Home Artikel Mampukah Allah Menciptakan Tuhan Selain-Nya?

Mampukah Allah Menciptakan Tuhan Selain-Nya?

78
0

Oleh: Bana Fatahillah*

Jika pernah mendengar pertanyaan ini, berarti Kalian telah memasuki ranah kajian ilmu bernama kalam. Pertanyaan ini atau semacamnya, menurut saya,  tidak hanya disisipkan bagi pengkaji ilmu kalam saja, khususnya di era modern ini. Sewaktu kuliah di salah satu kampus di Depok, pertanyaan ini kerap terdengar dari mulut sejumlah mahasiswa—yang memang nota bene nya tidak mendalami bidang tersebut.

Pertanyaan ini memang dasarnya menjebak. Jika dikatakan “iya” berarti di sana ada tuhan selain Allah, dan ini sudah pasti tidak mungkin. Dan apabila dijawab “tidak” itu berarti Allah mempunyai sifat lemah, dan ini pun sesuatu yang tidak mungkin bagi Tuhan (walaupun pada hakikatnya penyifatan lemah bagi Allah dalam pertanyaan ini tidaklah tepat). Jadi, kalau dalam istilah anak jaman sekarang: “maju kena mundur kena!”

Dan Sebenarnya sah-sah saja jika dijawab bukan dengan pendekatan ilmu kalam yang cenderung rasional. Misalnya ada yang menjawab: “kamu ini siapa kok bisa-bisanya nyuruh Tuhan semacam itu, emangnya lo siapanya Tuhan.” Sepintas ini benar. Namun tidak memuaskan untuk dikategorikan ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Dan juga, karena masuk dalam ranah teologi, berarti jawabannya pun harus didasari oleh ilmu yang berkaitan dengannya, yakni Kalam.

Untuk itu mari kita jawab pertanyaan ini dengan pendekatan ilmu kalam agar terlihat rapih dalam setiap argumentasi yang dibangun.

Sifat Qudrah dan Sisi Keterkaitannya

Sebelum menjawab soal ini atau soal semacamnya, ada dua hal penting yang perlu diketahui sebagai sebuah pengantar:

Hal pertama: Soal ini berkaita dengan sifat Allah bernama qudrah (kuasa). Ini karena “menciptakan” adalah pekerjaan yang sifatnya meng-adakan, dan itu adalah tugas dari sifat yang bernama qudrah tersebut. Para teolog muslim menegaskan bahwa sifat qudrah Allah tugasnya adalah memberikan efek atau dampak pada sesuatu, dan pilihannya hanya dua, pertama “meng-adakan” kedua “meniadakan”

Tatkala Allah menciptakan dunia ini, makhluk hidup, alam raya, dan lain sebagainya, di sana ada sifat qudrah Allah yang memainkan perannya. Ia meng-adakan dari ketiadaan. Begitupun halnya tatkala Allah memusnahkan makhluk hidup, sifat qudrahlah menjadi acuan dalam pekerjaan-Nya, yakni meniadakan dari yang sebelumnya ada. Jadi, sekali lagi, qudrah itu sifatnya memberikan pengaruh atau dampak terhadap sesuatu, baik itu meng-adakan ataupun meniadakan.

Hal penting kedua yang harus kita ketahui adalah: tiga pembagian “sesuatu yang ada” atau yang biasa disebut aqsaam al-Maujudaat. Para teolog muslim membagi hal tersebut menjadi tiga bagian; (i) wajib ada (wajib al-Wujud) (ii) mungkin ada (mumkin al-Wujud) (iii) mustahil ada (mustahil al-Wujud).

‘Wajib ada’ adalah sesuatu yang “ke-adaanya” harus ada dan tidak boleh tidak ada. Karena ia harus ada, itu berarti “keberadaannya” tidak didahului oleh ketiadaan ataupun dipengaruhi oleh hal lainnya. Dan karena “keharus-adaannya” di dalam wujud, maka “keberadaannya” tidak ada permulaannya dan tidak ada akhirnya. Ialah yang menjadi “sebab” dari semua yang ada di dunia ini. Dan Dialah Allah Swt.

Selanjutnya, ‘mungkin ada’ atau mumkin al-Wujud adalah sesuatu yang “keberadaannya” boleh ada dan boleh tidak. Dalam artian antara keberadaan dan ketidak-adaannya itu sama-sama mungkin. Karena ada potensi untuk ada dan tiada, itu berarti sesuatu yang ‘mungkin ada’ ini butuh “sesuatu” yang menjadikan dia ada ataupun tiada. Contohnya adalah seluruh ciptaan tuhan; manusia, alam, hewan dll.

Yang terakhir, mustahil ada adalah sesuatu yang “keberadaannya” tidak boleh ada. Mudahnya ia adalah sesuatu yang kontras dengan ‘wajib ada’. Jika ‘wajib ada’ adalah sesuatu yang hakikatnya memang dan pasti ada, maka ‘mustahil ada’ adalah sesuatu yang memang hakikatnya tidak ada—sekali lagi, haikatnya tidak ada. Contohnya adalah sekutu Allah.

Jika telah mengetahui dua hal penting ini, maka mudah bagi kita selanjutnya untuk menjawab soal di atas.

Pertama-tama kita katakan bahwa sifat qudrah Allah hanya mempunyai keterkaitan dengan hal-hal yang ‘mungkin ada’ atau mumkin al-Wujud. Ia tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang ‘wajib ada’ (wajib al-Wujud) ataupun mustahil ada.

Dari sini kita bisa mengajukan dua pertanyaan: pertama, apa maksudnya “mempunyai keterkaitan dengan mungkin ada” dan kedua, “mengapa hanya berkaitan dengan sesuatu yang ‘mungkin ada’ saja?”

Maksud dari “mempunyai keterkaitan dengan yang mungkin ada” adalah: tatkala Allah hendak mengadakan atau meniadakan sesuatu, itu berarti di sana ada objek yang akan diberikan pengaruh dari sifat qudrah tersebut. Nah, yang bisa menjadi objek dari hal tersebut adalah sesuatu yang mungkin ada atau mumkinul wujud, bukan yang wajib ada atau yang mungkin ada.

Selanjutnya, kenapa “keterkaitan” itu hanya kepada yang ‘mungkin ada’ saja? Jawabannya adalah sebagaimana di atas, bahwa tugas qudrah itu adalah memberikan pengaruh, baik berupa peng-adaan ataupun peniadaan. Nah, sesuatu yang “dapat ada dan tidak ada” itu adalah sesuatu yang tergolong dalam bagian mumkin al-Wujud. Manusia misalnya, ia bisa ada dan bisa tiada. Itu berarti manusia ada potensi untuk ada ataupun tiada. Dan disitulah qudrah Allah bermain.

Jika Ada yang bertanya: lantas, kenapa keterkaitan itu tidak berlaku pada yang ‘wajib ada’ atau ‘mustahil ada’?

Maka kita jawab: di atas kita telah tegaskan bahwa ‘wajib ada’ atau wajib al-Wujud itu adalah sesuatu yang “keada-annya” harus ada dan tidak boleh tidak ada. Jika ia –yakni wajib ada– ditiadakan, maka “ke-wajib-adaannya” tidak lagi berlaku baginya dan itu tidak bisa kita terima. Kita seakan-akan dituntut untuk meniadakan apa yang hakikatnya harus ada. Dan ini jelas akal pun menolaknya.

Sebaliknya, jika ia diadakan, yakni sesuatu yang wajibul wujud ini diadakan, itu berarti ada sebuah kesia-siaan yang terjadi. Sebab ia telah meng-adakan sesuatu yang memang pada hakikatnya harus ada, dan akan terus ada. Sederhananya: jika sudah ada untuk apa diadakan lagi? Dalam kajian Kalam hal seperti ini disebut tahsil al-Hasil. Atau bahasa mudahnya ia ibarat menggarami air laut.

Sekarang mari kita masuk pada soal di atas. Dalam kasus tersebut, pertanyaan yang diajukan adalah, “dapatkah Allah menciptakan tuhan selain-Nya?” ini berarti qudrah Allah dituntut untuk bermain di area yang ‘mustahil ada’. Sebab “Tuhan selain Allah” atau sekutu Allah adalah bagian dari hal yang mustahil ada. Maka ini tidak mungkin. Sebab “meng-adakan” sesuatu yang memang aslinya tidak ada itu adalah sebuah kemustahilan. Adapun meniadakan yang memang harusnya tidak ada, adalah hal yang sifatnya sia-sia. Dan keduanya adalah sesuatu yang tak dapat diterima oleh akal sehat.

Sederhananya seperti ini: kalian tau kalau ayah itu lebih dulu dari anak? Iya pasti tau. Sekarang kalian disuruh untuk menjadikan anak lebih dahulu dari ayahnya. Mau bagaimanapun caranya, kalian tidak akan mungkin bisa, sebab “adanya anak sebelum bapak” itu adalah sesuatu yang mustahil. Dan kalian dituntut untuk meng-adakan sesuatu yang mustahil, yakni yang hakikatnya memang tidak ada. Maka dari itu kita berkesimpulan bahwa adalah mustahil “meng-adakan sesuatu yang memang pada hakikatnya tidak boleh ada.”

Jika argumentasi ini sudah dapat kalian cerna, maka saya yakin kalian bisa menjawan soal soal nyeleneh semacam ini. Misalnya: “dapatkah Tuhan menciptakan batu yang ia sendiri tidak dapat mengangkatnya?” atau “dapatkah Tuhan meniadakan dirinya?” dan lain sebagainya.

Kita tinggal katakan: sifat lemah itu adalah sebuah kemustahilan. Dan qudrah Allah sama sekali tidak berkaitan dengan sesuatu yang mustahil. Begitupun “peniadaan Allah” yang sifatnya mustahil. Dan sekali lagi, sifat yang bernama qudrah, yang tugasnya meng-adakan dan meniadakan, tidak bermain di area mustahilul wujud atau mustahil ada.

Diakhir, saya ingin mengatakan bahwa sebagain pakar teolog modern menganggap bahwa pertanyaan seperti ini adalah sebuah kebodohan yang nyata. Syekh Ramadhan al-Buthi dalam kitabnya Kubra Yaqiniyyat menegaskan bahwa esensi dari soal ini ialah omong kosong. Secara lafadz memang soal. Tapi kontennya, ia hanyalah sebatas omong kosong. Karenanya, menurut Syekh Buthi, pertanyaan seperti ini tidak sepatutnya dijawab. Toh untuk apa dijawab, dari soalnya saja sudah salah! Wallahu a’lam bi al-Shawab.

*Penulis adalah mahasiswa Pimpinan Redaksi Majalah Latansa Periode 2017-2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here