimana para sahabat dan para tabiin dan focus akannya, itu bukan masalah. Adapun mereka yang sibuk dengan berbagi hal, seperti mengajar ilmu agama, maka hendaknya ia membaca sesuai kemampuannya, tanpa menyepelekan. 

Idealnya, sebagaimana dalam hadis Nabi dan fakta yang saya sebutkan di atas, khataman dilakukan dalam 7 hari sebagaimana para salaf yang banyak melakukannya. Ini karena pada saat itu sahabat membagi al-Quran menjadi tujuh bagian, dan setiap bagian diselesaikan dalam satu hari. Dalam Musnadnya Imam Abu Daud meriwayatkan sebuah hadis yang berbunyi: “Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagaimana mereka membagi-bagi al-Quran? Mereka menjawab “dibagi menjadi tiga, lima, tujuh, Sembilan, sebelas, tiga belas dan hizib mufashol tersendiri”. Jika ingin diperinci, maka pola khatam mayoritas sahabat Nabi seperti ini: 

Dimulai dari surat al-Baqarah. Pertama 3 surat: (al-Baqarah, Ali Imran dan An-Nisa)  Kedua 5 surat: (dari al-Maidah sampai At-Taubah) Ketiga 7 surat: (Yunus sampai an-Nahl) Keempat 9 surat: (al-Isra’ sampai al-Furqan) Kelima 11 surat: (Asy-Syu’ara sampai Yasiin) Keenam 13 surat: (Al-Shaffaat sampai al-Hujuraat) Ketujuh biasa disebut al-Mufashal yang artinya secara terperinci. Ini maksudnya surat-surat yang ayatnya pendek-pendek yang dimulai dari surat Qaaf sampai Al-Naas.  

Maka melihat fenomena ini semua, kita bisa pastikan bahwa mengkhatamkan al-Quran adalah tradisi yang memang digalakan oleh salaf. Bahkan saking ingin melihat dan mendengar orang yang khatam Quran, Ibnu Abbas Ra memerintahkan muridnya untuk mencari orang yang akan khatam al-Quran sehingga ia bisa ikut dalam majlisnya. Begitupun Anas bin Malik Ra yang mengumpulkan kerabatnya saat khataman dan doa bersama. Hal ini karena doa orang yang khatam al-Quran sangat mustajab dan majlisnya dirahmati oleh Allah. Maka wajar saja jika Ibnu Abbas dan Anas bin Malik segitu inginnya menghadiri majlis khataman.

Sebagai penutup saya katakan, antara mengkhatamkan al-Quran dan memahaminya sama-sama baik. Tapi ada baiknya kita memadukan keduanya tanpa meninggalkan salah satunya. Mengkhatamkannya sekaligus memahaminya. Jangan sampai terus memahaminya namun meninggalkan khatam, atau bahkan sudah tidak khatam tidak paham.

Memang mengkhatamkan al-Qur`an itu beratnya bukan main. Baca sehari sejuz saja, mungkin masih ada yang keberatan. Apalagi khatam satu hari, atau bahkan antara maghrib dan Isya, atau bahkan sehari delapan kali. Itu diluar kemungkinan kita, kalau kata orang mesir “musy mumkin”. Namun itu tidak berarti kita meninggalkan khatam al-Quran atau menyepelekannya. Biar sedikit yang penting istiqamah. Memang kita tidak bisa seperti para sahabat dan ulama-ulama yang seharinya bisa berjuz-juz. Tapi, sekali lagi tapi, setidanya kita berada di jalan mereka dan terus berada bersama tradisi mereka. mari sama-sama mengejar khatam al-Quran, apalagi di bulan ramadhan ini, bulan penuh berkah. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

By the way, tilawah al-Qurannya sudah sampai mana sekarang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here