Home Al Azhar Mabadi Asyroh, Antara Sejarah dan Urgensinya

Mabadi Asyroh, Antara Sejarah dan Urgensinya

438
0

 

Oleh: Bana Fatahillah*

Jika membuka sebagian kitab ulama, kita akan menemukan sebuah pengantar untuk mengenalkan ilmu yang akan digeluti dalam kitab tersebut. Pengantar tersebut pada umumnya dijabarkan menjadi sepuluh poin, namun ada juga yang kurang dari itu. Sepuluh inilah yang oleh para ahli dan pakar disebut sebagai pengantar sebuah ilmu (muqaddimat al-Ilm) atau “Mabadi Asyrah”

Contoh kecilnya ialah kitab “al-Tuhfah al-Saniyyah” yang popular di kalangan pelajar karangan Syekh Muhyiddin Abdul Hamid. Di sana sang penulis membuka kitabnya dengan Mabadi Asyrah dalam ilmu nahwu yang diletakkan setelah mukaddimah kitabnya.

Istilah ini, yakni Mabadi Asyrah, belumlah dikenal oleh para ulama terdahulu. Menurut banyak pakar dan dikutip oleh sebagian ulama, salah satunya Dr. Musthafa Ridha, salah seorang guru di al-Azhar, gagasan ini dilafalkan pertama kali oleh imam Sa’aduddin al-Taftazani, seorang ulama yang ahli dalam bidang ilmu kalam dan Bahasa arab. Al-Taftazani menyebutkan ini dalam kitabnya yang berjudul “Al-Muthawwal” sebagai penjelas dari kitab Talkhis al-Miftah milik imam Qazwini dalam ilmu balaghah.

Namun hal itu belum dinamai sebagai ‘Mabadi Asyrah’ sebab dalam kitabnya ia menjelaskan bahwa ruang lingkup pengantar sebuah ilmu, yakni mukaddimah ilmu atau Mabadi Asyrah (menurut istilah ulama setelahnya), hanya tiga hal saja tidak sepuluh. Tiga poin itu adalah; (i) definisi (ii) pembahasan dan (iii) faidah. Jadi dalam pembahasan Tauhid, misalnya, pengantar yang diperlukan adalah: apa itu ilmu tauhid, apa pembahasannya dan apa faidah dari mempelajarinya.

Namun kreativitas para ahli dan pakar dalam Islam tidak pernah terhenti. Seiring berjalannya waktu mereka terus mencoba untuk menggagas apa yang belum pernah dilakukan para pendahulunya. Pun jika hal itu sudah ada yang mencetuskan, mereka tidak hanya duduk dan menikmatinya, selanjutnya mereka akan coba mengembangkan dan memperluas apa yang telah dijabarkan oleh para salaf (pendahulu) mereka. Dan inilah tradisi yang terus berkembang dalam peradaban Islam sampai saat ini.

Ialah Imam Abu Irfan al-Shabban, penulis kitab Hasyiyah al-Shabban ‘ala al-Malawwi yang mencoba memperluas apa yang telah dibuat oleh al-Taftazani. Dalam kitab tersebut imam al-Shabban menjadikan tiga hal yang telah dijelaskan Taftazani di atas menjadi sepuluh. Hingga sampai saat ini terkenalah sebuah pengantar dalam ilmu tersebut dengan sebutan “Mabadi Asyrah”, yakni 10 poin penting yang harus diketahui pelajar sebelum memasuki suatu disiplin ilmu.

Merenovasi bukan berarti mengahancurkan pondasi, sebab kita sering sekali mendengar pepatah yang berbunyi, hendaknya kita menjaga hal baik yang telah lama serta mengambil apa yang lebih baik kedepannya. Dan inilah yang dilakukan al-Shabban. Kala menambahkan poin yang sebelumnya hanya tiga menjadi sepuluh, ia sama sekali tidak menghancurkan pondasi yang telah dibuat oleh al-Taftazani, yakni tiga poin tersebut. Ini terbukti dari perkataan al-Shabban yang dijadikan sebuah bait terkait Mabadi Asyrah yang berbunyi:

إِنَّ مَبَادِي كُلِّ فَنٍّ عَشْرَة # الْحَدُّ وَالُمَوْضُوْعُ ثُمَّ الثَّمْرَة

وَفَضْلُهُ وَنِسْبَةُ وَالْوَاضِع # وَالاِسْمُ الاِسْتِمْدَادُ حُكْمُ الشَارِعِ

مَسَائِلُ وَالْبَعْضُ بِالبَعْضِ اكْتَفَى # وَمَنْ دَرَى الْجَمِيْعَ حاز الشَرَفَا

“Sesungguhnya Mabadi Asyrah dalam setiap ilmu itu ada sepuluh. (i) Definisi, (ii) tema Pembahasan, (iii) serta faidahnya. (iv) keutamaan (v) kaitannya dengan ilmu lain (vi) peletak ilmu itu (vii) nama ilmu itu (viii) hukum mempelajarinya (ix) sumber ilmu itu (x) aneka permasalahan (dalam ilmu tersebut). Maka cukup bagi mereka yang mengambil sebagiannya saja (yakni tiga pertama). Namun bagi siapa yang ingin kemuliaan lebih, hendaknya ia mengambil semuanya”

Akhir penggalan bait yang disajikan al-Shabban di atas seakan memberikan indikasi bahwa cukup bagi seseorang untuk mengetahui sebagiannya saja, yang mana sebagian itu tidak lepas dari tiga poin milik al-Taftazani, yaitu definisi, tema pembahasan dan faidah. Inilah mengapa banyak di kitab-kitab para ulama yang hanya menyebutkan beberapa saja tidak semuanya tanpa menghilangkan tiga hal tersebut, sebab itulah pengantar utama yang dapat dijadikan pegangan oleh seorang pelajar sebelum memasuki suatu disiplin ilmu.

Disinilah cerdiknya al-Taftazani dengan penyajian tiga poin tersebut. Dr. Musthafa Ridho menjelaskan bahwa dengan tiga poin tersebut (definisi, tema pembahasan dan faidah) seorang pelajar akan digiring kepada gambaran global terhadap ilmu yang akan digelutinya dalam kitab tersebut. dan dengan tiga poin itu juga maka akan terangkat dua kategori ‘ketidaktahuan’ (jahalah) dan ‘kesia-siaan’ (abats) dalam belajar terhadap suatu ilmu, yaitu ketidaktahuan dan kesia-siaan yang sifatnya murni (mahdhah) ataupun umum (urfiyyah)      

 Maksud dari ‘ketidaktahuan’ yang bersifat murni atau jahalah mahdlah ialah suatu ketidaktahuan seseorang akan ilmu yang akan dipelajarinya, yang mana ketidaktahuan ini benar benar murni dari dirinya akan ilmu tersebut. ini layaknya seseorang yang tidak tahu adanya ilmu sorof, misalnya. Adapun ‘ketidaktahuan’ yang bersifat umum atau  jahalah ‘urfiyyah ialah di mana seseorang belum mengetahui apa tema pembahasan yang akan diuraikan dalam ilmu yang akan ia pelajari. Orang yang belum pernah mendegar ilmu nahwu, tidak tau apa itu ilmu nahwu serta buta akan pembahasannya, maka ia telah masuk dalam dua kategori ketidaktahuan ini.

Adapun kesia-siaan yang bersifat murni ialah ketika seseorang tidak tau akan adanya tujuan dan faidah dalam mempelajari suatu ilmu. seorang pelajar ilmu mustolah hadis misalnya, ketika ia hanya tau apa itu  ilmu mustolah hadist serta apa saja yang menjadi pembahasannya dalam ilmu tersebut, tanpa mengetahui adanya faidah atau tujuan darinya, maka orang itu disifati dalam kategori abas mahdoh. Adapun lawannya, yakni kesia-siaan yang bersifat umum atau ‘abas ‘urfiyyah ialah keadaan seseorang yang tidak tau akan faidah mempelajari ilmu tersebut setelah lama bergulat dengan ilmu.yang dipelajarinya. Ia ibarat seorang yang sudah lama menempuh perjalanan namun tidak tau tujuan dari perjalanan itu.

Dengan mengetahui tiga poin tersebut, dua kategori ‘ketidaktahuan’ dan ‘kesia-siaan’ ini akan terangkat. Sebagai contoh, jika kita telah mengetahui definisi ilmu nahwu, bahwa ia merupakan ilmu yang mempelajari tentang keadaan akhir kalimat dalam kacamata i’rab dan bina, maka dengan definisi ini, yang mencangkup tiga poin tersebut, telah melepeskan kita dari belenggu ‘ketidaktahuan’ ataupun ‘kesia-siaan’. Adapun sisanya yang berjumlah tujuh, lanjut Dr, Musthafa, hanya sebagai pelengkap atas kepekaan akal dalam merespon ilmu yang akan dipelajarinya. Dalam artian ia bersifat sekunder, yakni tanpa menyantumkannya pun tidak berpengaruh besar dalam pengantar suatu ilmu.

Menurut Syekh Usamah Sayyid al-Azhari, salah seorang ulama al-Azhar, para pakar telah menyisipkan mukaddimah ilmu ini agar memudahkan para pelajar dalam mengetahui aneka permasalahan yang ada dalam kitab tersebut. Sebab jika jika seorang tidak mengetahui akan faidah terhadap ilmu yang dipelajarinya, dan ternyata kitab tersebut tidak sesuai dan cocok terhadapnya, kelak ia akan meremehkan dan menampik kitab tersebut, atau bahkan mencemohkannya.

Maka dari itu Syekh Musthafa Ridha mencatat ada dua manfaat dalam mengetahui mukaddimah ilmu atau Mabadi Asyrah. Pertama, seorang pelajar dapat memberikan gambaran umum akan suatu ilmu apabila ia mengetahui definisi ilmu tersebut secara spesifik. Karena lewat definisi, seseorang dapat mengetahui tema pembahasan sekaligus faidah mempelajarinya walaupun dalam pandangan umum atau global. Dan kita pun tau bahwa suatu ilmu akan lebih akurat penjelasannya jika telah mengetahui apa tema yang akan dibahas di dalamnya. Lagi-lagiini ibarat peta tujuan yang disiapkan oleh orang yang ingin menempuh perjalanan jauh.

Kedua, mukaddimah ilmu dapat membantu para pelajar untuk melengkapi pembahasan yang ada dalam suatu ilmu. Sederhananya seperti ini, jika pembahasan dalam sebuah ilmu hanya sepuluh pembahasan, maka dengan mengetahui definisi ilmu tersebut akan lebih memudahkan pelajar dalam menuntaskan ilmu yang sedang dipelajarinya pembahasan demi pembahasan.

Nahwu misalnya. Jika kita mengetahui bahwa yang akan dibahas di dalamnya tidak keluar dari keadaan harakat pada akhir kalimat, yakni kalimat-kalimat yang dibaca dhammah, kasrah ataupun fathah, maka dengan mengetahui definisi nahwu itu sendiri seorang pelajar akan lebih terbantu dalam memahami pembahasan yang akan digelutinya dalam kitab tersebut.

Dari sinilah kenapa banyak para guru-guru di al-Azhar yang menekankan dalam majlisnya akan pentingnya ‘Mabadi Asyrah’ atau mukaddimah ilmu, sebab ini merupakn hal urgen bagi para pelajar. Karena dalam perjalanannya menuntut ilmu mereka tidak boleh salah tujuan. Maka dari itu penting kiranya seorang pelajar untuk mengetahui Mabadi Asyrah sebelum memasuki suatu disiplin ilmu. Wallahu a’lam

 *Penulis merupakan pelajar yang sedang menyelesaikan studi strata satunya di Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar. Di samping itu ia juga merangkap sebagai editor di majalah Latansa Ikpm Kairo periode 2018-2019. 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here