Home Opini MA’RADH HARUSNYA UNTUK LITERASI, JANGAN HANYA UNTUK EKSISTENSI

MA’RADH HARUSNYA UNTUK LITERASI, JANGAN HANYA UNTUK EKSISTENSI

72
0

Oleh: S. Rahman

“Sudahkah kamu ke ma’radh hari ini?” Sedikit basa-basi dulu lah ya, sebelum kita bicara lebih dalam. Kalau boleh saya jawab sendiri pertanyaan itu, saya akan balik bertanya, “Memangnya kenapa harus ke sana?” Menjawab pertanyaan ini teman saya, Paijo (bukan nama asli) mengatakan, “Ya, setidaknya buat absen lah menunjukkan keberadaan/eksistensi kita!”


Ada sebuah satir yang cukup masyhur, bahwa masyarakat kita tidak lebih sekedar masyarakat bebek. Berjalan asal-asalan, asal ikut ke mana kawanan bergerak. Sukanya grudak-gruduk ke sana- ke mari. Menurut saya masyarakat seperti ini justru tidak eksistensialis banget, karena bagi para pemikir eksistensialis masyarakat seperti itu malah meniadakan kunci utama eksistensialisme, jati diri dan keotentikan tiap individu.


Jika ternyata pendorong utama perginya kita ke ma’radh adalah sikap membebek itu tadi, maka tidak sah kita menyebutnya untuk kepentingan eksistensi. Dengan catatan makna eksistensi di sini adalah makna yang diusung para filosof eksistensialis, bak Sartre, Kieergard dkk.


Lantas kita tidak perlu pergi ke ma’radh gitu? Ya tidak begitu juga Bambang!


Kalau selama ini kamu sholat biar dilihat doi dan akhirnya kamu sadar bahwa niat sholat harus lillahi ta’ala, kan tidak kemudian meninggalkan sholat sama sekali toh?


Bagi saya tindakan mengunjungi ma’radh paling tidak harusnya didasari kesadaran pribadi tentang literasi, pentingnya baca-tulis. Kesadaran loh ya bukan sekedar pengetahuan.


Kenapa saya tegaskan kesadaran? Sebab jika baru sampai pengetahuan literasi, belum kesadaran, kita akan cenderung mudah terkena bias saran buku dari orang lain. Misal si A bilang, “Tidak layak mengaku seorang talib, jika belum punya buku ini.” Si B juga bilang, “Tiada buku yang lebih bagus dari buku itu.” Belilah kita buku yang disarankan oleh A dan B, padahal mungkin buku itu justru kontra produktif bagi kita.


Salah satu cara medapatkan kesadaran literasi adalah dengan memahami klasifikasi buku/ilmu, bagi Adler (penulis How to Read a Book) ini adalah syarat pertama dalam proses membaca analitis. Bagi Adler, setidaknya buku bisa kita bagi menjadi dua; fiksi dan eksposisi. Eksposisi adalah buku-buku yang mengandung hipotesa, teori dan konsep. Untuk fiksi saya rasa anda dapat membedakannya, termasuk di dalamnya novel.


Selanjutnya buku-buku eksposisi bisa dibagi sesuai lingkup pembahasannya masing-masing. Perbedaan klasifikasi tiap tokoh mulai tampak dari sini, sesuai dengan klasifikasi ilmu yang diyakini.
Pada era filsafat paling tua yang tercatat sejarah manusia, periode Yunani kuno, belum ada klasifikasi yang tegas antara satu bidang studi dengan lainnya. Dimulai dari Pato, ia mengenalkan klasifikasi ilmu yang sederhana dalam Republikanya.

Baginya ilmu terbagi menjadi; fisik dan non-fisik. Lalu datang setelahnya Aristoteles, muridnya. Bagi Aristoteles gaya dualisme Plato berkesan terlalu menggampangkan yang komplek, menurutnya ilmu terbagi jadi 3 kelas; Ilmu teoritis, ilmu praktis dan sastra.


Masuk ke era Skolatik klasifikasi ilmu berkembang lagi, yang terkenal dari zaman itu adalah kemunculan istilah Liberal Arts, tujuh kelas yang menaungi seluruh cabang ilmu pengetahuan. Ke-tujuhnya adalah; ilmu logika, gramatika, retorika, aritmatika, geometri, musik dan astronomi. Tiga pertama biasa disebut trivium, empat sisanya disebut quadrivium.


Beralih ke tradisi Islam, para filosof muslim pun memiliki klasifikasi otentik yang tidak sepenuhnya berinduk pada hasil pemikiran para filosof Yunani. Ambil saja Farabi, Khawarizmi dan Ibn Nadim sebagai sampel. Yang masing-masing menuliskan buku khusus tentang klasifikasi ilmu, secara berurutan buku-buku mereka adalah; Ihsaul Ulum, Mafatih al-Ulum dan al-Fihrist. Selain mereka ada pula yang menawarkan standar klasifikasi namun tidak dalam satu karya tersendiri, seperti al-Ghazali di Ihya Ulumuddinnya dan Mi’yarul Ilmnya.


Secara ringkas anda bisa menemukan penjabaran klasifikasi ilmu menurut masing-masing tokoh pada pendahuluan buku Tartibul Ulum, ditulis oleh Syekh Sajaqili Zadah, cetakan Dar Basyair Islamiyah Beirut-Lebanon.


Tradisi pembahasan klasifikasi ilmu tidak akan pernah habis, mengingat tabiat ilmu yang selalu berkembang dan semakin komplek tiap harinya. Yang menjadi catatan saya, semakin ke belakang beberapa ilmuwan muslim saat ini cenderung tidak mengkaji klasifikasi ilmu secara menyeluruh, objeknya direduksi hanya pada ilmu-ilmu syar’i.


Maaf Om, tapi dari tadi saya belum menemukan jawaban bagaimana bisa pengetahuan tentang klasifikasi ilmu turut menumbuhkan kesadaran literasi!
Tenang jangan buru-buru menggugat, saya tidak akan ikut membangun budaya kecele setelah ngobrol banyak ngalor-ngidul baru bertanya, lah terus hubungannya apa ya dengan pembahasan kita?


Untuk menjawab gugatan anda tadi, di antara jawaban yang dapat saya berikan adalah: Satu, menyusun skala prioritas buku apa saja yang perlu dibeli. Semakin jauh sebuah ilmu dari disiplin yang sedang kita tekuni dalam peta klasifikasi ilmu, semakin rendah pula tingkat prioritas buku yang berbicara tentangnya.


Dua, satu langkah menuju proses mambaca analitik. Sebagaimana yang disinggung Adler dalam How to Read Book, bagaimana bisa menjadi pembaca yang baik jika belum mampu membedakan antara jenis buku fiksi dan eksposisi, sains dan filsafat. Karena setiap jenis buku berbeda cara membacanya.


Poin tiga, empat, lima dan seterusnya silahkan anda temukan sendiri. Saya tidak boleh mendikte anda dari A sampai Z, karena itu bukan sikap yang muncul dari kesadaran literasi. Wallahu A’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here