Home Tak Berkategori Lima Pilar Pondasi Al-Azhar

Lima Pilar Pondasi Al-Azhar

93
0

Oleh: Ella Safira*

Pada masa kejayaan Fathimiyah, Mesir menjadi pusat kekuasaan yang mencakup Afrika Utara hingga ke semenanjung Hijaz. Bahkan Mesir menjadi pusat perdagangan luas di Laut Tengah dan Samudra Hindia. Keberhasilan yang diraih kekhalifahan Fathimiyyah ini berhasil membawa saya sebagai penulis untuk menelaah kembali apa saja peninggalan Fathimiyyah yang masih bertahan hingga masa ini.

Ternyata salah satu peninggalan itu adalah pusat utama pendidikan sastra arab dan pengkajian Islam-Sunni di dunia, yaitu al-Azhar. Jadi, sekarang kita akan memfokuskan untuk menelaah, apa saja yang membuat al-Azhar menjadi sorotan utama.

Seperti yang sudah kita ketahui, al-Azhar dapat mempertahankan nilai-nilai islam, bahkan ketika era modern datang. Tidak sedikit dari kaum muslimin yang mengikuti adat-adat barat tanpa ada suatu penyaring yang akhirnya dapat membawa mereka ke penyelewengan berbahaya, tidak memahami apa arti syariah yang sebenarnya lalu menyatukan ajaran Islam yang tidak mereka fahami dengan ajaran barat yang telah menyebar luas terlebih pada aba ke 19 M.

Pada tahun 1879 salah seorang cendikiawan dan pemikir Muslim, Jamaluddin Al-Afghani dengan jelas menentang campur tangan Inggris di Mesir, dan dari pandangannya ini ia menjadi teladan bagi aktivis politik Islam di masa mendatang. Dalam buku Al-Azhar fi alf am ia berkata ingin membebaskan para kalangan muda dari belenggu barat dan menjadikan politik Islam menjadi politik yang berdiri pada satu asas, yaitu islah ad-din.

Lalu apa peran al-Azhar dalam hal ini? Risalah al-Alzhar yang berisi; membawa teguh risalah Islam, barang siapa yang memegang teguh risalah Islam, pasti akan memegang teguh pula risalah al-Azhar. Waktu yang berjalan membuat banyak perubahan dari segala aspek kehidupan manusia, bukan hanya dalam berpolitik namun dari hal terkecil, seperti adat yang dijunjung tinggi hingga ekonomi dan pendidikan mengalami banyak perubahan yang cukup signifikan bagi kehidupan manusia. Namun al-Azhar tetap hadir dan memberikan pondasi kuat untuk menopang perubahan-perubahan tersebut. Al-Azhar mencoba untuk membandingkan dan menyinkronkan segala jenis perubahan itu dengan ilmu-ilmu yang banyak tersedia di al-Azhar. Yang mana dengan pondasi ini ia tidak ikut hanyut dalam derasnya arus perubahan yang terjadi dalam aspek global.

Masih dalam buku Al-Azhar fî Alfi ‘âm bahwa para ulama telah berusaha untuk menemukan jalan keluar yang membuat masyarakat lebih mencintai ilmu dan mencegah adanya penyelewengan dan kebosanan. Tanpa berhenti, al-Azhar terus menyediakan berbagai fasilitas untuk pendidikan umat Islam. Menurut buku ihtifal sanawi jami-l-azhar, ada lima cabang yang bekerja di bawah al-Azhar, yang menjadi pondasi umum bagi al-Azhar dalam menaungi umat islam di dunia, khususnya di Mesir. Hal itu adalah:


Dewan Ulama Senior atau Haiah Kibar Ulama (HKU) adalah referensi utama dalam urusan agama yang merupakan salah satu dari lima pondasi al-Azhar. HKU didirikan pada tahun 1911 pada masa kepemimpinan di al-Azhar yaitu, Syeikh Salim al-Bisyri dan sempat dibubarkan pada tahun 1961 pada masa kepemimpinan presiden Gamal Abdul Nasheer.

Setelah dibubarkan pada tahun 1961, dan adanya amandemen undang-undang pada Juni 2012, Institusi ini kembali di buka pada 17 Juli 2012 pada masa pemerintahan Syeikh al-Azhar Ahmad Thoyyib dan di setujui oleh perdana menteri Kamal al-Ganzoury dan dewan tertinggi Angkatan Bersenjata, pejabat Presiden pada saat itu.

HKU di berikan otoritas dan kekuasaan institusi yang di atur di pasal 32, yang mencakup pemilihan syeikh al-Azhar, pencalonan Mufti Besar Mesir dan keputusan tentang agama. Lalu kemudian, konstitusi 2012 menambahkan kepada institusi ini wewenang tambahan yang di atur di dalam pasal ke empat, yang mengambil pendapat komisi tentang hal-hal yang berkaitan tentang hukum Islam.

Namun, karena adanya kudeta pada tahun 2013 dan amandemen konstitusi, institusi ini kehilangan otoritasnya yang diatur dalam pasal 4 konstitusi 2012. Lalu, apa sajakah otoritas yang hilang? Institusi ini kehilangan otoritas untuk menjadi referensi segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan Islam, sehingga ia memiliki kedudukan yang sama dengan Lembaga Riset Islam, kecuali untuk pemilihan syeikh al-Azhar dan Mufti.

HKU terdiri dari 40 anggota ulama terbesar al-Azhar dari ke-empat madzhab fikih yang dipimpin langsung oleh Grand Syekh Al-Azhar. Pembentukan tim formatur pertama kali dipilih setelah kebangkitannya pada tahun 2012 oleh sebuah komitte yang di bentuk oleh Lembaga Riset Islam. Anggota komitte tersebut, termasuk 5 ulama; Muhammad Abd al-Rahman al-Rawi, Nasr Farid Wasil, Al-Ahmadi Abu al-Nur, Hassan Abd al-Latif al-Syafi’I dan Muhammad al-Muhtar al-Mahdi. Selanjutnya, panitia akan memilih 26 anggota.

Telah di tetapkan bagi siapapun yang memilih anggota komisi, harus berusia tidak kurang dari 55 tahun, memiliki gelar Ph.D., memperoleh gelar profesor di bidang ilmu Islam atau linguistik serta harus lulus dari pendidikannya di institut al-Azhar dan perguruan tinggi Universitas al-Azhar.

Salah satu contoh dari otoritas HKU adalah ketika pemerintah sedang menggarap program sukuk, lalu pemerintah menunjuk grand syeikh dan grand syekh menunjuk HKU untuk menjawabnya. Dari permasalahan ini, dapat di lihat bahwa HKU mengunakan otoritasnya untuk memberikan pandangan hukum tentang sebuah permasalahan.

Telah di ringkas dalam buku ihtifal sanawi al-Azhar, HKU mempunyai otoritas khusus yang telah di setujui konstitusi dan undang-undang, yaitu; meninjau di setiap permasalahan yang berhubungan dengan anggota dan sistem kerja HKU, mengadakan pemilihan atau pemungutan suara untuk Syeikh al-Ahar ketika adanya kekosongan posisi, mengadakan pencalonan mufti ketika adanya kekosongan posisi, memutuskan atau memutuskan hukum dari permasalahan-permasalahan baru agar sesuai dengan syari’ah islam, memutuskan hukum dari permasalahan agama dan hukum sosial yang bersifat moral atau agama dan memutuskan permasalahan agama yang dihadapi dunia islam dan masyarakan Mesir berdasarkan hukum syariah.
Walaupun menjadi rujukan dalam perkara-perkara syariah, tapi untuk menjadikan pendapat haiah kibar ulama sebuah hukum resmi, harus melewati seluruh badan hukum yang terletak di pemerintahan, baik Eksekutif, Legislatif atau Yudikatif.

Untuk pondasi yang kedua, kita mengenal Lembaga Riset Islam atau yang popular dengan Majma’ Buhust al-islamiyah.


Lembaga Riset Islam adalah sebuah lembaga tinggi yang berfungsi untuk melakukan penelitian tentang segala hal segala hal yang bersangkut paut dengan agama Islam. Seperti yang di lansir dalam undang-undang no.103, fungsi dari lembaga ini diantaranya: Memperbaharui kebudayaan Islam dan menghapus semua hal yang di anggap berlebihan, tidak murni serta fanatisme golongan, dan mengembalikannya pada esensi murni Islam. Lalu memperluas pengetahuan kepada seluruh kalangan penduduk di setiap level/tingkatan yang berbeda, mulai dari tingkat bawah hingga atas.

Fungsi dari Akademi peneliti Islam selanjutnya adalah, menjelaskan pendapat atau ide yang menyangkut urusan perbedaan madzhab atau urusan sosial yang bersangkut paut dengan urusan aqidah. Lembaga ini juga bertanggung jawab untuk berdakwah dan memberikan nasihat agar masyarakat selalu berada di jalan agama yang benar.

Lalu, siapa saja yang berhak menjadi anggota majma’ buhust? Telah di sebutkan pada pasal 16, anggota lembaga ini tidak lebih dari 50 anggota kibar ulama yang terdiri dari berbagai corak pemikiran (mazhab) Islam.

Di pondasi ketiga, adalah sesuatu yang tak asing lagi di telinga kita, yaitu Jami’atul al-Azhar atau Universitas al-Azhar. Universitas al-Azhar mempunyai banyak julukan yang mencerminkan bagaimana berpengaruhkan universitas ini dalam dunia pendidikan islam, seperti manarotul- ‘ilm dan kiblat bagi para mahasiswanya dalam mencari ilmu.
Universitas al-Azhar selalu berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman agar bisa menyelaraskan ilmu-ilmu yang diberikan kepada para mahasiswanya. Seperti yang di lansir dalam buku al-Azhar wa dauruhu fi nasyri tsaqofah, Universitas al-Azhar mempunyai banyak keistimewaan.

Seiring berjalannya waktu, Universitas al-Azhar mengalami perkembangan, baik dalam hal keilmuan maupun pembangunan. Seperti banyaknya fakultas-fakultas yang baru dibentuk, lalu menyediakan tempat tinggal atau asrama bagi para mahasiswanya, baik putra maupun putri yang terletak terpisah, serta di bangunnya madinatul bu’uts untuk menyambut mahasiswa luar negri.
Lalu adanya perawatan kesehatan bagi para mahasiswa, yang kemudian menjadi titik awal berdirinya administrasi kesehatan dan rumah sakit. Universitas al-Azhar memiliki beberapa rumah sakit cabang yang dibagi untuk putra dan putri. Untuk rumah sakit putra, yaitu; Rumah Sakit Universitas Husain dan Rumah Sakit Sayyid Jalal. Dan untuk rumah sakit putri ada Rumah Sakit Universitas al-Zahra, Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Asyuth, Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Dimyath, dan sedang dalam masa pembangunan, Rumah Sakit di Madinah Nashr.

Di setiap Fakultas, terdapat perpustakaan tersendiri yang berpusat di perpustakaan umum dan perpustakaan al-Azhar. Kelebihan lain dari Universitas al-Azhar adalah, banyaknya siswa luar negri yang berasal dari seluruh belahan dunia, yang bertujuan untuk mempelajari seluruh ilmu di al-Azhar, mulai dari tingkat dasar hingga universitas.

Dilansir dari dalil jami’ah al-Azhar tahun 2008, Para siswa luar negri tersebut, juga diberikan beasiswa dari al-Azhar sendiri dan Dewan tertinggi untuk urusan Islam bagi semua negara Afrika, dan sebagian lainnya belajar dengan dana mandiri.
Universitas besar yang terdiri dari 79 fakultas, dengan total 47 fakultas untuk putra dan 32 fakultas untuk putri, telah membuat al-Azhar mendidik berjuta-juta alumninya yang berasal dari berbagai penjuru dunia, lalu menyebarkan nilai-nilai al-Azhar ke tempat-tempat asalnya.

Sedangkan untuk pondasi ke empat serta ke lima, yaitu qitho’ul ma’ahid al-Azhariyah dan mudunul bu’uts al-islamiyah, dua bagian dari al-Azhar ini adalah tempat tinggal bagi murid-murid yang diasuh langsung di bawah pengawasan al-Azhar. Yang berbeda hanya mudunul bu’uts al-islamiyah yang menjadi tempat tinggal bagi siswa-siswa luar negri yang berprestasi dan mendapatkan beasiswa dari al-Azhar.

Mudunul bu’uts al-islamiyah sendiri, seperti yang sudah di jelaskan di atas, adalah tempat bagi mahasiswa luar negri yang berprestasi. Akan ada ujian yang di adakan di negaranya masing-masing sebelum datang ke al-Azhar, untuk menjadi anggota dari mudunul bu’uts al-islamiyah. Ada juga yang diadakan al-Azhar melalui nilai, untuk mahasiswa luar negri yang berprestasi pada hasil ujiannya di Universitas al-Azhar.

Lalu Seperti namanya, qitho’ul ma’ahid al-Azhariyah, tempat ini adalah ma’had’ bagi sebagian besar siswa di al-Azhar. Lembaga pendidikan ini adalah sekolah untuk tingkat SMP dan SMA, yang terdiri dari beberapa cabang yang tersebar di penjuru Mesir.

Bagi siapa saja yang tertarik untuk masuk ke ma’had ini, ada persyaratan khusus bagi para siswa luar negri, yaitu batas usia yang tidak boleh lebih dari 25 tahun dan harus mengikuti ujian dirosah khosoh atau yang biasa di singkat DK.

Di DK nanti, akan ada penentuan, apakah kita masuk di tingkatan SMP atau SMA. jadi peraturan di ma’had al-Azhar berbeda dengan peraturan di sekolah-sekolah Indonesia pada umumnya. Dan untuk penempatan asrama, bagi siswa-siswa yang berasal dari arab, seperti Mesir sendiri, Sudan dan Libiya, diletakkan di asrama-asrama yang tersebar di Mesir. Namun bagi siswa luar negri Arab, diletakkan di satu asrama yang terletak di depan asrama bu’uts.

Semua elemen saling berpadu; mulai dari hai’ah kibar ulama yang menjadi pusat dari segala keputusan yang berhubungan dengan Islam, lalu majma’ buhust al-islamiyah yang membantu keilmuan Islam tetap berjalan pada pondasinya serta menambah pengetahuan-pengetahuan baru dan menyebarkannya ke seluruh elemen masyarakat, serta Universitas al-Azhar yang terus mengalami kemajuan di tingkat pengetahuan dan keilmuannya dan mencetak alumni-alumni yang menyebarkan ilmunya ke negara asalnya, serta qitho’ul ma’ahid al-Azhariyah dan mudunul bu’uts al-islamiyah.

Membuat semuanya jelas, bagaimana akhirnya al-Azhar bisa menjadi pusat utama pendidikan sastra arab dan pengkajian Islam sunni di dunia. Berasaskan al-Islah fi al-din, al-Azhar melepaskan Islam dari belenggu pengaruh barat yang hampir mendarah daging di generasi modern ini. Wallahu a’lam bi al-showwab.

*Penulis adalah Kru Majalah Latansa IKPM Kairo 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here