Home Tak Berkategori Konsep Ijtihad, Sebuah Implementasi Moderasi Islam

Konsep Ijtihad, Sebuah Implementasi Moderasi Islam

138
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Mukaddimah

Sejak periode awal Islam, Rasulullah Saw sudah memberikan legitimasi kepada para sahabatnya untuk berijtihad— walaupun hal tersebut tidak disampaikan secara zahir. Salah satunya ialah peristiwa yang terjadi usai perang Khandaq. Kala itu Nabi berkata: “Jangan ada satupun yang melaksanakan shalat Ashar hingga tiba di perkampungan Bani Quraizhah”

Atas intruksi ini, sebagian sahabat tidak melaksakan shalat Ashar hingga tiba di Bani Qurayzhah, bahkan diriwayatkan ada yang meng-qadha shalat ashar hingga waktu Isya tiba. Namun di sisi lain, sebagian dari mereka menganggap bahwa maksud dari perkataan Rasulullah Saw. adalah: para sahabat harus bersegera menuju Bani Quraizhah hingga dapat melaksanakan shalat Ashar di sana. Jadi, sekiranya tidak memungkinkan, maka ia harus shalat di mana pun itu sebelum waktu ashar berakhir. Dan ketika perbedaan tersebut diketahui oleh Baginda Nabi, Ia tidak mempermasalahkannya ataupun menyalahkan salah satunya.

Legitimasi ini pun baru terlihat jelas ketika menguji intelektualitas Muadz bin Jabal sebelum diutus menjadi Gubernur di Yaman. Menurut Muadz, jika sebuah problematika tidak dapat ditemukan jawabannya di teks keagamaan, yakni al-Qur`an dan hadis, maka ia harus menggunakan akalnya untuk berfikir dalam memecahkan suatu permasalahan. Lagi-lagi Rasul pun mengiyakannya jawaban Muadz seraya mengucapkan kata syukur kepada Allah yang telah mengutus utusan Rasul-Nya, yakni Muadz, sebagaimana yang diinginkannya.

Dari sinilah pintu ijtihad sudah mulai terbuka dan legal, yang mana jika dilihat nantinya, para khulafaurrasyidin pun menerapkan konsep ijtihad ini sebagai sebuah kebijakan hukum atas suatu permasalahan yang belum didapati pada masa Rasulullah Saw.

Seiring berkembangnya zaman, konsep ini pun akhirnya memberi pengaruh besar kepada para ulama generasi tabi’in hingga seterusnya, khususnya para praktisi fikih atau yang sering disebut Imam Madzhab. Dengan kredibilitas dan kapasitas yang memadai, mereka pun berijtihad dalam menentukan sebuah hukum dari teks keagamaan yang indikasinya masih menuai banyak kemungkinan.

Terlepas dari pembahasan ijtihad secara utuh, kita akan dapati bahwa dengan konsep ijtihad, Islam terlihat benar-benar sedang meng-implementasikan posisinya sebagai agama yang bernuansakan ajaran yang moderat (wasati). Sebab dalam hal ini, yakni ijtihad, Islam memberikan akal untuk memainkan perannya ketika teks keagamaan tidak memberikan sebuah jawaban, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip yang tertera dalam teks tersebut. Lebih jelasnya, atau dalam aspek yang lebih global, Dr. Muhanna, ketua Forum Keilmuan Al-Azhar (ruwaq) mengatakan:

“Moderasi Islam sangat terlihat jelas ketika ia –Islam– memosisikan dirinya antara mereka yang menolak akal secara utuh dan mereka yang menjadikan satu-satunya barometer dalam menghukumi semua hal”

Akal Manusia, antara yang Mengagumi dan Menolaknya.

Islam sama sekali tidak menolak akal. Ia justru menekankan manusia untuk menggunakan daya akalnya, yaitu berfikir, terhadap banyak hal yang ada di sekitarnya; dari sosok dirinya, makanan-minumannya, hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan ataupun fenomena alam yang terjadi di sekelilingnya. Karenanya, al-Qur`an pun mengecam mereka yang tidak menggunakan akalnya untuk berfikir dan bertadabbur terhadap ciptaan Tuhan, bahkan dalam salah satu ayat-Nya, Allah menyebutnya lebih buruk dari seekor hewan karena telah diberikan akal namun mengabaikan perannya.

Meski Islam meletakkan akal untuk memainkan perannya, namun akal tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam mengetahui segala sesuatu atau menghukumi setiap perkara. Hal ini karena ada sejumlah perkara yang tidak bisa dijangkau oleh akal dan tidak dapat dihukumi oleh akal

Baik dan buruk misalnya. Muktazilah berkeyakinan bahwa akalah yang menentukan baik dan buruk. Namun Ahlussunnah menolak ini secara mentah dengan mengatakan bahwa syariatlah yang menghukumi keduanya di samping ada peran akal yang bermain di sana. Ini karena banyak yang dianggap manusia ‘baik’ dan ternyata itu adalah sebuah keburukan, begitupun sebaliknya.

Dan ini bukan berarti kita menafikan akal untuk mengetahui sebuah kebaikan atau keburukan dan menghukuminya. Akal yang sehat dan budi tentu bisa menganggap bahwa sopan kepada seseorang itu adalah hal yang kebaikan dan itu adalah baik. Adapun mencaci itu adalah sebuah keburukan dan hal yang buruk. Namun yang menjadi masalah adalah ketika akal diberikan otoritas untuk menghukumi ini baik dan itu buruk. Padahal dalam pandangan agama, syariatlah yang menentukan hal tersebut.

Dalam sudut pandang lain, menurut Quraish Sihab, jika akal dijadikan satu-satunya alat menghukumi berbagai hal, maka dampak terbesarnya adalah pandangan materialisme yang mengabaikan dimensi spiritual. Hal ini karena akal dan hati pada diri manusia mempunyai hubungan yang sangat erat, dan tak jarang keduanya melakukan pertarungan sengit pada diri manusia. Dan jika ini terjadi, yakni jika akal hanya difokuskan perhatiannya kepada objek yang materi sambil berusaha memenuhi tuntutan nafsunya dalam upaya berfikir dan meneliti, maka kelak akan lahir pandangan ‘pragmatisme’ yang menuntut agar akal dalam kegiatannya harus memberi manfaat yang sifatnya material saja.

“Dari sini pula bermunculanlah produk-produk yang mengagumkan, tapi pada saat yang sama, perhatian dan pemanfaatan produk-produk yang memuaskan nafsu itu menjadikan manusia melupakan spiritualitas, bahkan meninggalkannya, dan pada akhirnya kebenaran hanya akan diukur dari akal semata. Padahal manusia adalah akal plus, yakni di samping memiliki akal ia juga mempunyai jiwa yang mesti digunakan berdampingan dengan akal” (Quraish Sihab: 94)

Inilah mengapa jika ada sebuah pertentangan antara akal dan syariat (teks-teks keagamaan), maka syariatlah yang dikedepankan, sebab akal tidak bisa menilai baik buruknya sesuatu. Maka dalam al-Qur`an kita sering sekali diingatkan oleh Allah dengan redaksi yang mengatakan: sesuatu yang mungkin kalian sukai itu belum tentu baik (dalam pandangan agama) begitupun sebaliknya.

Akan tetapi bukan berarti kita tidak menggunakan akal sama sekali, karena –sebagaimana kita ketahui– menurut ulama ilmu kalam, salah satu sumber manusia mendapat ilmu ialah akal di samping panca indra, dan informasi (khabar). Dan inilah kelompok kedua yang ingin penulis sampaikan, yaitu orang-orang yang menolak daya akalnya mentah-mentah dalam menerima ataupun mencari kebenaran.

Dalam catatan sejarah, mereka adalah kaum bernama Sofisme yang menjadi musuh bagi para ahli hikmah di masa Yunani kuno. Secara sederhana mereka bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian;

(i) mereka yang mengatakan relativitas sebuah kebenaran, dalam artian-menurut mereka- tidak ada kebenaran yang sifatnya absolut; semua kebenaran itu sifatnya nisbi dan bergantung. Mereka ini adalah kelompok relativis (indiyyah).

(ii) kelompok yang meragukan setiap kebenaran yang sampai kepadanya, dan akan terus menolak kebenaran itu meski sudah dibuktikan dengan berbagai pembuktian yang nyata. Mereka ini adalah skeptisis (inaadiyyah).

(iii) yang terakhir adalah kelompok yang sama sekali tidak mau menggunakan akalnya dengan mengatakan “I don’t know” terhadap apapun, dan mereka adalah kelompok bernama agnostic (alla`adriyyah).

Selain kaum sofis, di sekitar abad ke-4 ada sebuah kelompok bernama batiniyyah. Meski sedikit berbeda dengan kaum sofis, namun dalam penafian daya akal mereka terbilang sama. Batiniyyah adalah kelompok yang menutup pintu ijtihad, sebab menurut mereka semua hukum haruslah berasal dari imam maksum. Berarti secara tidak langsung mereka menolak pendayagunaan akal ataupun ilmu yang berkaitan dengannya dalam mengetahui sesuatu. Dan kelompok inilah nantinya yang dihajar habis oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Fadhaih al-Baatiniiyyah. 

Jika mereka semua –yakni kaum sofis dan batiniyyah– adalah kelompok-kelompok yang hadir di masa lalu, maka menurut saya, di era modern ini lahir sebuah pemikiran yang ‘nyaris’ mirip dengan mereka.

Gagasan ini ingin mencoba mengidentifikasi teks keagamaan secara harfiah tanpa menggunakan akalnya untuk berfikir akan makna yang terkandung di dalamnya. Atau Lebih tepatnya mereka mereka bukan “tidak menggunakan akalnya sama sekali”, namun mereka lebih mempersempit pemikirannya kepada zahir teks sehingga menibulkan pandangan-pandangan yang cenderung ekstrim dan mengakibatkan kepincangan dalam memahami teks agama.

Penutup

Dalam kitabnya Wasatiyyat al-Islam, Imam al-Madani (w. 1968 M) mengatakan bahwa salah satu manifestasi dari sebuah moderasi dalam Islam adalah pengakuannya terhadap realitas kemanusiaan.

Bagaimana mungkin dikatakan kepadanya seorang manusia “jangan lapar” padahal ia diciptakan memiliki lambung, usus, dan organ-organ lengkap yang mengharuskannya untuk makan; atau “jangan menikah” padahal ia adalah bagian dari makhluk yang laki-lakinya tidak akan sempurna kecuali dengan perempuan sebagaimana perempuan tidak akan sempurna kecuali dengan laki-laki. Begitupun juga tidak mungkin dikatakan kepadanya: “jangan gunakan akalmu dalam segala hal” padahal Allah Swt. Telah menciptakan akal ini baginya agar ia berpikir, memperhatikan dan mengambil kesimpulan.

Jika sifat moderasi atau wasati ialah keadaan di mana sesuatu tidak jomplang sebelah, maka konsep ijtihad ialah salah satu bentuk moderasi yang diterapkan oleh Islam dalam ajarannya. Ia merupakan penyempurna dari kesemua yang di bahas di atas. Dalam ijtihad, baik konsep ataupun penerapannya, para ulama tidak sama sekali menggunakan akal semata dengan mengabaikan teks, justru tekslah yang menjadi pondasi utama sebelum akal itu berperan. Akalnya pun tidak dipersempit dalam menelaah teks yang ada, justru itu semua itu ia perluas dengan melihat prinsip-prinsip inti sehingga tidak keluar dari batasan-batasan yang sudah ditetapkan.

Islam adalah agama rahmatn li-alamin, yang ajarannya bersifat universal dapat diterima oleh berbagai umat. Pembawa risalahnya pun disifati demikian, yakni pembawa rahmat bagi seluruh alam semesta. Maka dari itu konsep ajarannya pun harus seimbang; ia tidak berat sebelah sehingga merugikan lainnya. Semoga pemaparan singkat ini dapat sedikit membuka cakrawala kita akan bentuk moderasi Islam yang tertera pada konsep ijtihad. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah Mahasiswa strata satu Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here