Home Artikel Mahabah; Cahaya Cinta Kehidupan

Mahabah; Cahaya Cinta Kehidupan

145
0

Oleh: Nafisah Aliyah*

Tidaklah disebut mahabbah jika hanya sebatas penilaian lisan seseorang, syi’ar-syi’ar yang dikoarkan dan dipajang dimana-mana atau sebatas mendemonstrasikan khutbah secara besar-besaran. Melainkan mahabbah adalah sesuatu yang harus benar-benar  diyakini (ditanamkan) dalam hati.

Dari sini dapat kita asumsikan bahwa mereka yang benar di dalam hatinya terdapat mahabah, maka tidaklah apa yang ia lakukan melainkan untuk  agama; tidaklah apa yang ia lakukan untuk menyebarkan syariat Islam; dan tidaklah engkau mendapatinya bahwa dia menjalankan sunnah Rasulullah Saw. Dan orang yang mencintai secara tulus, maka ia akan senantiasa melayani umat Rasulullah Saw, tidak akan pernah memvonis kafir atau mengangkat senjata terhadap  sesama saudara muslim, melainkan sebagai penyebar kebaikan, keindahan dan kedamaian.

Tidak dapat disangkal bahwa para ulama dan tokoh-tokoh pembesar Islam, selain unggul dalam khazanah keilmuannya serta luhur budi pekertinya, tersimpan di dalam hatinya mahabah yang dahsyat kepada Rasulullah Saw. Bagaimana tidak. Lihatlah, bukti akan penjagaan Islam, baik dari segi akademis ilmiyah, syariat, juga ajaran ruhaniyah spiritual, masih dapat kita rasakan hingga saat ini. Allah Swt telah menjaga mereka, meridhoi ilmu serta berbagai amal perbuatan mereka, hingga apapun yang telah diusahakan pastinya akan mengandung nilai manfaat yang biasa disebut dengan –ma’shum fi ma’iyyati Allah-  atau terjaga langsung oleh penjagaan Allah Swt.

Kita pun bertanya-tanya, lantas apakah faktor terbesar untuk mendapatkan ridho Allah tersebut? maka jawabannya adalah, tatkala ingin mendapat cinta dan ridho-Nya, hendaknya kita memasuki pintu cinta sayyidina Rasulullah Saw. Dan Salah satu faktor terbukanya pintu kecintaan Rasulullah Saw ialah dengan cara mengikuti ajaran serta sunnah-sunnah Rasulullah Saw.

“…قل إن كنتم تحبن الله فاتبعوني يحببكم الله “

“Katakanlah jika kalian  benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali-Imaran :31)

Dipetik dari pengakuan salah satu tokoh besar dalam Islam, Said Nursi Badiuzzaman. Dimana Said berusaha keluar dari kondisi “Said Lama” –istilah yang digunakan oleh dirinya sendiri sebelum menulis kitab Risalah Nur– ketika akal dan kalbunya tergoncang, hatinya bergejolak, sebagaimana akibat dari ketiadaan pembimbing dan tipuan nafsu amarah.

“…pada saat itulah aku menyadari bahwa semua sunah nabi Muhammad Saw bahkan dalam hal sederhana sekalipun, ibarat kompas yang menuntun arah laju pada kapal. Semua layaknya sinar lampu yangmenerangi jalan-jalan gelap yang teka terhingga banyaknya. Menyadari, kadangkala perjalanan spiritual jatuh terperosok, maka sunahlah yang  menyelamatkanku. Sebaliknya, jika aku mengabaikannya maka gelombang kesulitan itu, menjadi  bertambah sulit dan samar.” (al-Lama’at, 106)

Dari pernyataan diatas, telah jelas bahwasannya tidaklah seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, jika  hanya sekedar menjalankan syariat yang wajib atasnya. Karena dengan begitu ia akan susah terjamu dan mendapat cahaya kehidupan dari kekasih-Nya (nur mahabbah Rasulullah Saw). Bahkan Said Nursi yang memiliki julukan Badiuzzaman (tidak ada yang menandingi kealimannya pada zamannya) pun telah mengungkapkan kesaksiannya sebagaimana dipaparkan diatas.

Hakikatnya, orang yang memiliki mahabbah kepada Rasulullah Saw, tidak perlu diragukan pula untuk memiliki mahabbah kepada Allah Swt. Keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Bagaimana kamu bisa memisahkan mahabbah (cinta) diantara keduanya, sedangkan mahabbah itu adalanya milik-Nya beserta kekasih-Nya! Mengenai hal ini,  terdapat kisah adzim yang bisa kita ambil buah hikmah akan hubungan keterikatan mahabbah antara Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Dikisahkan disaat nabi Adam As meminta ampunan dan taubat kepada Allah Swt, setelah diturunkannya dia ke dunia. Yang jarang kita ketahui dalam kisah ini yakni, saat nabi Adam As, meminta ampunan taubat tersebut dengan meminta keberkahan dari nur kekasih-Nya, nabi Muhammad Saw. Lantas Allah bertanya kepadanya, “Bagaimana kau mengetahui bahwa Muhammad adalah kekasihku?” Nabi Adam As menjawab, “Karena saat aku masih di surga-Mu ya Allah, aku melihat terdapat nur yang disandingkan dengan namamu. Dan disana tertera lafadz yang berbunyi La ilaaha illa Allah, Muhammadun Rasulullah. Maka, tidaklah pantas apapun yang dapat disandingkan dengan-Mu jika ia bukanlah kekasih-Mu. Dan aku memohon ampunan beserta taubat-Mu dengan keberkahan mahabbahku kepada kekasih-Mu.” Dan Allah membukakan pintu ampunan taubat kepada nabi Adam As, dengan salah satu faktor utamanya yakni terbukanya pintu mahabbah Allah Swt karena nabi Adam As telah menyimpan mahabbah kepada kekasih-Nya.

Dari sini dapat dikatakan, barangsiapa yang  kuat keimanannya  adalah mereka yang cinta kepada Allah, bertawakal atas-Nya, dan ridho atas kehendak-Nya. Mereka yang demikianlah yang memiliki mahabbah dalam hatinya. Dan pintu mahabbah milik Allah Swt akan mudah terbuka, jika kita memiliki kunci dari pintu tersebut, yakni  mahabbah kepada Sayyidina Rasulilllah Saw. Pun dalam hal ini menunjukan kederajatan iman seseorang, Walladziina aamanuu asyaddu huban Lillah. Seberapa dalam dan kuat iman seseorang, maka derajat itu ternilai dari betapa besarnya mahabbah pada hatinya,  baik mahabbah kepada Allah Swt juga mahabbah kepada Rasulullah Saw.

Sebenarnya apa yang dipaparkan penulis diatas masih sangat minim sekali persentasniya untuk mengkaji mahabbah itu sendiri. Selain mahabah merupakan sesuatu yang tidak akan bisa ditakar, diketahui, atapun dirasakan kecuali oleh diri seseorang itu sendiri. Di sini tidak lain maksud penulis, bukanlah mengupas isi dan esensi dari suatu mahabbah, melainkan agar pembaca mulai menyadari terlebih dahulu akan keistimewaan dan pentingnya menumbuhkan, meningkatkan serta penjagaan mahabbah dalam hatinya. Dengan harapan dapat mengambil hikmah akan secuil penggalan kisah dan penjelasan, yang dapat menjadikan kita untuk hidup dengan kondisi hati hidup juga benar-benar hidup karena adanya mahabbah. Karena, sesuatu yang dilandasi dengan mahabbah (cinta),  tentunya akan berujung pada keindahan dan kedamaian, baik untuk dirinya sendiri, dan juga sekitarnya. Allahummarzuqna khalawata al-mahabbati Sayyidina Rasulillah Saw.

Wallahu ‘alam bisshowab…

*Penulis adalah Editor Majalah Latansa periode 2019-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here